
Bunda dan Ayah sedang duduk santai di ruang tamu ditemani kopi serta cemilan ringan di atas meja. Suasana rumah sangat hangat dan damai. Rumah jauh lebih tenang dari beberapa hari ini setelah kakek membuat pengumuman bila uang tabungan Aish tak boleh diganggu gugat oleh siapapun sekalipun itu Ayah sendiri.
Ayah sejujurnya merasa malu dengan keputusan ini sebab untuk kehidupan putrinya, mengapa kakek lebih bertanggung jawab daripada dirinya?
"Apa yang sedang mas pikirkan?" Tanya Bunda lembut.
Tiba-tiba suaminya yang aktif berbicara tadi tiba-tiba terdiam dengan tatapan kosong di matanya.
Tersadar, Ayah mengusap wajahnya canggung tak berniat mengungkapkannya kepada sang istri.
"Bukan apa-apa. Kemana Aira? Hari ini dia sedang libur, kan?" Tanya Ayah mengalihkan pembicaraan.
Aira hari ini libur dan biasanya ketika sedang libur, putri kesayangannya itu akan turun dan menghabiskan banyak waktu bersama orang tuanya. Aira tidak akan betah sendirian dan lebih suka bergabung ke dalam perkumpulan keluarga.
"Aira pergi, mas." Jawab Bunda tersenyum sambil menggelengkan kepalanya tidak berdaya.
Pagi-pagi sekali Aira bangun dan membantu di dapur. Lalu setelah sarapan kilat Aira langsung pamit izin ke rumah Mama Nabila untuk menanyakan sesuatu. Apa yang ingin putrinya tanyakan, Bunda sudah menebak nya dan tidak melarangnya.
Sebab ini pertama kali putrinya jatuh cinta dan menanggapi seorang laki-laki. Biasanya Aira akan cuek terhadap lawan jenisnya sendiri.
"Kemana?" Ayah baru saja bertanya dan Aira kebetulan masuk dari luar.
Aira mengucapkan salam dengan wajah cemberut dan duduk di tengah-tengah Ayah dan Bunda.
"Nak, kamu habis darimana?" Tanya Ayah berbicara dengan Aira.
Putrinya mungkin dalam suasana hati yang buruk karena ia tidak seceria biasanya.
Aira memeluk bahu Bunda galau. Hatinya sangat sedih setelah mendengarkan jawaban Mama Nabila beberapa saat yang lalu.
"Aira habis nyari Tante Nabila, Yah. Aira ingin bertanya perihal keberadaan habib Thalib yang sudah lebih dari satu bulan tak pernah terlihat di sini." Jawab Aira semakin lemas memikirkan kemana pujaan hatinya itu.
__ADS_1
Aira ingin tahu kemana saja habib Khalid selama ini karena sudah lama ia tidak melihat batang hidungnya. Setiap kali memikirkan sang habib, Aira pasti bertanya-tanya apakah ia selama ini kurang beruntung karena setiap kali keluar rumah ia tidak pernah melihat bayangan sang habib. Mungkin saja Aira keluar rumah di waktu yang tidak tepat, kan?
Ayah langsung mengerti alasan kenapa putrinya cemberut pagi-pagi begini.
"Terus apa yang Tante Nabila bilang tentang keberadaan habib Thalib?" Tanya Ayah penasaran.
Ayah juga penasaran mengapa habib Khalid tak pernah terlihat dan bahkan tidak pernah bertamu lagi ke rumah. Padahal Ayah sangat menyukai habib Khalid karena selain tampan, sang habib juga memiliki ilmu agama yang luas. Bila bersanding dengan Aira, maka alangkah serasinya mereka.
Aira menghela nafas berat.
"Habib Thalib udah enggak tinggal lagi di sini. Tante Nabila bilang habib Thalib di sini cuma sebentar untuk mengurus suatu urusan, mungkin hanya dua minggu saja. Setelah menyelesaikan urusannya habib Thalib langsung pergi dari sini dan kembali ke pondok pesantren tempatnya mengajar." Jawab Aira sedih.
Betapa sedih hatinya ketika mendapatkan kabar bahwa sang habib tak lagi tinggal di sini dan telah pergi ke kota lain. Aira semakin sedih tatkala memikirkan sang habib yang pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun kepadanya. Padahal ia sudah terlanjur menyukai sang habib dan memiliki harapan yang besar untuk sang habib.
