Mengejar Cinta Sang Habib

Mengejar Cinta Sang Habib
Bab 9.8


__ADS_3

Mulut Dira terbuka beberapa kali ingin berbicara, namun setiap kali matanya menangkap senyum polos Aish, dia langsung mengurungkan niatnya.


Hanya saja...


Matanya berkedut aneh melihat Aish tiba-tiba menggunakan sarung hijau- yah, hijau lagi. Dira ingat betul kok kalau Gisel enggak bawa apa-apa ke sini dan dia juga ingat betul kok, kalau itu bukan sarung yang selalu Gisel bawa tidur. Soalnya corak sarung ini beda dengan milik Gisel dan lebih sederhana.


"Aish, kenapa kamu tiba-tiba pakai sarung?" Akhirnya rasa penasarannya diwakilkan ok Gisel.


Aish menegang, tangannya dengan erat memegang sarung yang melingkari pinggangnya. Sikap Aish sangat mencurigakan. Apalagi ketika mereka melihat rona merah muda mulai mengembang di pipi Aish dengan senyum sumringah di bibirnya. Penampilan Aish yang pemalu ini seketika mengingatkan mereka kepada habib Khalid. Pasalnya Aish akan selalu seperti ini tiap kali bertemu dengan habib Khalid.


Hanya saja habib Khalid mustahil pergi ke sini apalagi sampai berduaan sama Aish, soalnya tadi kan masuk sholat dzuhur, jadi aneh banget dong habib Khalid pergi ke sini dan enggak sholat di masjid?


Tapi yang membingungkan adalah kalau bukan habib Khalid yang membuat sahabat mereka seperti ini, lalu siapa orangnya?


"Tadi aku terpeleset waktu turun ke sungai makanya bawahan aku jadi basah. Hufh...untungnya tadi aku enggak sampai jatuh dan cuma basah sedikit aja." Kata Aish singkat.


Dia tidak bermaksud menyembunyikannya dari kedua sahabatnya. Aish cuma merasa waktunya belum tepat karena hubungannya dengan habib Khalid masih belum jelas. Nanti kalau sudah mendapatkan titik terang, Aish tidak akan menutupinya lagi.

__ADS_1


Dira heran,"Kamu terpeleset, terus dapat sarungnya darimana? Jangan bilang tadi kamu ketemu sama kolor ijo penunggu sungai ini."


Dira selalu berbicara omong kosong.


"Ini dari orang lain yang kebetulan ngeliat aku saat terpeleset di sungai tadi. Dia kasian sama aku, makanya dia kasih aku pinjam sarungnya." Kata Aish membuat alasan.


Dira menyipitkan matanya tidak percaya. Aish langsung menjadi gugup ditatap seperti ini oleh Dira. Untuk beberapa alasan dia merasa takut dengan Dira. Entahlah, Dira orangnya terlalu kepo dan suka bergosip!


"Oh...ini, ini makanan yang dibawa dari kantin, yah?" Aish langsung mengubah topik pembicaraan.


Ditanya soal makanan, perhatian Gisel dan Dira langsung teralihkan.


Aish tersenyum geli,"Kalau kalian mau kita bisa makan sama-sama. Soalnya aku agak gak berselera makan gara-gara datang bulan."


Keram perutnya masih belum hilang jadi Aish tidak terlalu berselera makan. Selain itu Aish juga sedang berbunga-bunga memikirkan pertemuannya dengan habib Khalid tadi. Jejak hangat yang ditinggalkan oleh tangan habib Khalid masih terasa jelas di kulitnya. Aish menatap tangannya yang sudah berhenti mengeluarkan cairan. Merabanya dengan hati-hati, sejenak hatinya dibawa kembali oleh kenangan nostalgia yang paling berharga di dalam hidupnya.


Kak Khalid.... Batinnya melambungkan kerinduan.

__ADS_1


"Aish, ayo. Kok malah ngelamun sih?" Desak Dira sudah tidak sabar.


Aish terkejut, dia segera menyembunyikan tangannya sambil mengontrol ekspresi wajahnya sealami mungkin.


"Okay, ayo makan."


...****...


Setelah kembali ke asrama, Aish langsung dipanggil ke kantor oleh salah satu senior. Senior itu bilang ada seseorang dari keluarganya yang menelponnya dan ingin berbicara dengannya. Aish lalu pergi ke kantor asrama tanpa membuang waktu. Awalnya dia sedikit terkejut karena rasanya agak biasa tiba-tiba keluarganya menelpon setelah sekian lama menghilang. Akan tetapi setelah dipikir-pikir, mungkin saja orang yang menelponnya adalah keluarga dari pihak Mamanya dan itu sebenarnya tidak terlalu mengejutkan jadi kegugupannya segera menguap.


"Hallo, ini Aish." Kata Aish dengan gagang telepon di samping telinganya.


"Aish, kamu akhirnya berbicara. Kemana saja kamu dari tadi?!" Suara ketus bibi langsung menusuk telinga Aish.


"Bibi?!" Hari Aish langsung menegang.


Bersambung...

__ADS_1


Segini dulu huhu...


__ADS_2