
"Nak, kami sudah menikah 18 tahun yang lalu." Jawab wanita itu dengan senyuman manis di wajahnya.
Deg
Hati Dira berdenyut sakit.
18 tahun yang lalu, artinya selama 18 tahun hidup Dira ternyata hidup dalam kubangan harapan semu.
Jika mereka sudah menikah 18 tahun yang lalu, maka Sania dan Askia berusia..
"Dan alhamdulillah aku berhasil melahirkan anak kembar untuk Papa kamu. Namanya Sania dan Askia, mereka sekarang berusia 16 tahun. Beda 2 tahun dengan kamu. Kapan-kapan aku akan membawanya bertemu dengan kamu. Kalian harus berkenalan karena kalian adalah sesama saudara-"
"Ayu!" Potong Papa marah.
Ayu, wanita itu bernama Ayu. Istri kedua Papa. Atau lebih tepatnya istri Papa yang sekarang. Suara wanita ini tidak asing. Dira mendengarnya saat menelpon Papa waktu itu.
"Kenapa, mas? Sudah saatnya dia tahu bahwa kamu sudah menikah dan memiliki dua saudara lainnya. Dia tidak boleh bermanja lagi kepada kamu karena adik-adiknya saja yang lebih muda bisa berpikir dewasa daripada dirinya yang lebih tua 2 tahun dari Askia dan Sania." Ayo memutar bola matanya sambil berbicara. Dia telah lama menunggu momen ini jadi bagaimana mungkin dia diam saja?
"Tutup mulut mu! Apakah aku memberikan kamu izin bicara?" Bentak Papa geram.
__ADS_1
Ayu mendengus tidak puas melihat kemarahan suaminya. Dia baru membuka mulut sedikit saja namun suaminya memberikan reaksi yang sangat besar. Bagaimana jika nanti dia banyak bicara?
Dia sangat kesal memikirkannya.
Dira tidak peduli dengan pertengkaran mereka berdua. Matanya kini beralih menatap Mama dan gadis kecil yang ada di dalam pelukan Mama. Gadis kecil itu memandangi Dira dengan mata penasaran.
"Lalu Mama sejak kapan menikah lagi?" Tanyanya mengulangi pertanyaan yang sama.
Mama memeluk erat gadis kecil itu. Dia terlihat sangat tertekan dan merasa bersalah. Suaminya mengulurkan tangan untuk menggosok punggung tipis Mama sebagai bentuk dukungan.
"Maafkan Mama, Nak. Mama tidak bermaksud menyakiti kamu. Semua ini terjadi-"
"Sejak kapan? Jawab saja pertanyaan ini." Potong Dira tak mau mendengarkan penjelasannya.
"Kami menikah 16 tahun yang lalu. Dira, dengarkan Mama, Nak. Mama dan Papa menikah karena pernikahan bisnis. Kami berdua dijodohkan untuk Kakek dan Nenekmu. Pernikahan itu tidak diharapkan oleh kami berdua karena kami tidak saling mencintai. Setelah kamu lahir ke dunia ini, Mama mengizinkan Papa untuk menikah lagi dengan syarat dia merahasiakannya dari keluarga. Setelah Papa kamu menikah, Mama melihat dia hidup bahagia dengan keluarganya. Mama berpikir bahwa sudah saatnya untuk mengakhiri rasa kesepian ini, jadi 16 tahun kemudian ketika kamu baru berusia 2 tahun, Mama memutuskan untuk memulai keluarga baru dengan suami Mama yang sekarang."
Dira tidak terlalu memperhatikan apa yang dikatakan oleh Mama selanjutnya karena kepalanya sudah dipenuhi oleh kekecewaan. Selama itu mereka telah memulai kehidupan baru, tapi tak ada satupun diantara mereka yang mau membawanya pergi. Mereka malah meninggalkannya di rumah besar itu sendirian. Dia hidup bersama pengasuh dan dibesarkan dengan kata-kata permakluman. Mereka bilang maklumi kedua orang tuamu, mereka jarang di rumah karena sibuk bekerja, mereka sibuk mencari nafkah untuk membesarkan kamu, dan banyak alasan lagi yang memaksa Dira untuk mengerti kesibukan keluarga. Sudah bertahun-tahun dia melakukan ini. Bohong bila hatinya tidak mati rasa.
