Mengejar Cinta Sang Habib

Mengejar Cinta Sang Habib
Bab 28.4


__ADS_3

Aku melambaikan tangan kepada Ratna di seberang sana. Dia baru saja menyelesaikan tugas di perpustakaan. Tersenyum kecut, saat aku datang menghampirinya, aku tidak sengaja memalingkan wajah aku menatap ke arah kak Danis dan kak Alisha. Ini murni tidak sengaja. Tapi yang tidak kusangka adalah tatapan kami berdua bertemu. Aku tertegun karena kak Danis kebetulan menatap ke arahku. Sorot matanya yang dingin dan tegas seketika mengingatkanku pada hari dimana dia diriku yang tengah tak sholat.


Matanya persis seperti saat ini. Tidak ada senyuman, tidak ada rasa manis ataupun kelembutan yang aku lihat ketika dia berinteraksi dengan kak Alisha. Hatiku sekali lagi dibuat tersengat, pedih rasanya. Tak kuat, mataku segera berpaling tak memiliki keberanian untuk menatap lagi. Aku mempertahankan senyum ku sambil bergegas menghampiri Ratna di depan pintu perpustakaan.


"Sudah selesai?"


Ratna menjawab,"Sudah. Ayo balik ke asrama. Sore ini aku harus kembali ke kampung halaman ku, jadi aku tidak punya banyak waktu untuk berleha-leha di pondok pesantren."


Karena Ratna akan segera kembali ke rumahnya, dia mendesak untuk pulang ke asrama secepat mungkin. Alhasil kami berdua berlari kecil menuju asrama, mengabaikan pemandangan yang ada di belakang, aku berpura-pura tidak pernah melihat sesuatu yang membuat hatiku sakit. Tapi yang pasti setelah hari ini aku mulai mendikte diriku untuk jangan berangan-angan kembali. Sebab jatuh itu rasanya tidak menyenangkan. Rasanya terlalu menyakitkan. Dan bayarannya terlalu mahal.


Hah,


"Memang aku ini siapa? Berharap kepada seorang laki-laki baik, kenapa aku tidak berkaca dulu sebelum mulai menaruh hati kepada seorang laki-laki?"


Sayang sekali perasaan tidak memandang waktu dan tempat ataupun kepada siapa aku jatuh hati. Karena kalau sudah memang takdir, perasaan itu akan datang dengan sendirinya.


Dan aku bodoh masih meladeninya.


*****


Pukul 08.00 malam sampai di pusat kota A dan segera bertemu dengan kerabat Mamanya. Dia disambut dengan baik dan senyuman ramah yang menyenangkan hati, bohong bila dia tidak merasa bahagia dengan keramah-tamahan orang-orang di keluarga Mamanya. Hanya saja hati tidak bisa menerima semua itu dengan mudah. Katakanlah sampai sebesar ini dia belum pernah bertemu dengan mereka, orang-orang yang dikatakan sebagai kerabat Mamanya. Dan setelah 18 tahun dia akhirnya dipertemukan dengan mereka, pasti hati ini memiliki rasa canggung terlepas hubungan darah di antara mereka berdua.


"Aish kemarilah, mulai hari ini kamu akan tidur di kamar ini. Ini adalah kamar tempat Mamamu tinggal dulu. Meskipun sudah bertahun-tahun tidak ditinggali, tapi kamar ini tetap kami bersihkan dan rawat dengan baik." Bibi Arum mengajak Aish masuk ke dalam sebuah kamar di lantai 2.


