
Aira turun bersama Bunda ke lantai bawah. Sambil memegang tangan Aira, Bunda menariknya ke tempat makan. Dan begitu mereka berdua masuk ke tempat makan, fokus semua orang langsung tertuju kepada mereka berdua. Tepatnya mereka menatap tak suka dan tak puas kepada Aira, gadis berwajah sayu yang telah kehilangan pamornya di dalam keluarga ini.
"Lambat sekali, semua orang sudah kelaparan tapi dia masih terjebak dalam lamunan panjangnya." Suara bibi mencemooh kedatangan Aira.
Ketika tahu latar belakang Aish yang sangat luar biasa, Bibi sangat menyesal, sungguh amat menyesali keputusannya lebih mementingkan Aira daripada Aish. Padahal Aira tidak memiliki apa-apa. Dia tidak sekaya Aish dan tidak memiliki latar belakang keluarga yang luar biasa seperti Aish. Jika saja dia tahu kalau Aish adalah anak yang luar biasa, maka dia akan melakukan berbagai macam cara untuk menjilat Aish dan menyenangkan hatinya. Bila itu terjadi, maka apapun yang dia inginkan pasti akan tercapai dengan mudah. Aish akan memberikannya uang, membantunya membangun bisnis atau yang paling bagus adalah Habib Khalid mengajaknya bergabung ke dalam perusahaan KR. Memangnya siapa yang tidak tahu kalau perusahaan KR adalah milik Habib Khalid. Perusahaan perhiasan yang mulai menyebarkan cabang di dalam negeri ini pasti memiliki banyak keuntungan besar. Bayangkan saja jika mereka bisa bergabung ke sana, semua orang pasti tidak akan takut kehabisan uang karena mereka memiliki sumber yang tak ada habisnya.
"Adik, apa yang kamu katakan. Aira juga tidak nyaman. Jika aku tidak memaksanya turun untuk makan, dia tidak mau makan. Tolong mengerti lah keadaan Aira." Kata Bunda tak senang.
Dulu saja putrinya disanjung-sanjung, tapi sekarang putrinya diperlakukan seperti batu di rumah ini. Ada tapi tak dianggap ada. Sangat menjengkelkan.
"Mengerti? Kita sudah berusaha mengerti Aira. Tapi apa yang dia berikan kepada kita? Keluarga ini dipermalukan di hadapan banyak orang. Dan yang lebih memalukan lagi adalah dia tidak bisa melanjutkan sekolahnya! Sungguh buang-buang sumber daya, bila aku tahu dia akan tumbuh menjadi orang yang sia-sia, lebih baik aku menyayangi Aish saja." Kata bibi acuh tak acuh menusuk tepat di titik sakit di dalam hati Aira dan Bunda.
Bunda sangat marah putrinya diremehkan. Kedua tangannya mengepal menahan amarah di dalam hati.
"Oh, kenapa baru sekarang mengatakannya, bi?" Aira memalingkan wajahnya menatap bibi dengan mata merendahkan.
Sejak awal dia memang tidak suka dengan bibi ini. Mereka di sini hanya numpang tinggal tapi bersikap belagu, sudah begitu dia tidak mau lagi bekerja membantu Bunda dan nenek membersihkan rumah. Sekarang mentang-mentang Aish sudah menunjukkan kekayaan dan latar belakang keluarganya, Bibi jadi sok marah kepadanya. Padahal Aira tidak pernah meminta bibi untuk bersikap baik kepadanya karena dia sama sekali tidak tertarik dengan perhatian orang yang tidak tahu malu. Tapi bibi ini tidak mengerti. Rencananya pupus oleh dirinya sendiri, malah menumpahkan kesalahan kepada Aira. Sungguh tidak masuk akal.
