
Selesai menggunakan Henna, dia kembali masuk ke dalam kamar untuk beristirahat sembari mengeringkan tangan. Di dalam kamar dia tidak berdiam diri tapi memanfaatkan waktu untuk membaca buku fiqih pernikahan. Buku ini diberikan oleh bibi Rumi. Katanya kunci pernikahan ada di dalam buku ini. Jika ingin membuat pernikahan harmonis dan damai, penuh akan kasih sayang yang sarat akan kebahagiaan, maka baca dan pahami fikih pernikahan. Apapun masalah di dalam pernikahan, bagaimana menyikapi masalah tersebut jawabannya ada di dalam fiqih pernikahan.
Oleh sebab itu sejak menerima buku ini dia tidak pernah kendur dan selalu meluangkan waktu untuk membacanya. Memang tidak cukup menghabiskan buku ini dalam tempo 2 hari. Apalagi waktu-waktu ini adalah waktu tersibuk yang pernah dirasakan. Memang dirinya tidak diizinkan ikut bekerja, ataupun membantu orang-orang di luar untuk menyiapkan pernikahan, tapi persiapan yang dilakukan dari baju hingga merawat diri sendiri sudah sangat menghabiskan banyak waktu.
Tok
Tok
Tok
Suara pintu kamarnya diketuk. Melirik waktu, sudah 2 jam berlalu. Dia tidak menyangka bisa membaca buku sefokus ini.
__ADS_1
"Tunggu." Katanya kepada orang di luar sana.
Dia menutup buku setelah menaruh penanda lembar terakhir yang dia baca dan bergegas membuka pintu. Di luar seseorang yang tidak dia kenal berdiri dengan wajah tersenyum.
"Aisha, ada seseorang yang mencarimu di bawah." Kata orang itu.
Aish bertanya,"Siapa yang datang mencari ku?"
"Katanya dia Ayah mu. Bibi Rumi bilang, jika kamu tidak mau turun untuk menemuinya maka jangan turun. Dia tidak ingin kamu merasa tidak nyaman." Awalnya dia tidak mau mengatakan siapa yang datang mencari.
Aish terdiam. Mulutnya sontak tertutup rapat. Kelopak matanya yang selalu terbuka lebar dengan bola mata jernih kali ini meredup digantikan oleh penampilan linglung. Bingung rasanya. Setelah perpisahan terakhir di pondok pesantren dia kira mereka tidak akan pernah bertemu lagi. Dia kira Ayah tidak akan berani mencarinya lagi. Mungkin karena rasa malu karena tak mampu menjaganya dengan baik, sebaik yang dilakukan kepada Aira. Benar sekali, ada banyak kemungkinan yang dapat membuat Ayah tak memiliki wajah untuk mendatangkannya lagi. Ada banyak sekali.
__ADS_1
"Ayo turun." Dia akhirnya membuat keputusan.
Sebelum pergi dia menutup pintu kamar dan berjalan dengan langkah kaki ringan tanpa ragu. Terlepas dari semua itu pikirnya, Ayah adalah Ayahnya. Cinta pertamanya di dunia ini.
"Aish." Di ruang tengah dia berdiri menatap kaget pada sosok laki-laki yang selalu dia rindukan kasih sayangnya.
Mereka baru saja berpisah satu hari, tapi penampilan laki-laki tua itu 10 tahun lebih tua dari usia yang sebenarnya. Wajahnya sayu dan tatapan matanya goyah, sekilas dia tahu bahwa laki-laki ini memiliki banyak pikiran dan penderitaan selama perpisahan mereka.
Rasanya cukup menyakitkan. Dia tidak tega melihat penampilan Ayah.
"Ayah, mengapa Ayah datang kemari?" Tanyanya ragu-ragu.
__ADS_1
Ayah menatap Aish malu,"Ayah..."
Aish menajamkan pendengarannya, beberapa detik kemudian matanya bergetar kaget mendengar apa yang dipinta oleh Ayah kepadanya.