
Umi bergegas masuk ke dalam kamar mengikuti Nadira. Sedangkan aku ditinggalkan sendirian di luar. Oh astaga, aku pikir Nadira adalah orang yang lemah lembut dan baik tapi apa yang baru saja aku dengar? dia langsung menghinaku saat kami pertama kali bertemu. Aku tidak bisa mempercayainya!
Tidak puas menghinaku, dia kemudian membanding-bandingkan ku dengan Aish. Emangnya apa yang baik dari Aish? Aku lebih pintar darinya dan prestasiku lebih baik darinya. Kecuali uang di tangannya, dia tidak punya kelebihan apapun.
"Sekarang apa yang harus aku lakukan?" Aku menggigit jariku berpikir.
Belum pernah kutemui situasi segenting ini.
"Jika Nadira menolak berteman denganku maka hubunganku dengan Umi tidak bisa dipertahankan lagi, dan jika aku kehilangan kesempatan ini maka bagaimana bisa aku bisa berhubungan dengan habib Thalib? Aku nggak mungkin ngebiarin ini terjadi. Tapi apa yang harus aku lakukan?" Aku berjalan mondar-mandir di sekitar ruangan sambil menunggu Umi keluar.
Kalau bisa aku pasti sudah menghubungi Bunda dan Ayah sekarang untuk meminta solusi dari mereka, tapi pondok pesantren terlalu sok ketat. Aku tidak bisa membawa ponselku dan barang-barang yang aku bawa dikembalikan ke rumah. Mereka bilang barang-barangku terlalu banyak dan lemari di kamar asrama tidak mampu menampungnya.
"Kalau bukan demi habib Thalib, aku nggak mau tinggal di sini. Di sini aku nggak bebas ngapa-ngapain dan kalau mau cari ilmu agama di internet juga banyak kok. Kenapa harus repot-repot belajar di sini? Buang-buang waktu dan menyusahkan diri sendiri, hidupku pasti tidak akan aman. Tapi tidak, selama aku berhasil mendekati habib Thalib maka aku bisa menanggung semuanya." Mendesah tak berdaya, aku lalu merindukan diriku di kursi dan merebahkan kepalaku di atas meja makan.
Umi sangat lama di dalam kamar Nadira, sebenarnya apa yang mereka bicarakan?
"Ini sangat keterlaluan! Aish kamu adalah saudara yang sangat kejam. Beraninya kamu menjelek-jelekkanku di depan Nadira. Jika bukan karena kamu, lalu bagaimana Nadira tahu tentang keluarga kita? Dasar mulut ember! Kamu baru saja tinggal di sini selama sebulan tapi sudah membuat banyak masalah untuk keluarga. Tunggu saja aku akan memberitahu Ayah agar kamu mendapatkan balasannya. Ugh, tapi kok Umi lama banget ya di dalam?" Entah apa yang mereka bicarakan di dalam, kuharap Umi bisa merubah pendapat Nadira terhadapku.
Setengah jam kemudian Umi akhirnya keluar dari kamar Nadira. Ekspresi Umi tidak menunjukkan apa-apa sehingga aku kesulitan menebak apa yang dipikirkan Umi sekarang.
"Umi.." Aku buru-buru berdiri dan menghampirinya dengan senyum tipis di wajahku.
Umi tersenyum lembut, tapi ini aneh. Kenapa aku merasa bahwa sikap Umi padaku memiliki sedikit jarak?
"Maafkan apa yang dikatakan oleh putriku, dia hanya sedikit terbawa suasana saja. Oh ya, malam ini kamu tidur di ruang tamu saja ya dan besok aku akan meminta salah satu staf asrama putri untuk mengantarmu ke asrama. Kamarmu sudah diatur oleh pondok pesantren jadi kamu hanya tinggal penerima beres saja. Dan ingatlah untuk bersikap baik dan menjalin hubungan yang baik pula dengan teman-teman kamarmu selama tinggal di pondok pesantren ini. Apakah kamu memiliki pertanyaan lain?" Apa-apaan ini, aku tidak ingin membicarakan masalah ini sekarang.
"Umi... Itu, bagaimana dengan Nadira?" Tanyaku hati-hati.
"Nadira baik-baik saja, dia sekarang sedang beristirahat di dalam kamarnya."
__ADS_1
Siapa yang ingin menanyakan kabarnya, Aku hanya ingin tahu tentang pembicaraan kalian berdua di dalam kamar tadi. Tapi kenapa Umi bungkam? Aku sangat kesal.
"Oh... Lalu apakah dia tidak mau berteman denganku?" Tanyaku berusaha terlihat melankolis di hadapan Umi.
Umi menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Itu adalah haknya ingin berteman denganmu atau tidak. Aku sudah berusaha berbicara baik-baik dengannya. Tapi jika itu memang keputusannya, maka aku harus menghormatinya. Adapun kamu dan Aish, kalian berdua adalah sepasang saudara. Jangan bertikai lagi dan berusahalah untuk menjalin hubungan yang lebih baik. Ingatlah darah lebih kental daripada apapun, kalian harus segera rukun kembali."
