
Malam harinya setelah selesai sholat isya dan makan malam, Aish, Dira dan Gisel langsung kembali ke asrama. Sesampai di asrama, Dira menaruh perlengkapan sholatnya di lemari dan mengambil jaket kulit favoritnya. Tindakannya jelas membuat Aish dan Gisel merasa heran sebab malam ini tidak terlalu dingin, malah jauh lebih sejuk dan nyaman.
"Ayo pergi." Kata Dira tiba-tiba.
Aish mengernyit,"Kemana?"
Dira memutar bola matanya.
"Ke masjid." Jawabnya singkat.
Gisel menatap sahabatnya ini aneh, sebab diantara mereka bertiga orang yang paling anti dengan masjid adalah Dira. Yah, anti bukan berarti benci. Dira selalu saja mudah tertidur jika sudah duduk di dalam masjid. Entah sedang pengajian atau mendengarkan ceramah, orang pertama yang akan tertidur adalah Dira. Karena terlalu sering tidur, Dira selalu menjadi bulan-bulanan para ustazah pengawas ataupun staf kedisiplinan asrama putri. Mereka menegur Dira dan memintanya untuk lebih fokus lagi saat berada di dalam masjid.
Bahkan Aish pernah mendengarkan celotehan lucu tentang Dira dari teman-teman kamar yang lain. Mereka bilang Dira butuh di ruqyah biar bisa akrab sama masjid.
"Kamu sadar enggak?" Tanya Gisel heran.
Dira berdecak tidak senang,"Sadarlah, waras gini kok."
Aish juga berpikir jika Dira agak aneh.
"Kita mau ngapain ke masjid jam segini?" Tanya Aish murni penasaran.
Jangan bilang mereka ke sana hanya numpang tidur saja?
Dira melihat Aish dengan tenang. Tersenyum lembut, ia tiba-tiba menjangkau pundak Aish dan menepuknya ringan.
"Mau begadang." Jawabnya singkat.
Dira sangat aneh. Biasanya anak ini sangat suka tidur dan membenci begadang, katanya sih begadang itu enggak sehat dan buang-buang waktu. Daripada ngabisin waktu buat begadang, lebih baik perbanyak tidur biar badan sehat dan jauh lebih fit.
__ADS_1
Iya, ini katanya Dira doang buat nutupin hobinya yang suka tidur.
"Aneh, ngapain kita begadang? Besok kan kita udah enggak ulangan lagi." Kata Gisel bingung.
Dira sekali lagi berdecak tidak puas dengan kedua sahabatnya.
"Jangan banyak tanya. Lebih baik bawa jaket atau selimut kalian biar enggak kedinginan saat begadang nanti." Kata Dira tidak mau melayani pertanyaan bodoh mereka berdua.
Hell, ia sudah rela mengorbankan waktu tidurnya untuk mereka berdua- oh, sebenarnya ia melakukan ini untuk Aish. Besok adalah hari kematian Mamanya dan Dira tahu Aish pasti akan kepikiran terus. Sahabatnya itu mungkin sangat merindukan Mamanya dan malam ini tidak bisa tidur. Kan percuma saja di sini karena sekuat apapun mencoba, Aish tidak akan bisa tidur dan terus kepikiran. Daripada tersiksa di sini, ada baiknya datang ke rumah Allah dan ngomong sama Allah langsung kalau Aish udah rindu banget sama mendiang Mamanya.
Tuh kan, Dira orangnya sebaik ini. Ia adalah saudara dan sahabat yang baik tau..
Diam-diam Dira sangat bangga dengan langkah yang ia ambil malam ini.
"Serius kita pergi?" Aish ragu.
"Serius. Jangan takut ketahuan sama pengawas karena aku udah ngomong sama Siti buat bantuin kita nanti waktu absen." Kata Dira menenangkan mereka berdua.
Namun Aish dan Gisel sama sekali tidak terhibur dengan apa yang Dira katakan. Mereka ragu apakah mengikuti ide gila Dira atau tidak. Pasalnya masjid pasti tidak akan dibuka lagi bila sudah masuk jam malam.