Rumah ini sangat besar dengan keluarga besar pula di dalamnya. Jika diperhatikan dengan baik, latar belakang keluarga ini jauh lebih kuat daripada keluarga Ayahnya. Misal dalam urusan keuangan. Kekuatan finansial mereka terpampang jelas lewat rumah ini. Rumah ini sangat besar dan luas, tapi aneh sekali di dalamnya cukup sederhana. Tidak ada guci guci mahal seperti yang seharusnya dimiliki oleh keluarga-keluarga kaya di luar sana. Tidak ada juga pajangan lukisan keindahan di setiap sudut rumah ini, bukannya ada lukisan, tapi rumah ini malah dipenuhi oleh tulisan kaligrafi Arab yang sangat indah. Ada juga foto-foto orang-orang terdahulu. Sekilas Aish tahu bahwa mereka adalah generasi rumah dari masa dahulu karena setiap mata mereka memiliki kemiripan dengan habib Alamsyah dan para tetua di rumah ini.


"Mama suka nanam bunga mawar?" Di sudut kamar ada pohon bunga mawar merah.


Tidak terlalu tinggi tapi tidak kecil juga. Dari batang pohonnya yang berurat-urat, Aish menebak bawah pohon ini mungkin sudah ada di sini sejak bertahun-tahun lamanya. Mungkinkah Mamanya sangat menyukai bunga mawar hingga menanamnya di dalam kamar langsung?


Melihat bunga mawar merah di pojokan kamar ini, senyuman bibi Arum mengembang. Dia berjalan ringan dan menyentuh kelopak bunga mawar yang tengah merekah indah dengan bau semerbak yang memanjakan indra penciuman.


"Ini bukan Mamamu yang menanamnya. Tapi Kakek lah yang menanam bunga ini untuk Nenek sebagai bentuk kesungguhan hati ketika mereka menikah. Karena ini adalah pemberian Kakek kepada Nenek, bunga ini dirawat dengan baik dan memiliki sejarah yang cukup panjang. Karena nenek tidak bisa merawat tumbuhan, bunga ini pernah dititipkan kepada kerabat yang lain untuk dirawat dengan baik-baik. Barulah setelah Mama kamu cukup besar, bunga ini akhirnya kembali ke rumah ini dan ditanam di sini atas persetujuan kakek juga nenek. Tidak ada di rumah ini yang suka menanam kecuali Mama kamu, bahkan bibi pun tidak, jadi secara alami bunga ini dirawat oleh Mama kamu sampai akhirnya dia pergi." Bibi Rumi tersenyum tipis.


Matanya berkedip dengan rasa nostalgia yang tak dapat disembunyikan. Sungguh, kenangan yang terjadi bertahun-tahun lamanya itu seolah sedang menari-nari di dalam pelupuk matanya. Dia tak dapat menyembunyikan betapa rindu hatinya kepada sosok kakak yang selalu menjadi tameng terdepannya ketika menghadapi ketidakadilan adilan dunia.


"Jadi setelah itu siapa yang merawat bunga ini?" Aish berpura-pura tidak melihat kerinduan di balik mata bibi Rumi. Bukannya dia tidak mau bersimpati, lebih tepatnya dia tidak tahu harus berkata apa karena dia bukanlah orang yang pandai bicara.

__ADS_1


"Tentu saja dirawat oleh kami. Mau tak mau kami sendiri yang mengurusnya, kalau tidak, bagaimana mungkin bunga ini bisa tumbuh hingga saat ini?" Dia lalu menoleh ke arah Aish, matanya menyipit ketika menatap langsung mata aprikot jernih itu.


Aish berkedip tak nyaman.


"Bibi Rumi, bolehkah aku beristirahat dulu? Aku merasa badanku agak pegal-pegal setelah melakukan perjalanan panjang." Belum lagi dia langsung terpisah dengan Habib Khalid setelah masuk ke dalam rumah ini.


Sungguh hatinya sangat kesal. Ada apa dengan keluarga ini pikirnya?


