
Mengabaikan perdebatan kecil diantara Dira dan Gisel, aku lagi melihat ke arah depan. Kak Khalid dengan orang-orang itu sepertinya sedang membicarakan sesuatu karena aku perhatikan sesekali orang-orang itu akan mengangguk kecil. Ya Allah kenapa aku selalu merasa jika kak Khalid semakin tampan semakin aku melihatnya. Aku bingung dengan diriku sendiri yang sangat mudah terpesona melihat kak Khalid. Dia tersenyum aku terpesona, dia tertawa aku juga terpesona dan ketika dia tidak melakukan apapun aku juga semakin terpesona. Jika hatiku adalah karet atau plastik, entah sudah berapa kali hatiku akan dibuat meleleh olehnya dan mungkin sudah tidak berbentuk lagi sekarang.
"Kalian duduk di sini dulu, ya. Tunggu arahan selanjutnya dari habib Thalib." Kak Nasha berhenti di pinggir sawah yang tidak jauh dari tempat kak Khalid berdiri.
Kami bertiga lalu duduk di atas rumput dengan pasrah dan tidak peduli lagi apakah pakaian kami akan kotor atau tidak. Toh, ujung-ujungnya pakaian kami juga akan basah karena bekerja di sawah.
Sawah yang akan dibajak oleh pondok pesantren cukup banyak. Mungkin 5 atau 6 petak karena aku perhatikan setiap petak sawah ini sudah berair seolah siap dibajak. Jauh di sana kami memperhatikan beberapa ekor sapi mulai berjalan mendekati sawah-sawah itu bersama dengan beberapa laki-laki yang aku yakini sebagai petani. Mustahil kan' pondok membiarkan kami sendiri memimpin kerbau-kerbau itu membajak sawah?
"Eh...eh..eh lihat deh habib Thalib mau ke sini." Gisel mengguncang-guncang pundakku.
Tanpa diberitahu pun aku juga tahu kalau kak Khalid mau ke sini. Sejak melihatnya aku tidak pernah mengalihkan pandanganku sedikitpun darinya. Walaupun aku mau, tapi aku tidak bisa mengendalikan hatiku yang merindukannya.
"Assalamualaikum, habib. Aku sudah membawa mereka pergi sesuai dengan apapun yang habib minta." Kak Nasha menyapa kak Khalid sembari menundukkan kepalanya.
Tidak hanya Kak Nasha yang menundukkan kepalanya, tapi baik Gisel dan Dira juga ikut menundukkan kepalanya. Hanya aku yang tidak menundukkan kepala dan secara terang-terangan melihat ke arah kak Khalid. Dan kebetulan mata kami bertemu, wajahku langsung memanas, kepalaku dengan cepat berputar mengingat pelukan kami berdua semalam. Jika bisa dilihat, kepalaku saat ini pasti sudah berasap saking panasnya. Malu, aku buru-buru memalingkan wajahku ikut menundukkan kepala bersama yang lain.
"Waalaikumsalam. Terima kasih atas bantuanmu. Dan maaf merepotkan kamu pagi-pagi begini. Kalian berempat belum sarapan, kan? Ayo duduk, aku sudah membawa sarapan untuk kalian berempat. Sebelum mulai bekerja kalian harus mengisi tenaga dulu agar jangan sampai membuat masalah tambahan lagi. Aku tidak mau ada yang pingsan di antara kalian, kalaupun ada, aku akan menambah hukuman lagi untuk kalian." Kak Khalid sempat-sempatnya mengancam kami.
Tapi jangan salah, ancaman kak Khalid selalu serius. Dia tidak pernah mengingkari apa yang dia katakan dan kami bertiga yang sudah menjadi langganan hukumannya langsung mempercayainya.
Kami berempat lalu duduk dan diikuti olehnya. Meskipun duduk berempat tapi jarak kak Khalid agak jauh dari kami. Kak Nasha sepertinya agak kaget melihat kak Khalid duduk bersama kami. Dia terlihat bingung tapi tidak berani mengangkat kepalanya untuk berbicara. Kak Nasha sama polosnya dengan orang-orang yang ada di pondok pesantren ini.
"Aish, duduklah di sini." Kak Khalid memanggilku.
Dia menepuk rumput di samping kirinya sebagai tanda aku akan duduk di sana. Spontan, mata semua orang langsung tertuju kepadaku. Gisel dan Dira hanya menatapku dengan tatapan mengejek, sedangkan kan kak Nasha aku tidak tahu bagaimana ekspresinya sekarang. Mungkin dia cukup kaget. Yah, reaksi ini sangat wajar.
Aku ragu-ragu berdiri sambil melihat ke arah Nasha.
"Kemari lah." Desak kak Khalid kepadaku.
__ADS_1
Karena kak Khalid tidak takut maka aku juga tidak akan takut.
"Iya, kak." Aku langsung bangun dari dudukku dan berpindah ke sebelah kiri kak Khalid.
Saat berpindah tadi aku sempat melihat ekspresikan kak Nasha dan hampir saja jatuh tertawa karena serius, ekspresikan kak Nasha lucu banget.
