Mengejar Cinta Sang Habib

Mengejar Cinta Sang Habib
Bab 9.2


__ADS_3

Aish langsung menajamkan kedua telinganya sambil tertunduk dengan wajah yang mulai mendung. Ada banyak kemungkinan yang menari-nari di dalam kepalanya dan dari semua kemungkinan itu, Aish sangat berharap bahwa habib Khalid akan menjawab tidak. Tidak, satu kata ini saja sudah memadamkan api kegelisahannya.


Tapi, ada yang aneh. Mengapa sampai dengan detik ini dia masih belum mendengar jawaban habib Khalid?


Apakah yang Khalisa katakan tadi itu benar?


Jika benar,


Aish mengepalkan tangannya menahan gelisah. Dia mengangkat kepalanya mengintip ke arah habib Khalid- dug!


Mata mereka bertemu. Tubuh Aish langsung membeku di tempat. Matanya langsung terpaku seolah tersihir dengan mata gelap sang habib. Matanya yang gelap sangat jernih dan bersih, tanpa ada guratan benang merah ataupun kotoran, Aish seakan-akan sedang menatap permukaan danau di suatu tempat yang menenangkan.


Aish berkedip ringan. Sejujurnya melihat langsung ke mata habib Khalid terlalu luar biasa dan menantang di dalam hatinya, dia senang bercampur takut karena mata itu bagaikan perangkap sihir yang mengikat jiwanya. Bahkan berpaling saja rasanya sangat sulit, bahkan lebih enggan lagi karena Aish juga mendambakan perasaan ini.


"Apa yang dia bilang tidak benar adanya. Aku tidak memiliki tunangan dan aku juga tidak terikat dengan perjodohan apapun dengan siapapun. Selama kata-kata itu tidak keluar dari mulutku langsung, maka berita itu adalah sebuah kebohongan." Suara berat habib Khalid bagaikan embun pagi yang langsung memadamkan kegelisahan dihatinya.


Aish menjadi linglung. Mata aprikot nya bergetar hebat menatap wajah tampan tanpa cela yang sekarang sedang tersenyum kepadanya. Bibir Aish terbuka namun tidak mengeluarkan sepatah katapun.


Bertanya, hatinya bertanya-tanya apakah habib Khalid telah memiliki seseorang di dalam hatinya?


Dan bisakah seseorang yang beruntung itu adalah dirinya?


Bibirnya bergerak tanpa sadar, namun untuk beberapa alasan Aish mengurungkan niatnya untuk bertanya.


Dia memalingkan wajahnya ke samping, menyembunyikan rona merah di pipinya yang terasa panas.


Dia salah tingkah.


"Lalu habib, kenapa dia mengaku bila habib Thalib sudah memiliki tunangan dan meminta Aish untuk tidak mengganggu habib Thalib lagi." Dira memanfaatkan seterika yang masih panas dan mulai berbicara.

__ADS_1


Begitu Dira bertanya, suasana langsung menjadi tegang. Khalisa merasakan punggungnya menjadi dingin dan bahkan wajahnya pun memucat. Dia panik dan bingung bagaimana menjelaskannya kepada habib Khalid karena dia tidak pernah menyangka akan bertemu dengan habib Khalid di sini.


Dan yang paling membuatnya menyesal adalah habib Khalid langsung membantah mengenai pertunangan tersebut, tapi tidak bereaksi apa-apa tentang rumor yang menyebar beberapa waktu ini!


"Habib..." Khalisa memanggil dengan malu bercampur sedih.


Bibirnya yang kehilangan warna bergetar menahan isak tangis yang siap landas kapan saja.


Rasanya sangat memalukan.


Habib meliriknya dingin dan mengabaikan keberadaannya.


"Aku tidak keberatan dengan apapun yang orang lain bicarakan tentangku tapi tidak dengan masalah ini. Bagiku masalah ini sangat penting dan menyangkut masa depan ku. Aku tidak ingin masalah ini membuat seseorang yang ditakdirkan denganku bergegas menjauhi karena salah paham. Dan aku lebih tidak ingin membuatnya sakit hati karena kabar bohong ini. Oleh karena itu aku tidak akan mentolerir apa yang dikatakan tentang masalah ini. Kali ini adalah peringatan tapi jika ini terulang kembali, aku tidak akan mengambil sikap diam saja." Jawab habib Khalid datar dan tanpa emosi.


