Mengejar Cinta Sang Habib

Mengejar Cinta Sang Habib
Bab 21.3


__ADS_3

Wajah Aish langsung memerah malu dikatakan bodoh oleh sang habib. Menundukkan kepalanya sedih, dia menatap cemberut kedua tangan yang saling meremas. Dia juga mengetahui dengan baik bahwa dia bukanlah gadis yang pintar atau cerdas. Nilainya pun rata-rata di setiap mata pelajaran. Sudah begitu, dia memiliki temperamen yang buruk dan mudah meledak ledak bila tersinggung. Dia mengetahui betapa banyak kekurangannya, dan dia sangat minder bila dibandingkan dengan wanita yang dirumorkan dengan sang habib. Dia tahu tapi bodohnya dia terus saja berharap. Seperti ini, padahal dia berusaha untuk menjaga jarak dari sang habib tapi siapa yang tahu hanya disentuh oleh sang habib saja dia langsung kehilangan semua tekad. Hati yang mengeras luluh dengan mudah.


"Maaf... Aku memang tidak pintar. Kak Khalid pasti marah- oh?" Kepalanya tiba-tiba terasa berat, kaget, matanya terbelalak tak percaya melihat bila tangan sang habib terulur menyentuh puncak kepalanya.


Dalam cahaya remang-remang, Aish melihat wajah tampan sang habib yang saat ini telah menarik senyuman lebar di wajah tampan tanpa cela. Kelopak mata Aish bergetar ringan enggan berkedip apalagi sampai berpaling darinya.


Habib Khalid merendahkan kepalanya, menatap mata aprikot Aish yang berpendar di bawah cahaya bulan yang redup. Perlahan tangan yang ada di atas puncak kepala Aish bergerak turun menyentuh kedua mata Aish.


Aish berkedip bingung ketika tangan besar sang habib menutupi penglihatannya. Dia tidak tahu bila bulu matanya telah membuat telapak tangan habib terasa gatal dengan rasa godaan yang tidak bisa ditutupi. Mata sang habib meredup. Gelisah, lantas dia menarik tangan itu dari mata Aish yang sekali lagi membuat Aish bertambah bingung.

__ADS_1


"Kak-"


Wush~~~~


Tanpa menunggu Aish berbicara habib Khalid melemparkan dia sarung yang selalu melingkari pinggangnya. Aish tertegun, dia mengambil sarung itu dari wajahnya. Dengan merabanya saja dia tahu bahwa ini adalah sarung. Tapi dia bingung kenapa habib Khalid melemparinya sarung?


"Ini..." Nggak mungkin kan habib Khalid punya kebiasaan memberikan sarung yang dipakai kepada orang lain?


Aish langsung tercengang dengan perubahan habib Khalid dalam sekejap. Mestinya tidak seperti ini. Sebab sang habib beberapa detik yang lalu masih berbicara dengan nada yang lembut dan bahkan tersenyum. Namun hanya dalam waktu sekejap saja, sang habib kembali berbicara dengan rasa jarak. Aish bingung dan bertanya-tanya, apakah dia membuat kesalahan lagi sehingga membuat sang habib marah?

__ADS_1


"Baik, kak." Meskipun bingung dia tetap mengikuti apa yang sang habib perintahkan.


Aish melindungi dirinya dengan kain sarung, menutupi kepalanya sambil memegangnya erat. Diam-diam dia menghirup wangi kain sarung. Hatinya langsung bahagia begitu menghirup wangi yang sudah dia kenal.


Aku punya tambahan koleksi sarung kak Khalid lagi. Batinnya bangga.


Dialah satu-satunya gadis di pondok pesantren yang bisa menyentuh dan menyimpan kain sarung sang habib. Jika para santriwati tahu, mereka pasti langsung menjadi gila, pikir Aish dengan wajah tersenyum. Ekspresi di wajahnya tidak bisa menyembunyikan isi pikiran di dalam kepalanya. Sang habib merasa geli dengan tingkah lakunya yang menggemaskan. Ingin sekali dia mencubit pipi itu, Namun karena suatu alasan berusaha menahan diri.


"Ayo pergi." Sang habib memimpin jalan di depan dan langsung diikuti oleh Aish.

__ADS_1


Aish tidak takut tersandung tapi lebih takut ketinggalan langkah, jadi dia memberanikan diri menjangkau sudut pakaian sang habib dan memegangnya seerat mungkin. Sang habib hanya menoleh sebentar dan kembali menatap ke depan tanpa mengatakan apa-apa yang membuat Aish sangat senang.


__ADS_2