
Tapi berbeda dengan Gadis sendiri. Ia malu setelah dibantah oleh Siti dan lebih malu lagi mendengar teman-teman kamar mendukung Aish.
Ia kesal dan merasa tak puas. Menurutnya Aish terlalu berlebihan hanya untuk hari berduka. Yang pernah ditinggalkan orang tuanya pergi bukan cuma Aish aja, jadi tak seharusnya Aish bersikap lebay.
"Sedih berlebihan itu dilarang di dalam Islam..." Gumam Gadis di dengar oleh Siti.
Namun Siti tidak mengatakan apa-apa dan hanya mengabaikan provokasi Gadis. Bukannya melayani Gadis, ia malah pergi ke kasurnya dan bersiap tidur.
Gadis cemberut diabaikan. Kesal, ia dengan enggan membaringkan tubuhnya di atas ranjang.
Tak ingin memikirkan masalah Aish lagi, pikiran Gadis lalu beralih memikirkan uang belanja nya yang sebentar lagi akan habis. Gadis agak boros bulan ini karena punya banyak uang. Tapi setelah menipis, ia tiba-tiba menyadari betapa borosnya ia. Bila waktu diulang kembali, Gadis pasti tidak akan menghabiskan uangnya untuk berbelanja terus dan memilih untuk menabungnya. Sekarang ia hanya bisa menunggu kiriman dari orang tuanya yang tidak seberapa banyaknya.
...****...
Sementara itu di luar asrama, Aish, Dira, dan Gisel sedang berjalan mengendap-endap dibalik semak-semak. Mereka memperhatikan jalan sekitar dengan kegugupan bertegangan tinggi takut bertemu dengan orang yang berpatroli.
"Belum terlambat untuk kembali ke asrama." Bisik Gisel sambil planga-plongo melihat ke sekitarnya.
Dira mendengus.
"Kita udah di mau perang, masa main kabur aja."
Gisel memutar bola matanya malas.
"Yang perang kamu aja, deh. Aku lebih baik jadi petugas medis aja. Nanti panggil aku kalau kamu udah mati di medan perang, yah." Gisel bercanda, sebenarnya sih serius.
"Wah ngajak ribut yah, kamu-"
"Hush, ada orang." Potong Aish di samping.
Gisel dan Dira langsung menutup mulut serapat mungkin. Bahkan suara nafas mereka pun di kontrol seringan mungkin.
__ADS_1
Namun, setelah menunggu lama, tak satupun ada orang yang lewat. Dira dan Gisel berpikir bila Aish sedang membohongi mereka berdua. Padahal Aish sama sekali enggak berbohong.
"Jangan gitu, ah, Aish." Kata Dira melepaskan perasaan gugupnya.
Aish mengernyit.
"Aku enggak..." Bisik Aish ragu-ragu.
Perasaan tadi ia mendengar suara langkah kaki di sekitar sini.
"Sekarang udah sepi. Kita bisa langsung ke masjid." Kata Gisel mendesak.
"Okay, kita pergi sekarang." Kata Dira membuat keputusan.
Setelah memutuskan semuanya aman, mereka lalu menyebrang ke jalan setapak dan berjalan di sisi jalan yang lebih gelap agar posisi mereka tersamarkan. Berjalan beberapa menit dengan lancar, sampailah mereka di depan masjid Abu Hurairah, masjid kebanggaan pondok pesantren mereka. Di dalam masjid tidak ada satupun santriwati dan malah di dominasi oleh banyak santri. Para santri itu duduk di atas sajadah sambil membaca Al-Qur'an dengan khusyuk. Tak satupun orang di dalam sana yang sedang bersantai.
Mereka semua sibuk berbicara dengan Sang Maha Kuasa, mengandalkan berbagai macam jenis seni rayuan agar Sang Maha Kuasa mau mendengarkan dan memperhatikan mereka.
Suara mereka yang bergema di dalam masjid sangat syahdu ketika melantunkan ayat-ayat cinta Al-Qur'an. Membuat hati sanubari yang mendengarnya bergetar ringan ikut mengembangkan kerinduan di dalam hati.
