Mengejar Cinta Sang Habib

Mengejar Cinta Sang Habib
Bab 11.3


__ADS_3

Nasifa menghela nafas panjang. Ia berharap apa yang dikatakan adiknya memang benar adanya.


"Bagus, kakak senang mendengarnya. Ngomong-ngomong habib Danu ngirim undangan buat kamu. Katanya dia ingin ngobrol sama kamu tentang banyak hal. Kamu mau enggak, dek?" Tanya Nasifa mengalihkan pembicaraan.


Kebetulan pagi ini ada undangan dari habib Danu untuk adiknya. Bahasanya sih undangan tapi maksud undangan ini adalah untuk melihat Nadira apakah sudah bisa dijadikan sebagai istri atau belum.


Mendengar apa yang Nasifa bicarakan, Nadira langsung menggelengkan kepalanya dengan tegas untuk menunjukkan penolakan.


"Enggak usah, deh, kak. Lebih baik kakak aja yang pergi." Kata Nadira menolak.


Nasifa menggelengkan kepalanya tidak berdaya.


"Kakak mana bisa. Kamu udah tahu sendiri, kan, kalau kakak udah punya tunangan?"


Sebelum punya tunangan ia juga dulu sering mendapatkan banyak undangan yang membuat kepala sangat pusing. Tapi sekarang ia sudah punya dan tidak baik menerima undangan laki-laki lain.


"Iya... pokoknya aku enggak mau, kak. Aku masih belum siap buat mikir ke sana." Kata Nadira masih menolak undangan ini.


Tidak hanya undangan ini, tapi mungkin untuk undangan-undangan yang lainnya pun ia takkan pernah menerimanya.


Sebab...


Hem, ia telah memikirkan orang lain di dalam hatinya...


"Baiklah, kalau kamu masih belum siap, nanti kakak omongin ke Umi."


Tok


Tok


Tok


Pintu kamar Nadira di ketuk.


Cklak


Lalu muncul kepala dari luar.


"Udah siang, makan gih. Umi dan yang lainnya udah nunggu di meja makan."


Diingatkan soal makanan, Nasifa dan Nadira baru menyadari bila perut mereka sudah kosong minta diisi.


"Makan, yuk?" Ajak Nasifa.

__ADS_1


Nadira juga sudah lapar. Ia sudah tidak sabar ingin menyantap makanan yang dibuat langsung oleh Umi dan yang lainnya.


"Yuk, kak. Nadira udah kangen banget nih sama masakan Ini dan yang lainnya."


Mereka berdua lalu keluar menuju ruang makan. Di sana sudah banyak orang yang menyambut Nadira dengan senyuman dan pelukan.


Mereka menarik Nadira ke meja makan, memberikan Nadira berbagai macam makanan lezat yang sulit dihabiskan.


Nadira sangat senang. Mata besarnya memandang wajah-wajah berseri keluarganya sembari mencari keberadaan seseorang. Berharap-harap cemas di dalam hatinya apakah orang itu datang atau tidak untuk memeriahi kedatangannya.


Tapi sayang, ia tak menemukan keberadaan pemilik wajah tampan yang selalu ia pandangi lewat foto saja.


"Dimana habib Thalib?" Tanya Nadira iseng ke orang di samping duduknya.


Orang itu menggelengkan kepalanya tidak tahu.


"Habib Thalib sudah diundang tadi pagi, tapi dia punya urusan di kantor makanya enggak bisa ikut."


Nadira mengangguk kecil. Habib Khalid adalah orang yang cerdas dan pintar, ia pasti sangat sibuk di pondok sekarang.


Tidak apa-apa, kami bisa bertemu kapan-kapan. Batin Nadira tidak terlalu sedih.


Toh, mereka masih punya banyak kesempatan untuk bertegur sapa.


"Enggak asik kamu ah, Aish. Masa makan nasi kuning enggak ngajak-ngajak." Ucap Dira merajuk.


Pulang dari kantin tadi ia dan Gisel mengambil jatah makan siang Aish. Gara-gara Aish mereka berdua sering dinasehati oleh orang dapur. Katanya enggak baik absen terus di kantin dan jika terus diulangi, orang-orang kantin enggak bakal nyisain makanan untuk Aish.


Dira dan Gisel malu, namun mereka tetap meminta jatah Aish sebab mereka sudah berjanji. Lagipula mereka juga kasian lihat Aish enggak makan apa-apa di kamar.


