
Gisel memutuskan untuk keluar sendiri. Saat keluar dia sengaja membawa makanan yang dibeli tadi siang di kantin. Masih ada beberapa bungkus makanan yang cukup dimakan hingga besok. Karena kehilangan uang semalam, Gisel belajar untuk tidak melepas uangnya begitu saja di dalam lemari. Untuk mengamankan uangnya agar tidak hilang lagi, Gisel menyimpannya di dalam pakaian dalamnya- oh, jangan berpikir yang aneh-aneh. Baju dalam Gisel punya saku yang bisa dibuka tutup untuk menyimpan barang-barang pribadi saat berpergian. Untunglah Gisel ingat untuk membawanya saat diusir ke pondok pesantren. Kalau tidak, maka malam ini dia pasti akan kebingungan kemana menyembunyikan uangnya.
"Tapi gara-gara Aish, pelakunya pasti tidak ingin mencuri lagi. Setidaknya untuk saat-saat ini, kejadian ini tidak terulang lagi." Gumam Gisel tertawa kecil memikirkan betapa panik pelaku pencurian itu sekarang.
Mengangkat bahunya tidak perduli, dia lalu keluar dari kamar dengan kantong kresek hitam ditangannya. Saat pergi, beberapa pengawas pintu menyapanya agar bergabung bersama mereka untuk bermain kartu. Sayang sekali Gisel menolak ajakan mereka.
"Um, asrama sangat ramai. Malam minggu di pondok pesantren sesungguhnya tidak seburuk yang ada di kota." Melihat ke sana kemari, para santriwati ada dimana-mana.
Ada yang membaca buku di taman dengan mengandalkan cahaya lampu, ada yang asik mengobrol- entah apa yang mereka bicarakan tapi yang pasti ekspresi wajah mereka beraneka ragam, dan ada juga yang sama dengan dirinya yaitu menikmati malam berbintang di atas hamparan rumput.
Malam ini gerbang belum ditutup jadi para santriwati bisa keluar tapi tidak bisa pergi terlalu jauh dari asrama. Kalau ketahuan, petugas kedisiplinan asrama putri akan mencatat pengurangan poin untuk orang yang melanggar peraturan.
"Mau kemana, kak?" Seorang petugas kedisiplinan asrama putri yang berjaga di gerbang menyapa Gisel.
Gisel menatap petugas kedisiplinan asrama putri dengan wajah polos dan sopan tanpa perilaku sombong seperti dulu.
"Aku mau duduk di atas rumput sana, kak, untuk ngeliat bintang." Lapor Gisel tidak menyembunyikan tujuannya.
Senior itu menatap Gisel aneh tapi tidak memberikan komentar apa-apa. Lagipula tidak ada salahnya melihat bintang dan justru kegiatan ini cukup bagus untuk merenungi betapa Kuasa Allah SWT ketika menciptakan langit dan seisinya.
__ADS_1
"Kakak boleh pergi asal jangan kemana-mana, yah. Jika kakak pergi, kami akan mencatat pengurangan poin untuk kakak. Oh ya, kakak juga tidak diizinkan berlama-lama di luar. Sebelum pukul 10 malam, kakak harus kembali ke sini jika tidak mau ditutupi gerbang." Jelas senior itu memberitahu Gisel beberapa peraturan yang tidak boleh dilewati dan dilanggar.
Aish mengangguk sopan tanda mengerti. Setelah mencatat namanya di buku catatan, Gisel lalu melanjutkan langkahnya ke hamparan rumput hijau di depan asrama. Yang datang ke sana bukan hanya dirinya saja karena sesampai di sana, Gisel bertemu dengan banyak santriwati yang datang secara berkelompok. Beberapa kelompok asik mengobrol sambil rebahan di atas rumput dan lainnya, Gisel tidak terlalu memperhatikannya. Karena orang-orang terlalu ramai, dia mengubah rencananya dan berjalan agak jauh ke samping mencari tempat yang cukup sepi untuk menghabiskan malam minggu.
"Nah, di sini lebih baik."