"Dulu aja bibi sok-sok'an menyanjung ku kemanapun aku pergi dan apapun yang aku lakukan. Sedangkan saat bertemu dengan Aish, Bibi selalu memasang wajah sembelit seolah-olah Aish memiliki hutang segunung kepada bibi. Sekarang setelah Bibi tahu kalau Aish berasal dari latar belakang keluarga yang tidak bisa kita singgung dan suaminya juga memiliki perusahaan besar, Bibi malah menumpahkan semua kesalahan kepadaku. Bodohnya, sekalipun Bibi menumpahkan semua kesalahan kepadaku, Kak Aish tidak akan pernah berbalik ke rumah ini dan bersikap baik kepada bibi. Ingat, air susu dibalas dengan air susu, dan air tuba dibalas dengan air tuba. Jadi berhentilah berharap bibi. Aish tidak akan sebodoh itu. Dia tidak hanya mengingat semua kata-kata kasar dan perlakuan buruk bibi kepadanya, tapi dia juga tidak akan melupakan apa yang dilakukan kepada mamanya dulu." Kata-kata Aira bagaikan tamparan untuk semua orang yang memiliki penyesalan dalam.
Bohong jika mereka tidak menginginkan sesuatu dari Aish, apalagi sekarang Aish sudah memiliki berbagai macam hal yang mengundang keserakahan di hati. Tapi apa yang dikatakan Aira adalah fakta yang tidak bisa ditampik. Apapun yang mereka lakukan dan sebaik apapun mereka mengubah sikap sekarang, Aish tidak akan pernah peduli kepada mereka.
"Huh, apa yang diketahui oleh kamu, seorang anak kecil yang belum melihat dunia. Apapun yang kamu katakan itu tidak bisa mengubah fakta bahwa Aish adalah keluarga kami. Jadi bagaimana mungkin dia melupakan kami sebagai keluarga? Toh, tendon tidak bisa dipatahkan dan darah lebih kental daripada hubungan apapun di dunia ini." Dengan marah bibi membalas Aira.
Aira tersenyum kecil.
"Ya, teruslah bermimpi bibi. Kamu memang pantas mendapatkannya."
Mendengar kata-kata kurang ajar Aira, emosi yang sudah ditahan akhirnya meledak. Bibi berteriak kepada Aira, membentaknya dengan kata-kata kasar dan tidak bersahabat untuk melampiaskan amarahnya.
"Apa yang baru saja kamu katakan dasar anak pelakor! Kamu dan bundamu sama saja, kalian dilahirkan dengan hati yang picik dan licik. Jika aku tahu kakakku membawa seekor ular masuk ke dalam rumah ini dan bukan manusia, maka aku tidak akan pernah mengizinkan dia masuk apalagi sampai membuat sarang dan mempermalukan keluarga! Dengan identitas seperti ini, lagi pula siapa yang mau-"
"Cukup! Uhuk...uhuk...!" Kakek menghentikan keributan di atas meja makan.
Suaranya sangat lemah tapi tidak ada yang berani mengabaikan teriakannya. Alhasil, semua orang dengan patuh menutup mulut. Bahkan bibi dengan getir menahan emosi di dalam hatinya. Dia tidak berani berbicara lagi di depan Kakek. Apalagi kondisi kakek sekarang tidak terlalu baik.
__ADS_1
"Tolong minum air, Ayah." Ayah memberikan segelas air putih kepada kakek untuk diminum.
Kakek mengangkat tangannya menolak. Dia tidak mau minum dan terus terbatuk hingga batuknya mereda.
"Apakah kalian tidak bisa berhenti berdebat?" Tanya kakek tak habis pikir.
Semua orang diam tak menjawab.
"Sekarang baru kalian menyesalinya, kan? Berkali-kali aku menekankan kepada kalian agar jangan mengganggu Aish lagi karena orang di belakangnya tidak mudah untuk disinggung. Tapi apa kalian mendengarkan ku? Tidak, kalian tidak mendengar apa yang aku katakan dan terus-menerus memojokkan Aish. Sekarang setelah semuanya terungkap, kalian saling melempar kesalahan, percuma saja. Aish enggan menatap ke arah kalian, apalagi orang-orang di belakangnya. Mereka sangat membenci keluarga ini! Membenci keluarga yang telah membunuh Mama Aish! Apa kalian tidak malu?" Kata kakek tak habis pikir.
