Mengejar Cinta Sang Habib

Mengejar Cinta Sang Habib
Season II: Senandung Rindu (11)


__ADS_3

"Aku mengenali Sina tapi aku tidak tahu dia adalah keponakan kak Danis. Kalau kak Laras tidak mengatakannya tadi, aku mungkin tidak tahu." Gisel menjelaskan dengan jujur.


Dia tidak menyangka kalau Sina memiliki hubungan kerabat dengan Danis. Pantas saja papa Sina terlihat agak akrab. Ternyata papa Sina adalah sepupunya Danis.


Sina mengangkat kepalanya menatap Gisel dengan mataku kekaguman. Bola matanya berbinar terang terlihat sangat menyukai Gisel. Menurutnya Gisel adalah wanita yang baik. Dia masih mengingat kebaikan Gisel ketika dibelikan kue saat di rumah sakit dulu.


"Apakah kakak cantik juga mengenal pamanku? Nama pamanku adalah paman Danis. Dia adalah laki-laki yang sangat tampan. Aku ingin menikah dengannya, tapi papa bilang tidak boleh. Kakak cantik, kenapa aku tidak boleh menikah dengan paman Danis?" Pertanyaan polos Sina menarik perhatian semua orang.


Gisel dan yang lainnya tercengang dengan pertanyaan polos Sina. Lihat saja ekspresi cemberut di wajah imutnya, mereka semua tergoda ingin menyentuh pipi gembul Sina.


Tapi apa pertanyaannya tadi. Ingin menikah dengan Danis?


Hei, anak kecil pun tahu bagaimana menilai seseorang yang tampan dan baik?


"Um... Tentu saja Sina tidak boleh. Sina kan masih kecil, sedangkan paman Danis sudah besar. Orang besar tidak boleh menikahi anak kecil. Nanti kalau paman Danis dan Sina menikah, polisi akan marah dan datang mencari paman Danis. Memangnya Sina mau melihat paman Danis masuk ke dalam penjara? Setelah paman Danis masuk penjara, Sina tidak boleh bertemu lagi dengannya. Apakah Sina mau tidak bertemu dengan paman Danis lagi?" Setelah berpikir sebentar, Gisel menjawab pertanyaan polos Sina dengan hati-hati dan berusaha menjawab dengan mengikuti pola pikir anak-anak.


Anak-anak biasanya tidak menyukai kata polisi karena berhubungan dengan penjara. Dan anak-anak juga tidak menyukai kata perpisahan, apalagi jika ditakut-takuti berpisah dengan orang yang mereka sukai, anak-anak pasti tidak mau mendengarnya.


Benar saja dugaan Gisel. Sina langsung menggelengkan kepalanya panik.


"Kakak cantik, Sina tidak mau belpisah dali paman. Sina tidak mau melihat paman masuk penjala, Sina takut. Kalau begitu Sina tidak akan bilang mau menikah lagi dengan paman Danis." Kata Sina sedih.


Dia tidak mau berpisah dari paman tersayangnya yang tampan. Dia rela tak menikah dengan Danis asalkan mereka tidak bertemu.


Bujukan Gisel berhasil. Kata-kata polos Sina sontak membuat semua orang tertawa terbahak-bahak. Anak kecil sangat mudah dibujuk.


Tapi kata-kata Sina selanjutnya langsung membuat mereka semua tersedak.


"Kalau Sina tidak boleh menikah dengan paman Danis, apakah Sina boleh menikah dengan kakak cantik? Polisi tidak akan menangkap kakak cantik dan memasukkan kakak cantik ke dalam penjara?"


Sudut mulut Gisel berkedut tertahan. Dia tidak tahu bagaimana orang tua Sina mendidiknya, karena pertanyaan Sina agak lain daripada yang lain. Dan sejujurnya terdengar menakutkan untuk Gisel pribadi.


"Gisel tuh, tanggungjawab." Laras tertawa keras melihat betapa nelangsa ekspresi teman sekamarnya.


"Diam, kak." Tegur Gisel sakit gigi.


"Kakak cantik?" Sina memanggil lagi.


Gisel mengambil nafas panjang untuk memupuk kesabaran di dalam dirinya. Setelah lebih santai, dia kembali menghadapi Sina dengan wajah tersenyum yang manis. Um, Sina sangat suka melihatnya!


