
"Iya, dia sepupu dari keluarga mamaku. Aku juga baru tahu setelah pulang kemarin ketika pertemuan keluarga diadakan. Kalau mereka tidak memberitahuku soal ini, maka aku benar-benar tidak tahu tentang hubungan darahku dengan kak Danis. Cek, kami berdua sangat tidak mirip. Dia adalah orang yang mendominasi sementara aku adalah gadis yang lembut."
Gisel sangat terkejut. Ternyata mereka benar-benar memiliki hubungan kekeluargaan. Dan bodohnya lagi Dira baru mengetahuinya sekarang, Gisel tidak tahu apakah harus tertawa atau menangis mendengarnya.
"Kalau mau tertawa, ya tertawa saja. Lagian semua orang di rumah juga menyalahkan aku. Mereka bilang karena aku terlalu sibuk bermain di luar dan jarang berkunjung ke keluarga mama membuatku tidak mengenal orang-orang di keluargaku sendiri. Menurutku... Itu benar-benar bukan salahku. Yah, okay aku salah sedikit. Tapi cuman sedikit. Harusnya mereka kan yang sering-sering datang berkunjung mencari ku." Dumel Dira merasa bahwa kurangnya komunikasi dengan keluarga mama bukan sepenuhnya salah dirinya.
Tentunya yang paling salah adalah keluarga mama, pastinya.
"Jangan bicarakan itu lagi. Waktuku benar-benar tidak banyak. Aku... Aku harus pergi ke Australia sore ini. Aku dan keluarga yang lain rencananya akan menetap di sana selama beberapa tahun ke depan. Aku tidak bisa berjanji kapan kita bertemu karena situasi di sana juga tidak pasti. Namun yang pasti aku akan sering menghubungi kamu dan kamu juga harus sering menghubungi aku. Ingat, kita adalah sahabat sejannah. Bagiku kamu adalah saudaraku dan Aish, aku tidak mau kehilangan kalian berdua. Jadi betapapun jauhnya jarak di antara kita bertiga, jangan lost contact dan tetap saling menghubungi. Saling mendoakan juga agar hubungan kita tetap terjalin hingga ke akhiran nanti. Tau nggak, aku sering berkhayal ketika hari penghakiman tiba Allah memanggil kita bertiga dan mempertanyakan hubungan persahabatan kita. Aku tidak mau kita bertiga saling menuduh dan saling menyalahkan di hadapan Allah karena hubungan persahabatan kita tidak bernilai ibadah. Aku tidak mau melakukan itu itu. Aku ingin kita bertiga saling menyanjung di hadapan Allah, bahwa kita bertiga saling mendoakan, kita bertiga saling mengingatkan dalam hal kebaikan, kita bertiga selalu ada satu sama lain ketika dibutuhkan, dan tali silaturahmi diantara kita bertiga selalu terjaga meskipun kita sudah tidak berada di pondok pesantren lagi. Aku selalu membayangkan ini. Jadi ayo jaga hubungan kita. Jangan ragu untuk menghubungi aku dan ceritakan apapun yang kamu lalui di sini, karena aku dan Aish juga akan melakukan hal yang sama. Mengerti?" Dira mengangkat tangannya mengusap wajah basah sahabatnya yang terus-menerus menangis di hadapannya.
Gisel tersenyum lebar. Berkali-kali dia menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Inilah hubungan persahabatan yang selalu membuat hatinya menghangat, inilah hubungan keluarga yang selalu membuat hatinya merasa damai.
Maka bagaimana mungkin Gisel tak sedih berpisah dari kedua sahabatnya ini?
"Okay...aku mengerti. Jaga diri kamu baik-baik di sana dan insya Allah, aku akan menjaga diriku juga. Karena kamu sudah mengatakannya maka aku tidak akan malu lagi menghubungi kamu. Tidak peduli apakah kamu sibuk di sana atau tidak, aku akan tetap menghubungi kamu, sahabatku." Bisik Gisel sendu.
Dira tak tahan lagi. Dia langsung menumpahkan air matanya di dalam pelukan Gisel. Apa yang harus dilakukan?
Dia sangat menyayangi Gisel dan Aish seperti keluarganya sendiri. Bagi Dira mereka adalah satu-satunya teman yang mau menerimanya dengan tulus tanpa melihat latar belakang keluarganya.
"Okay, berhenti menangis. Kalau menangis terus, aku akan terlambat pergi ke bandara." Setelah lama menangis, Dira akhirnya ingat kalau dia harus segera pergi.
