Mengejar Cinta Sang Habib

Mengejar Cinta Sang Habib
Bab 4.6


__ADS_3

"Ha...habib.."


Habib Khalid menyapa Aish dengan senyuman hangat di bibirnya.


Sontak saja ekspresi terkejut Aish mengundang gelak tawa para santriwati di stan makanan. Habib Khalid tiba-tiba masuk ke stan makanan santriwati yang sangat menggemparkan semua orang. Para santriwati awalnya berisik dengan kedatangan habib Khalid yang tiba-tiba, akan tetapi habib Khalid meminta mereka semua untuk tutup mulut agar tidak mengganggu kedamaian. Tepat sekali pada saat waktu itu Dira, Aish, dan Gisel sedang mengintip ke arah stan laki-laki. Mereka sama sekali tidak menyadari kebisuan para santriwati ada hubungannya dengan kedatangan habib Khalid.


Gisel merasa stan makanan terlalu sunyi. Dia tidak sengaja menoleh ke belakang dan melihat wajah tersenyum habib Khalid. Dia sangat ketakutan dan tidak sengaja menarik perhatian Dira.


Dira sangat shock melihat habib Khalid tepat berada di belakang Aish. Dia awalnya ingin menepuk pundak Aish tapi niatnya sudah dilihat oleh habib Khalid. Dengan gelengan halus habib Khalid, dia langsung menurunkan tangannya kaku. Tersenyum enggan, Dira lalu menurunkan kepalanya ke bawah berpura-pura tidak melihat keberadaan habib Khalid. Menunduk ke bawah, mulutnya tidak berhenti mengucapkan maaf dan maaf kepada teman seperjuangannya. Bukan maksud dirinya tidak mengirimkan alarm tanda bahaya kepada sang teman seperjuangan. Dia ingin melakukannya tapi master mawar berduri lebih dulu menghalangi langkahnya.


"Bagaimana, apakah laki-laki di depan sana cukup bening?" Tanya habib Khalid kepada Aish.


Pertanyaan ini terdengar lucu dan lagi-lagi mengundang gelak tawa para santriwati. Bahkan para laki-laki di stan sebelah ikut terinfeksi suara tawa mereka.


Aish tersenyum canggung. Dia menganggukkan kepalanya jujur.


Jawabannya sangat konyol di mata orang-orang.


Namun tidak ada yang lebih tahu dari mereka bertiga bila master mawar berduri ini akan menusuk mereka bertiga dengan durinya yang tajam. Jangan pernah tertipu oleh bunganya yang merah merekah dengan bau semerbak yang menyenangkan karena dibalik semua keindahan itu ada duri tajam yang siap beraksi setiap kali di dekati.


"Lalu, apakah kamu ingin aku perkenalkan dengan mereka?"

__ADS_1


Aish langsung menghirup udara dingin. Bulu kuduknya tiba-tiba berdiri karena ngeri. Tersenyum canggung, dia menggelengkan kepalanya menolak.


"Maaf habib, aku salah. Aku tidak akan mengulanginya lagi. Kali ini aku khilaf." Kata Aish mengaku salah.


Dia sudah merasakan bagaimana habib Khalid memberikan mereka hukuman jadi untuk menghindari kemungkinan terburuk dari masalah ini, dia langsung mengambil inisiatif untuk mengakui kesalahan.


Habib Khalid tersenyum lembut,"Kamu tahu bila tindakan yang kamu lakukan ini salah, maka aku tidak punya kata-kata lagi untukmu selain belajar lah menjaga pandangan."


Aish sudah mulai mengembangkan senyuman penuh syukur di bibirnya karena habib Khalid tidak memberikannya hukuman. Namun ketika kata-kata habib Khalid yang lainnya jatuh ke telinganya, senyuman penuh syukur Aish di bibirnya segera menguap digantikan ekspresi tertekan.


"Setelah makan malam, pergilah ke dapur umum untuk membersihkan piring kotor." Kata habib Khalid santai.


"Kerjakan bersama-sama, kalian bertiga. Aku akan meminta anggota kedisiplinan asrama putri untuk mengawasi kalian bertiga." Potong habib Khalid seraya berjalan ke barisan meja lainnya.


Tidak ada lagi tawa menggelegak dari stan santriwati karena habib Khalid sudah berbicara tentang hukuman. Beberapa santriwati di stan ini agak menyayangkan keterlambatan reaksi Aish, Dira, dan Gisel tadi. Bila mereka peka terhadap situasi maka habib Khalid tidak akan menangkap basah mereka bertiga. Kini perhatian semua orang beralih kemanapun habib Khalid melangkah. Akan ada senyum malu-malu yang terpatri di wajah para santriwati.


Aish berkedip sedih melihat punggung tegap itu perlahan menjauh dari pandangannya. Dia merutuki dirinya sendiri karena tertangkap basah sedang mengintip ke arah stan laki-laki. Gara-gara masalah ini mungkin membuat kesannya di depan habib Khalid semakin menjadi buruk.


"Master mawar berduri memang tidak mudah dihadapi. Kita pasti akan ditusuk oleh durinya setiap kali bertemu dengannya." Gumam Dira ikut melihat ke arah punggung habib Khalid.


Gisel memandangi tangannya yang halus dengan muram lalu beralih melihat ke arah habib Khalid , hatinya sangat tertekan,"Sialnya, kita sudah dua kali ditusuk durinya."

__ADS_1


Aish tersenyum tipis,"Kita sudah sering tertipu dengan senyumnya yang menawan." Kata Aish melankolis.


Dira mengangkat bahunya lemah,"Keindahan selalu menarik perhatian."


Keindahan selalu menarik perhatian.... keindahan, Aish memandangi senyuman malu-malu para santriwati di meja seberang. Mereka terlihat pemalu dan manis pada saat yang bersamaan. Berayun lembut mengikuti kemanapun habib Khalid melangkah. Pemanfaatan ini sangat spektakuler di dalam dunia imajinasi Aish yang miskin. Dia merasa sedih sekaligus tertekan melihat bunga mawar nya menjadi bahan rebutan banyak wanita.


"Dan lalat selalu ada kemanapun keindahan pergi." Kata Dira merajuk.


"Hem?" Gisel menoleh kepadanya.


Dira menunjuk ke arah habib Khalid- tepatnya pada gadis pemalu yang kini tengah berbicara dengan habib Khalid.


"Oh, itu bukannya cewek yang cari masalah sama kita?" Kata Gisel mengikuti arah yang ditunjuk Dira.


Aish juga melihatnya. Khalisa, gadis rapuh itu sekarang tengah berbicara dengan habib Khalid dan menjadi fokus utama semua orang. Bukan cuma mereka bertiga saja.


Dia tampak bicara dengan hati-hati dan malu-malu dari jarak yang wajar. Sesekali wajah merahnya akan mengintip ke arah habib Khalid untuk melihat bagaimana reaksi habib Khalid. Sedangkan habib Khalid sendiri dari awal hingga akhir tidak pernah kehilangan senyum di bibirnya.


Aish menghela nafas lembut. Dia menarik pandangannya dari mereka berdua dan lebih memilih menatap permukaan meja di depannya yang tidak sejujurnya tidak memiliki daya tarik sedikitpun.


"Mereka terlihat serasi." Ucapnya lemah.

__ADS_1


__ADS_2