Ini sangat menggelikan. Gara-gara ini kepercayaan diriku semakin tumbuh. Reaksi kak Nasha saja sudah cukup menjelaskan bahwa posisiku lebih spesial di hati kak Khalid dibandingkan para santriwati di pondok pesantren ini. Tidak peduli seberapa cantik mereka, seberapa pintar mereka, dan seberapa tinggi ilmu mereka, mereka semua tetap sama di mata sang habib. Dan aku, Aisha Rumaisha, gadis yang memiliki banyak kekurangan dan minim ilmu agama ternyata diperlakukan jauh lebih baik daripada mereka yang tinggi ilmu agamanya. Alhamdulillah pikirku. Jalanku untuk memperbaiki diri ditemani langsung oleh sang habib, aku bersyukur Allah pertemukan dengannya.
*****
"Sarapan pagi ini aku sengaja membeli bubur. Buburnya masih hangat dan sangat enak, aku pernah membelinya sebelumnya dan karena enak aku datang lagi membelinya." Habib Khalid mendorong kantong plastik putih yang lebih besar pada tiga orang yang lain, sedangkan kantong plastik yang lebih kecil dia buka sendiri. Di dalamnya ada dua kotak makan styrofoam bersama bungkus-bungkus lauk pauk yang dipisahkan dan beberapa botol air minum putih.
Dari jauh Nasha memperhatikan gerak-gerik habib Khalid. Mulai dari membuka kotak makanan tersebut dan menyajikan semua lauk menjadi satu sebelum menyerahkannya kepada Aish. Gerakannya sangat alami tanpa rasa canggung sedikitpun terhadap lawan jenis. Ini membuat Nasha sangat bingung. Pasalnya selama ini habib Khalid selalu menjaga jarak terhadap lawan jenis. Bahkan di pondok pesantren saja dia terkenal dengan sikap ramahnya yang sopan tapi memiliki rasa jarak yang sangat jauh terhadap lawan jenis.
Tapi lihatlah sekarang?
Aish diperlakukan dengan baik, seolah-olah mereka adalah sepasang kekasih.
"Habiskan semuanya. Jangan ada yang sampai bersisa." Ucap sang habib sembari memindahkan semua telur puyuh yang ada di kotak makanannya kepada Aish.
Lagi-lagi Nasha dibuat terkejut oleh tindakannya. Sang habib sepertinya sangat perhatian kepada Aish, dia ragu bila tidak ada sesuatu diantara mereka berdua.
"Aku udah punya, kak." Dalam diam, Nasha memperhatikan interaksi mereka berdua.
Aish menolak telur puyuh pemberian dari sang habib dan segera memindahkan telur puyuh itu kembali ke kotak makan sang habib. Habib Khalid bersikeras, dia sekali lagi memindahkan telur puyuh itu ke kotak makan Aish. Tidak berdaya, Aish kali ini menerimanya dengan malu. Wajahnya sudah semerah kepiting rebus, terlihat cantik dan menawan pada saat yang bersamaan.
Memperhatikan ini, Nasha kira itu wajar saja bila sang habib menyukai Aish. Aish adalah gadis yang cantik dan menawan, bahkan dirinya yang seorang wanita saja dibuat terpana apalagi seorang laki-laki?
"Terima kasih, kak." Kata Aish tulus.
__ADS_1
Aish sangat menyukai telur puyuh. Dari kecil telur puyuh adalah makanan favoritnya. Bahkan dia sanggup makan satu baskom telur puyuh sendirian saking sukanya. Telur puyuh rasanya jauh lebih manis dan enak daripada telur ayam ataupun telur bebek. Bentuknya juga imut-imut yang sangat menggoda selera makan Aish.
"Apakah cantik?" Habib Khalid bertanya.
Apanya yang cantik?
Aish dan semua orang yang mendengarnya bingung.
Mungkinkah yang habib Khalid maksud adalah telur puyuh itu?
"Apa yang cantik, kak?" Tanya Aish ragu.
"Kalung semalam. Apakah itu cantik?" Kata habib Khalid tanpa mengangkat kepalanya.
"Uhuk!" Dira tersedak makanannya sendiri.
Gisel dan Nasha buru-buru membantunya. Nasha menepuk-nepuk punggung dirapelan sedangkan Gisel mengambil air putih dan membantu sahabatnya itu minum.
"Pelan-pelan, kalau makan tuh jangan terburu-buru." Omel Gisel prihatin melihat wajah pucat sahabatnya.
Dira mendengus jengkel. Siapa yang makan terburu-buru?
Dia tersedak bukan karena makan terburu-buru tapi karena pertanyaan sang habib!
"Kamu nggak apa-apa, kan, Dir?" Aish bertanya prihatin.
Dira melambaikan tangannya tidak perduli setelah bisa bernafas kembali.
"Tidak apa-apa, ayo makan. Kita tidak boleh menunda sarapan." Katanya sembari membawa satu suap besar makanan ke dalam mulutnya.
__ADS_1
Mulut Gisel langsung berkedut melihatnya. Dia pikir sahabatnya ini mungkin belum puas tersedak. Sementara Nasha tidak tahu harus melihat betapa konyolnya tindakan Dira. Tapi yang paling menarik perhatiannya adalah sikap perhatian sang habib kepada Aish. Habib tidak hanya perhatian kepada Aish, tapi dia juga bersikap asing atau acuh tak acuh terhadap Dira. Ini membuatnya tersadar bahwa mungkin rumor yang beredar itu memang benar adanya. Dan kebenarannya adalah bahwa habib Thalib lah yang mendekati Aish, bukan kebalikannya.