Setelah kejadian di pondok pesantren, keluarga ini terus-menerus berdebat. Mempermasalahkan hal ini, mempermasalahkan hal itu, lalu saling melemparkan kesalahan dan menumpahkan semuanya kepada Aira. Keadaan semakin memburuk saat mereka semua diundang ke acara pernikahan Aish dan Habib Khalid. Melihat kekayaan yang dimiliki oleh keluarga Aish dan Habib Khalid, orang-orang di dalam keluarga ingin menjadi semakin serakah. Kakek sungguh sangat kecewa.
Dia bertanya-tanya di dalam dirinya, apa yang telah membuat anak-anaknya menjadi seperti ini?
Mereka begitu mudah memutuskan hubungan kekeluargaan, tapi setelah melihat hal yang bermanfaat ataupun harta, mereka dengan mudahnya ini menyambung kembali hubungan kekeluargaan. Tak pernahkah terbesit di benak mereka kalau luka yang telah mereka torehkan, tidak semudah itu dilupakan. Bisa jadi sembuh, tapi bekasnya tidak akan mudah dihilangkan. Aish akan mengingat, akan selalu mengingat perbuatan yang telah mereka lakukan kepadanya.
"Jadi ini semua salah kami? Kenapa Ayah tidak pernah mengatakan kalau mama Aish berasal dari keluarga yang mulia?" Kini ketidakpuasan di dalam hati bibi diarahkan kepada kakek.
Kakek mendengus dingin,"Kalau kamu tahu memangnya kenapa? Sudah terlambat, anakku. Semuanya sudah terjadi. Dan aku mohon kepada kalian semua, berhentilah memikirkan harta dan kekayaan mereka. Karena itu semua milik mereka bukan kalian. Sekalipun kalian memiliki hubungan darah dengan Aish, tapi itu tidak bisa membenarkan keserakahan di dalam hati kalian. Dan kamu juga," Kakek mengalihkan perhatiannya kepada Ayah yang diam membisu tak pernah membuat komentar apapun.
"Berhentilah memikirkan semua yang sudah berlalu karena Aish mengatakan kalau dia akan selalu menganggap kamu sebagai Ayahnya terlepas dari kesalahan masa lalu. Daripada merenungi semua kesalahan yang terjadi, kenapa tidak berbenah diri dan mulai mengurus keluarga? Uhuk...uhuk.." Kakek kembali batuk sambil memegang dadanya.
Rasanya sakit sekali. Sakit hingga membuat matanya terpejam. Saking sakitnya dia tidak bisa mengeluarkan suara dan hanya bisa menahan dengan mata tertutup.
"Ayah, tolong berhenti bicara. Kesehatan Ayah sedang tidak baik." Ayah segera memegang lengan kakek khawatir.
Melihat situasi kakek sekarang, semua orang tidak ada yang berani berbicara. Mereka mengkhawatirkan kondisi kakek.
"Mas, lebih baik bawa saja Ayah ke dalam kamarnya. Kasihan, Ayah pasti lelah menahan sakit sekarang." Bujuk Bunda tulus.
Dia juga sangat mengkhawatirkan kondisi kakek.
"Ayo, ayo. Bantu Ayah kalian masuk ke dalam kamar. Dia membutuhkan istirahat." Nenek juga sangat cemas dengan situasi suaminya.
Kakek terlihat sangat lemah dan tak bertenaga. Saat dirinya dibawa ke dalam kamar, dia tidak mengatakan apa-apa dan patuh merebahkan diri di atas kasur. Ayah dan anggota keluarga yang lain membantu memijat bagian-bagian tubuh kakek seperti tangan serta kaki. Mereka memijat kakek sampai akhirnya memasuki dunia mimpi.
__ADS_1
Setelah kakek berhasil tidur, nenek tidak mau keluar dan tidak memiliki nafsu makan. Dia ingin tinggal di dalam kamar menemani suaminya. Agar tidak mengganggu tidur Kakek, nenek meminta semua orang untuk keluar dari kamar dan berhenti berdebat.
Semua orang dengan patuh keluar dari kamar dan kembali ke tempat makan. Tapi mereka sudah kehilangan selera makan dan hanya duduk menatap makanan di atas meja.
Diam membisu, situasi ini sering terjadi akhir-akhir ini di rumah.
"Ayah, bagaimana dengan sekolahku?" Aira bertanya kepada Ayah.