"Sina, kita tidak boleh menikah, okay?"


Sina tidak mengerti,"Kenapa?"


Tersenyum kaku, karena aku adalah calon bibimu! Batinnya meraung.


"Karena kita sesama perempuan. Allah marah lho kalau kita menikah. Kakak takut dimarah sama Allah jadi kakak enggak mau. Daripada memikirkan pernikahan, lebih baik kita membicarakan tentang hewan. Sina tahu enggak hewan apa yang suka berkeliaran di malam hari?" Gisel mengalihkan topik pembicaraan.


Berhubung anak kecil menyukai hewan, jadi gunakan saja topik ini sebagai penyelamat.


Semua orang diam menyimak. Suara renyah Sina sangat enak di dengar.


Apalagi ketika melihat tampang lucu Sina yang sok berpikir serius.


"Kucing?"


Gisel menggelengkan kepalanya.


"Jawabannya biawak."


Jawaban Gisel langsung membuat mereka muntah darah dan protes tidak setuju.


"Wah enggak benar, nih. Kamu menyesatkan anak kecil." Protes Laras dan beberapa orang lainnya.


Gisel cengengesan karena malu.


Lalu teman-teman yang lain mencoba bermain tebak-tebakan dengan Sina. Perlahan semua orang akrab satu sama lain.

__ADS_1


"Itu siapa yang ada di pelukan Gisel?" Tanya seorang wanita dengan nada culas.


"Ke pondok kok bawa anak kecil, kenapa enggak sekalian keluarga besarnya di boyong ke sini?" Ucapnya sinis sambil memandang Gisel dengan sebelah mata.


Entahlah, dia sangat malu karena tuduhannya tidak benar dan dia merasa tidak adil karena Gisel diantar ke pasar oleh Danis langsung.


Menurutnya juru masak terlalu mengistimewakan Gisel yang sangat tidak memuaskan. Bila saja dia yang diminta pergi tadi. Maka mungkin dia bisa bertemu dengan Danis dan memulai obrolan kecil.


Namun sayang sekali dia tidak seberuntung itu.


"Jangan berbicara omong kosong, Ayu. Anak itu adalah keponakannya Danis. Dia ke sini karena kebetulan mengenali Gisel." Kata lawan bicaranya menerangkan.


Ayu terkejut,"Keponakannya Danis? Kok bisa kenal sama Gisel?" Tanyanya cemburu.


Mengapa dia selalu merasa kalau Gisel beruntung kemanapun dia pergi?


Dia memiliki hubungan yang baik dengan Danis, jika tidak, lalu kenapa keponakannya menempel kepada Gisel?


"Aku juga kurang jelas. Tapi Gisel sudah dua kali bertemu dengan anak dan mereka memiliki hubungan yang baik. Gisel beruntung banget ya. Cuma dia yang bisa bicara sama Danis, dan sekarang keponakan Danis sama dia." Kata wanita itu tidak begitu jelas tentang itu.


Dia cuma mendengar sedikit saja. Soalnya dia datang terlambat. Tahu-tahu semua orang sudah membicarakan topik lain.


Ayu tidak setuju.


"Siapa tahu cara apa yang telah dia lakukan." Lalu dengan arogan dia berjalan mendekati mereka.


Bergabung dengan Gisel dan yang lainnya. Saat dia melihat Sina, wajahnya melembut dan dia tersenyum sangat lebar sambil merentangkan tangannya.


"Dek, sama kakak aja, yuk? Kakak mau ajak kamu belanja beli permen?" Kata Ayu percaya diri.


Anak-anak sangat suka dengan makanan manis-manis terutama permen. Benar saja, ketika mendengar kata permen, bola mata Sina langsung berbinar-binar- tapi dia menatap ke arah Gisel.


"Kakak cantik, ayo kita membeli pelmen. Sina mau makan pelmen." Kata Sina kepada Gisel.


Sikap Sina jelas. Dia tidak mau berbicara dengan Ayu. Bukannya dia tidak suka permen, tapi dia tidak mengenal Ayu. Ayu adalah wanita yang tak dikenal, tiba-tiba datang ingin mengajaknya membeli permen, kata papanya dia patut dicurigai.


Ekspresi di wajah Ayu langsung berubah. Dia menatap Gisel tak puas.


