
Paginya mereka bertiga pergi ke sungai untuk mencuci pakaian bersama-sama. Mereka sebelumnya selalu mencuci di dalam kamar mandi tapi hari ini berbeda. Mereka ingin merasakan apa yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya. Beberapa teman kamar yang lain juga ikut pergi bersama. Tidak ada kegiatan apapun sekarang. Pondok pesantren tidak berjalan sehidup ketika semua santri dan santriwati masih di pondok. Kegiatan yang wajib dilakukan adalah melakukan shalat berjamaah, makan di kantin dan pergi mengaji. Sisanya santri ataupun santriwati bebas melakukan apapun yang mereka inginkan kecuali mengunjungi asrama yang berlawan jenis atau pun keluar pondok sesuka hati.
Setelah selesai mencuci pakaian, Mereka pergi menjemurnya di samping asrama. Di sana terdapat sebuah pekarangan luas yang sengaja pondok siapkan sebagai area berjemur untuk para santriwati. Cuma untuk mencuci pakaian mereka menghabiskan hampir 3 jam di sungai. Setengah jam digunakan untuk mencuci pakaian lalu sisanya dimanfaatkan guna menangkap ikan ataupun bermain-main. Baru setelah bosan mereka akhirnya berhenti dan ingat untuk kembali ke asrama.
Siang datang. Setelah selesai melaksanakan shalat zuhur berjamaah, Aish dan semua teman di kamar kompak pergi ke kantin untuk makan siang. Kantin sangat luas, banyak tempat yang kosong maka mereka bebas duduk di manapun mereka mau.
"Aish, apakah kamu mendengar rumor yang baru-baru ini beredar di pondok pesantren?" Di sela-sela makan Gadis mengambil inisiatif untuk berbicara dengan Aish.
Secara alami dia menggelengkan kepalanya tidak tahu. Sejujurnya dia tidak terlalu tertarik membicarakan gosip atau mengurus urusan orang lain karena menurutnya itu tidak terlalu penting. Tapi kalau soal habib Khalid, mana mungkin dirinya ketinggalan!
"Tidak, aku tidak tertarik." Jawabnya sambil mengunyah.
Dia menundukkan kepala sengaja melihat ke atas piringnya seraya berpikir kapan dia bisa bertemu dengan habib Khalid lagi?
Dirinya rindu. Ada banyak hal yang ingin dibicarakan bersama habib Khalid. Terutama mengenai wanita itu, habib Khalid bilang wanita itu akan datang mencarinya. Tapi kenapa hingga saat ini dia belum kunjung datang?
__ADS_1
"Sayang sekali," Gadis tersenyum aneh. Sekilas matanya melirik ke samping, menatap sebentar orang yang tengah fokus makan, dia sama sekali tidak tahu bahwa dirinya sejak kemarin menjadi topik utama rumor.
Merasakan tatapan dari Gadis, dia mengernyit tidak nyaman. Pasalnya Gadis selalu membawa angin buruk. Bohong jika dia tidak was-was dengan Gadis. Menurutnya Gadis merupakan tipe orang yang diam-diam menghanyutkan. Dengan kata lain dia berbahaya.
"Ini menyangkut soal sahabat kamu. Gisel, banyak orang yang membicarakan dia. Lebih tepatnya sih orang-orang membicarakan tentang masa lalu Gisel sebelum dikirim ke pondok pesantren. Aku dengar juga kalian sebelumnya bermusuhan karena Gisel merebut pacarmu Aish. Apakah berita ini benar?" Tanyanya dengan nada polos yang dibuat-buat.
Seketika barisan meja makan kamar mereka langsung hening. Beberapa teman kamar menatap Gadis dengan ketidakpuasan. Padahal mereka sudah berusaha untuk menutupi masalah ini dari Gisel. Sebab ini menyangkut kehidupan pribadi Gisel. Tak seharusnya mereka membicarakan masalah ini terlepas dari benar atau tidak. Yang tidak mereka sangka adalah Gadis mengangkat topik ini tepat di samping Gisel.