Dia ingin sekolah. Dia ingin segera menghancurkan sekolah ke perguruan tinggi. Tapi karena masalah pengusiran di pondok pesantren, dia tidak bisa mengikuti ujian dan jatuh sakit. Untuk menyelamatkan masa depannya, Ayah pergi ke sekolah manapun meminta mereka untuk menerima Aira. Sayang seribu sayang, sebanyak apapun Ayah menunjukkan prestasi Aira, dia tidak bisa masuk. Selain karena citranya yang buruk pada saat itu, waktu juga sudah tidak memungkinkan. Bayangkan saja, ujian Nasional tinggal sebulan lagi dan sekolah harus menerima murid baru?
Itu tidak pernah terjadi sebelumnya. Mereka tidak bisa menerima Aira meskipun mereka mau karena data-data siswa sekolah tahun terakhir yang akan mengikuti ujian nasional sudah rampung di pusat.
"Sejauh ini sekolah hanya bisa mengusulkan agar kamu mengulang di kelas 12 karena kamu tidak bisa melakukan ujian susulan." Kata Ayah lemah tak bersemangat.
Ayah tidak seperhatian dulu. Aira sangat menyadarinya.
"Bagaimana mungkin, prestasiku ada di mana-mana dan harusnya sekarang aku sudah mendaftar masuk ke perguruan tinggi!" Aira tidak bisa menerimanya.
Ayah menatap putrinya tak senang.
"Salahkan citra mu yang buruk, tak ada satupun sekolah yang ku datangi mau menerima kamu dan memberikan tempat ujian untuk kamu. Jika kamu menjaga sikap dan tidak membuat masalah di pondok pesantren maka semuanya tidak akan terjadi. Setelah begini, jangan asal berteriak dan menyalahkan orang, karena semuanya datang dari diri kamu sendiri." Kata Ayah memperingatkan Aira.
Ayah bukan lagi Ayah yang dulu, dia tidak akan memanjakan Aira seperti dulu lagi. Karena terlalu memanjakannya, Ayah sampai kebablasan dan tidak mengenal karakter putrinya sendiri.
"Ayah kok ngomong gitu.." Aira jadi sedih.
Bunda sangat kasihan kepadanya.
"Mas, putri kita sedang sedih. Mas bisa kan bicara lembut dengan dia? Kalau mas ngomongnya seperti ini, Aira akan semakin sedih, mas." Keluh Bunda kepada suaminya.
"Apakah aku berbicara kasar kepadanya, hah? Aku hanya menjelaskan kalau semua yang dia inginkan tidak mungkin karena itu semua berasal dari kesalahannya sendiri. Hanya karena aku mau ngomong begini dia jadi sedih, lalu bagaimana dengan wajah keluarga kita yang dipermalukan olehnya? Apa kamu kira aku tidak sedih? Apa kamu kira aku tidak malu? Apa kamu kira bahwa semua yang telah dilakukan oleh Aira di keluarga kita hingga membuat kita malu tak memiliki imbas apa-apa? Apa perlu aku jelaskan kepada kamu semua kerugian yang kita rasakan hanya gara-gara kesalahan dia?" Ayah berbicara tak puas kepada istrinya, dia sangat kesal sekarang.
Ketika para investor tahu hubungannya dengan Aish, istri Habib Khalid sangat buruk. Mereka diam-diam memutuskan kontrak kerjasama dan enggan menanggapi permohonan perusahaan dari Ayah. Tidak hanya itu saja, kerabat dekat maupun jauh diam-diam mengucilkan keluarga Ayah karena tidak becus merawat anak pertama yang jelas-jelas lebih berharga.
Ayah sudah merasakan semuanya dalam waktu 2 bulan ini. Malu, marah, kesal, sedih dan penyesalan. Ayah sudah merasakan semuanya. Dan berkali-kali dia berpikir bagaimana kalau waktu bisa diputar ulang, dia tidak akan pernah terbuai dengan cinta pertamanya dan fokus membahagiakan istri pertamanya, melimpahkan kasih sayang kepada Aish yang tak sempat dia limpahkan selama ini.
__ADS_1
Tapi semuanya hanyalah sebuah penyesalan. Dia tidak bisa lagi kembali ke masa-masa itu. Waktu yang dia abaikan.