Mengejar Cinta Sang Habib

Mengejar Cinta Sang Habib
Bab 20.7


__ADS_3

Langkah Aish berhenti, lehernya yang kaku menoleh ke arah sang Habib yang kini tengah menatapnya tanpa senyuman. Melihat wajah datar itu Aish selalu teringat akan pemandangan yang dia lihat hari ini. Bagaimana wajah tampan itu tertawa bahagia ketika berbicara dengan wanita itu, Aish merasa cemburu juga kecewa, seolah ada batu yang memberatkan hatinya, bernapas rasanya begitu sulit ketika berdiri dekat dengan sang Habib.


"Jawaban temanku sudah mewakili jawabanku juga. Habib tidak perlu repot-repot memikirkan kabarku karena aku dan temanku baik-baik saja di sini." Jawab Aish berusaha setenang mungkin.


Mata aprikotnya berkedip ringan melihat wanita yang ada di sebelah sang habib. Sebisa mungkin dia menahan dirinya untuk tidak menatap wanita itu, tapi matanya sangat nakal dan sulit diatur. Beberapa kali bola mata itu mengembara menatap wanita yang kini tengah menatapnya juga.


Kening Aish langsung mengernyit karena wanita cantik ini terlihat mirip dengan seseorang... Namun dia tidak yakin pastinya.


"Kamu tadi memanggilku apa?" Fokus Aish langsung ditarik oleh suara dingin habib Khalid.


Aish tersenyum kecil bila mengingat ancaman habib Khalid jika dia memanggilnya dengan sebutan 'habib'. Ancaman?


Dia tidak takut lagi. Toh, dia juga tidak berniat untuk pergi mengejar. Hati dan fisiknya harus di rehat sejenak setelah terlalu lama bekerja.


"Habib." Kata Aish mengulangi tanpa rasa takut.


Dia tidak takut tapi kedua sahabatnya sudah menggigil ketakutan ketika melihat perubahan di wajah sang habib. Mereka berdua tidak bisa menebak apa yang sang habib pikirkan saat ini akan tetapi yang pasti, mereka tahu habib Khalid kali ini benar-benar marah.


Kini mereka tidak takut jika Aish kesurupan karena mereka lebih takut jika sang habib lah yang kesurupan.


"Adik kecil, siapa namamu?" Di tengah-tengah suasana tegang, wanita itu mengajukan sebuah pertanyaan konyol.


Dira dan Gisel langsung gigit jari. Wanita ini jelas-jelas melihat ada sesuatu yang salah dengan Aish dan habib Khalid, tapi masih sempat-sempatnya menanyakan sebuah nama. Apakah pertanyaan ini masuk di waktu yang salah?

__ADS_1


Aish melirik wanita itu. Wajah cantiknya tersenyum lembut ketika mata mereka bertabrakan. Sangat cantik, Aish merasa semakin minder berdiri di hadapan wanita secantik dia. Dibandingkan dirinya yang biasa-biasa saja, dia akhirnya mengerti mengapa sang habib memilih wanita ini. Lihatlah senyuman lembut di wajah cantiknya, senyum itu terlihat tulus tanpa celaan, sekali pandang saja orang tahu bahwa dia adalah wanita yang baik.


"Aisha." Jawab Aish mengedipkan matanya beberapa kali untuk menahan air mata yang mulai menggenang di kelopak matanya.


"Dan mereka yang berdua adalah teman-temanku namanya Gisel dan Dira." Aish menepuk pundak kedua sahabatnya.


"Nama yang cantik," Puji wanita itu murah hati.


Aish tidak tertarik mendengarkan omong kosongnya lagi- tidak, sejujurnya dia tidak tahan tinggal di sini karena mata sang habib terlalu terang-terangan. Dia mengepalkan kedua tangannya gugup sembari mengalihkan pandangannya tidak ingin melihat mereka berdua lagi.


"Kami bertiga tidak akan mengganggu waktu kalian lagi. Sebab kami harus segera pergi ke kantin sebelum Ibu kantin memarahi kami karena terlambat." Aish membuat alasan untuk melarikan diri dari sini.