Dug


Dug


Dug


Tidak, tidakkah ini mungkin?


Apakah seseorang yang dimaksud adalah habib Khalid adalah dirinya?


Apakah mungkin? Soalnya aku sama kak Khalid baru bertemu dan tidak saling mengenal dengan baik. Jadi, bukankah ini agak... mustahil? Batin Aish bingung.


Sementara itu, semua orang- tidak, mereka semua yang kebetulan ada di sini dan menguping pembicaraan diam-diam mengambil nafas dingin. Kata-kata habib Khalid sangat serius dan cukup romantis, membuat mereka cemburu pada seseorang yang beruntung itu sekaligus merindukan posisi wanita beruntung tersebut.


Tidak ada yang mengasihani betapa menyedihkannya Khalisa saat ini karena mereka semua juga agak kesal dengan Khalisa yang main mengklaim bila habib Khalid telah memiliki tunangan. Jika mereka langsung percaya dan habib Khalid tidak di sini untuk mengklarifikasi, maka bisa dibayangkan mereka akan patah hati secara masal. Sebab orang yang mereka kagumi secara diam-diam nyatanya telah terikat perjodohan dengan wanita lain.

__ADS_1


Tapi untungnya habib Khalid ada di sini dan mengklarifikasi semuanya! Mereka sangat lega dan diam-diam bersyukur.


"Terus bagaimana dengan rumor baru-baru ini, habib? Tidakkah itu juga mengganggu kehidupan pribadi, habib?" Meri bertanya dengan malu.


Habib Khalid mengangkat kepalanya dan menangkap secara langsung mata aprikot seseorang yang sedari tadi mencuri pandang ke arahnya dengan malu-malu.


Tertangkap basah, pipi Aish rasanya sangat berat dan panas. Dia langsung menundukkan kepalanya pura-pura bersikap tenang dan berusaha meniadakan keberadaannya- yang sejujurnya sangat mencolok!


"Rumor, rumor yang mana? Apakah ada rumor baru-baru ini tentangku?" Tanya habib Khalid santai.


Semua orang yang datang bersama habib Khalid,"...." Habib, santri laki-laki saja yang tidak berhubungan langsung dengan santriwati telah mengetahui rumor ini. Lalu mengapa kamu yang selalu berada di pusat keramaian masih tidak mengetahuinya?!


"Itu..." Meri tiba-tiba tidak tahu harus mengatakan apa.


Dia telah dipermalukan oleh teman-teman Aish dan dia juga ingin mempermalukan balik mereka. Namun sayang sekali habib Khalid tidak bermain sesuai dengan arusnya!


Dia pikir habib Khalid akan terganggu dan memarahi Aish langsung, tapi siapa yang mengira jika habib Khalid sebenarnya tidak tahu tentang rumor beberapa waktu ini!


"Habib Thalib, tolong maafkan aku." Khalisa buru-buru berbicara untuk meminta maaf kepada sang habib.


Dia tahu bila masalah ini mungkin akan memperpanjang jarak diantara mereka oleh karena itu dia segera meminta maaf untuk menebusnya.


Habib Khalid tidak melihatnya juga tidak berbicara. Sikapnya sangat jelas, dia mengabaikan Khalisa secara langsung.


Khalisa menggigit bibirnya sakit hati. Matanya yang merah perlahan mulai menangis dalam penyesalan.


"Ini semua salah paham, aku tidak bermaksud mengganggu habib Khalid dengan perkataan ku tadi. Tapi aku berniat baik, aku ingin membebaskan habib Khalid dari rumor yang beredar beberapa waktu ini agar tidak ada lagi yang menggangu habib Khalid. Dengan begitu setidaknya habib Khalid terhindar dari rumor-rumor tidak berdasar di pondok." Ucapnya membuat alasan.


Alasannya juga masuk akal dan dapat dimengerti. Dasarnya yang terganggu dengan rumor ini bukan hanya Khalisa saja tapi hampir semua pengagum rahasia habib Khalid. Selama ini mereka telah resah dengan rumor kedekatan habib Khalid dan Aish. Mereka cemburu namun tidak bisa melakukan apa-apa selain menunggu dengan pasif habib Khalid mengklarifikasinya secara langsung.

__ADS_1


__ADS_2