
Di sela-sela pembicaraan habib Khalid sempat tertawa setelah digoda oleh seorang ustad. Pasalnya banyak santriwati yang diam-diam mencuri pandang ke arah sang habib, idola pondok pesantren mereka.
Habib Khalid memegang keningnya tidak habis pikir sembari menggelengkan kepalanya. Ia menjadi idola banyak santriwati, bukanlah sesuatu yang bisa ia banggakan. Namun sang habib tidak pernah menganggapnya serius. Sikapnya yang terasing dan jauh ini malah membuat banyak orang semakin mengaguminya. Mereka mengagumi sang habib yang selalu rendah hati dan terukur dalam menyikapi para pengagum di pondok pesantren.
Nyatanya kantor habib Khalid telah dibanjiri banyak proposal dari kalangan santriwati dan beberapa staf wanita yang masih lajang. Entah dibawa kemana semua proposal itu pergi karena baik ustad ataupun santri yang pernah masuk ke dalam kantor habib Khalid tidak pernah melihatnya lagi setelah satu atau dua jam menganggur di atas meja kerja.
"Habib Thalib, assalamualaikum?" Khalisa dan Nasha tiba-tiba datang menghampiri.
Habib Khalid mengernyit tidak nyaman. Ia langsung mundur beberapa langkah untuk menjaga jarak dari Khalisa. Entah disengaja atau tidak, Khalisa tadi hampir saja menyentuh lengan kiri habib Khalid.
"Waalaikumussalam." Jawab habib Khalid tanpa menoleh.
Khalisa meremas tangannya gugup sementara Nasha diam-diam menggelengkan kepalanya tidak habis pikir dengan tindakan Khalisa. Ia terpaksa mengikuti Khalisa ke sini untuk meminta maaf kepada habib Khalid. Dan jika Nasha berani tidak membantu, maka Khalisa akan nekat mencari habib Khalid sendiri.
Begitu Khalisa datang, para ustad sontak memalingkan wajah mereka ke samping dengan keheranan samar di wajah masing-masing.
Perihal keributan yang disebabkan oleh Khalisa beberapa waktu ini, hampir semua orang telah mengetahuinya. Kesan mereka kepada Khalisa perlahan mulai menurun dan tidak sebaik sebelumnya.
__ADS_1
"Habib Thalib.... masalah tadi siang, aku ingin meminta maaf." Kata Khalisa dengan mata merahnya yang mulai basah.
Habib Khalid memiringkan kepalanya, melirik ke dalam kantin dari sudut matanya.
"Kembalilah. Kalian akan segera makan malam." Usir habib Khalid secara halus.
Khalisa tertegun. Hatinya sangat kecewa setelah mendengar penolakan habib Khalid. Bahkan tanpa mendengarkan permintaan maafnya, habib Khalid malah memintanya pergi. Ini adalah penolakan terhadapnya.
Penolakan. Khalisa mengepalkan kedua tangannya sedih dan marah. Sejak kapan harga dirinya hancur di depan mata habib Khalid?
Sejak kapan?
Benar, sejak Aish datang ke pondok pesantren semuanya tiba-tiba berubah!
"Khalisa, ayo pergi. Habib dan yang lainnya akan segera pergi berpatroli." Desak Nasha malu.
Dia menarik lengan Khalisa, mendesaknya untuk segera pergi secepatnya.
__ADS_1
Khalisa tersenyum kecut. Dia mengangguk ringan tampak lemah.
"Kami...kami akan kembali, assalamualaikum."
Khalisa lalu pergi dengan enggan. Masuk kembali ke dalam stan makanan dengan kepala tertunduk, mengabaikan banyak pasang mata yang diam-diam menatapnya dengan berbagai macam pandangan.
...****...
"Aish, Aish, kamu kok ngelamun, sih?" Senggol Dira membangunkan Aish dari lamunannya.
Aish terbangun. Ia langsung menarik pandangannya dari habib Khalid dengan ekspresi kebingungan di wajahnya.
"Dir, kak Khalid kok enggak mau disentuh sama Khalisa?" Tanya Aish heran sekaligus bingung setelah melihat sikap penghindaran habib Khalid tadi.
Dira menatap Aish aneh.
"Kamu serius nanyain ini, Aish?" Tanya Dira bercanda.
__ADS_1
Aish menatap Dira serius. Tanpa perlu menjawab, Dira tahu bila Aish serius bertanya.