
Bug
Bug
Bug
Dentuman suara jantungnya terus-menerus bergema di dalam kepalanya. Dia tidak tahu, dia benar-benar tidak tahu kalau habib Khalid akan menjadikan dia sebagai dunianya. Dia pikir dalam hubungan ini perasaan habib Khalid belum sejauh itu karena dia merasa hanya dialah yang menjadikan habib Khalid sebagai dunianya. Tetapi faktanya...
Hatinya tenggelam dalam perasaan manis. Antara tersenyum atau menangis, dia tidak tahu bagaimana mengekspresikan betapa bahagia hatinya sekarang.
Akhirnya dia memiliki rumah untuk kembali dan memiliki tempat untuk bersandar setelah sekian lama terjebak dalam kekosongan.
"Maaf, apakah aku terlalu galak?" Habib Khalid langsung terguncang melihat Aish tiba-tiba menangis.
Di hadapan Aish, Habib Khalid merasa paling lemah dan mudah panik. Dia selalu merasa bahwa apa yang dia lakukan tidak cukup baik dan terlalu kasar. Tapi di sisi lain hatinya dengan tegas mengatakan bahwa apa yang dilakukan itu benar, jika tidak, lengah sedikit saja Aish akan berpaling. Jujur, setelah kehilangan kedua orang tuanya, ini merupakan salah satu ketakutan terbesarnya di dunia. Dia sangat takut kehilangan Aish, sungguh.
__ADS_1
"Tidak... Kakak tidak galak. Kak Khalid, ketahuilah aku sangat senang mendengar apa yang kak Khalid katakan kepadaku. Aku bahagia, sungguh sangat bahagia. Ternyata aku bukanlah manusia yang tidak berguna... Karena masih ada kak Khalid yang mau menjadikan aku sebagai dunia. Ternyata masih ada orang yang menjadikanku sebagai tujuan terakhir hidupnya, menjadi rumah untuk beristirahat atas kerasnya kehidupan dunia... Aku sungguh tidak menyangka karena orang itu adalah kak Khalid, laki-laki yang selalu menjadi topik pembicaraan ku dengan Allah. Aku pikir hanya diriku yang menjadikan kak Khalid sebagai tujuan akhir hidup, sebagai duniaku. Tapi qodarullah, hati kita memiliki tujuan yang sama. Aku-"
Grab
Aish spontan memejamkan matanya merasakan tangan kuat habib Khalid membawanya ke dalam pelukan yang hangat, merengkuh dirinya yang sudah lama berkubang dalam kesakitan, ya akhirnya... Dia menemukan penawar untuk semua rasa sakit yang dia rasakan di dunia ini.
Luka yang dia pikirkan tidak akan pernah diobati ternyata memiliki penawar yang sangat luar biasa.
"... sangat bahagia bersama dengan kak Khalid." Lanjut Aish mengakhiri ucapannya yang sempat terpotong.
Rasanya sungguh.. sungguh begitu manis.
"Pegang kata-katamu Aish. Jika suatu hari kamu sampai menghianati apa yang kamu katakan hari ini, aku tidak akan melepaskan kamu tapi aku akan memberikan kamu hukuman. Kan ku kunci dirimu di dalam rumah hingga tak ada siapapun yang bisa melihatmu, dan kamu pun tidak bisa melihat orang lain. Aku memang seperti ini, aku berbahaya semenjak mengenal kamu. Jadi patuh lah, tetap di sisiku. Mengerti?" Suara berat habib Khalid berbisik di samping telinganya.
Aish mengambil nafas dalam-dalam. Dia bisa merasakan betapa serius apa yang habib Khalid ucapkan. Terdengar menakutkan, namun Aish sangat menyukai perasaan ini. Dengan begini dia tahu bahwa dirinya sangat dihargai dan dicintai oleh sang habib, Aish yakin, wanita manapun pasti cemburu melihatnya dicintai begitu dalam.
