Mengejar Cinta Sang Habib

Mengejar Cinta Sang Habib
Bab 16.4


__ADS_3

Setelah selesai makan siang, Gisel mengumpulkan sampah di atas nakas dan membawanya keluar untuk dibuang. Kebetulan sekarang mereka ada di luar pondok sehingga mereka bisa membeli makanan apapun yang tidak bisa mereka temui di pondok pesantren. Meskipun ini rumah sakit tempat orang-orang sakit berkumpul, sejujurnya tidak ada perbedaan dalam hal makanan karena yang kantin rumah sakit jual juga enak-enak kok.


Menyentuh dadanya, ada sekumpulan uang yang tersembunyi di dalamnya. Untungnya uang ini tidak basah saat dia tercebur ke dalam lumpur tadi pagi karena dompetnya kebetulan dompet kulit yang jelas anti air.


Sebelum pergi Gisel masuk ke dalam kamar mandi dulu untuk menarik sejumlah uang dari dalam dompetnya.


"Guys, aku keluar cari ingin dulu, yah. Di sini bau obatnya terlalu kuat, aku enggak suka." Kata Gisel kepada mereka berdua.


Dira dan Aish mengangguk ringan tanpa banyak bertanya. Lagian kamar Aish memang agak keras bau obat-obatannya dibandingkan kamar lain. Mungkin sebelum Aish datang ke sini, pernah ada pasien yang telah dirawat di kamar ini sehingga masih meninggalkan bekas.


"Pergi aja. Jangan keluyuran terlalu jauh." Peringat Aish kepadanya.


"Okay."


Dia lalu menutup pintu kamar Aish dan segera membawa langkahnya menuju kantin rumah sakit. Kamar Aish untungnya di lantai satu, lumayan dekat dengan kantin jadi Gisel tidak perlu susah-susah mencari jalan ke kantin.


Kantin lumayan ramai. Tidak ada meja makan di sini karena orang-orang hanya diizinkan belanja dan tidak bisa makan di tempat.


"Bu, pastanya 3. Saosnya tolong agak pedas, yah." Pesan Gisel ke penjaga kantin.


Penjaga kantin menjawab singkat dan segera mengemasi pasta yang diminta oleh Gisel. Selain membeli pasta, dia juga membeli beberapa roti lembut dan kue manis sebagai makanan penutup. Tidak lupa juga membeli beberapa botol minuman untuk kedua sahabatnya.


Jumlah total belanjaannya kurang dari dua ratus ribu. Ini tidak banyak tapi lumayan mahal untuk Gisel karena menurutnya belanjaan nya tidak terlalu banyak.


"Aku...aku mau ini." Seorang anak perempuan berdiri canggung menatap sepotong kue manis di dalam etalase.


Sambil menunggu pembayaran, Gisel membawa pandangannya melihat gadis kecil itu karena suaranya agak familiar.


"Nak, dimana orang tuamu? Kamu tidak bisa mengambil kue ini tanpa memberikan uang kepadaku." Bibi penjaga kantin bertanya dengan ramah kepada gadis kecil itu.


Tindakan bibi bisa dimaklumi karena semua makanan yang dijual di dalam kantin adalah milik orang lain. Sedangkan beberapa penjaga di sini hanya bertugas menjual saja.

__ADS_1


Gadis kecil itu menundukkan kepalanya menatap kedua tangan gembil nya yang kosong. Lalu wajah kecilnya yang imut menatap penjaga kantin dengan ekspresi polos.


"Aku tidak punya uang." Kata gadis kecil itu bingung.


"Tapi aku mau makan kue ini.." Gadis kecil itu kembali menunjuk kue di dalam etalase.


"Dimana orang tua mu, Nak? Kenapa mereka membiarkan kamu di sini sendirian?" Penjaga kantin itu merasa pusing menghadapi gadis kecil itu.


Wajah gadis itu langsung cemberut terlihat sangat imut dan manis. Orang-orang yang ada di sekelilingnya merasa gemas dengan kelucuannya.


"Papa... enggak mau nemenin Mama ke rumah sakit, jadi Mama ajak Sina datang ke sini. Tapi... Sina enggak tahu kemana Mama pergi?" Tanyanya bingung.


Mendengar dari penjelasannya saja semua orang langsung mengerti jika anak ini tidak sengaja berpisah dari Mamanya dan tersesat ke kantin rumah sakit.


Sina?


