Mengejar Cinta Sang Habib

Mengejar Cinta Sang Habib
Bab 11.10


__ADS_3

Pagi harinya di dalam kelas, Aish merebahkan kepalanya di atas meja. Dia sangat bosan dengan suasana kelas yang serius karena pelajaran hari ini adalah matematika. Hum, salah satu yang Aish sesali saat pindah ke pondok pesantren adalah pelajaran ini. Hell, bagaimana bisa pelajaran menyebalkan ini masih mengikutinya ke pondok pesantren?


Akan sangat baik jika hari-harinya tidak dibayangi oleh pelajaran ini setengah tahun saja, Aish pasti akan sangat bersyukur dunia akhirat.


"Hah..." Dia menghela nafas bosan.


"Kamu kenapa sih, Aish? Dari tadi hela nafas terus. Ada masalah berat, yah?" Tanya Dira tidak tahan lagi.


Dira adalah teman duduk Aish. Di kelas ini mereka berdua adalah yang paling mencolok dan yang paling bodoh karena tidak mengerti terlalu banyak hal. Sementara Gisel sangat beruntung. Dia duduk dengan ketua kelas, anak yang paling cerdas di kelas ini dan selalu menempati juara pertama. Dengan ketua kelas Gisel tidak terlalu takut saat ditanyai oleh guru.


"Bosan, Dir. Aku pengen nongkrong aja ke kantin." Kata Aish bercanda.


Teringat tongkrongan di kantin sekolah, Dira ikut-ikutan menghela nafas berat.


"Aku juga pengen. Tapi apalah daya, nongkrong di kantin sini terlalu banyak resiko. Aku enggak mau bersihin kamar mandi lagi." Dira bersandar di kursi, mengangkat kepalanya menatap langit-langit kelas yang monoton.


Menurutnya, langit-langit kelas ini jauh lebih menarik daripada papan tulis di depan yang dipenuhi oleh berbagai macam angka menyebalkan. Otaknya sama sekali tidak menerima pelajaran menyebalkan ini.


"Dir," Panggil Aish ringan.


Mata aprikot nya menyapu hamparan hijau di luar jendela. Hamparan hijau itu adalah berbagai macam sayur yang ditanam oleh pondok pesantren dan sebentar lagi akan dipanen.


"Hem.." Respon Dira tak bersemangat.


Dira berkedip ringan. Mulutnya terbuka dan menutup beberapa kali tapi tak satupun patah kata yang keluar.


"Aish," Kini giliran Dira yang memanggil.

__ADS_1


"Kenapa?" Tanya Aish masih menatap hamparan hijau di luar jendela tanpa ada ketertarikan sedikitpun di matanya.


"Aku kangen rumah. Kangen shopping di mall dan kangen suasana kota yang ramai. Sekali-kali aku mau pakai baju mini, hak tinggi yang seksi, dan tas branded yang keren saat keluar rumah. Tahu enggak, pakai baju tertutup itu baik tapi terlalu panas dan ribet." Jawab Dira bercanda.


Dira masih menyayangkan semua pakaian-pakaian di dalam lemarinya yang tidak bisa dipakai lagi setelah tinggal di pondok. Pakaiannya seksi dan branded, tidak ketinggalan zaman dan disukai banyak kaum wanita. Demi membeli pakaian-pakaian itu, terkadang Dira sampai rela bolos sekolah agar tidak kehabisan stok saat baru pertama kali peluncuran.


Usaha dan modal yang dia gunakan untuk mendapatkannya cukup besar, jadi agak disayangkan jika semua pakaian-pakaian itu tidak bisa digunakan lagi.


Aish tertawa geli,"Aku juga kangen, Dir. Tapi jika bisa memilih tinggal di sini atau kembali lagi ke kota, aku pasti akan memilih tinggal di sini. Kenapa? Alasannya karena di sini jauh lebih nyaman dan aku tidak kesepian lagi. Kalau di rumah, aku pasti enggak akan tenang karena banyak orang yang tidak menyukaiku. Kamu tahu kan, Dir, kalau bertengkar sama keluarga sendiri itu nyiksa banget. Ngomong sedikit aku pasti dicap sebagai anak yang kurang ajar dan durhaka sama orang tua. Jadi rasanya tersiksa banget. Tapi beda kalau bertengkar sama orang lain. Aku bisa ngelawan sekuat yang aku mampu tanpa memperdulikan pendapat orang itu ke aku, toh mereka juga orang asing buat aku sendiri dan enggak ada sangkut pautnya sama kehidupan aku." Ucap Aish mencurahkan ketidaknyamanan bila kembali ke kota.