Gisel merendahkan kepalanya. Menelan paksa makanan yang baru saja dimasukkan ke dalam mulut. Seketika, nafsu makannya langsung menghilang. Dia tidak mood untuk melanjutkan makan lagi.
"Siapa yang bilang?" Nafas Aish tertahan.
"Gadis, tutup mulut dan makan makanan mu saja daripada banyak bicarakan." Potong salah satu teman kamar yang perduli.
Ekspresi wajah Aish sudah berubah, ini pertanda kalau Aish sedang marah. Tapi Gadis tidak 5ahu ketakutannya dan terus saja mengoceh. Membuat kuping Aish panas.
__ADS_1
"Apakah ini benar-"
Ting!
Di atas meja makan, Aish melempar sendoknya ke atas piring hingga menimbulkan suara yang sangat nyaring. Mata aprikotnya berkedip dingin menatap lurus ke mata Gadis.
"Apakah para santriwati di pondok pesantren tidak memiliki kegiatan lain selain membicarakan urusan orang lain? Bukankah kalian diajarkan sejak masuk ke tempat ini bahwa sibuk mengurusi kehidupan orang lain adalah perilaku yang sangat buruk? Daripada mengurusi kehidupan orang lebih baik urusi dulu kehidupan diri sendiri yang belum tentu benar. Aku pikir kalian juga orang yang seperti itu tapi ternyata aku salah besar karena kalian yang dianggap suci tidak ada bedanya dengan kami yang tinggal di luar serta jauh dari pendidikan agama yang ketat. Kalian seperti orang yang tidak berpendidikan ilmu agama, sedikit-dikit menyebarkan rumor dan sangat mudah memperhatikan kehidupan orang lain. Seolah kehidupan diri kalian sendiri sudah benar." Ucap Aish dengan nada sarkas.
Reaksi ini sama sekali tidak diharapkan oleh Gadis. Mengungkit masalah ini berarti Gadis mengharapkan reaksi yang dia inginkan. Misalnya hubungan baik antara Aish dan Gisel akan meregang karena masa lalu mereka terkuak. Atau lebih bagus lagi kalau Aish memutuskan untuk tidak lagi bersahabat dengan Gisel, bukankah dia memiliki peluang untuk dekat dengan Aish sama seperti awal masuk ke dalam pondok pesantren?
Tapi reaksi Aish membuatnya terkejut. Di depan mereka Aish membela Gisel dan menyudutkan mereka, para santriwati, dengan kata-kata sarkas.
"Jangan salah paham Aish. Tidak semua anak di pondok pesantren seperti itu. Nyatanya hanya ada segelintir orang yang tidak memiliki pekerjaan dan sibuk mengurusi urusan orang lain. Jangan dengarkan apa yang rumor itu katakan, kami semua tidak akan mempercayai rumor itu." Salah satu teman kamar angkat bicara untuk menenangkan kemarahan Aish.
Faktanya seperti apa yang dia bilang tadi, orang-orang yang suka bergosip di sini hanya segelintir. Mereka pastinya tidak memiliki pekerjaan lain selain membicarakan keburukan orang lain. Di manapun, di kota ataupun di dalam pondok pesantren, sifat semua orang hampir tidak memiliki filter setelah terjun ke dalam masyarakat. Sejujurnya wajar menemukan orang yang seperti itu di dalam pondok pesantren. Meskipun tempat ini bermandikan ilmu dan fokus mempelajari Al-Qur'an maupun agama, tapi itu tidak dapat mengubah hati seseorang karena urusan hati hanya Allah subhanahu wa ta'ala yang tahu.
__ADS_1
"Iya Aish, orang-orang yang seperti itu hanya beberapa saja di sini. Kami dan anak-anak yang lain tidak pernah ikut campur dalam masalah ini karena kami lebih mempercayai kalian."
Aish juga tahu bahwa anak-anak di pondok pesantren tidak semuanya seperti itu. Ini hanyalah kata-kata kemarahan dari dalam hatinya, dia benar-benar tak serius mengatakan ini. Dan sesungguhnya orang yang dia singgung adalah Gadis. Menurutnya anak ini sengaja mengungkapkan masalah ini di sini. Seolah ingin menunggu kejutan, mata Gadis berkata seperti itu.