Tidak hanya Dira yang kagum, tapi Gisel dan Aish pun tidak kalah kagumnya. Mereka semua langsung terhanyut oleh suara-suara indah itu.
"Jika benar, maka para pangeran surga ini sungguh tidak layak untukmu." Kata Gisel hambar.
Dira mengernyit,"Lho, kenapa?"
Gisel tersenyum tipis,"Bukankah sudah jelas, kamu kotor dan mereka bersih. Jaraknya bagaikan bumi dengan langit." Jawab Gisel menyiram air dingin ke atas angan-angan Dira.
Sejujurnya kata-kata ini ia katakan untuk dirinya yang hina, yang tidak tahu malu dan tidak tahu diri.
"Kamu benar, maka dari itu mulai sekarang aku akan bercita-cita mencari Daddy sugar aja daripada mengharapkan para pangeran surga." Ujar Dira sambil menggelengkan kepalanya menyesal.
__ADS_1
Gisel langsung terdiam dibuatnya,"...."
Sementara itu di samping, mulut Aish berkedut mendengar percakapan luar biasa kedua sahabatnya.
"Okay, jangan ngobrol terus. Kita harus cepat masuk sebelum dilihat oleh orang lain." Pasalnya gelombang santri yang masuk masih berdatangan.
Meskipun hanya satu dua orang, tapi mereka tetap membahayakan keselamatan.
Mata Dira langsung menatap pintu masuk masjid seperti nyala obor. Setelah memastikan tidak ada yang masuk lagi, ia langsung memimpin jalan masuk ke dalam masjid dan langsung berbelok naik tangga menuju lantai dua yang dikhususkan hanya untuk kaum santriwati.
****
"Lho, perasaan lantai dua tadi enggak ditutup." Ucap salah satu santri bingung.
Beberapa saat yang lalu lantai dua masih bisa dinaiki dan bebas akses. Mereka hanya berpaling beberapa menit saja dan lantai dua tiba-tiba ditutup.
"Kalau ditutup artinya kita enggak bisa naik ke atas." Kata santri yang lain.
Mereka awalnya akan ke lantai dua untuk membaca Al-Qur'an sekalian menaruh surat cinta mereka untuk santriwati yang mereka kagumi. Tapi niat mereka harus dihilangkan saat melihat palang kuning yang yang sengaja di taruh di atas tangga. Palang kuning berarti jika tidak ada yang boleh naik ke atas dan jika dilanggar, pondok akan memberikan denda terhadap poin mereka.
"Sayang sekali, aku belum menaruh surat ku." Gumam salah satu santri.
Normalnya pertukaran surat seperti ini di pondok pesantren. Jika tidak di perpustakaan, maka mereka hanya bisa melakukannya di masjid ketika kosong. Surat yang mereka tulis akan diselip di rak-rak buku di lantai dua dan telah ditandai sebagai tempat pertukaran sepasang kekasih. Surat mereka tidak akan tertukar karena ada kode nama di masing-masing surat.
Ini sudah berlangsung lama dan belum ada cerita yang ketahuan.
"Besok aja. Masih ada kesempatan." Kata temannya menghibur.
Setelah mengobrol sebentar, mereka akhirnya keluar dari masjid dan memutuskan untuk kembali ke asrama. Di jalan ke asrama topik pembicaraan mereka masih berputar pada tangga menuju lantai dua yang tiba-tiba di palangi. Mereka heran sekaligus bertanya-tanya siapa yang menaruh palang itu di sana. Apakah palang itu memang sengaja untuk menutup akses atau hanya pekerjaan iseng salah santri saja?
Tidak ada yang tahu jawabannya untuk saat ini.
__ADS_1
...****...
Di atas lantai dua Aish, Dira dan Gisel kini tengah duduk bersandar menghadap langsung ke jendela masjid. Dari tempat mereka duduk ini, mereka bisa melihat hamparan luas langit yang bertabur indahnya bintang. Suasana akan jauh lebih romantis lagi bila ada teman untuk bicara.