"Kalian berdua sangat hebat. Setelah mengirim ku ke dunia ini kalian pergi dengan pasangan masing-masing dan memulai kehidupan baru. Sementara aku menunggu kalian di rumah besar itu sendiri. Berharap kalian meluangkan banyak waktu untuk menemani ku. Tapi tidak, kalian tidak mengerti keluhan di hatiku. Sebagai orang tua, pernahkah kalian menyempatkan waktu sebentar saja untuk berbicara dengan ku. Mungkin saja aku memiliki keluhan yang ingin disampaikan kepada kalian, cerita menyebalkan yang ingin ku beritahu kepada kalian, dan banyak hal lainnya. Bukankah kehidupan orang tua dan anak normalnya seperti ini? Tapi mengapa aku tidak merasakan momen ini. Kukira itu karena kalian ingin membuatku bahagia, terus menerus mengorbankan banyak waktu untuk mencari nafkah. Tapi kenyataannya kalian justru melakukan itu untuk menghindari ku. Bagi kalian hidup dengan pasangan masing-masing adalah momen terpenting di dalam hidup. Sementara aku. Jujur saja, kalian sungguh tidak menginginkan aku, kan?" Tanpa dia sadari matanya mulai mengeluarkan air mata.
__ADS_1
Masalah ini terlalu mengecewakan untuknya. Dia merasa dianiaya, ditinggalkan, diabaikan, dan ditelantarkan oleh kedua orang tua yang seharusnya menyediakan rumah untuknya. Mungkin kalau itu orang asing, rasanya tidak akan sesakit ini. Tapi ini adalah orang tuanya, orang-orang yang telah melahirkannya ke dunia ini. Mereka tega melakukan itu kepadanya.
"Omong kosong apa yang kamu bicarakan, Nak? Kamu tetap anakku meskipun aku memulai kehidupan baru dengan Ibu tirimu-"
"Bohong!" Teriak Dira langsung.
"Jika aku sepenting itu di hati kalian, lalu mengapa kalian meninggalkan aku sendiri di rumah itu? Bawa saja aku ke dalam rumah baru kalian jika kalian benar-benar menganggap ku sepenting itu, tapi tidak! Kalian nggak ngelakuin itu! Kalian berdua tetap pergi dan meninggalkan aku! Aku... sangat muak. Semuanya sudah seperti ini, dan seperti yang kalian harapkan aku tidak akan mengganggu kehidupan kalian lagi. Kalian juga sudah memiliki anak di dalam rumah baru kalian sehingga kehadiranmu benar-benar tidak dibutuhkan. Pulanglah, aku tidak punya apa-apa lagi untuk dibicarakan dengan kalian. Semuanya sudah jelas sekarang. Kalian bisa sibuk dengan kehidupan keluarga masing-masing, aku tidak akan mengganggu. Hidup di sini sebenarnya tidak terlalu buruk. Selain itu aku juga sudah terbiasa hidup tanpa kalian, jadi ayo berhenti...aku tidak mau bermain petak umpet lagi dengan kalian." Dira sudah tidak punya apa-apa lagi untuk dibicarakan dengan mereka.
Percuma saja. Percuma berbicara banyak dan mengeluarkan semua keluh kesah di dalam hatinya karena mereka tidak akan pernah mengerti bagaimana perasaannya.
"Dira!"
"Nak," Mama dan Papa kompak memanggilnya.
Dira hanya melihat mereka sebentar. Sedetik kemudian dia pergi tanpa menoleh ke belakang. Mengabaikan suara-suara panggilan itu dan berusaha memantapkan setiap langkah yang dia ambil.
"Dir, jangan seperti ini. Dengarkan dulu apa yang mereka katakan." Gisel memegang tangan sahabatnya agar tidak melarikan diri dari masalah.
Dia tahu betapa sakit hati sahabatnya sekarang, dan dia juga tahu bahwa sahabatnya pasti sangat terluka. Dia tahu itu. Melarikan diri tidak menyelesaikan apa-apa. Justru dengan melarikan diri masalah semakin besar dan membebani hati. Dia bersimpati kepada sahabatnya dan karena itulah dia meminta sahabatnya untuk tidak pergi.
__ADS_1
"Tidak ada yang perlu didengarkan lagi. Mereka berdua egois. Kalau benar mereka menyayangiku, lalu kenapa mereka tidak membawaku ikut ke salah satu rumah baru mereka? Nggak, Gisel. Mereka tidak melakukan itu karena mereka sudah cukup bahagia bersama keluarga masing-masing. Baguslah, setidaknya aku tidak akan dikekang oleh mereka. Aku bisa memutuskan kemana aku akan melangkah setelah lulus dari sini. Em... Bagaimana kalau kita membuka usaha bersama-sama? Hahaha.. pasti lucu kita bertiga berakhir mandiri bersama-sama." Dira tertawa terbahak-bahak di sela-sela tangisannya yang menyedihkan dan menarik banyak perhatian santriwati.
Gisel menggelengkan kepalanya tidak berdaya. Sulit menghentikan tangisan Dira dan dia juga tidak mau menjelaskan apa-apa kepada orang lain, jadi mau tak mau dia menyeret Dira ke pinggir sungai untuk menenangkan diri hingga berhenti menangis. Cara ini jauh lebih aman daripada membawa Dira pulang dalam keadaan seperti ini.