"Denganku bersamamu mereka tidak bisa mengatakan apa-apa. Diam di sini, kita masih punya obrolan yang belum diselesaikan." Habib Khalid menghentikannya untuk melarikan diri dan berbicara dengan sangat sopan sehingga Aish malu menolak ajakannya.


"Habislah kita." Bisik Dira di samping Gisel.


Gisel menatap sang habib dan wanita itu tidak puas, bertanya-tanya di dalam hati apa mau mereka berdua?


Tidakkah mereka berdua menyadari bahwa Aish tidak tahan berbicara dengan mereka. Apakah perlu berpura-pura tidak peka terhadap situasi?


Bukankah ini terlalu kekanak-kanakan?


"Aku harap murka habib Thalib tidak mengirim kita ke sawah lagi." Balik Gisel berbisik.

__ADS_1


"Terima kasih. Tapi kami bertiga sangat lapar sekarang dan tidak bisa menunda. Kami akan- ah, kak Dimas!" Kebetulan sekali Aish melihat Dimas berjalan dari seberang jalan milik santri laki-laki.


Dimas datang ke kantin terlambat karena ada urusan dengan seorang ustadz di asrama. Begitu menyelesaikan diskusinya dia segera berlari menuju ke kantin. Dia sama sekali tidak memperhatikan bila ada orang-orang di seberang jalan. Jika Aish tidak memanggilnya, maka dia tidak akan menyadarinya.


"Aish!" Wajah Dimas langsung tersenyum cerah. Sudah lama dirinya tidak pernah melihat Aish.


Melihat Dimas melambaikan tangannya dan akan berjalan ke sini, Aish buru-buru berpamitan kepada habib Khalid dan lainnya. Bagi dirinya Dimas adalah sedotan penyelamat hidup yang sangat dibutuhkan saat ini.


"Aku punya sesuatu yang perlu dibicarakan dengan kak Dimas. Habib Thalib dan... pokoknya kalian bertiga, kami pergi dulu, assalamualaikum." Setelah mengucapkan salam dia menarik kedua tangan sahabatnya, dan langsung berjalan menghampiri Dimas sembari mengabaikan ekspresi dingin di wajah sang habib.


"Hem, pergi begitu saja?" Wanita itu terkekeh ringan melihat Aish pergi.


Habib Khalid memiringkan kepalanya ke samping sembari tersenyum lebar,"Tidak mungkin."


Bersambung...


Assalamualaikum semuanya, selamat menjalankan amalan Nisfu Syaban. Maaf menghilang selama beberapa hari dan membuat para pembaca gelisah. Memang saya kurang sehat dari kemarin dan Alhamdulillah merasa baik hari ini. Seperti yang pembaca tahu, malam ini adalah malam pengampunan jadi saya ingin memanfaatkan waktu-waktu ini sebaik mungkin sehingga tidak bisa menulis banyak. Satu bab untuk semua novel malam ini dan enggak ada yang lebih dari seribu kata, jadi nanggung. Tapi InsyaAllah besok saya puasa jadi bisa meluangkan waktu menulis banyak. Pengaturan ini memang tidak memuaskan dan memancing emosi banyak pihak, tapi sekali lagi saya tidak bisa berbuat apa-apa. Ini adalah momen sekali setahun, jadi harus dimanfaatkan sebaik mungkin.


Semuanya, maafkan saya karena selama penulisan novel ini membuat kalian tidak nyaman, tidak puas atau sebagainya. Saya adalah manusia biasa yang punya banyak kekurangan dan kesibukan di dunia nyata. InsyaAllah, bila ada senggang, saya pasti akan menulis banyak. Terima kasih atas perhatian semuanya, assalamualaikum.


PS! JANGAN LUPA PERBANYAK IBADAH DAN SALING MEMAAFKAN. DI MALAM INI, ADA DUA ORANG YANG TIDAK DITERIMA PENGAMPUNANNYA OLEH ALLAH, YAITU ORANG YANG MENYEKUTUKAN ALLAH DAN ORANG YANG MEMUTUSKAN HUBUNGAN SILATURAHMI.


JADI, HINDARI LAH DUA GOLONGAN INI AGAR ALLAH TIDAK BERPALING SAAT MELIHAT KITA. TERIMA KASIH 🤭

__ADS_1


__ADS_2