Mengejar Cinta Sang Habib

Mengejar Cinta Sang Habib
Bab 7.7


__ADS_3

"Aku tidak menuduhnya tapi aku menasehatinya dengan baik agar kejadian ini tidak-"


"Ck..ck, apa Ibu pikir kami tidak bisa membedakan mana tuduhan dan mana kata-kata nasehat?" Tanya Gisel sarkas.


Wajah ustazah langsung sembelit melihat ketiga orang ini tidak mau mematuhi kata-katanya dan malah memberontak balik. Dia sangat meremehkan mereka sebelum bertemu. Dia kira mereka akan mudah dilobi tapi justru sebaliknya, sikap mereka sangat kasar dan tidak suka dikritik.


"Dari kata-kata Ibu barusan telah membuktikan bahwa dalam masalah ini kamilah yang salah karena telah memprovokasi duluan gadis bermuka dua itu. Padahal kalau Ibu benar-benar menelaah masalah ini dan mencari tahu sebab akibat dari masalah ini, maka mungkin Ibu tidak akan pernah berpikir seperti itu. Ibu pasti tahu jika sejak awal gadis bermuka dua itu yang mengganggu kami duluan. Adapun perlawanan kami selama ini adalah bentuk pembelaan diri kami untuk kejahatan yang dia lakukan. Apa kami harus diam saja dizolimi olehnya? Apa kami tidak boleh membantu diri kami sendiri saat gadis bermuka dua itu bertindak jahat kepada kami? Enggak kan, Bu. Cara itu enggak benar jadi kami harus membela diri kami sendiri. Tapi sayangnya pembelaan kami di mata Ibu adalah sebuah provokasi yang disengaja, dimana masalah ini terjadi karena kami telah mengganggu gadis bermuka dua itu. Ck, penilaian Ibu terhadap masalah ini telah membalikkan kesan kami terhadap pondok pesantren. Kami pikir pondok pesantren sesuci dan seindah namanya. Dimana ilmu agama begitu tegak didirikan dan memiliki akhlak yang indah. Namun nyatanya kami salah karena baik pondok pesantren dan dunia luar tidak ada perbedaan. Oh, aku lupa. Kalian punya satu perbedaan. Jika di dunia luar orang-orang seperti ini tidak menggunakan pakaian tertutup atau kerudung panjang, mereka tidak tersamarkan, tapi di sini kalian bertingkah sok alim dengan pakaian tertutup dan kerudung panjang tapi memiliki hati yang sehitam dasar panci. Huh, aku merasa lucu memikirkannya." Tukas Aish sangat marah.


Dia tidak menyadari bila kemarahannya telah menginfeksi orang-orang yang ada di dalam staf layanan. Perhatian semua orang sekarang beralih dari dokumen. Mereka melihat Aish dan kedua temannya yang sudah berdiri dari tempat duduk terbakar amarah. Aish dan kedua temannya terlihat sangat muram. Bibir mereka terkatup cemberut dengan ekspresi tidak bersahabat di wajah.


"Ustazah Nur, apa yang sedang terjadi?" Seorang wanita paruh baya yang duduk paling tengah akhirnya berdiri dan datang menghampiri mereka.


Ketika melihat wanita paruh baya ini ustazah Nur terlihat sangat tidak nyaman. Wanita paruh baya ini mungkin memiliki posisi yang lebih tinggi dari ustazah Nur jika dilihat dari wajahnya yang gugup.


"Ini Bu...aku memberikan mereka sebuah nasehat tapi disalah pahami oleh mereka." Ustazah Nur buru-buru bangun dari duduknya.


Dari reaksinya yang cepat, Aish menebak bila ustazah Nur sepertinya takut bila mereka membuka suara. Sayang sekali, mereka bertiga bukan orang yang penurut dan suka membuat masalah seperti yang dia gambarkan, jadi...kenapa tidak buatkan saja satu masalah untuknya?


"Bu ustazah," Panggil Aish sopan kepada wanita paruh baya itu.


Perhatian wanita paruh baya itu kini beralih menatapnya.