Kenapa dia dan habib Khalid tidak bisa berbicara lama, tidak apa-apa jika mereka tidak tinggal bersama karena itulah yang diinginkan oleh habib Khalid. Tapi rasanya akan sangat menjengkelkan bila mereka berdua dipaksa untuk berpisah, dan bahkan tidak berbicara lama setelah menginjakan kaki di rumah ini. Aish mengerti apa yang mereka rasakan, tapi itu bukan salahnya jika mereka ingin bernostalgia kepadanya karena sejak awal keluarga inilah yang memutuskan hubungan dengan Mamanya dulu. Jika keluarga ini tidak memutuskan hubungan mereka, maka Aish tidak akan merasa terlalu canggung. Merekalah yang memulai, sekarang mereka ingin memonopolinya, jujur, Aish tidak menyukai cara yang mereka lakukan. Sangat menjengkelkan.


"Oh, astagfirullah. Karena terlalu asik berbicara, bibi lupa kamu belum beristirahat. Ayo istirahat. Jika kamu butuh apa-apa di rumah ini, panggil saja bibi atau keluarga yang lain. Mereka semua tidak akan keberatan dan malah senang bisa membantu kamu." Bibi dengan menyesal mengurungkan niatnya untuk membicarakan banyak hal kepada Aish.


Karena terlalu gembira melihat Aish pulang ke rumah, otaknya langsung berputar cepat menyediakan banyak topik pembicaraan untuk mendekatkan hubungan kekeluargaan di antara mereka berdua. Tapi sepertinya dia lupa membaca situasi hingga membuat Aish merasa tidak nyaman.


"Tentu, bibi. Aku akan memanggil kalian jika membutuhkan sesuatu. Aku tidak akan sungkan."


"Bagus, istirahatlah dengan baik. Jangan pernah merasa canggung di sini karena rumah ini juga rumah kamu. Kamu adalah bagian dari keluarga ini jadi jangan tahan dirimu sendiri." Kata bibi Rumi mau tak mau berbicara banyak agar keponakannya tidak terlalu canggung berada di rumah ini.


Aish mengangguk dengan patuh. Dia sungguh sangat lelah sekarang dan tidak ingin berbicara banyak.


Melihat wajah lelah Aish, bibi Rumi tersenyum tak berdaya, mengalah,"Okay, bibi akan membangunkan kamu besok pagi setelah sarapan dibuat. Istirahatlah."


Cklak


Setelah pintu kamar benar-benar tertutup rapat Aish akhirnya bisa bernafas santai. Dia meletakkan barang-barangnya di samping tempat tidur. Kemudian menyusuri kamar ini dengan hati-hati seolah mencari keberadaan atau jejak yang ditinggalkan oleh Mama di dalam kamar ini.


Kamar ini terlihat ketinggalan zaman, mungkin karena usianya sudah 'tua', tapi meskipun begitu tetap terawat dengan baik. Di dalam kamar ini ada satu rak buku dari kayu tua yang sangat kokoh dan kuat. Dari jauh kayu ini terlihat cukup rapuh, seolah-olah bisa saja ambruk karena sederetan tumpukan buku-buku tua yang tersusun apik tanpa ruang kosong. Tapi ketika tangan Aish menyentuh kayu itu, dia merasakan bahwa tekstur kayu ini sangat keras dan solid, jelas tidak serapuh penampilannya barusan.


"Mama sepertinya penggila buku. Dengan hobi serius ini harusnya Mama tidak jatuh cinta dengan Ayah." Bistik Aish mengejek Mamanya.


"Hem, Mama memang bukan orang yang pemilih kalau soal perasaan. Sial saja dia berakhir memilih Ayah." Gerutu Aish menyalahkan estetika Mamanya dalam memilih pasangan hidup.


Setelah melihat buku-buku itu secara asal-asalan, dia beralih berjalan ke lemari Mamanya. Ini adalah lemari kayu, dibuat dari kayu yang sama dengan rak buku itu. Ketika Aish membuka lemari itu, dia dibuat tercengang dengan tumpukan buku. Sungguh tidak ada satupun pakaian dan hanya menyisakan buku-buku cacat fisik. Ada yang kehilangan sampul, ada yang memiliki lembaran robek hingga bekas terbakar. Semuanya menyatu di dalam lemari.


