Mengejar Cinta Sang Habib

Mengejar Cinta Sang Habib
Bab 4.4


__ADS_3

Aish memandangi air jernih di depannya. Tepatnya, memandangi wajah sendu seorang gadis yang tercermin di dalam air jernih. Ada kerutan dalam di keningnya, tak lama kemudian dia menggeser tangannya untuk menghancurkan bayangan diri di dalam air. Dia telah bosan melihat pemandangan menjijikkan.


"Saat putus dengan Iyon, kamu tidak seperti ini Aish. Tapi saat melihat kak Khalid tidak mendengarkan mu, kamu tiba-tiba menjadi galau seperti ini. Padahal kamu tidak punya hubungan apa-apa dengan kak Khalid. Teman atau cinta, kamu tidak memiliki diantara keduanya Aish. Lantas mengapa kamu begitu percaya diri dan meng-klaim seolah-olah kak Khalid akan mendengarkan kamu? Hahaha...kamu sangat lucu." Tertawa miris, sekali lagi matanya tertuju pada wajah muram yang tercermin di dalam air.


"Jangan seperti ini Aish. Jangan ulangi kesalahan yang Mama buat. Karena terlalu memaksakan perasaan, Mama berakhir jatuh dan sakit. Jadi Aish, ayo belajar dari kesalahan ini. Jangan mengulangi situasi yang sama lagi karena jatuh pasti rasanya sangat menyakitkan, kamu mungkin tidak akan sanggup menahannya." Peringat Aish kejam pada dirinya sendiri.


Ini adalah pengingat untuk dirinya, pengingat agar dia jangan terlalu terjebak dalam rasa bertepuk sebelah tangan ini. Karena mungkin bila suatu hari dia benar-benar diluar kendali, semuanya mungkin akan sangat sulit dikembalikan lagi.


Maka dari itu...


"Ayo lepaskan dia. Anggap saja dia adalah cinta tak sampai ku." Kata Aish menyemangati diri sendiri.


Dia mengambil centong air dengan semangat tinggi dan menumpasnya ke ke kepalanya. Air dingin nan jernih perlahan membasuh kotoran yang membuat tubuhnya tidak nyaman. Kulitnya lebih terasa nyaman saat air segar ini membasuhnya.


Beberapa menit kemudian, Aish keluar dari dalam kamar mandi. Dira dan Gisel sudah lama menunggu karena mereka langsung mandi tanpa perlu sempat merenung atau galau ria di kamar mandi.


"Lama anjir, kita kira kamu kesurupan di dalam sana." Kata Dira asal.


Aish memutar bola matanya malas.


"Jin di sini alim alim semua, enggak munafik kayak seseorang." Kata Aish sambil melirik Khalisa yang berdiri patuh di samping Nasha.


Gisel mengangguk setuju,"Jadi jin juga ikut mondok di sini, yah?"


"Benar sekali. Karena jin nya pada alim semua dan enggak berbuat jahat, maka jadilah manusia di sini yang berbuat jahat. Beberapa orang berwajah dua, menggunakan topeng lembut seolah mereka adalah daun yang rapuh dan diterbangkan angin. Padahal mah...dia sebenarnya enggak sebaik itu." Cibir Dira ikut-ikutan melirik Khalisa.


Bagaimana mungkin dia tidak kesal dengan gadis sok alim dan sok benar ini? Gara-gara dia mereka bertiga harus kehilangan poin yang sangat menjengkelkan!


"Apakah kalian sudah selesai?" Tanya Nasha sopan kepada mereka bertiga.

__ADS_1


Dia bersikap tenang seakan tak mendengar cibiran mereka bertiga.


"Hem, ayo pergi." Ajak Aish mengajak mereka berdua.


Dira dan Gisel langsung mengikuti Aish kembali ke asrama, mengabaikan sapaan hangat Nasha.


Nasha hanya menghela nafas berat untuk sikap arogan mereka bertiga. Tapi dia juga mengerti apa yang mereka keluhkan sehingga dia tidak mendikte mereka bertiga. Di tambah lagi Nasifa sudah menekankan kepadanya agar menjaga salah satu gadis yang bernama Aisha Rumaisha di pondok pesantren ini. Aisha Rumaisha, yang mana dari mereka yang bernama Aisha Rumaisha dan mendapatkan kehormatan dari seorang Sarifah?