"Maaf, maaf. Aku kebablasan makan semuanya karena nasi kuning ini enak." Kata Aish membuat alasan.


Inikan pemberian habib Khalid langsung khusus untuk dirinya jadi boleh dong Aish egois sekali-kali.


"Makan siangnya kalian aja yang makan, yah. Aku udah kenyang soalnya." Aish dengan murah hati mendorong nasi bungkus di depannya.


Melirik nasi bungkus di depannya, Dira dengan ogah-ogahan mengambilnya.


"Aish, siapa yang ngasih kamu nasi kuning?" Gisel sudah kenyang dan tidak ikut bergabung dengan Dira.


Nasib Aish di pondok pesantren jauh lebih baik dari mereka berdua. Entah siapa dermawan itu karena beberapa kali Aish akan dikirimi makanan.


Wajah Aish tiba-tiba menghangat. Ia melihat kotak bekal di bawah tempat tidurnya dengan kerinduan samar.

__ADS_1


"Ini dari kak Khalid..." Jawab Aish malu-malu.


Dira dan Gisel sontak saling lihat. Sebelumnya Aish selalu mengelak ketika ditanya, tapi sekarang Aish sepertinya sudah mulai terbuka.


Menelan makanan di dalam mulutnya,"Serius, Aish?" Tanya Dira dengan mata penuh gosip.


Aish mengangguk malu.


"Kak Khalid yang ngasih dari jendela." Kata Aish menegaskan.


Gisel dan Dira langsung melirik jendela di belakang Aish. Jendela itu selalu terbuka siang dan malam agar udara bisa masuk ke kamar. Maklum, satu kamar diisi oleh 40 lebih santriwati sehingga kamar terasa agak sesak. Terutama untuk mereka bertiga yang terbiasa memiliki kamar sendiri.


"Wah, kamu enak banget yah, Aish. Aku makin yakin deh kalau habib Thalib pasti ada apa-apa sama kamu." Kata Dira berdecak iri.


Sahabatnya ini beruntung banget diperhatikan oleh laki-laki sebaik habib Thalib.


Aish tersenyum malu.


"Jangan ngomong yang aneh-aneh, nanti kalau di dengar sama anak lain bisa jadi bencana!" Kata Aish memeringatkan.


Hal-hal yang berkaitan dengan habib Khalid selalu menjadi trending topik di pondok pesantren ini. Aish sampai heran saat baru mengetahuinya. Ia sama sekali tidak pernah menyangka jika habib Khalid menjadi idola yang sangat terkenal di pondok pesantren.


Dira memutar bola matanya tidak perduli,"Emang kenyataannya gitu, kok. Diantara semua orang, satu-satunya yang sering dia perhatikan ya cuma kamu, Aisha Rumaisha."


Gisel menepuk pundak Aish.


"Apa yang Dira bilang benar, Aish. Percaya diri aja kalau habib Thalib pasti ada apa-apa sama kamu."


Mendengar perkataan sahabatnya, Aish mau tak mau kembali berharap lagi. Jika kedua sahabatnya bisa melihat dan menilai sikap habib Khalid kepadanya yang sangat baik, maka mengapa Aish masih ragu-ragu?


Entahlah, Aish masih belum berani terlalu memikirkannya.


"Okay, jangan ngomong yang aneh-aneh. Segera habiskan makanannya biar kita bisa pergi ke perpustakaan nyusul Siti sama yang lainnya." Aish tidak mau melanjutkan pembicaraan ini lagi.


Dira mengangkat bahunya acuh seraya mempercepat suapan makanannya. Sedangkan Gisel langsung membuka lemari pakaiannya dan mengambil buku-buku yang pernah ia pinjam di perpustakaan.


Ia meminjam dua buku dari perpustakaan dan tidak pernah membacanya. Gisel hanya menaruhnya di dalam lemari agar tidak rusak sambil menunggu waktu pinjamnya jatuh tempo dan segera mengembalikannya.


Bukannya Gisel enggak suka baca buku, enggak kok, ia masih suka baca meskipun bukan orang yang termasuk dalam golongan siswa berprestasi. Selama ada dan menarik, ia pasti tertarik baca buku dengan catatan bahasanya mudah dimengerti!


Bukan rahasia lagi kalau buku-buku di pondok pesantren dominan menggunakan bahasa Arab dan cukup sulit dipahami.


Yah, anak pondok saja cukup kesulitan apalagi dirinya yang tidak pernah menyentuh semua pelajaran itu?

__ADS_1


__ADS_2