Gisel mengangguk dengan enggan.
"Aku membawa beberapa barang untuk kamu. Semuanya adalah kebutuhan kamu, jadi jangan disia-siakan, ya. Bila kamu kehabisan uang, hubungi saja aku. Jangan malu."
Gisel lagi-lagi mengangguk patuh.
Mengambil nafas panjang, dia akhirnya melepaskan suasana berat di dalam hatinya.
"Oke, aku pergi sekarang. Mari berpelukan untuk yang terakhir kalinya sampai kita bertemu lagi." Dira merentangkan tangannya di depan Gisel.
Gisel langsung memeluk Dira kuat sambil berusaha menahan suara tangisannya.
"Jaga diri kamu baik-baik, ingat, kamu tidak sendirian. Masih ada aku dan Aish bersama kamu, assalamualaikum."
...*****...
Beberapa hari berlalu begitu saja. Gisel telah resmi menjadi magang di dapur umum. Dan semenjak Dira datang ke sini, Ayu tidak berani mengganggu Gisel lagi. Beberapa orang yang telah mendengar pertengkaran hari itu merasa lebih cemburu lagi kepada Gisel. Bukan cemburu dalam artian buruk tapi cemburu dalam kekaguman. Mereka kagum melihat Gisel memiliki orang-orang baik di sekelilingnya.
Tidak peduli seburuk apa dia di masa lalu. Orang-orang baik itu tidak keberatan dan dengan sukarela melindungi Gisel.
Gisel sudah mengambil ponselnya. Setiap malam dia akan mengirim pesan kepada Dira dan Aish. Untuk memudahkan komunikasi di antara mereka bertiga, mereka membuat grup di WhatsApp dengan nama 'Bacotan Duniawi'.
Mereka berbagi cerita bersama. Dira berulang kali mengeluh kepada mereka bahwa kehidupan di Australia sangat sulit. Dia tidak suka makanan yang terlalu sehat dan kekurangan bumbu. Dia berkata bahwa dia sangat merindukan gorengan yang dijual di kantin pondok pesantren, merindukan nasi putih dan berbagai macam makanan rumah yang tak bisa dia dapatkan di Australia.
Sementara Dira mengeluh tentang betapa sulit kehidupan di Australia, Aish justru menyebarkan banyak cerita-cerita manis setelah menikah dengan Habib Khalid.
Dira dan Gisel iri, namun mereka ikut senang melihatnya bahagia.
"Gisel, seseorang mencari kamu di luar?" Laras memanggil dari luar.
Gisel meletakkan ponselnya kembali ke dalam tas. Dia baru saja pulang dari dapur dengan Laras setelah membersihkan stand makanan. Malam ini pekerjaan tidak terlalu menumpuk sehingga mereka bisa pulang pagi dan beristirahat. Makanya Gisel bersantai-santai memainkan ponselnya di dalam kamar.
"Siapa?" Gisel keluar dari kamar
__ADS_1
Ketika melihat Leni berdiri di samping Laras, senyumnya langsung menghilang.
Leni memandangi penampilan Gisel sekarang. Itu tidak menyedihkan seperti yang dia bayangkan. Malahan dia sempat mengintip ke dalam kamar asrama tadi dan menemukan banyak barang-barang bagus. Dengar-dengar itu pemberian dari Dira, sayang sekali barang sebagus itu diberikan kepada Gisel pikir Leni.
"Oh, kak Leni." Ingat, dia adalah tetangga rumah pamannya sekaligus teman baik sepupu Gisel.
"Lama tidak bertemu. Aku dengar kehidupanmu di sini baik-baik saja." Katanya iri.
Gisel mengangguk acuh tak acuh. Kehidupannya sangat baik.
"Seperti yang kak Leni lihat."
Leni tersenyum kecut. Dia tidak berani terlalu memprovokasi Gisel karena dengar-dengar seseorang pernah mendapatkan masalah gara-gara mengintimidasi Gisel di pondok pesantren. Dan tersiar kabar bahwa jika ada seseorang yang mengintimidasi Gisel, maka mereka akan berhadapan langsung dengan Aish, istri sang Habib.
Pasangan suami istri itu sangat dihormati di pondok pesantren. Karena latar belakang keluarga mereka berasal dari nasab yang mulia.
Nasab yang tidak bisa orang-orang singgung.