"Kak Nasha, ayo pergi. Kita juga harus pergi ke masjid." Suara lembut Khalisa menarik perhatian Nasha.


Nasha mengatakan 'um' dan segera memimpin jalan, menyusul langkah tiga sekawanan yang sedang berjalan menuju asrama.


***


Aish, Dira, dan Gisel telah menjadi topik hangat para santriwati karena insiden tadi sore. Lihat saja saat mereka di dalam masjid, mata-mata laser itu seolah menatap mereka dengan rasa ingin tahu yang sangat besar. Ada yang merasa biasa saja, tidak tertarik dan bahkan menertawakan kemalangan mereka bertiga.


Yap, bahkan sekalipun manusia berada di dalam pondok pesantren hingga berjamur itu tidak dapat menjamin bahwa mereka memiliki hati yang bersih. Sebab perkara hati hanya Allah yang tahu. Sekalipun mereka dibungkus berbagai macam kitab atau ayat-ayat suci, semuanya tidak akan berpengaruh bila hati mereka masih menyimpan iri dan benci.


"Habis ini kita akan kemana?" Tanya Aish malas.


Mereka baru saja turun dari masjid setempat menyelesaikan sholat magrib.


"Kemana lagi selain ke stan makanan." Kata Dira bersemangat.


"Oh." Aish tidak berkomentar lagi.


Saat mereka keluar dari gerbang masjid, perhatian mereka bertiga tiba-tiba ditarik oleh kerumunan santri laki-laki jauh di sana. Para santri sepertinya sedang berbicara dengan seseorang.


"Eh, bukannya itu habib Thalib?" Tunjuk Gisel pada sosok tinggi yang tidak pernah pudar senyumnya.

__ADS_1


"Ternyata dia juga terkenal di kalangan santri." Kata Dira terkejut.


Biasanya laki-laki setampan habib Khalid disukai para santriwati tapi setelah melihat pemandangan ini Dira langsung merubah kesannya terhadap habib Khalid. Bila dia disukai oleh para santri dan santriwati, maka habib Khalid bukanlah orang yang sederhana!


"Dia sangat suka tersenyum." Kata Gisel berdecak kagum.


Tidak mudah mempertahankan senyum apalagi bila hati sedang mengalami masalah.


Aish tidak mengatakan apa-apa sedari awal melihat sosok tinggi itu. Namun dalam diamnya dia merasakan bahwa darahnya berdesir lembut merasakan debaran jantung yang terus menggebu-gebu di dalam hatinya. Dia tadi sempat bersumpah akan melupakan habib Khalid tapi setelah melihatnya lagi, entah kenapa sumpah itu langsung menjadi sia-sia.


Aish mengepalkan tangannya gugup, menatap rindu pada sosok tinggi itu.


Merasakan tatapan intens seseorang, habib Khalid tanpa sadar menyapu pandangannya ke depan dan langsung bertemu dengan mata aprikot milik seseorang.


Aish terkejut dengan perubahan situasi ini. Dia langsung memalingkan wajahnya yang merah dengan perasaan bersalah. Dia tertangkap basah sedang melihatnya, habib Khalid pasti tidak menyukainya.


"Eh, habib Thalib ngeliat ke arah kita." Bisik seorang santriwati di samping mereka.


Dia dan teman-temannya sangat senang, mereka saling meremat tangan dengan gugup.


Aish menghela nafas panjang.


"Ayo pergi. Aku sangat lapar." Kata Aish langsung memimpin jalan tidak berani lagi mengintip habib Khalid.


Melihat kepergian Aish, mereka berdua langsung mengejar dan menghentikan sementara diskusi penting mereka.


"Oi Aish, aku baru nyadar kalau santri di sini banyak yang tampan dan bersih. Mereka malah lebih menarik daripada cowok-cowok yang pernah aku lihat di kota." Kata Dira genit.


Dia tidak bisa menahan diri memanjakan matanya menatap sosok-sosok tampan di kejauhan sana.

__ADS_1


"Ho'oh. Mata mines aku kayaknya bentar lagi sembuh deh karena banyak santri ganteng di sini." Kata Gisel bercanda tapi mulutnya tidak bisa berhenti tersenyum melihat santri-santri yang mereka lewati.


"Cek, kalian lebih dulu tinggal di sini daripada aku tapi kenapa baru menyadarinya sekarang?" Tanya Aish heran.


__ADS_2