Nama gadis kecil ini langsung mengingatkan Gisel pada sosok anak perempuan yang tiba-tiba datang memanggil laki-laki jangkung itu Papa. Jika dugaannya benar, maka anak ini adalah putri laki-laki jangkung di malam itu. Tidak, ini bukan hanya dugaan karena baik suara dan nama ini sama persis.


Ngomong-ngomong, anggap saja ini sebagai balas budinya atas nasihat yang diberikan oleh Papah anak ini.


"Nak, kamu.." Bibi penjaga kantin menatap Gisel ragu.


Gisel tersenyum lembut.


"Bibi, ini salahku tidak mengenalinya. Sina adalah putri dari temanku. Dia pasti tidak sengaja berpisah dari Mamanya. Kebetulan dia berasal dari pondok pesantren Abu Hurairah, jadi aku bisa membawanya kembali jika Mamanya tidak kunjung ditemukan." Kata Gisel menjelaskan.


Saat mendengar nama pondok pesantren disebutkan, mata Sina langsung berbinar terang.


"Di sana tempat pamanku bersekolah! Kakak, kamu mengenal pamanku?" Tanyanya dengan nada suara yang manis.


Ekspresi cemberut di wajahnya segera menguap digantikan oleh sapuan yang manis dan lucu. Melihat gadis kecil ini begitu cantik dan memiliki perilaku yang baik, Gisel menebak jika Papa anak ini mungkin sangat tampan. Em, Mamanya juga mungkin terlihat cantik. Kalau tidak, bagaimana mungkin gen anak ini terlihat sangat cantik?

__ADS_1


"Pamanmu? Mungkin aku mengenali nya." Ada banyak santri di sana, dan dia hanya mengenal beberapa orang saja jadi dia tidak yakin yang mana dari orang-orang itu adalah pamannya.


"Kakak sangat baik dan cantik, Sina senang bertemu dengan kakak."


Melihat gadis itu akrab dengan Gisel, bibi penjaga kantin itu langsung membungkus kue yang gadis kecil itu minta dan menggabungkan tagihannya ke belanja Gisel. Alhasil, Gisel harus menambahkan sedikit uang lagi untuk gadis kecil ini.


"Ayo pergi. Kita akan mencari Mama mu nanti." Ajak Gisel sambil merebahkan tubuhnya meraih tangan mungil gadis kecil itu.


Gadis itu pergi dengan patuh bersamanya. Mereka berdua pergi berjalan-jalan di sekitar lorong rumah sakit untuk mencari Mama Sina. Namun lama berjalan ke sana kemari, mereka tidak kunjung menemukannya. Kaki Sina masih muda dan dia mudah kelelahan setelah banyak belajar.


"Ayo duduk di sini." Gisel menarik Sina duduk di kursi tunggu rumah sakit dan mengeluarkan sepotong kue yang Sina sukai.


Beristirahat di sana, Gisel dengan sabar mendengarkan celotehan Sina tentang betapa baik Papanya. Apapun yang Papanya lakukan selalu terlihat luar biasa di mata Sina. Sebagai seorang pengamat yang kekurangan kasih sayang orang tuanya, Gisel tanpa sadar merindukan sosok Ayahnya. Jika Ayahnya masih ada di sini, mungkin dia juga akan seperti Sina. Menjunjung tinggi kemanapun Ayahnya pergi dan menganggap bahwa Ayahnya adalah satu-satunya Ayah terbaik di dunia ini.


Dia mungkin akan seperti ini.


"Sina!" Panggilan seseorang sontak menarik perhatian mereka berdua.


Gisel langsung menoleh ke sumber suara dan langsung tercengang ketika melihat seorang laki-laki jangkung berjalan cepat menghampiri mereka. Laki-laki jangkung itu masih menggunakan jas kerjanya, sepertinya dia buru-buru datang ke sini dan meninggalkan pekerjaannya di dalam kantor.


Melihat laki-laki itu semakin dekat, Gisel langsung berdiri dari duduknya dan tidak sengaja menjatuhkan barang-barang belanjaannya hingga keluar berhamburan dari kantong plastik.


Kaget, badannya spontan berjongkok untuk memungut belanjaannya yang tersebar di lantai.


"Jangan ceroboh." Ada tangan extra membantunya mengumpulkan barang-barang.


Tangannya sangat besar dengan jari jemari yang panjang. Sekilas, Gisel dapat membayangkan betapa nyamannya tangan itu ketika menggenggam tangannya-


Astagfirullah, apa yang sedang aku pikirkan! Sadar, Gisel! Batinnya merutuki.


"Terima kasih." Ucap Gisel malu.

__ADS_1


__ADS_2