Mengejar Cinta Sang Habib

Mengejar Cinta Sang Habib
Bab 20.9


__ADS_3

Dia tidak bisa membiarkannya pergi begitu saja!


"Apa? Memang benar kok apa yang Dira katakan tadi. Ibumu kan seorang pelakor, merebut suami orang lain dan sekarang bertindak sebagai nyonya di rumah Ayah Aish. Apakah Ibumu tidak malu telah merebut suami orang lain dan bahkan menghancurkan kehidupan rumah tangga seorang wanita? Faktanya ini bukan lagi sebuah rahasia karena hampir semua orang tahu kelakuan Ibumu bertahun-tahun yang lalu." Gisel tidak mau kalah dan ikut berbicara.


Dengan suara lantang, dia mengatakan secara terang-terangan aib Aira yang telah diketahui oleh banyak orang di kota.


"Jaga mulutmu, Gisel! Harusnya kamulah yang malu di sini karena kamu sudah tidak perawan lagi! Tidur dengan pacar sahabatmu sendiri, di mana rasa malumu sekarang? Apa pantas orang kotor seperti dirimu menghakimi kehidupan orang lain? Aku sarankan lebih baik kamu diam saja daripada ditertawakan oleh orang lain. Dan aku sarankan lebih baik kamu bersihkan dirimu sendiri yang kotor daripada sibuk mengurusi kehidupan orang lain yang jelas-jelas jauh lebih terhormat daripada dirimu!" Jika Dira, dia tidak punya banyak kata-kata untuk dikatakan karena Dira tidak mudah disinggung dan selain itu Dira juga tidak memiliki banyak masalah yang bisa dijadikan sebagai senjata.


Akan tetapi Gisel berbeda. Dia berasal dari keluarga biasa-biasa saja dan tidak disukai oleh keluarganya sendiri. Jadi dia berani mengungkapkan aib Gisel karena dia tahu tidak akan ada orang yang mau membantu Gisel berbicara, bahkan keluarganya sendiri sudah tidak sudi melihatnya.


Wajah Gisel langsung menjadi pucat pasi. Semua ketakutannya benar-benar terjadi. Tapi bukan Leni yang membuka aibnya, melainkan Aira yang pernah memiliki hubungan baik dengannya. Dia sama sekali tidak menyangka bahwa masalah ini akan terjadi secepat itu.


Gemetar ketakutan, bola matanya bergerak liar melihat santri dan santriwati yang sedang menonton perdebatan mereka berempat. Ekspresi di wajah mereka beraneka ragam, hampir semua orang yang menonton melihat kepadanya. Mereka jelas memiliki pendapat setelah mendengar apa yang Aira katakan. Gisel sangat malu. Kedua kakinya gemetar mulai lemas, rasa-rasanya dia ingin segera melarikan diri dari tempat ini dan bersembunyi ke suatu tempat yang tidak bisa dijangkau oleh banyak orang.


"Aira berhenti!" Teriak Aish frustasi.


Dia mengambil tangan Gisel gemetaran dan memegangnya erat-erat. Mata aprikotnya menatap tajam ke arah Gisel dengan kilat kemarahan.


"Apakah tidak cukup Ibumu menghancurkan kehidupan Mamaku? Dan apakah kamu dan Ibumu tidak cukup mengambil semua yang kumiliki di rumah itu? Sekarang kamu menghancurkan kehidupan temanku. Setelah menghancurkannya, kamu sangat berani menghakimi kehidupannya seolah-olah kamu tidak ikut andil dalam kehancuran Gisel. Jangan memasang tampang sok polos itu di wajah mu. Kamu tahu, Ibumu juga seperti ini setiap kali nama Mamaku disebutkan di rumah. Berpura-pura sedih dan tidak tahu apa-apa, namun faktanya dia adalah pisau yang telah merenggut kebahagiaan Mamaku. Dan sekarang kamu... Bertingkah sok tidak tahu apa-apa dan mengecam tindakannya di masa lalu, Aira... Apakah kamu pikir semua orang bodoh? Apakah kamu pikir kamu bisa mempengaruhi semua orang hanya dengan memasang tampang itu? Aku bilang berhenti Aira! Jangan ganggu kehidupan aku lagi! Jangan usik aku. Kamu sudah mengambil semuanya di rumah. Dan sekarang aku di sini, aku sudah dibuang oleh keluargamu tapi mengapa kamu masih datang mengusikku! Ibumu sudah berkuasa di rumah itu, lalu apalagi yang kamu cari di sini?!" Tanya Aish lantang.