Sial!
Jadi artinya aku ditolak?!
Aku sudah berjuang ke sini dan berusaha memasang senyuman yang sangat lebar kepada kalian, tapi apa yang aku temukan? Sebuah penolakan?
Apa aku ini sebuah mainan untuk kalian? Sungguh tidak tahu malu! Dan ini semua gara-gara Aish!
Manusia pembawa sial itu seharusnya tidak ada di pondok pesantren! Dia seharusnya tidak menghalangi jalanku.
"Umi...apakah tidak ada jalan untuk kami berdua? karena aku sangat ingin berteman dengan Nadira. Bahkan aku berharap melewati Nadira hubunganku dengan kak Aish bisa kembali lagi."
"Aku sudah menjelaskan semuanya dan aku tidak tahu di masa depan nanti. Mungkin saja hati putriku akan melembut jadi kamu bersabar saja. Baiklah, sekarang kamu lebih baik segera tidur dan beristirahat. Aku tahu kamu pasti lelah setelah menempuh perjalanan jauh dan belum sempat beristirahat hingga sekarang. Istirahatlah malam ini dan jangan begadang karena terlalu gugup. Jika kamu begadang, kamu akan melewatkan shalat sunnah tahajud berjamaah di masjid nanti malam."
Apa, kami masih harus salat sunat tahajud?
Itu artinya aku tidak bisa tidur dengan puas dong?
"Kami juga akan shalat tahajud, Umi?" Aku tersenyum kering.
Umi mengangguk ringan,"Benar sekali. Pondok pesantren akan melaksanakan shalat tahajud berjamaah setiap malam. Ini adalah kegiatan rutin kami di pondok pesantren dan Umi yakin kamu pasti akan menyukainya karena rata-rata seorang muslim sangat mendambakan waktu-waktu ini. Di rumah kamu mungkin hanya bisa shalat sendiri tapi di pondok pesantren kamu akan shalat berjamaah dengan seluruh santri dan santriwati. Sehingga suasananya akan lebih menyenangkan dan lebih damai. Umi jamin kamu pasti akan nyaman tinggal di sini."
__ADS_1
Shalat tahajud apa?
Aku hanya mengerjakannya sekali atau dua kali di rumah dan itu pun aku berusaha untuk bangun secara konsisten di sepertiga malam. Aku memang menyukai kegiatan ini tapi bukan berarti aku suka melakukannya setiap malam. Karena jika aku selalu bangun tiap malam maka waktu tidurku akan terpotong.
Tapi di depan Umi aku harus bersikap sebaik mungkin.
"Masya Allah Umi, aku senang mendengarnya. Aku sudah tidak sabar ingin shalat sunnah tahajud berjamaah setelah mendengar penjelasan Umi tadi."
"Alhamdulillah Umi senang mendengarnya, Nak. Apa kamu ingin mau Umi berikan sedikit bocoran?"
Aku kurang tertarik.
"Bocoran apa, Umi?"
Umi mendekatkan dirinya ke telingaku dan berbisik,"Bocoran kalau orang yang akan memimpin shalat tahajud nanti malam adalah habib Thalib."
"Habib Thalib?" Kedua mataku membesar kaget.
"Yah, habib Thalib adalah idola di pondok pesantren kami. Kamu akan tahu seperti apa habib Thalib setelah bertemu nanti."
Aku sudah tahu, Umi tidak perlu memberitahuku. Tapi sekarang setelah aku tahu jika habib Thalib adalah orang yang akan memimpin shalat nanti, aku sangat ingin bila shalat tahajud dilakukan detik ini juga.
"Baiklah, ayo tidur. Jangan sampai kamu terlambat bangun dan melewatkan waktu penting ini."
Aku tidak lagi menunda Umi. Dia membawaku ke salah satu kamar tamu dan menasehatiku untuk segera tidur agar tidak bangun terlambat besok. Aku sudah sangat tidak sabar dan ingin cepat-cepat mendorongnya keluar, namun demi kesopanan aku tidak melakukan itu.
Cklak
Akhirnya aku sendirian.
__ADS_1
"Aku sangat beruntung. Hari pertama datang ke pondok pesantren aku bertemu dengan habib Thalib di depan kantor dan malamnya orang yang akan menjadi imam shalat tahajud adalah habib Thalib, aku bertanya-tanya apakah ini adalah takdir dari Allah subhanahu wa ta'ala? Mungkin saja benar. Karena Allah sudah memberiku jalan maka aku tidak boleh menyia-nyiakannya dan aku harus memanfaatkan waktu ini sebaik-baik mungkin. Terus perbaiki diri dan berusaha mengejar habib Thalib, aku yakin usaha tidak akan pernah menghianati hasil. Sama seperti kisah cinta Bunda dan Ayah, mereka tetap berjuang bersama walaupun banyak suara di keluarga yang menentang mereka. Benar, aku harus sekuat mereka." Menghela nafas lega, aku melemparkan diriku di atas ranjang dan memposisikan tubuhku senyaman mungkin.
"Habib Thalib, tolong tunggu aku."