Mengejar Cinta Sang Habib

Mengejar Cinta Sang Habib
Bab 8.9


__ADS_3

Kedatangan habib Khalid segera menarik perhatian orang-orang yang ada di sekitar. Mereka melihat habib Khalid dengan mata penasaran dan sesekali memberanikan diri untuk sekedar memberikan salam atau sapaan sopan.


"Aisha Rumaisha?" Habib Khalid menyapa Aish langsung dengan nama lengkapnya.


"I-iya, kak..." Nada suara Aish merendah.


Pipinya sangat panas. Belum apa-apa lututnya sudah lemas.


Habib Khalid tersenyum lembut,"Ini ada titipan untukmu." Katanya sembari meletakkan kantong plastik putih itu di atas rerumputan.


Aish mengernyit.


"Titipan?" Tanya Aish ragu.


Habib Khalid tersenyum lebar,"Ya, titipan dari seseorang. Bila kamu penasaran lihat saja siapa yang mengirimnya." Kata habib Khalid enggan mengatakannya.


Aish menjadi bingung. Dia tidak tahu siapa yang mengirimkannya semua makanan yang ada di dalam kantong plastik itu karena menurutnya baik pihak keluarga Mama maupun Ayah tidak akan serepot itu memperhatikannya di sini.


"Terima kasih, kak.."


Habib Khalid seolah melihat kebingungan di mata Aish dan tiba-tiba berkata,"Semoga kamu menyukainya." Katanya dengan suara rendah.


Mata Aish sontak membola menatap tak percaya ke arah habib Khalid. Ada keraguan juga harapan, namun ia sama sekali tidak berani menyuarakan keresahan hatinya yang sedang bergejolak.


"Aku..." Pipinya terasa lebih panas dengan jantung berdebar diluar kendali.


"Pasti akan menyukainya." Sambungnya dengan wajah merona.


Habib Khalid mengangguk puas. Dia menatap Aish sebentar sebelum menundukkan kepalanya menatap ke tangan kanan Aish yang sedang mengenakan sarung tangan pemberiannya tadi pagi.


Aish pikir dia ingin mengucapkan pamit tapi siapa yang tahu lagi-lagi hatinya diuji kembali.


"Jangan terlalu memaksakan diri saat bekerja. Bila kamu lelah, istirahat saja di pinggir sawah dan kembali bekerja setelah badan menjadi nyaman. Tapi kalau kamu merasa tidak enak badan, jangan sungkan untuk memberitahu ustazah pengawas agar kamu bisa kembali ke asrama untuk beristirahat. Dengar?"


Aish tertegun. Lagi-lagi dibawah kata-kata habib Khalid, hatinya dibuat menghangat. Dia akhirnya tahu ternyata diperhatikan itu rasanya sehangat ini.


Mengerjap ringan, Aish menganggukkan kepalanya patuh.


"Aku dengar kok, kak. Aku tidak akan memaksakan diri jika memang tidak sanggup bekerja lagi." Kata Aish tidak lagi ragu memanggil habib Khalid dengan panggilan 'istimewanya'.


Habib Khalid tersenyum ringan. Dia mengangkat kepalanya menatap Aish, matanya yang gelap menatap dalam wajah merona Aish dibawah cahaya matahari sore yang meneduhkan.

__ADS_1


"Kak Khalid..." Jantung Aish berdebar kencang ditatap sedemikian dalam oleh habib Khalid.


Ada perasaan bila dirinya adalah seekor kelinci yang sedang ditatap oleh sang raja serigala. Perasaan ini agak menakutkan tapi anehnya, Aish cukup menyukainya.


"Soal hukuman-"


"Aku harus kembali. Bekerjalah dengan baik, assalamualaikum." Dia pergi begitu saja tanpa menunggu Aish menyelesaikan kalimatnya.


Aish shock,"...."


Aish takut. Melihat reaksi habib Khalid tadi dia takut bila hukuman yang akan habib Khalid berikan nanti pasti tidak main-main.


Ini sangat mendebarkan.


Dalam beberapa menit berbicara dengan habib Khalid, hati Aish telah dibuat naik turun beberapa kali olehnya. Rasanya sangat menantang dan menakutkan, namun Aish diam-diam menantikannya.


"Waalaikumussalam, kak." Bisik Aish membalas salam sang habib.


Sementara itu di samping Aish,


"Apa cuma perasaan ku aja enggak sih?" Bisik Dira ke Gisel.


Gisel balas berbisik,"Ada apa?"


