
Hem, hentikan pikiran ini tapi yah...dia harus mengakui bahwa hatinya sangat bahagia bisa pergi bersama habib Khalid meskipun ada tiga beban tambahan di belakangnya.
"Apa...apa tidak apa-apa?" Tanya Aish masih berpikir jernih.
Habib Khalid menggelengkan kepalanya.
"Tidak apa-apa. Kebetulan aku akan pergi ke pasar untuk mengambil barang pesanan pondok."
Ini adalah keberuntungan yang sangat indah! Pikiran Aish berteriak senang.
Aish mengepalkan tangannya senang. Jika pertahanan psikologisnya tidak tinggi, maka Aish pasti sudah berteriak senang menyetujui tawaran habib. Namun dia masih bisa berpikir jernih dan perlu mempertimbangkan pendapat teman-temannya yang telah dia klasifikasi kan sebagai 'beban'.
"Bagaimana?" Aish menoleh ke samping.
Siti, Gisel, dan Dira langsung setuju tanpa banyak berpikir. Siti hampir tidak pernah pergi ke pasar sejak belajar di pondok sedangkan Dira dan Gisel sangat penasaran dengan apa yang disebut pasar itu. Masalahnya mereka belum pernah memasuki pasar karena gaya hidup mereka yang buruk.
"Baiklah. Kami akan ikut dengan habib." Kata Aish tanpa sadar tersenyum.
Habib Khalid tampak menghela nafas- samar, Aish tidak terlalu memperhatikannya.
Habib Khalid lalu meminta mereka semua masuk ke dalam mobil. Karena mereka ada 4 orang, maka habib meminta 3 orang duduk di kursi belakang sedangkan 1 orang di depan. Tentu saja diantara mereka berempat orang yang dengan sukarela duduk di depan adalah Aish sedangkan sisanya berada di belakang.
"Wajahnya enggak kram apa dari tadi senyum terus?" Tanya Dira penasaran sambil melirik habib Khalid yang sedang menyetir.
Gisel juga menanyakan hal yang sama karena habib Khalid sangat suka tersenyum kemanapun dan dimana pun. Ada pesona tersendiri setiap kali seorang laki-laki suka tersenyum, apalagi orang itu adalah seorang habib, manusia yang diidolakan tanpa perlu membuat ajang pamer.
Akan tetapi Gisel dan Dira merasa bila pesona habib Khalid terlalu mahal untuk mereka. Hidup mereka tidak akan disia-siakan untuk berurusan dengan duri-duri dari master mawar berduri. Cukuplah Aish sebagai tumbal dan mereka pun merelakannya.
"Konyol." Gumam Siti melihat kekonyolan Gisel dan Dira.
Di dalam hatinya Siti memberikan poin yang baik untuk mereka bertiga. Dia pikir mereka bertiga adalah anak pemberontak yang suka membuat masalah untuk menarik perhatian, terutama perhatian sang habib, tapi setelah melihat interaksi mereka tadi, faktanya Gisel dan Dira terkesan ingin menjauhkan diri sedangkan Aish...dia tidak bisa menilainya untuk saat ini.
Yang pasti, menurutnya mereka tidak seburuk yang dipikirkan orang.
Perjalanan ke pasar hanya di tempuh beberapa menit saja dengan kecepatan mobil.
__ADS_1
Dalam beberapa menit mereka akhirnya sampai di depan pasar yang sudah dipadati oleh warga.
"Kami harus kemana setelah ini?" Bingung Aish ketika melihat keramaian di depannya.
Dia langsung menjadi bodoh dan tidak tahu harus menggerakkan kakinya kemana setelah sampai di pasar.
"Ikuti teman kamar mu." Kata habib Khalid.
Mata mereka bertiga kompak melihat satu-satunya anak pondok yang terpaksa diseret ikut bersama mereka.
Siti meremat tangannya malu karena diperhatikan tapi dia ekspresi wajahnya terlihat sangat datar.
"Aku akan mengurus mereka, habib, untuk mencari keperluan. Tapi... setelah ini bagaimana kami bisa kembali ke pondok?" Tanyanya hati-hati tanpa berani melihat ke habib Khalid langsung.