"Syukurlah kamu baik-baik saja. Kemarin sebelum aku kembali ke pondok pesantren, paman dan bibi sempat berpesan kepadaku, mereka meminta kamu untuk pulang ke rumah." Kata Leni menyampaikan amanah.
Pulang ke rumah?
Gisel pernah memikirkannya tapi sudah tidak lagi. Dia nyaman dan aman tinggal di pondok pesantren. Di sini semua orang sangat baik. Mereka menghargainya. Namun di rumah belum tentu. Mungkin saja dia akan diolok-olok di sana.
"Tolong katakan kepada paman dan bibiku, kalau aku sudah memiliki pekerjaan di pondok pesantren jadi mereka tidak perlu khawatir dengan kehidupanku di sini. Selain itu aku juga tidak ingin merepotkan mereka, aku tahu bahwa masalah yang ku buat telah membuat keluarga malu. Maka aku putuskan untuk tinggal di sini daripada mempermalukan keluarga paman dan bibiku" Gisel dengan fasih menolak.
Saat mendengar penolakan Gisel, dia tidak terlalu terkejut. Soalnya kalau dia jadi Gisel, dia juga akan memilih untuk tidak pulang ke rumah. Hidup di sini jauh lebih baik dan terjamin daripada tinggal di rumah. Memangnya siapa yang tidak tahu kalau keluarga paman dan bibi tidak terlalu menghargai Gisel di rumah?
"Aku tahu apa yang kamu khawatirkan. Tapi tinggal bersama keluarga jauh lebih baik daripada tinggal bersama orang luar. Sebaiknya kamu memikirkan masalah ini sebelum memberitahu aku. Pikirkan baik-baik perasaan paman dan bibi. Mereka pasti sangat merindukan kamu di rumah." Leni membujuk.
"Aku sudah membuat keputusan. Aku akan tetap bekerja di sini dan tidak pulang. Bila paman dan bibiku memang merindukan aku, maka mereka bisa menghubungiku lewat ponsel." Katanya masih menolak.
"Sungguh keras kepala. Suatu saat kamu pasti akan membutuhkan paman dan bibiku. Jadi jangan bilang kalau aku tidak mengingatkan kamu." Ucap Leni tidak puas.
Gisel tersenyum manis.
"Aku tidak akan menyalahkan kamu." Karena hari itu tidak akan pernah terjadi.
Bila dia adalah gadis yang jahat dan durhaka kepada paman juga bibi, maka mungkin Allah akan menghadirkan hari itu. Tapi sayang seribu sayang, bukan dia yang durhaka kepada mereka, tapi merekalah yang durhaka kepada dia. Rumah orang tuanya dan semua peninggalan orang tuanya telah diakuisisi oleh mereka. Setelah mengambil alih barang-barang itu, mereka menatap Gisel dengan sebelah mata. Berlagak seolah Gisel menumpang di rumah mereka secara gratis. Sungguh tidak tahu malu.
Leni tahu bahwa Gisel tidak akan tergerak. Jadi dengan enggan dia pergi dan kembali ke asramanya.
"Kamu akan pulang?" Tanya Laras tidak rela.
Gisel menggelengkan kepalanya membantah.
"Aku tidak akan pulang. Aku akan tetap bekerja bersama kak Laras." Jawab Gisel pasti.
Ting
Ting
Ting
Gerbang besi dipukul oleh seseorang. Laras dan Gisel menoleh. Ternyata yang memukul gerbang adalah Danis.
__ADS_1
Ketika melihat Danis berdiri di depan gerbang, para wanita yang ada di luar berdecak menyesal. Berharap bahwa posisi Gisel dapat menjadi milik mereka.
"Kak Danis." Untuk menghindari omong kosong orang-orang, Laras menemani Gisel menuju gerbang depan.
Padahal tanpa di temani Laras, semua orang dapat melihat dari tempat masing-masing apa yang dilakukan Danis dan Gisel di depan gerbang.
Gerbangnya pun sangat terang. Jadi mereka bisa melihat dengan jelas.
"Apakah kamu sibuk?" Danis menyapa dengan suara lembut.
Laras sudah tidak terkejut lagi. Dia tahu bahwa orang ini memiliki sesuatu kepada Gisel.
"Tidak sibuk, kak. Kami sudah selesai bekerja di dapur." Kata Gisel hati-hati.
