Mengejar Cinta Sang Habib

Mengejar Cinta Sang Habib
Bab 16.3


__ADS_3

Mendengar ini, habib Khalid langsung tersenyum dingin,"Siapa yang mau mengirim kalian belajar ke sana? Bagaimana mungkin ini bisa disebut hukuman?"


Mereka bertiga bingung. Jika mereka dikirim ke sana bukan untuk belajar, lalu mengapa habib Khalid mengirim mereka ke Arab?


Enggak mungkin mereka di kirim ke sana jadi tukang ternak unta?


"Lha, terus kita ngapain ke sana, habib?" Tanya Gisel dengan polosnya.


Senyum habib Khalid semakin lebar,"Tentu saja, aku akan mengirim kalian sebagai TKW agar kalian kapok membuat masalah lagi."


Mereka bertiga hampir saja muntah darah mendengar jawaban sang habib. Sangat kejam, mereka tidak tahu jika tidak hanya tindakan habib Khalid saja yang kejam tapi mulutnya juga sama kejamnya.


"Jangan mengulanginya lagi. Dan masalah ini, pondok pesantren telah memikirkannya dengan serius karena dampak yang kalian timbulkan cukup besar. Jadi setelah pulang dari rumah sakit, kalian akan disidang pondok dan jangan harap ada orang yang menolong kalian bertiga." Kata-kata habib Khalid selanjutkan langsung menjatuhkan bom untuk mereka bertiga.


Masalah serius?


Diadili di pondok?


Mereka bertiga langsung berkeringat dingin. Mereka tidak pernah menyangka akan mendapatkan konsekuensi yang sangat serius dari masalah hari ini. Pasalnya mereka tidak membuat hal yang sangat merugikan- kecuali yah sawah yang baru ditanami padi itu, sisanya mereka tidak merugikan siapapun. Adapun motor. Kalaupun mau ganti rugi, Aish dan Dira sanggup kok karena motor itu terjun ke sawah juga karena mereka.


"Masalahnya.... sampai seserius itu?" Aish bertanya ragu-ragu.


Habib Khalid tidak memberikannya kesempatan untuk mengambil nafas dan langsung menjawab.


"Ini sangat serius. Kamu dan kedua temanmu harus bertanggung jawab di pondok nanti." Kata habib acuh tak acuh.


Jelas sekali habib Khalid terlihat sangat marah karena segaris tipis senyuman saja tidak ada diwajahnya. Kalaupun ada itu hanya senyuman sarkasme tanpa ada ketulusan seperti waktu-waktu biasanya. Aish mengecilkan lehernya takut. Sesungguhnya, di sini ia lah yang harusnya marah. Karena jika bukan habib Khalid pergi dengan Nadira, ia dan kedua sahabatnya tidak akan pernah melakukan tindakan gila ini hingga membuat masalah yang cukup besar.

__ADS_1


Aish mengeluh di dalam hatinya namun ia sama sekali tidak berani mengucapkannya secara langsung.


"Iya, habib. Kami akan mempertanggungjawabkan kesalahan kami nanti." Kata Dira merasa sangat bersalah.


Habib Khalid mendengus. Sebelum pergi, dia menaruh kantong keresek putih di atas nakas dan meminta mereka bertiga untuk segera makan sebelum pulang nanti. Karena cedera mereka tidak patah, rumah sakit memperbolehkan mereka pulang nanti sore.


"Ya Allah, habib Thalib galak benar kalau marah. Enggak heran banyak yang takut sama dia kalau udah bawa-bawa hukuman." Bisik Dira ketika melihat punggung sang habib benar-benar menghilang dari pandangan semua orang.


Aish tersenyum kecil.


"Dia sebenarnya baik, kok." Kata Aish memihak.


Gisel langsung memutar bola matanya jengah.


"Iya, dia baik. Tapi baiknya cuma sama kamu." Katanya mengeluh.


"Enggak juga. Kak Khalid tuh orangnya baik dan ramah. Baiknya juga sama semua orang dan enggak cuma sama aku aja." Sangkal Aish di luar, padahal di dalam hati ia saat ini sedang bersorak mendengar kata-kata masam sahabatnya.


Senang tahu bila sang habib hanya perduli padanya.


