
Salah satu orang yang ingin dia hindari adalah bibi, dan salah satu orang yang dia pikir tidak akan pernah menghubunginya adalah bibi. Dia tahu betapa buruk kesannya di hati bibi selama ini dan dia juga tahu satu-satunya orang yang paling baik di depan bibi adalah Aira, keponakan tersayangnya. Dibandingkan Aira yang pintar dan berprestasi, Aish hanyalah setitik debu yang tidak pantas diperhatikan.
Hubungannya dengan bibi tidak pernah baik karena setiap kali mereka berkomunikasi, seringkali mereka berdebat dan saling menyindir. Aish juga terpaksa melakukannya. Jika bibi tidak memaksanya sampai ke titik kesal, dia pasti tidak akan melawan bibi.
"Mengapa bibi tiba-tiba menelpon ku?" Tanya Aish acuh tak acuh.
Karena orang yang menelponnya adalah bibi, Aish tidak perlu terlalu bersikap sopan lagi.
Dia berdiri menyandar di tembok sambil memegang gagang telpon asal-asalan. Sebenarnya Aish bisa saja menutup telepon karena toh bibi juga tidak akan bisa mencarinya ke sini. Tapi hati Aish agak enggan karena dia masih berharap mungkin sang Ayah sedang merindukannya dan ingin berbicara dengannya.
"Aish, apa ini sikap kamu ketika ditelpon oleh keluargamu? Sudah berapa hari kamu di sana dan kenapa tidak pernah menelpon ke rumah?" Tanya bibi jutek di seberang sana.
Aish memutar bola matanya tidak perduli. Sikapnya tidak ada yang salah, tapi bibi lah yang terlalu sensitif dan selalu menganggap Aish memiliki masalah. Padahal orang yang jelas-jelas memiliki masalah di sinilah adalah bibi.
"Aku sangat sibuk beberapa waktu ini dan tidak ada waktu menelpon ke rumah. Lagipula kalian tidak akan senang jika aku menelpon ke rumah jadi aku memutuskan untuk tidak menelepon saja." Kata Aish tidak menutupi prasangka hatinya.
Mereka sangat senang saat mengirimnya ke sini, Aish tahu bahwa kepergiannya adalah kedamaian yang mereka semua inginkan. Dan Aish juga tahu bila mereka tidak suka diganggu olehnya. Jadi karena itu, dia memutuskan untuk tidak menghubungi mereka. Toh, dia juga tidak kekurangan uang di sini karena dia punya dua rekening tabungan yang berjumlah sangat besar.
Aish sudah melihatnya. Buku tabungan yang Mama tinggalkan kepadanya sangat banyak, Aish bisa menggunakannya untuk membeli rumah dan membuka usaha sederhana, itu sangat cukup. Dan buku tabungan satunya lagi, Aish tahu jika itu adalah pemberian Ayah dan dia juga tidak menolaknya. Ini adalah uang, meskipun uang tidak bisa membuatnya bahagia tapi semua orang tidak bisa menampik bahwa tanpa uang, kita tidak bisa melakukan apa-apa.
Meskipun uang dari Ayah tidak sebanyak Mama, tapi ini lebih dari cukup untuk Aish belanjakan atau membeli sebuah mobil. Di samping itu dia juga bekerja menjadi model majalah remaja. Walaupun gajinya tidak besar, namun setelah dikumpulkan bertahun-tahun jumlahnya cukup banyak kok untuk dihamburkan oleh Aish. Ah, ada juga uang dari nenek keluarga Mamanya. Nenek dan kakek akan mengirim uang sesekali kepadanya. Setiap mengirim, jumlahnya cukup untuk Aish gunakan selama satu bulan yang sangat nyaman. Dan ini sudah sekian kalinya mereka mengirim, tapi uang itu masih belum terpakai di dalam buku tabungannya. Rencananya dulu Aish ingin menggunakan uang ini untuk membeli rumah saat sudah kuliah nanti. Namun tidak disangka rencananya harus ditinggalkan karena dia memiliki kehidupan yang sangat nyaman di pondok pesantren.