"Syukurlah. Maaf aku berkunjung malam-malam begini. Awalnya aku ingin menemui kamu tadi siang, tapi tiba-tiba aku ada urusan penting dan baru bisa kembali tadi setelah shalat isya. Ngomong-ngomong, selamat atas kelulusan magang mu. Kini kamu sudah resmi magang di pondok pesantren, aku harap kamu dapat menikmatinya. Sebelumnya sepupuku sudah memberitahuku tentang masalah beberapa hari yang lalu. Jika kamu perlu bantuan bicara saja kepadaku. Kamu tidak usah malu. Atau kalau tidak, sepupuku akan membuat masalah di sana." Danis berbicara banyak sebelum mengeluarkan paper bag putih dari belakangnya.
Lalu paper bag itu dia serahkan kepada Gisel.
Laras terkejut. Mengawasi bukan berarti harus berbagi hadiah kan?
Jadi mereka beneran ada apa-apa. Batin Laras.
Dia tidak menyangka salah satu tokoh legendaris di pondok pesantren yang suka membuat masalah dulu kini memiliki hubungan ambigu dengan salah satu santri berprestasi. Tidak hanya berprestasi, namun santri ini terkenal menegakkan keadilan di mana-mana. Di mana ada pelanggaran maka di situlah dia memberikan hukuman. Bukan tanpa alasan dia selalu mengikuti Habib Khalid dulu.
"Terima kasih atas perhatian kak Danis. Tapi kakak nggak usah repot-repot memberikan aku hadiah. Ini cuma magang. Selain itu Dira telah memberikan aku banyak hadiah. Saking banyaknya sebagian besar hadiah itu masih belum ku buka." Gisel hampir saja berteriak histeris melihat hadiah yang akan Danis berikan kepadanya.
Tapi di depan orang yang disukai. Dia berusaha menahan diri. Jadilah wanita yang tenang dan bijaksana, kepalanya terus-menerus mendikte kata-kata ini.
"Itu adalah pemberian Dira, bukan pemberian dariku. Dan ini, aku secara khusus menyiapkannya untuk kamu. Jika kamu menolak menerimanya maka itu artinya kamu tidak menghargai jerih payah aku menyiapkan hati ini untukmu." Kata Danis tidak terlalu senang dengan penolakan Gisel.
Namun di dalam pendengaran Laras, dia merasa kalau kata-kata Danis terkesan memaksa. Tapi apakah iya, soalnya kesan ini agak kekanak-kanakan. Karena fakta yang dia tahu adalah Danis selalu bersikap dingin dan bijak kemanapun dia pergi.
"Bukan begitu maksudku, kak...um, aku akan menerima pemberian kakak. Terima kasih. Aku akan memegangnya dengan hati-hati." Gisel berjanji malu-malu di depan Danis.
"Seharusnya. Kamu bisa membukanya di dalam kamar. Kalau begitu... Aku akan kembali dulu. Besok... Mungkin aku akan membantu di dapur. Assalamualaikum." Setelah mengucapkan salam, Danis lalu berbalik dan melangkah pergi dengan kaki jenjangnya.
Mereka hanya bertemu sebentar saja. Tapi efek yang dirasakan oleh Gisel di dalam hatinya sangat luar biasa. Kedua tangannya gemetaran dan kakinya lemah.
Jika mereka terus berdiri dan Danis tidak segera pergi, maka dia takut tiba-tiba ambruk di depannya. Untunglah... Dia masih bisa bertahan.
"Lho, kok kamu tremor, Gis?" Laras menertawakan Gisel.
Gisel melambaikan tangannya meraih lengan Laras untuk berpegangan.
"Jangan tertawa. Suatu hari nanti kakak pasti merasakan apa yang aku rasakan." Kata Gisel dalam suasana hati yang baik.
Laras cemberut,"Doa kamu ah..."
Gisel tertawa,"Doa ku bagus lho, kak. Aku berdoa semoga kakak suatu hari nanti bertemu dengan orang yang membuat hati kakak bergetar."
Laras ikut tertawa. Entahlah. Dia yang belum berpikir ke sana.
"Ayo kembali."
Di bawah pengawasan mata semua orang, mereka melihat Gisel membawa sebuah paper bag pemberian Danis. Leher mereka merenggang menatap paper bag. Berharap mereka dapat melihat apa isinya. Tapi sekuat apapun mereka mencoba, mereka tidak dapat melihat isi paper bag tersebut. Akhirnya dengan enggan mereka menyerah. Menatap tak berdaya Gisel dan Laras masuk ke dalam kamar, lalu menutup pintu!
__ADS_1