
Hari itu begitu berat. Dia melepaskan kepergian Dira dengan berat hati. Sekarang dia tidak memiliki siapapun lagi. Setiap orang pergi mengejar jalan hidup masing-masing. Masih segar di dalam ingatannya bagaimana dia dan dua sahabatnya bermimpi. Mereka yang terbuang dan tak dihargai bersama-sama mulai merajut asa, mengembangkan harapan di hati dan bertekad menaklukan hidup dengan bergandengan tangan. Baru beberapa bulan lamanya mereka berjanji dan sekarang Allah memberikan mereka jalan masing-masing. Yang satu menikah dengan laki-laki yang dicintai, sementara yang lain pergi mengemban amanah dari keluarganya, sedangkan yang satunya lagi tertinggal di pondok pesantren dengan impian hidup yang sangat sederhana.
Dia hanya ingin mendapatkan tempat tidur yang dapat melindunginya dari hujan dan angin, tanpa perlu membayar uang extra sebab dia cuma memiliki tabungan seadanya. Dan dengan gaji yang cukup, dia berharap dapat menyambung kehidupannya yang terombang-ambing.
Seringkali sebelum tidur dia berharap bahwa seseorang dari keluarganya datang untuk mencarinya, mungkin ingin membawanya pulang. Tapi hingga detik ini, dia masih kedinginan oleh perasaan sepi yang menggigit.
"Dek, kamu nggak pulang?" Nasha melihatnya berdiri di pintu sendirian dan datang menyapa.
__ADS_1
Baru-baru ini dia sering berinteraksi dengan Gisel dan Dira. Kesannya kepada kedua gadis ini membaik. Kalau tidak sengaja bertemu, dia tidak akan sungkan menyapa mereka.
Gisel tersenyum,"Enggak, kak. Aku nggak akan pulang ke rumah. Setelah aku pikir-pikir, aku nggak suka belajar, kak, jadi aku memutuskan mau tinggal di sini untuk mencari pengalaman. Rencananya aku mau kerja di bagian dapur umum, bantu-bantu staf dapur membuat makanan untuk para santri dan santriwati." Gisel menjawab kalem.
Sikap dan perilakunya mulai dipupuk sejak tinggal di pondok pesantren. Walaupun dia tidak membuat perubahan yang sangat besar seperti Aish, namun dibandingkan dulu, dia sudah sangat lebih baik.
Mendengar rencana Gisel, sebenarnya Nasha menyayangkan keputusan yang dibuatnya. Sayang sekali menyia-nyiakan waktu untuk bekerja sebagai staf dapur di sini. Daripada membuang waktu untuk melakukan pekerjaan yang tidak akan terlalu berguna di masa depan, alangkah baiknya Gisel melanjutkan sekolah lagi.
__ADS_1
Namun ini adalah keputusan pribadi Gisel. Sebagai orang luar dia tidak berhak ikut campur apalagi sampai mengatur-ngatur.
"Oh, Masya Allah, aku senang mendengarnya. Semangat ya, nikmati waktu magang kamu selama di sini." Ucapnya tulus kepada Gisel.
Yah apapun itu keputusannya, dia berharap yang terbaik untuk Gisel. Berharap bahwa hari-harinya di sini masih menyenangkan seperti dulu.
"Kak Nasha terlalu cepat memberikan ucapan selamat, aku masih belum mendaftar. Oh ya, kak. Aku dengar tahun ini kakak akan wisuda, aku ucapkan selamat untuk kakak. Kapan-kapan jika aku keluar, aku akan membelikan kakak hadiah."
__ADS_1
Nasha dan Danis satu angkatan. Mereka akan lulus tahun ini. Beberapa bulan lagi. Memikirkan hari itu Gisel mau tak mau menahan pahit di hatinya. Dengar-dengar Danis tidak akan melanjutkan pendidikan di sini jadi mereka tidak akan bisa bertemu lagi. Oh, sekarang pun dia tidak pernah bertemu dengan Danis. Bukannya tidak pernah bertemu tapi Gisel sendiri yang sengaja menghindari. Setiap kali matanya menangkap Danis, dia pasti akan memutar jalan agar tidak bertemu. Dia melakukan ini untuk melupakan Danis. Iya, dia tidak ingin mengharapkan orang lain yang tidak pernah mengharapkannya.