Mengejar Cinta Sang Habib

Mengejar Cinta Sang Habib
Bab 12.4


__ADS_3

Aish tidak bisa menebaknya sampai akhirnya mereka berdua berdiri tepat di depan sebuah kuburan yang memiliki ukuran jauh lebih besar dari kuburan yang lain. Dan hal yang paling mengejutkan adalah kuburan ini tepat bersebelahan dengan milik Mama Aish, tempat dimana Mamanya beristirahat.


"Kemari lah." Kata habib Khalid memanggil Aish.


Aish terlihat linglung. Dengan langkah pelan dia berjalan mendekati sang habib yang tengah berdiri di samping kuburan besar itu.


"Iya, kak?" Aish bertanya ragu.


Pasalnya dia kini tengah berdiri tepat di depan orang tua habib Khalid.


"Tolong berikan bunga ini kepada kedua orang tuaku." Kata habib Khalid seraya memberikan Aish salah satu buket bunga.


Jadi kuburan besar ini adalah makam kedua orang tua habib Khalid yang sengaja ditempatkan dilubang yang sama.


"Iya, kak." Aish mengambil bunga itu dan menaruhnya dengan hati-hati di di tengah-tengah batu nisan.


Tidak ada yang mencolok dari kuburan ini selain bentuknya yang jauh lebih besar dan hanya menggunakan batu biasa sebagai nisannya. Jadi orang-orang tidak akan tahu siapa yang meninggal di sini dan kapan orang itu meninggal sebab hanya memiliki satu batu nisan yang tidak tertulis.


Saat Aish menegakkan punggungnya dan menoleh ke samping, betapa kagetnya dia melihat habib Khalid baru saja meletakkan buket bunga yang lain di atas kuburan Mamanya.


Aish terpana. Shock dan senang, dia tidak tahu perasaan mana yang mendominasi hatinya. Matanya langsung menjadi buram dan sesak melihat seseorang akhirnya memberikan Mamanya bunga.


"Kak Khalid?" Panggil Aish bingung.


Mungkinkah habib Khalid mengenal Mamanya?


Habib Khalid membisikkan sesuatu di atas makam Mama Aish. Entah apa yang dia katakan karena Aish sama sekali tidak bisa mendengarnya.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian dia lalu berdiri tegak dan berjalan ke sisi Aish.


Seolah melihat kebingungan Aish, sang habib lalu menjelaskan dengan nada suara yang sangat tenang,"Kedua orang tuaku dan Mama mu saling mengenal. Dulu mereka memiliki hubungan persahabatan yang sangat baik jadi aku sempat mengenal Mama mu."


"Oh..." Aish tidak tahu harus berkomentar apa-apa.


Kepalanya berusaha mencerna baik-baik informasi besar yang baru saja habib Khalid sampaikan kepadanya.


"Jadi kak Khalid mengenal Mamaku?" Tanya Aish setelah terdiam sejenak.


"Benar, aku mengenalnya dan sudah pernah bertemu beberapa kali dengannya. Saat itu aku masih ingat bila kamu masih sangat kecil di dalam pelukannya." Jawab habib Khalid masih dengan ketenangan yang sama.


Berbanding terbalik dengan suasana hati Aish yang langsung terguncang. Baginya ini adalah sebuah kabar yang sangat besar di dalam hatinya. Fakta bahwa habib Khalid mengenal Mamanya membuat Aish bertanya-tanya di dalam hatinya bahwa apakah semua kebaikan habib Khalid selama ini ada hubungannya dengan Mama?


Lantas perlakuan istimewa itu dan sikapnya yang lembut itu seharusnya ditujukan karena Aish adalah kenalan dalam dan bukan kenalan biasa. Maka selama ini Aish salah paham kepada sang habib?


Sang habib berbuat baik kepadanya karena identitas Mamanya dan bukan karena sang habib memiliki perasaan kepadanya?


"Aish, apakah kamu baik-baik saja?" Tanya habib Khalid aneh melihat perubahan wajah Aish.


Aish tersenyum kecut. Dia menggelengkan kepalanya ringan tidak ingin mengatakan apa-apa untuk saat ini.


"Jika kamu merasa tidak nyaman, katakan saja kepadaku dan jangan memendamnya." Kata habib Khalid dengan nada suara yang begitu lembut dan sorot mata yang lembut pula.