Dira tidak tahu isi pikiran kepala sahabatnya dan terus mengungkapkan keluhan nya tadi siang.


"Mana ada, kita tuh di mata habib Thalib cuma jadi dayang dayang tahu. Kita enggak bisa masuk ke dalam matanya."


Gisel lalu menimpalinya,"Benar apa yang dia bilang, Aish. Kayak kejadian hari ini. Kan yang nyemplung ke sawah bukan cuma kamu aja, tapi aku sama Dira juga. Kita bertiga sama-sama trauma dan cidera. Tapi mata habib Thalib hanya menangkap kamu aja. Dia panik banget waktu liat kamu nyemplung di sawah dan langsung turun enggak peduli sama pakaiannya jadi kotor. Dan dia jadi makin panik lagi waktu ngeliat tangan kamu berdarah. Tanpa menanyakan keadaan kami berdua, dia langsung ngangkat kamu kayak pengantin dan pergi ke pinggir sawah tanpa ngeliat keadaan kami berdua sedikitpun! Dia tuh perduli nya sama kamu, Aish. Dan kamu berdua yang juga jadi korban malah diserahin ke orang lain." Cerita Gisel misuh-misuh.


Belum selesai Aish memproses cerita Gisel, ada cerita tambahan lagi dari Dira.

__ADS_1


"Dan yang lebih apes lagi tahu enggak, Aish? Kita berdua korban dan sama-sama lemas tapi dijejali duduk di kursi depan. Kursinya kecil jadi kami terpaksa himpit-himpitan. Sedangkan kamu enak banget di belakang dipangku sama habib Thalib! Kalau dilihat sama anak pondok, duh, mati kamu Aish! Mereka pasti terbakar cemburu dan iri sama kamu. Ck...ck...setiap kali mengingat kejadian di mobil, aku selalu merasa sangat kesal!"


Aish membeku. Mata aprikot nya mengerjap ringan menyimak cerita kedua sahabatnya yang telah dianiaya hari ini. Bingung, di dalam hatinya ia bertanya-tanya apakah semua ini adalah mimpi? Apakah semua yang kedua sahabatnya ini memang benar adanya?


Kenapa...kenapa Aish merasa bila ini adalah sebuah cerita fantasi?


Sangat indah, Aish terkadang bermimpi dipeluk atau digendong ala pengantin oleh sang habib. Yah, ia seringkali memikirkannya sebelum jatuh tidur ke alam mimpi. Seakan-akan ini menjadi rutinitasnya setiap malam sebelum tidur.


Tapi ia tidak pernah menyangka jika hal-hal yang selalu ia imajinasikan sebelum tidur ternyata benar-benar terjadi.


Aish menyesal telah melewatkan sesuatu yang sangat penting!


Tunggu dulu, tapi...


"Kalian bohong, yah? Kak Khalid kan pergi keluar sama Nadira dan kak Nasifa. Mana mungkin dia datang saat kita kecelakaan?"


Jangankan Aish, mereka berdua saja bingung kenapa habib Khalid tiba-tiba muncul tadi pagi.


"Aku... juga enggak tahu kenapa dia tiba-tiba ada di sana. Tapi kamu ingatkan waktu aku bilang di atas motor kalau aku sempat ngeliat habib Thalib di antara orang-orang yang mengejar kita?" Dira ingat melihatnya saat masih di atas motor.


Dan Aish juga ingat tapi ia pikir saat itu Dira sedang berbohong.


"Ingat. Aku kira kamu bohong."


"Aku enggak bohong karena aku ngeliat dengan mata kepala aku sendiri kalau habib Thalib ada di sana. Buktinya orang yang ngangkat dan bawa kamu ke rumah sakit ini adalah habib Thalib." Ujar Dira yakin seyakin-yakinnya.


"Kami benar-benar enggak bohong, Aish. Orang yang nolongin kamu adalah habib Thalib. Kita punya banyak saksi untuk masalah ini." Kata Gisel meyakinkan.

__ADS_1


"Jika memang begitu, kenapa kak Khalid tiba-tiba ada di sana? Soalnya aku ngeliat sendiri kak Khalid masuk ke dalam mobilnya waktu itu." Bisik Aish bingung sendiri.


__ADS_2