Akan tetapi ketika melihat tatapan tegas Dira, mereka berdua akhirnya mengalah dan pergi mengambil perlengkapan sholat untuk dibawa ke masjid. Takutnya mereka nanti kebablasan waktu begadang. Kebetulan Aish sudah mandi bersih saat magrib. Bulan ini datang bulannya tidak terlalu lancar mungkin karena terlalu banyak tekanan dari rumah dan bodoh. Sehingga ia bisa mandi bersih lebih cepat dari waktu biasanya.
Setelah berkemas, Aish langsung menutup pintu lemarinya- tapi, tangannya tiba-tiba tertahan. Ia melihat jaket ditangan kirinya dan melihat sarung hijau di dalam lemari. Tersenyum geli, tangan kanannya menaruh jaket ke tempatnya semula dan mengambil sarung hijau dari lemari.
"Beres, yuk."
Setelah siap, mereka bertiga akhirnya pergi di bawah pengawasan aneh teman-teman kamar. Teman-teman kamar yang lain ingin bertanya kemana mereka akan pergi karena sebentar lagi asrama akan digembok. Tapi mereka ragu dan hanya berdiam diri melihat Aish serta kedua sahabatnya menghilang dari hadapan semua orang.
"Lho, mereka mau keluar? Kita kan enggak boleh keluyuran malam-malam dan asrama juga sebentar lagi akan ditutup." Suara Gadis menatap kepergian Aish dengan aneh.
__ADS_1
Ia tidak pernah bergaul lagi dengan Aish. Bukan karena Gadis tidak mau tapi karena Aish menjaga jarak darinya. Gadis tersinggung. Ia merasa cemburu melihat betapa murah hati Aish kepada anak-anak kamar yang lain sedangkan tidak untuk dirinya. Gadis merasa tersisihkan karena Aish dan ia juga bisa merasakan bila kesan anak-anak kamar tidak sebaik dulu kepada dirinya.
Gadis marah namun tidak bisa melakukan apa-apa dan hanya bisa menahan semuanya sendirian.
"Hush, hati-hati kalau ngomong. Mereka enggak keluyuran. Tapi mereka akan pergi ke masjid." Kata Siti menjawab kebingungan semua orang.
Gadis ngeyel,"Ya tetap aja namanya keluyuran kalau keluar tanpa izin pengawas."
Siti melirik Gadis yang sedang mencari keributan.
"Bahkan walaupun mereka izin, pengawas enggak akan izinin jadi mereka memutuskan untuk pergi diam-diam." Kata Siti jutek.
Menurut Siti, Gadis ini makin hari makin buruk saja akhlaknya. Ia tidak tahu dimana masalahnya namun yang pasti Gadis bukan lagi Gadis yang dulu sederhana dan lugu.
"Siti, untuk apa mereka ke masjid?" Tanya salah satu teman kamar.
"Apa mereka akan mabit di masjid?" Teman kamar yang lain ikut bertanya.
Siti tersenyum lucu. Alangkah baiknya jika ketiga anak itu pergi mabit ke masjid. Tapi untuk ketiga anak reptil itu, Siti tahu bahwa itu hanya angan-angan saja. Mereka tidak sepatuh itu, okay!
"Teman-teman, besok adalah hari kematian Mama Aish jadi Dira meminta izin ingin membawanya ke masjid agar hati Aish enggak terlalu gelisah. Jadi teman-teman harus bantuin mereka yah di sini. Minimal kita bantu sembunyikan mereka dari pengawas kamar nanti." Kata Siti mengungkapkan alasan kepergian Aish dan kedua sahabatnya.
Saat anak-anak kamar mendengarnya, mereka tentu saja kaget dan langsung mengerti. Mereka pikir keputusan Dira membawa Aish ke masjid sebenarnya bagus juga.
"Ah...pantas aja aku sering ngeliat Aish melamun hari ini.." Salah satu teman kamar berbicara.
"Aku juga sering ngeliat Aish ngelamun hari ini. Aku pikir ia merindukan rumahnya..."
Dan satu demi satu dari mereka ikut berbicara untuk Aish. Sekarang setelah banyak orang yang mengungkapkan keprihatinan mereka terhadap Aish, tidak ada lagi yang merasa keberatan. Mungkin ada beberapa orang, namun mereka memilih diam dan bersikap acuh saja. Toh, bila tertangkap pun yang akan mendapatkan hukuman adalah Aish dan kedua sahabatnya.
__ADS_1