"Aku ingin bertanya apakah kata-kata yang dia ucapkan kepada kami tadi masih bisa disebut sebuah nasehat. Dia bilang bahwa kami adalah orang yang telah memprovokasi gadis bermuka dua itu untuk membuat masalah, jadi dia meminta kami untuk berhenti memprovokasi gadis bermuka dua itu."

__ADS_1


Wanita paruh baya itu terlihat tidak senang tapi juga bingung.


"Gadis bermuka dua?"


"Oh, ini Khalisa." Sebut Dira.


"Bukan seperti itu, Bu. Aku tidak bermaksud mengatakan kata-kata buruk-"


"Baik." Sela wanita paruh baya itu.


Ustazah Nur langsung menutup mulutnya gugup.


Wajah wanita paruh baya itu langsung tenang. Dia noleh ke Ustazah Nur dengan pandangan berarti. Ustazah Nur sangat malu ditatap seperti ini olehnya. Sebab wanita paruh baya ini adalah ketua layanan staf di ruangan ini. Bila ada salah satu staf yang mendapatkan masalah atau membuat masalah, maka orang pertama yang mengurusnya adalah ketua layanan staf sebelum beralih ke Umi. Semua orang jelas tahu bila masalah ini dibawa ke Umi, maka ceritanya akan berbeda dan tidak ada yang ingin memberikan kesan jelek saat bertemu Umi.


Hati Aish tanpa sadar melunak.


"Sebenarnya hari ini kalian semua akan dipertemukan untuk mengakhiri perselisihan yang terjadi sebelumnya. Tapi Khalisa tiba-tiba jatuh sakit dan sekarang sedang berada di klinik pondok untuk mendapatkan perawatan. Jadi dia tidak bisa datang ke sini. Apa kalian mau datang mengunjunginya?"


Aish, Gisel, dan Dira tanpa ragu menolak. Mereka pada awalnya tidak dekat dan mungkin bisa dianggap bermusuhan jadi untuk apa datang mengunjunginya?


"Tidak, tidak perlu." Tolak Aish sopan.


Wanita paruh baya itu tersenyum lembut,"Apa kamu masih marah padanya?"

__ADS_1


Cara bicaranya sangat sopan dan hangat sehingga siapapun yang berbicara dengannya memiliki perasaan yang dekat dengannya.


Contohnya saat ini. Bukannya bertanya apakah dia masih membencinya, wanita paruh baya ini justru bertanya apakah dia masih marah padanya.


Dari sisi ini Aish bisa melihat bahwa wanita paruh baya ini memiliki pikiran yang positif dan jernih, berbanding terbalik dengan ustazah Nur.


"Dia sudah mendapatkan apa yang harus dia dapatkan, jadi aku tidak akan marah." Sesederhana itu.


Keluhannya juga menguap.


Wanita paruh baya itu masih tersenyum.


"Alhamdulillah, ini adalah sikap dewasa. Tapi dia sudah mendapatkan sanksi nya untuk masalah ini maka kamu juga harus mendapatkan sanksinya."


Mereka bertiga saling pandang. Sungguh tidak terduga bila Aish akan mendapatkan sanksi- ugh, sanksi ini jelas untuk mereka bertiga.


"Apa sanksi yang akan kamu dapatkan?" Tanya Dira cemas.


"Besok setelah selesai sholat ashar, kalian bertiga pergi ke rumah Umi untuk bekerja di dapur. Kalian harus membantu Umi memasak untuk beberapa tamu yang datang berkunjung dari pondok pesantren luar kota. Apakah kalian keberatan dengan sanksi ini?" Wanita paruh baya itu tersenyum geli melihat perubahan ekspresi ketiga gadis itu.


Padahal beberapa detik yang lalu ketiga gadis itu sangat cemas. Namun dalam waktu satu detik, kecemasan mereka langsung mencair begitu mendengar penjelasannya.


"Tidak, kami tidak keberatan. Kami akan pergi ke rumah Umi besok setelah sholat ashar." Dira buru-buru menjawab.

__ADS_1


Gisel mengangguk semangat,"Lagipula ini hanya soal memasak."


__ADS_2