"Jangan makan permen, ya. Nanti kalau gigi Sina berlubang, gimana? Papa pasti marah sama Sina. Emang Sina mau dimarahin?" Gisel menolak dengan bijak.


Dia tidak berani membelikan Sina makanan. Mungkin saja orang tuanya adalah tipe orang yang protektif, orang tua yang selalu menjaga asupan makanan anaknya dan tidak mengizinkan anaknya mengkonsumsi makanan di luar sana. Tidak ada yang tahu. Emang nyatanya rata-rata orang kaya selalu seperti itu. Jangankan masalah jajan, masak nasi saja mereka ribet. Mereka harus pakai beras negara inilah negara itulah, katanya rendah gula dan lebih sehat.


"Sina nggak mau gigi Sina berlubang. Sina juga nggak mau dimalah sama papa." Kata Sina cemas sambil menutup mulutnya.


Gisel puas. Lebih baik seperti ini.


"Sina, nggak apa-apa. Gigi Sina tidak akan mudah berlubang meskipun Sina makan banyak permen. Dia berkata seperti itu karena dia tidak mau memberikan Sina permen. Udah, lebih baik sama kakak aja. Kakak akan belikan kamu permen atau jajan sebanyak yang kamu mau. Kakak punya banyak uang." Kata Ayu membantah ucapan Gisel secara terang-terangan.


Semua orang dan Gisel menyadari kalau Ayu sangat ngotot ingin mengambil Sina.


"Kamu ngomong apa sih, Ayu? Bagus dong dia nggak bisa makan permen. Anak kecil nggak boleh makan permen." Kata Laras tidak setuju.


Teman sekamarnya secara terang-terangan di musuhi tanpa alasan yang jelas, bagaimana mungkin Laras diam saja.


"Siapa bilang anak kecil nggak boleh makan permen?" Ayu menantang.


Memang secara eksplisit tidak dikatakan secara jelas. Tapi setiap dokter menganjurkan agar anak kecil jangan memakan makanan yang manis-manis, katanya berbahaya untuk kesehatan anak.


"Ayo Sina, ikut sama kakak. Kita berdua akan pergi berbelanja sekarang." Masih membujuk Sina agar ikut bersamanya.


Bukannya mau pergi, tapi Sina malah ketakutan melihatnya dan berbalik memeluk leher Gisel. Reaksinya langsung membuat Ayu malu. Apakah dia terlalu menakutkan?


"Sina... Sina, ngapain kamu di sini?"


Saat Gisel akan membujuknya, tiba-tiba Danis datang. Dia berlari kecil dengan wajah berkeringat. Gisel menduga Danis banyak berlari untuk mencari Sina.


"Kak Danis." Panggil Sina sopan.

__ADS_1


Ketika melihat Sina berada di dalam pelukan Gisel, dia langsung menjadi tenang dan berhenti mendekat pada jarak tertentu.


"Kamu dan Sina saling mengenal?" Danis bertanya.


"Kami baru bertemu dua kali, kak. Dan itu sudah beberapa bulan yang lalu. Aku terkejut dia masih mengenalku." Kata Gisel sambil tersenyum.


Semua orang melihat Danis berkomunikasi dengan lancar ketika berbicara sama Gisel. Tiba-tiba dia seperti orang yang mudah didekati.


Danis tersenyum kecil, samar,"Kakak cantik?" Tanyanya mengkonfirmasi.


Pasalnya ketika bertemu dengan Danis, gadis kecil itu pernah menceritakan tentang seorang kakak cantik yang memberikannya kue di rumah sakit.


Gisel tersenyum malu.


"Benar, kak." Katanya mengakui.


"Aku nggak nyangka." Bisik Danis tak mampu di dengar oleh Gisel.


"Paman Danis!" Saat melihat paman tercintanya, Sina langsung melepaskan leher Gisel dan berlari menuju Danis.


"Kamu baru berlari ke arahku setelah puas memeluk kakak cantik?" Danis mengangkat Sina ke dalam pelukannya.


Lalu dia mencubit puncak hidung keponakannya geli.


"Aku...kangen kakak cantik." Sina tertawa renyah.


Danis tak berdaya.


"Jika kamu rindu jangan main kabur saja. Kalau kamu kabur begini paman dan papa jadi bingung mencari kamu dimana-mana. Lebih baik kamu meminta bantuan kepada paman lain kali biar semua orang gak kelabakan mencari kamu." Kata Danis gemas.