__ADS_1
Jadi, dengan begitu banyak uang Aish sama sekali tidak takut tidak berhubungan dengan keluarga Ayah. Dan Aish juga tidak takut bila dirinya ditinggalkan di luar karena dia bisa menghidupi dirinya sendiri dengan semua uang yang ada di tangannya.
Aish tidak kekurangan uang sama sekali selama di sini.
"Omong kosong apa yang kamu bicarakan? Kakek sangat merindukanmu beberapa hari ini dan membuat kami semua menjadi canggung di rumah." Keluh bibi kesal.
Hubungan kakek dan nenek bahkan lebih canggung lagi. Semenjak insiden Aish pergi ke pondok, kakek jarang berbicara dengan nenek.
"Kakek..." Aish menundukkan kepalanya sedih.
Kakek adalah laki-laki yang sangat luar biasa. Sejak kecil dia kekurangan kasih sayang seorang Ayah dan kakek lah yang melangkah mengambil alih posisi Ayah dihatinya.
Kakek selalu memperlakukannya dengan baik di rumah, jauh lebih baik daripada kepada Aira.
Jujur, Aish sangat merindukan kakek. Dia sedih tiap kali berpisah dengan kakek. Apalagi saat memikirkan betapa kecewa ekspresi kakek saat melihatnya diseret keluar dari rumah. Aish selama ini ingin menghubungi kakek namun dia takut kakek membencinya karena telah mencelakai Aira.
"Itu adalah kesalahan kalian dan nenek, sudah tugas kalian menghiburnya." Kata Aish sarkas, mempertahankan suara acuh tak acuh nya.
"Aish, jangan terlalu berlebihan! Kami adalah keluargamu. Tujuan kami mengirim kamu ke pondok juga demi kebaikan mu sendiri. Jika kamu tidak pergi ke pondok, kamu akan terus tersesat!" Bibi cukup kesal dengan cara bicara Aish tapi dia berusaha untuk mengontrol emosinya.
Ini sangat aneh, pikir Aish. Pasalnya bibi selalu ceplas-ceplos kalau berbicara dengannya. Bibi suka memberikan nasehat yang sangat kejam dengan kata-kata yang agak kasar, seolah-olah Aish adalah mahluk najis yang harus segera dibersihkan.
__ADS_1
Tapi kali ini nada suaranya sangat terkontrol. Apa ini hanya perasaan Aish saja?
"Ya ya, terima kasih telah mengirim ku ke sini. Aku sangat senang tinggal di sini." Kata Aish murah hati.
Tinggal di sini memberikannya kesempatan bertemu dengan habib Khalid dan bahkan mereka lebih sering berbicara setelah pindah ke sini. Aish sangat tulus saat mengucapkan terima kasih tadi.
"Lalu..." Suara bibi lebih rendah.
"Bagaimana keadaan mu di sana?"
Alis Aish terangkat sebelah,"Jauh lebih baik. Aku senang di sini." Jawab Aish lebih curiga lagi.
"Bagus lah jika kamu nyaman di sini." Kata bibi agak mencemooh dari seberang sana.
Padahal bibi sudah berusaha mengontrol nada suaranya, tapi sayang sekali Aish sudah mengenal bibi dengan baik. Dia mendengarnya namun mengabaikannya.
"Begini Aish,"
Nah ini dia, akhirnya datang!
Aish tahu jika bibinya pasti menginginkan sesuatu darinya. Kalau tidak, lalu kenapa orang yang paling tidak menyukainya adalah orang pertama yang mengambil inisiatif menghubunginya.
__ADS_1
"Pamanmu dan aku sedang menjalankan usaha di ibu kota. Usaha kami akan segera dibuka akhir tahun ini bila modal mencukupi. Namun sepertinya rencana kami agak sulit dijalankan karena kami kekurangan modal. Nah, lalu bibi ingat kamu memiliki tabungan mamamu. Kami pikir kami masih belum dewasa dan tidak bisa menggunakannya jadi mengapa tidak pinjamkan saja kami uang itu dulu. Nanti setelah kamu beranjak dewasa, bibi akan mengembalikan uangmu dan bahkan bibi akan menambahkan bunga saat kamu mengambilnya nanti. Bagaimana?"