__ADS_1
"Hem...aku mengerti, kak." Balas Aish bersungguh-sungguh.
Ma, lihatlah laki-laki yang aku cintai kini sedang memelukku sangat erat. Berkali-kali dia mengatakan bahwa dia mencintaiku, dia sangat mencintai ku, sehingga dia jadikan aku sebagai dunianya. Dia tidak mengizinkan ku berpaling melihat ke arah yang lain, memperhatikan laki-laki lain, apalagi sampai tertarik kepadanya. Tidak, Ma. Dia akan sangat marah kepadaku. Ketika dia marah, dia akan mengunci ku di dalam sebuah ruangan agar aku hanya fokus kepada dirinya. Entah ungkapan apa yang harus aku katakan, Ma? Perasaan dicintai yang begitu tulus tak pernah kurasakan di rumah itu. Aku pikir dalam hidup ini kehidupan ku tetap monoton. Terjebak dalam ruang kesepian sambil menatap Aira dibanjiri kasih sayang oleh semua orang di rumah itu. Hidup tersiksa seperti itu, kukira akan ku jalani selama sisa hidupku. Tapi apa yang Allah hadiahkan kepadaku? Dia mengirimkan hidupku cinta yang sangat besar. Cinta yang tidak pernah Mama rasakan dan cinta yang tidak pernah Ayah berikan kepada Mama juga aku. Allah mengirimkan seorang laki-laki yang berasal dari nasab mulia dan tinggi ilmunya untuk datang kepadaku. Namanya kak Khalid, Ma. Mama pasti mengenalnya karena kalian pernah bertemu sebelumnya. Aku sangat bahagia, terima kasih... Melalui Mama aku dapat terhubung dengannya. Mama pasti bangga kepadaku, kan? Karena kekasihku ini didambakan oleh banyak wanita. Bahkan Aira, anak yang lahir dari sahabat Mama, anak yang telah membuat Mama jatuh depresi juga menyukai kekasihku. Untungnya kekasihku tidak perduli kepadanya karena dia hanya perduli kepadaku. Jangan khawatir Ma, apa yang Mama rasakan dulu ketika Ayah menikah dengan sahabat Mama juga akan dirasakan oleh Aira. Buah cinta dari pengkhianatan mereka. Aira akan menangis pilu jika tahu aku bersama dengan kak Khalid, pada saat itu terjadi, mungkin aku akan merasa sangat lega karena hutang akhirnya terbayar. Mama juga, kan? Batinnya berdialog dengan Mama, wanita cantik yang sudah lama berada di alam yang lain.
Mereka tidak lama bersama karena habib Khalid memiliki urusan mendesak di rumah Abah. Aish juga tidak mau menahan kekasihnya, walaupun ada rasa enggan, mereka berdua tetap berpisah di persimpangan jalan menuju asrama putri.
"Kita akan bertemu lagi nanti malam, jaga dirimu, assalamualaikum." Habib Khalid mengusap puncak kepala Aish sebelum melanjutkan langkahnya menuju rumah Abah.
"Waalaikumsalam, kak. Aku akan menunggu pertemuan kita nanti malam." Bisik Aish menjawab salam dari sang kekasih.
Wajahnya sangat merah seperti udang rebus. Sepanjang jalan menuju gedung asrama putri, beberapa orang yang berpapasan dengannya akan memandangi Aish dengan ekspresi penasaran. Mereka heran melihat wajah Aish, terlihat sangat merah seolah terkena serangan panas. Tapi wajah Aish baik-baik saja, dia tidak terlihat pucat atau kesakitan. Inilah yang membuat mereka bingung, jika Aish tidak sakit, lalu kenapa wajahnya sangat merah?
"Ugh, apakah ada sesuatu yang aneh di wajahku?" Aish menepuk pipinya yang masih hangat.
Seingatnya, dia tidak melakukan hal-hal yang aneh dengan habib Khalid. Jadi wajahnya baik-baik saja' kan?
__ADS_1