"Aku akan mengantarkan kalian pulang. Jika kalian sudah selesai berbelanja, kembalilah ke sini karena aku tidak akan pulang sebelum kalian kembali." Kata habib Khalid.
Setelah mendapatkan kepastian dari habib Khalid, mereka berempat lalu mengucapkan pamit dan langsung masuk ke dalam pasar.
Aish sejujurnya enggan pergi tapi dia tidak bisa tinggal dan mengikuti kemanapun habib Khalid pergi sebab mereka punya urusan masing-masing di sini. Selain itu habib Khalid pasti sangat risih jika dia diikuti kemana-mana, em, Aish bisa menerima fakta ini.
"Keliatannya enak-enak, beli yuk." Ajak Gisel tergoda.
Siti juga tergoda dengan aneka makanan di pondok tapi dia berusaha untuk menahan diri agar tidak terlihat norak seperti mereka berdua.
"Kalau kalian mau tinggal beli saja." Kata Siti santai.
Siti mengizinkan tapi Gisel dan Dira tidak langsung pergi, mereka melihat Aish dengan mata cerah seolah menunggu tiket lotre. Keberadaan Aish tiba-tiba menjadi lebih tinggi di hati mereka semenjak berkumpul di pondok. Mereka tanpa sadar menganggap Aish sebagai ketua yang harus didengarkan.
"Beli." Kata Aish juga ingin membeli.
Gisel dan Dira langsung melesat menuju pedagang. Siti telah meremehkan daya beli mereka. Dia pikir mereka hanya membeli beberapa biji saja untuk dimakan santai tapi nyatanya dia salah paham karena mereka malah membeli sekantong besar makanan tradisional dengan aneka macam di dalamnya.
"Ini..." Siti kaget.
Aish tidak terlalu memikirkannya.
__ADS_1
"Bagikan juga ke anak-anak yang lain nanti kalau makanannya lebih."
Ini bukan lagi lebih tapi sudah berlebihan namanya. Namun Siti tidak mengatakan apa-apa dan cukup merasa hangat karena Aish nyatanya tidak sedingin yang dia pikirkan. Meskipun mereka tidak akrab tapi Aish juga memikirkan teman-teman kamar yang lain.
"Eh yang itu juga kayaknya enak, deh."
"Beli."
Mereka berjalan beberapa langkah ke depan lagi,
"Aduh..ini kan jajanan yang sering nenek aku buat tiap kali ke rumahnya. Sumpah, ini enak banget!"
"Serius?"
"Sumpah!"
"Beli!"
Mereka membeli sekantong kresek hitam di bawah mata kejutan Siti.
Para pedagang senang dengan pembeli yang murah hati seperti mereka sehingga setiap kali membeli makanan, mereka akan diberikan bonus yang tidak seberapa namun sangat membuat Gisel dan Dira senang.
Alhasil tangan mereka semua sudah penuh oleh belanjaan makanan sebelum bisa membeli baju.
"Jangan membeli makanan lagi karena kita tidak akan bisa membawanya kembali." Cegah Siti saat melihat mereka berdua mulai beraksi.
Aish juga tidak berdaya dengan daya beli mereka berdua yang sangat tinggi. Sekarang tangan mereka berempat sudah penuh dengan berbagai macam hal yang sejujurnya tidak terlalu penting karena isinya hanya makanan saja!
"Oh, ini..." Dira baru menyadarinya.
Mereka semua tampak kebingungan dengan barang belanjaan mereka yang membeludak dan sempat berencana menyewa jasa pembawa barang. Tapi rencana itu langsung digagalkan ketika habib Khalid datang.
"Bagaimana, apa kalian sudah selesai berbelanja?" Tanya habib Khalid kepada mereka.
Siti sangat malu dihadapan habib Khalid dan tidak berani mengatakan apa-apa. Dia merasa sangat teledor karena tidak bisa menghandle Dira dan Gisel saat berbelanja.
__ADS_1
"Kami belum membeli baju, habib." Lapor Aish juga malu.