"Kembali ke pondok pesantren?" Ayah mengernyit tak senang.
Ia memang tahu bila habib Khalid bukanlah warga sini dan hanya singgah sebentar saja. Akan tetapi kepergiannya yang tiba-tiba tanpa mengucapkan sepatah katapun kepada putrinya telah membuat Ayah tersinggung. Pasalnya sang habib mungkin memiliki perasaan kepada Aira, kalau tidak, lalu mengapa ia tiba-tiba datang bertamu saat itu?
Aira mengangguk sedih. Habib Khalid benar-benar pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun kepadanya.
"Apakah habib Thalib sudah mengkonfirmasi perasaannya kepada Aira?" Tanya nenek tiba-tiba.
Nenek dan kakek datang ke ruang tamu bersama-sama. Mereka tadi sempat mendengarkan pembicaraan Aira dan kedua orang tuanya.
"Nenek." Panggil Aira malu.
Tidak hanya tidak pernah membicarakan masalah perasaan, habib Khalid bahkan tidak pernah memperhatikannya saat sengaja berpapasan. Habib Khalid selalu diam seribu bahasa dan berjalan terus tanpa niat menghentikan langkahnya.
Aira tahu itu memalukan tapi ia selalu percaya bila sang habib begitu karena mereka masih belum mahram.
"Belum..." Jawab Aira lebih malu lagi.
__ADS_1
Kakek di samping nenek tiba-tiba menggelengkan kepalanya tidak berdaya.
"Lalu mengapa kamu bersikap seolah-olah kamu memiliki hubungan dengannya? Lihat tingkah mu yang ceroboh, jangan sampai kamu membuat masalah untuk diri sendiri." Kata kakek memperingatkan. Ekspresi wajahnya yang tua agak terdistorsi.
Wajah Aira langsung memerah di peringatkan oleh kakek. Ia juga tidak tahu mengapa sikapnya seperti ini, mengklaim seolah-olah ia memiliki hubungan dengan sang habib.
Tidak hanya Aira saja yang merasa malu, namun Ayah dan Bunda juga tak kalah malunya. Mereka pikir Aira sudah masuk ke tahap itu, tapi siapa yang mengira bila Aira tidak pernah sampai ke tahap itu?
"Bukankah kakek pernah bilang akan membantu Aira berbicara dengan keluarga habib Thalib?" Kata Ayah malu-malu.
Kakek langsung menggelengkan kepalanya menolak.
"Waktu itu aku belum mengenalnya. Aku pikir dia adalah orang asing. Tapi setelah dia mengatakan namanya, barulah aku sadar jika dia adalah 'anak itu'." Menghela nafas panjang, wajah kakek tiba-tiba menunjukkan ekspresi kelegaan yang langka. Ia lalu melihat Ayah dan Bunda sambil berbicara dengan serius,"Anak itu tidak mudah diprovokasi. Aku harap kalian tidak membuatnya marah."
Peringatan kakek agak aneh dan menimbulkan berbagai macam tebakan di dalam hati Ayah. Ia bertanya-tanya siapa sebenarnya habib Thalib hingga membuat kakek berbicara seserius ini?
Dan yang lebih mengejutkannya lagi, kakek ternyata mengenal habib Khalid sementara Ayah sendiri yang jauh lebih muda tidak mengenalnya.
"Tapi Aira suka sama dia, kakek. Apakah kakek tidak mau membantu Aira dekat dengannya?" Tanya Aira tak puas.
Kakek menggelengkan kepalanya serius.
"Bukannya kakek tidak mau, tapi kakek memang tidak bisa melakukannya." Kata kakek enggan menjelaskan lebih jauh.
Melihat Aira seperti ini, kakek tiba-tiba memikirkan cucu terkasihnya yang jauh di kota lain. Cucunya memang keras kepala tapi tidak pernah sampai memaksakan kehendaknya, apalagi bila lawan bicaranya adalah kakek. Cucunya itu sebenarnya berhati lembut dan baik hati, tapi tertutupi tampang acuh tak acuh nya.
Berbanding terbalik dengan Aish yang agak cuek tapi berhati lembut, Aira justru telah membuat kakek kecewa.
Ia benar-benar kecewa dengannya.
"Kita bisa mencobanya." Bisik Aira sedih bercampur marah.
__ADS_1