"Yah, sekarang aku tahu sebagian dari karakterku lebih dominan berasal dari Ayah." Dia menggelengkan kepalanya sambil menutup pintu lemari.


Tidak mendapatkan apa-apa atau sesuatu yang mengejutkan dari lemari Mamanya, dia kemudian berjalan ke arah bunga mawar merah yang hidup dengan baik di sudut ruangan. Aish menyentuh salah satu kelopak bunga mawar, wanginya memang harum, tapi Aish lebih menyukai wangi bunga mawar dari tasbih kayu yang habib Khalid berikan kepadanya beberapa waktu lalu. Selain harum, wangi bunga mawar di tasbih itu selalu mengingatkannya kepada sosok laki-laki yang telah merajai hatinya. Mengingat habib Khalid adalah obat penenang di dalam dirinya. Sebab cukup mengingat senyumnya saja, Aish tahu bahwa dia tidak lagi sendirian di dunia ini.

__ADS_1


"Kami baru saja berpisah namun aku sudah mulai merindukannya. Aku sangat manja." Menggelengkan kepalanya tak berdaya, dia lalu pergi mengambil barang-barang di samping tempat tidur.


Menaruhnya di atas kasur dan membukanya satu persatu. Sebagian dari barang-barangnya dibawa pulang oleh habib Khalid. Aish hanya menyisakan sebagian kecil di sini karena dia tidak akan tinggal lama di rumah ini. Bukan dia yang membuat keputusan ini, melainkan habib Khalid lah yang membuat keputusan ini saat mereka berbincang-bincang di dalam perjalanan menuju kota.


"Eh, apa ini?" Aish menemukan sebuah kotak kecil di dalam lipatan pakaiannya.


Ingatannya sangat baik. Jangankan membawa kotak ini bersama, melihatnya saja baru kali ini. Jadi wajar saja bila dia merasa heran.


Mengerutkan kening. Penasaran, tangan ramping itu terulur mengambil kotak tersebut. Membawa kotak itu tepat ke hadapan, lantas dia memperhatikan kotak itu dengan hati-hati. Ini kotak kecil segi empat, berwarna biru muda dengan pita putih melilit. Ketika digoyangkan, tak ada suara yang terdengar dari dalam kotak ini. Selain tidak memiliki suara, kotak ini juga terasa sangat ringan yang membuat dirinya semakin penasaran.


"Mungkinkah ini dari kak Khalid?" Tanyanya sambil tersipu malu.


Soalnya, cuma satu laki-laki di dunia ini yang mau memperlakukan dirinya dengan baik dan tulus, dan selalu bertindak dengan skenario yang tidak disangka-sangka. Jawabannya sudah pasti habib Khalid. Kalau bukan dia, memangnya siapa lagi yang bisa menyentuh barang-barang pribadinya secara bebas?


"Bismillah." Perlahan pita putih itu ditariknya. Setelah itu dia membuka tutup kotak dan hanya menemukan secarik kertas putih kecil.


Sekarang ada penjelasan kenapa kotak ini rasanya ringan dan tidak menimbulkan bunyi ketika digoyangkan. Rupanya di dalam kotak ini hanya ada secarik kertas kecil. Namun walaupun kecil dan tidak memiliki beban berat, ia menduga bahwa apa yang tertulis di dalam kertas itu jauh lebih berharga dari perhiasan ataupun barang-barang lainnya.


"Mau perhiasan atau enggak, apapun yang kak Khalid kasih ke aku selalu berharga untukku." Bisiknya pada diri sendiri.


"Apa yang kak Khalid tulis di sini? Kenapa kak Khalid lebih memilih menulis di sini daripada berbicara langsung kepadaku? Apakah ada sesuatu yang tak bisa kak Khalid katakan kepadaku?" Memikirkannya saja membuat rasa penasarannya semakin membludak.