Aish orangnya keras kepala dan sulit mengalah kalau udah bertengkar apalagi kalau orang yang salah bukan dirinya, Aish pasti kukuh mempertahankan pembelaannya. Tapi Aish akan melemah jika lawan bicaranya adalah keluarganya sendiri. Karena kata-kata seperti anak kurang ajar, durhaka, pemberontak, dan sulit diatur yang keluar dari mulut keluarganya bagaikan vonis yang menusuk relung hati Aish.


Dia tidak berdaya dan kecewa karena kata-kata kasar itu begitu mudah keluar dari orang-orang yang mengenalnya dengan baik, melihatnya tumbuh di depan mata, dan menyaksikannya perlahan mengenal dunia.


Harusnya kata-kata jahat itu tidak akan mudah keluar dari mulut mereka.


"Aish, kamu benar juga. Gara-gara tinggal di sini aku jadi punya sahabat sekaligus saudara yang sangat menyebalkan dan tinggal di sini aku bisa mendapatkan banyak teman yang jauh lebih tulus daripada anak-anak di sekolah. Sejujurnya aku bersyukur tapi masih menyayangkan semua pakaian-pakaian ku di rumah!"


"Kamu bisa menggunakannya saat berhasil memikat hati sugar daddy tau." Ucap Aish bercanda.


"Jangan bercanda, saat hari itu terjadi semua baju-baju ku sudah ketinggalan zaman." Keluh Dira tak puas.


Melihat wajah cemberut sahabatnya itu, tangan Aish gatal lagi ingin mencubitnya. Namun sebelum dia bisa mengangkat tangannya untuk beraksi, ustazah tiba-tiba menyebut namanya.


"Aisha Rumaisha?"


Tubuh Aish langsung menegang. Tubuhnya otomatis duduk tegak di atas kursi.

__ADS_1


"Ya, ustazah?"


Ustazah melihat wajah tegang Aish di barisan kursi paling pojok kelas.


"Ada seseorang yang ingin bertemu denganmu di kantor. Keluarlah dan bawa tas mu pergi untuk menemuinya di kantor." Kata ustazah dengan senyumnya yang hangat.


Dira kaget sekaligus iri.


"Jadi aku enggak sekolah hari ini, ustazah?" Tanya Aish tak percaya.


Ustazah menganggukkan kepalanya ringan.


"Benar, orang itu sudah meminta izin untukmu."


Aish langsung senang mendengarnya. Akhirnya dia terbebas dari pelajaran menyebalkan ini. Meskipun dia bingung siapa orang yang telah membantunya keluar dari sangkar ini dan apa maksud orang itu ingin bertemu dengannya, Aish tetap berterima kasih di dalam hatinya.


"Belajar yang rajin, yah." Aish menepuk ringan pundak Dira sebelum melarikan diri dengan tas sekolahnya.


Aish berhasil keluar dari kelas di bawah pengawasan mata penuh iri teman-teman kelas yang lain. Jika ustazah tidak ada di dalam kelas, Aish pasti akan menyumbangkan sebuah tarian kemenangan di depan teman-teman kelasnya sebagai bentuk 'pamer' bahwa dia adalah manusia pertama yang keluar dari sekolah hari ini.


Begitu keluar dari sekolah, Aish langsung berjalan ke kantor staf pondok pesantren yang tidak terlalu jauh dari sekolah. Aish hanya perlu berjalan beberapa menit saja dan dia akhirnya sampai di depan kantor staf.


Tok


Tok


Tok

__ADS_1


Aish mengetuk pintu kantor sopan.


"Assalamualaikum?" Salam Aish kepada orang-orang yang ada di dalam.


__ADS_2