Gisel mengangguk paham dan cukup memahami depresi temannya ini.


"Mau bagaimana lagi. Tapi menurutku ini lebih baik daripada harus dapat perhatian habib Thalib." Bisik Gisel berpikir.


Dira berbisik lagi,"Kenapa?"


Gisel memuat bola matanya diam-diam merutuki betapa lambannya Dira berpikir.


"Kalau kamu kayak Aish, kamu bakal dimusuhi publik. Lihat noh, penggemar habib Thalib banyak banget. Emang kamu mau dimusuhi tiap hari?"


Dira langsung menggelengkan kepalanya menolak. Jangankan menjadi musuh publik anak pondok, menyukai habib Thalib saja dia tidak berani. Pasalnya habib Thalib menurutnya terlalu temperamental. Masa dikit-dikit dikasih hukuman kalau salah?


Hah, habib Thalib jelas bukan tipenya.


"Lain kali kalau mau bisik-bisik, volume suaranya diturunin dikit, yah. Soalnya aku dengar semua yang kalian bicarakan, lho." Aish memutar bola matanya malas, dia lalu bergumam heran,"Apasih musuh publik, aneh-aneh aja deh kalian."


Dira dan Gisel langsung cengengesan tanpa rasa bersalah sedikitpun. Bukannya meminta maaf, mereka malah 'membantu' Aish mengambil kantong plastik yang habib Khalid tinggalkan tadi di atas rumput.

__ADS_1


"Eh, serius nih? Isinya makanan semua?" Heran Dira sambil menggeledah isinya.


Tidak hanya ada makanan, namun beberapa merk minuman juga ada di dalam sana.


Melihat semua barang-barang ini Aish langsung merasa heran karena semua makanan yang habib Khalid berikan ini adalah makanan yang dia sukai dan sering makan dulu. Lihat saja beberapa bungkus coklat ini, harganya tidak murah namun sebanding dengan kualitas rasanya yang enak jadi Aish sering membelinya ketika badmood.


Coklat ini memang tidak manis tapi mempan meringankan suasana hatinya berat.


"Ada suratnya. Nih," Gisel menemukan sebuah surat kecil tenggelam di antara barang-barang.


Surat ini bentuknya sangat imut dan mungil, tampak seperti boneka, sekilas, orang bisa tahu bila sang penulis telah berusaha membentuknya dengan hati-hati agar terlihat menarik.


"Oh," Aish mengambilnya dan memegangnya dengan hati-hati.


"Aish," Satu demi satu teman kamarnya datang menghampiri.


Aish tahu bila waktunya tidak tekat jadi dia langsung memasukkan surat itu ke dalam saku gamisnya.


"Hubungan kamu sangat baik dengan habib Thalib. Kalau tidak, dia tidak mungkin mengirimkan kamu makanan." Suara masam Gadis terdengar.


Aish hanya meliriknya santai dan mengacuhkan suara masamnya yang lengket.


"Aku harap begitu. Tapi sayang sekali itu tidak seperti yang kalian pikirkan. Habib Khalid datang ke sini untuk memberikan ku barang titipan. Dia bilang barang-barang ini dititipkan oleh bibiku yang kebetulan melewat kota ini." Bohong Aish tanpa mengubah ekspresi wajahnya.


Begitu mendengar penjelasan Aish, teman-teman kelasnya langsung menghela nafas lega. Mereka tadi juga sempat mendengar habib Khalid menyebutkan titipan sehingga mereka tidak meragukan penjelasan Aish.


Namun Gadis tidak mempercayai penjelasan Aish dan malah meragukannya.


Memangnya apa yang habib Thalib lihat dari Aish selain wajah cantiknya? Batin Gadis masam dipenuhi bau cuka.


"Oh ternyata titipan dari bibi kamu."


Aish tersenyum tipis tampak malu,"Benar. Nanti setelah selesai bekerja kita bisa memakannya bersama-sama karena aku tidak bisa menyelesaikannya sendirian." Tawar Aish dengan mudah hati.


Teman-teman kamar awalnya menolak karena malu tapi Aish terus memaksanya hingga akhirnya mereka berjanji untuk makan bersama.


"Aish kalau bohong mukanya lempeng banget." Bisik Dira heran.


Gisel hanya menggelengkan kepalanya tidak berkomentar apa-apa. Karena dalam situasi ini ada baiknya berbohong agar tidak menjadi musuh publik, ah!


...*****...

__ADS_1


Yuk, Mahram Untuk Azira udah nungguin, lho 😊


__ADS_2