Jadi tanpa menunggu lagi, dia langsung mengambil kertas tersebut dan membuka lipatannya dengan nafas terengah-engah. Em, seolah-olah dia sedang lari maraton, efeknya sampai sejauh ini. Dan,


Deg


2 hari lagi, tolong persiapkan dirimu wahai belahan jiwaku, Aisha Rumaisha.


Tulisannya tidak banyak, hanya ada beberapa patah kata, tapi efeknya sungguh sangat luar biasa untuk Aish. Lama tertegun, badannya tiba-tiba gemetaran hingga air mata hangat satu persatu mulai berjatuhan dari pelupuk mata. Ini merupakan reaksi psikologisnya saat menerima kabar atau kejutan yang sudah lama diharapkan. Dia pikir butuh cukup lama untuk bersama, tapi ternyata tidak benar-benar membutuhkan waktu lama. Hanya dua hari lagi, dirinya akan secara resmi memiliki dunia baru dan pendamping hidup yang bertanggung jawab untuk urusan dunia juga akhiratnya.


"Ya Allah akhirnya datang... kebahagiaan yang Kau janjikan kepadaku, buah dari kesabaran dan air mataku, terima kasih ya Allah... terima kasih." Dia tidak dapat mengucapkan kata-kata selain rasa terima kasih yang tiada habisnya kepada Sang Pencipta, Sang Maha Skenario yang tak disangka-sangka.


Hingga detik ini, sebenarnya dia masih mengingat bahwa semua yang terjadi kepadanya adalah sebuah mimpi. Sebab, semuanya bagaikan mimpi untukmu untuknya. Begitu fantasi sampai-sampai mempertanyakan dirinya sendiri, apakah diri ini masih sadar dan waras?


Tidakkah diri ini benar-benar gila karena terlalu banyak berhalusinasi?


Tapi setiap kali dia merasa di posisi ini, berkali-kali Allah subhanahu wa ta'ala kirimkan kejutan demi kejutan untuk menunjukkan kepadanya bahwa semuanya memang benar-benar terjadi. Ini bukan mimpi juga bukan halusinasi, melainkan dunia nyata yang sedang dia alami.

__ADS_1


"Ya Allah... Ya Tuhanku... Sesungguhnya nikmat yang Engkau berikan kepadaku hari ini takkan pernah ku sia-siakan dalam hidup ini. Sungguh aku berjanji kepada-Mu ya Allah, dan aku bersungguh-sungguh terhadap janjiku tersebut. Dia yang mencintaiku, yang memperjuangkanku dengan sepenuh hati, dan memperlakukanku dengan tulus seolah-olah hanya aku seorang di dalam bola matanya, aku berjanji tidak akan pernah melepaskannya hingga bertemu dengan kematian. Bahkan di akhirat kelak pun, ku ingin menjadi satu-satunya bidadari untuk dirinya. Menjadi satu-satunya istri yang akan menemaninya di dunia maupun di akhirat. Ya Allah demi dia aku rela menjadi wanita yang egois, wanita yang membuat cemburu para bidadari surga karena dia hanya untukku dan bukan untuk mereka. Aku ingin menjadi egois...demi bersamanya, aku akan menjadi wanita itu. Wanita yang dicemburui oleh para bidadari surga karena kebaktianku kepada kak Khalid, aku ingin dicemburui oleh mereka untuk besar cinta yang kurasakan kepada kak Khalid, aku bertekad ingin menjadikan rumah tangga kami sebagai ladang surga hingga Allah ridho kepada kami dan para bidadari surga pun kian cemburu kepadaku. Allahu Rabbi, semuanya ku serahkan kepada-Mu. Aku tahu Engkau tidak akan pernah meninggalkan para hamba-Mu yang berserah diri. Tolong dengarkan hamba ya Allah..."


__ADS_2