Lihat saja sikapnya yang lembut dan penuh perhatian, wanita mana yang tidak akan salah paham dengan sikapnya ini?


Apa yang kamu sesali Aish?! Memangnya kenapa kalau dia bersikap lembut kepadamu karena Mama? Bukankah ini justru kabar baik untukmu? Anggap saja Mama menyiapkan kamu pintu belakang agar bisa dekat dengan kak Khalid. Tidak seperti yang lain, mereka bersusah payah menarik perhatian kak Khalid dengan kerja keras. Batin Aish bersorak menyemangati diri sendiri.

__ADS_1


Yah, itu benar. Harusnya Aish senang karena ada akses pintu belakang untuk bisa mendekati sang habib yang ditinggalkan oleh Mamanya. Dia tidak perlu melakukan banyak usaha untuk menarik perhatian sang habib karena faktanya sang habib akan selalu perhatian kepadanya. Daripada merana karena perasaannya bertepuk sebelah tangan, maka mengapa Aish tidak memanfaatkan perhatian yang habib Khalid tujukan kepadanya agar bisa menumbuhkan perasaan kepadanya?


Yah, pikirkan saja seperti itu.


"Aku enggak apa-apa kok, kak." Kata Aish tersenyum lebar.


Lagi-lagi habib Khalid merasa bila Aish agak aneh. Baru saja dia melihat awan mendung yang menutupi kepala Aish dan beberapa detik kemudian awan mendung itu tiba-tiba berubah menjadi awan yang sangat cerah, membuat habib Khalid sontak menutup matanya saking silaunya.


Sebenarnya apa yang dipikirkan Aish barusan?


"Syukurlah." Habib Khalid mengangguk ringan.


Dia lalu berjalan ke depan kuburan orang tuanya dengan Aish. Berdiri di samping sang habib, Aish hanya planga-plongo mendengarkan sang habib berbicara dengan orang tuanya. Jika sang habib berbicara menggunakan bahasa Indonesia, mungkin Aish tidak akan kebingungan dan pasti mengerti. Artinya dia bisa menguping sedikit lah. Tapi masalahnya habib Khalid berbicara dengan orang tuanya menggunakan bahasa kalbu, bahasa yang jauh lebih sulit daripada bahasa Inggris.


Bahasa Arab!


Aish sampai memutar bola matanya bingung karena tidak mengerti satupun patah kata yang keluar dari mulut sang habib.


Sayang banget aku enggak ngerti apa-apa. Aku harap kedua mertua- eh, maksud ku calon kedua mertuaku tidak marah dengan kebodohan ku mempelajari bahasa Arab. Aish janji deh jika kita bertemu nanti di alam lain, bahasa Arab Aish pasti udah lancar dan bisa ngobrol lancar sama kalian berdua. Batin Aish berduka untuk dirinya sendiri yang tidak bisa berbahasa Arab.


Setelah berkabung sebentar, Aish kembali fokus mendengarkan ucapan habib Khalid sambil sesekali ngomong sama Mamanya.


Setiap beberapa detik sekali dia akan berbicara dengan Mama tentang habib Khalid seperti mengatakan laki-laki ini yang dia sukai dan Aish juga berterima kasih atas akses pintu belakang yang Mamanya tinggalkan di dunia ini. Dia juga berjanji untuk mulai berdamai dengan masa lalu sebab Aish merasa tidak akan bahagia jika terjebak terus dalam kehidupan masa lalu yang telah lama berlalu.


Yah, sudah saatnya melangkah ke depan sembari meluaskan hatinya. Bila Ayah dan keluarga saja bisa melupakan masalah ini, maka mengapa Aish juga tidak melakukan hal yang sama?


Berdiri di depan mereka semua dan tunjukkan bahwa dia bisa menghadapi semuanya sendirian. Dia harus menunjukkan kepada mereka semua bahwa dia tidak terluka sedalam yang mereka kira dan dia bisa hidup jauh lebih baik dari yang mereka harapkan.

__ADS_1


Aish menghela nafas panjang, mata aprikot nya bersinar terang menatap hamparan langit yang cerah di atas sana.


Ya Allah, lapangkan lah hatiku atas segala takdir yang telah Engkau gariskan kepadaku. Kuatkan aku dan bantu aku untuk menghadapi semua rasa sakit ini, ridhoi aku ya Allah. Batin Aish melambungkan sebuah harapan.


__ADS_2