Lalu dia duduk di atas rumput bersama dengan kantong kresek hitam di tangannya.
Gisel mengangkat kepalanya ke atas, memandangi hamparan langit berbintang jauh di sana. Hangat, ada sentuhan lembut yang mulai merayapi hatinya. Aneh, hatinya merasakan sebuah rindu yang sangat manis di hatinya. Bukan merindukan keluarga ataupun orang tuanya yang sudah meninggal, perasaan ini jauh dari ini. Rasa ini seperti sentuhan lembut yang tidak membuat hatinya tidak nyaman, justru sebaliknya, dia merasakan kerinduan yang teramat rindu dan tak mampu diungkapkan dengan kata-kata.
"Ya Allah, apakah ini yang dimaksud dengan nikmat iman?" Tanyanya berharap.
"Tapi aku ini kotor, masih layakkah?" Bisiknya sendu.
Masih bolehkah dirinya mengadu pada Sang Maha Pengasih atas segala sesuatu kesakitan yang dia rasakan selama ini?
Apakah...
"Allah masih mau mendengar ku?" Bisiknya bertanya-tanya dengan senyuman tipis di sudut bibirnya.
__ADS_1
Jelas ada jejak keraguan di dalam mata sendunya.
Dia sungguh mahluk yang hina lagi kotor. Untuk rasa malunya, Gisel merasa bila dia memiliki langkah lagi untuk kehidupan akhiratnya.
Dalam kesedihannya, tiba-tiba sebuah suara berat menjawab semua keraguan dan kebingungan dalam satu helaan nafas.
"قُلْ يٰعِبَا دِيَ الَّذِيْنَ اَسْرَفُوْا عَلٰۤى اَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوْا مِنْ رَّحْمَةِ اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعًا ۗ اِنَّهٗ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ"
(QS. Az-Zumar 39: Ayat 53)
"Al-Quran, surat Az-Zumar 53 dapat menjadi salah satu cahaya di tengah gulita bagi mereka yang merasa terjebak dalam keputusasaan karena bergelimang dosa. Allah SWT secara khusus berfirman dalam ayat tersebut bahwa: 'Katakanlah : Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu putus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Seorang laki-laki jangkung tiba-tiba berdiri dari semak-semak di depan Gisel.
Gisel ketakutan. Jika dia sebelumya dia tidak mendengar suara laki-laki ini melambungkan ayat suci Allah, maka dia pasti mengira jika laki-laki ini bukanlah manusia. Tapi tunggu dulu? Sejak kapan orang ini ada di sini?
Jika selama ini dia selalu duduk di sini mata tamatlah sudah. Orang ini pasti mendengarkan ucapannya selama ini!
Laki-laki jangkung itu berjalan menjauh dari semak-semak dan berdiri beberapa meter jauhnya dari Gisel dengan wajah terangkat menghadap hamparan langit di atas sana.
__ADS_1
"Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu dia berkata: 'Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melewatkan: “Allah berfirman: ”Wahai Bani Adam, sesungguhnya jika engkau senantiasa berdoa dan berharap kepada–Ku sesungguhnya Aku akan mengampunimu semua dosa yang ada padanya dan Saya tidak peduli. Wahai anak Adam seandainya dosamu setinggi langit, kemudian engkau memohon ampun kepada– Ku, niscaya aku akan memberikan ampunan kepadamu dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam seandainya Anda menghadap kepada–Ku dengan membawa dosa sepenuh bumi kemudian Anda bertemu dengan–Ku dalam keadaan tidak menyekutukanKu dengan sesuatu apapun, tentunya Aku akan mendatangimu dengan ampunan sepenuh bumi pula.” (HR. At-Tirmidzi).
Dalam keterkejutan Gisel yang masih belum surut, laki-laki jangkung itu kembali membuka mulutnya untuk berbicara. Mengucapkan beberapa patah kata serius yang biasanya Gisel dengar saat pengajian di masjid. Laki-laki ini adalah orang yang sangat cerdas dan memiliki pandangan agama yang dalam, itulah kesan yang Gisel dapatkan malam ini.