Dia tidak mengerti, sama sekali tidak mengerti. Apa yang telah dia lakukan hingga membuat Aira begitu membencinya?

__ADS_1


Memberinya obat terlarang? Ya itu memang salahnya dan dia tidak menampik bahwa itu memang salahnya. Tapi dia melakukan itu semua karena terlalu lelah di pojokan dan terlalu lelah diprovokasi. Di rumah dia memang berteriak, marah-marah, dan memperlakukan Aira dengan buruk tapi dia melakukan itu semua karena Aira lah yang lebih dulu memprovokasinya. Tapi tidak ada yang mempercayai apa yang dia katakan. Mereka hanya tahu bahwa dirinyalah yang bersalah. Dia sangat muak dengan pemikiran mereka.


Apakah dia seburuk itu hingga semua orang di rumah itu menyalahkannya?


"Kak Aish..." Bibir Aira tertutup rapat menahan amarah.


Dia bertanya sampai kapan akan melakukan ini? Jawabannya sudah pasti sampai Aish benar-benar menderita. Melihatnya dekat dengan habib Khalid membuat Aira sangat cemburu, mendengar setiap jumlah uang yang masuk ke dalam kantong Aish kecemburuan di dalam hati Aira semakin menjadi-jadi.


Kenapa bukan dia?


Kenapa bukan dirinya mendapatkan itu semua!


"Aku...aku tidak pernah bermaksud jahat kepada kakak.." Namun karena banyak orang yang menonton dia terpaksa menelan semua kemarahan di hatinya.


Citranya tidak boleh tercemar di hadapan banyak orang.


"Habib Thalib ada di sini.." orang-orang yang menonton langsung berseru kami ketika melihat habib Khalid datang bersama seorang laki-laki dan wanita di sampingnya.


Aish melirik habib Khalid lewat ekor matanya. Kesal, dia lalu menarik Gisel dan Dira pergi bersama tanpa menunggu habib Khalid datang menyapa. Mereka bertiga melarikan diri dari kerumunan sembari berdoa bila sang habib akan melupakan masalah ini. Toh, mereka hanya cekcok biasa.


"Habib.." Melihat kedatangan habib Khalid, Aira langsung menangis keras terlihat sangat menyedihkan.

__ADS_1


Dia pikir habib Khalid akan menghampirinya dan bertanya ada apa, atau jika bisa menghiburnya. Tapi sayang seribu sayang, habib Khalid langsung melewatinya tanpa menoleh ataupun menyapa. Tubuh Aira langsung membeku malu. Tenggorokannya tercekat lupa mengeluarkan suara tangisan. Dengan kaku lehernya berbalik mengikuti ke mana arah sang habib pergi.


"Aku..." Entah bagaimana perasaannya saat ini.


Dia tidak bisa menjelaskannya secara pasti. Hanya saja cukup rumit karena dia tidak mendapatkan perhatian sang habib.


"Akting kamu bagus, namun kurang menghayati. Jika kamu bisa meluapkan ekspresi sebanyak mungkin, maka kamu bisa mengikuti casting sinetron di berbagai media." Suara lembut dan manis seorang wanita menarik Aira dari lamunannya.


Aira menoleh ke samping. Ternyata orang yang berbicara dengannya tadi adalah wanita itu. Wanita yang dirumorkan menjadi calon istri sang habib. Sejak awal melihatnya Aira langsung kesal karena wanita ini cantik dan terlihat baik di mana saja.


"Apa yang kakak maksud ngomong begitu?" Tanyanya berpura-pura polos.


Wanita itu tersenyum geli, aneh saja melihatnya masih bisa berpura-pura padahal kedoknya sudah terbongkar.


"Seperti ibu seperti anak, kalian memang berasal dari cetakan yang sama." Menatap lekat-lekat wajah pucat Aira, dia lalu berkata, "Aku tidak terkejut melihatnya."


Aira sontak mengecilkan leher takut. Wanita ini selalu memiliki penampilan lembut tapi mengapa cara bicaranya membuat Aira takut. Dia tidak mengerti tapi wanita ini memberikan perasaan yang sangat tidak nyaman seolah-olah dirinya sedang ditatap oleh makhluk buas.


"Jangan dengarkan apa yang kak Aish bilang...itu... tidak benar..." Katanya takut-takut membela diri.


Wanita itu tersenyum dingin,"Benarkah, kamu sangat baik. Tolong katakan kepada keluargamu yang luar biasa bahwa aku di sini datang untuk mengambil nasab yang terputus, mengerti manis?"

__ADS_1


__ADS_2