"Hahahah...geli paman Danis." Sina menyembunyikan hidungnya dari sasaran tangan Danis.


"Makanya kalau mau kemana-mana bilang dulu."


Sina masih kecil. Diganggu oleh Danis, dia terus tertawa sampai-sampai memeluk leher Danis untuk bersembunyi. Sikapnya yang manja tampak menggemaskan untuk semua orang yang menonton.


"Dia sangat manis. Aku tadinya ingin mengajak Sina berbelanja membeli permen atau makanan, tapi seseorang melarang ku, jadi kami tidak bisa pergi." Ayu mencari kesempatan untuk berbicara, menarik perhatian Danis.


Namun sayang sekali reaksi Danis di luar dugaan Ayu. Bukannya senang mendengar kata-kata Ayu, dia malah mengerutkan keningnya tidak puas.


"Terima kasih untuk orang yang menghentikan kamu. Keponakanku tidak bisa makan makanan di luar apalagi sampai makan permen, kesehatannya akan terganggu. Lain kali berpikirlah dengan bijak bila kamu bertemu dengan anak kecil. Meskipun mereka menyukai makanan manis-manis, namun bukan berarti mereka bisa makan makanan yang manis." Kata Danis datar dengan nada membosankan.


Ayu tercengang. Wajahnya langsung menjadi panas karena malu. Dia tidak tahu harus menaruh mukanya di mana. Ingin sekali dia menggali tanah dan membuat lubang untuk bersembunyi, tapi itu adalah angan-angannya.


Dia sangat berharap waktu bisa diputar kembali agar tidak membuka mulut sembarangan dan mempermalukan diri sendiri.


"Aku... Aku tidak berpikir sampai sejauh itu. Niat ku hanya memberikannya beberapa permen dan makanan ringan. Aku juga tahu kalau makanan yang manis-manis berbahaya untuk anak kecil, tapi... Kalau makan sedikit seharusnya tidak apa-apa." Kata Ayu berkilah.


Sontak saja apa yang dia katakan langsung membuat Laras dan yang lainnya diam-diam memutar bola mata mereka. Beberapa menit yang lalu mereka masih ingat kalau Ayu sempat menantang bahwa apakah ada yang mengatakan kalau permen berbahaya untuk anak kecil?


Sekarang di depan Danis dia memutar kata-katanya sendiri dan mengakui kalau permen atau makanan yang manis-manis memiliki efek yang buruk untuk anak kecil.


Secara kompak mereka menyebut Ayu sebagai orang bermuka dua.


"Sedikit ataupun banyak benar-benar tidak boleh. Bagus kalau orang itu segera menghentikan kamu." Kata Danis acuh tak acuh.


Dia lalu menyapu pandangannya menatap Gisel. Kebetulan Gisel sudah dari tadi mengintip Danis. Dia ingin melihat bagaimana ekspresi muka Danis ketika berbicara dengan Ayu. Ternyata masih datar. Dia langsung menghela nafas lega.


"Terima kasih telah menjaga keponakanku. Maaf aku tidak bisa membiarkannya berlama-lama di sini karena orang tuanya sudah datang mencari." Katanya kepada semua orang, namun entah kenapa Gisel merasa kalau Danis sedang berbicara kepadanya.


"Tidak apa-apa. Kami juga senang bermain dengan Sina. Dia adalah gadis yang lucu." Laras menimpali dengan nada ramah dan sopan.


Setelah pergi berbelanja ke pasar bersama Danis. Kesannya kepada Danis membaik. Dia kira Danis itu orang yang cuek keluar dalam. Tapi ternyata Danis hanya cuek di luar tapi lembut di dalam. Sudah begitu dia orangnya perhatian. Laras diam-diam mengirimkan nilai poin penuh kepadanya.


"Kami pergi, assalamualaikum." Salam Danis sembari membawa Sina pergi.


Awalnya silat tidak mau pergi. Dia bahkan memberontak di dalam pelukan pamannya. Tapi entah apa yang dikatakan oleh Danis kepadanya, Sina yang tadinya cerewet dan ingin turun segera menjadi patuh di dalam pelukan Danis.

__ADS_1


Beberapa saat Sina berbalik, melambaikan tangannya kepada mereka lalu berteriak dengan suara renyahnya.


"Sampai jumpa bibi cantik!"


__ADS_2