Mengejar Cinta Sang Habib

Mengejar Cinta Sang Habib
Bab 22.10


__ADS_3

Setelah Dira dan Gisel menghilang dari pandangan semua orang, suasana canggung dan tegang di dalam ruangan menjadi semakin intens. Baik Papa dan Mama saling memandang dengan ekspresi tidak bersahabat. Terutama saat Mama melihat Ayu. Wanita yang telah menjadi istri kedua Papa saat ini memiliki wajah bangga di depan semua orang. Seolah dia telah memenangkan tiket lotere yang berisi jackpot ratusan juta.


"Inikah istri yang kamu junjung selama ini di depanku, mas? Kamu bilang dia adalah calon Ibu yang baik untuk Dira, tapi kita semua telah mendengar apa yang dia katakan kepada Dira. Bagaimana perasaanmu melihat dia membandingkan Dira dengan anak-anakmu yang lain? Oh, mungkin kamu tidak merasakan apa-apa karena cintamu telah sepenuhnya diberikan kepada anak-anak yang lahir dari wanita ini. Tapi miliki lah sedikit hati nurani. Dira juga anakmu." Mama menusuk Papa dengan kata-kata sinis nya.


Di depan Dira, dia tidak berdaya dan lemah karena dia tahu bahwa Dira pasti terluka oleh perbuatannya. Dia memang salah, bodohnya dia ingin membuat pembelaan di depan anak yang telah ditelantarkan.


Wajah Papa langsung muram. Dia juga sangat marah dengan apa yang telah dikatakan oleh Ayu. Meskipun dia tidak menghabiskan banyak waktu dengan Dira dan meskipun Dira terlahir dari wanita yang tidak dia cintai, namun tetap saja, darah adalah darah. Dira tetap akan menjadi putrinya sampai kapanpun.


"Jangan menghakimi suamiku. Kamu juga salah. Kalau kamu memang Ibu yang baik, lalu kenapa kamu membiarkannya tinggal sendirian tanpa kasih sayang seorang Ibu. Lihatkan, dia sangat kurang ajar setelah-"


"Diam!"


"Cukup!"


Teriak Papa dan Mama bersamaan langsung membungkam Ayu. Dia sangat shock, terutama setelah diteriaki oleh suaminya sendiri. Di depan saingan cinta, Papa tega mempermalukannya. Hatinya langsung sakit, marah dan cemburu.


"Kenapa aku harus diam, mas?" Tanya Ayu tidak terima.


Mama menyahut,"Masih bertanya? Jika bukan karena kamu naik keranjang dia setelah memberikan obat-obatan, maka rumah tangga kami tidak akan runtuh. Sekalipun kami tidak saling mencintai, tapi demi Dira, kami bisa bertahan. Kamu berpikir sangat baik. Setelah menghancurkan rumah untuk anakku, sekarang kamu masih menghina anakku yang telah menjadi korban keserakahan mu sendiri. Kamu banding-bandingkan anakku yang lahir secara terhormat dan sah, dengan anakmu yang lahir secara haram. Semua orang di keluarga tahu apa yang telah kamu perbuat, tapi percuma saja, semua yang kamu lakukan tidak bisa merebut apa yang seharusnya menjadi milik anakku. Warisan mantan mertuaku didedikasikan untuk Dira. Namanya tertulis dengan rapi dan jelas bahwa mereka tidak akan menerima cucu yang lahir dari wanita selain diriku. Dan semua yang mereka miliki telah dialihkan atas nama Dira."


"Apa?!" Jantung Ayu berdegup kencang mendengar apa yang telah dikatakan oleh Mama.


Dia melihat suaminya dengan tatapan bertanya. Apakah yang dikatakan oleh Mama itu benar?


Jika benar, lalu kenapa suaminya tidak pernah mengatakan apa-apa tentang masalah ini?


Kenapa suaminya diam saja melihat dirinya melakukan berbagai macam cara untuk menarik simpati keluarga suaminya?


"Kamu puas sekarang? Kamu bisa memiliki mantan suamiku tapi kamu tidak bisa memiliki latar belakang suamiku. Mereka tidak menerima kamu." Mama terus meluncurkan kata-kata tajam kepada Ayu. Berharap bahwa apa yang dia katakan akan membuat Ayu sakit, sesakit yang dirasakan oleh Dira tadi.


"Mas..." Ayu meraih lengan baju suaminya dan memeganginya erat.


"Apakah yang dikatakan itu memang benar?" Harta, semua harta itu telah menjadi milik Dira?


Lalu apa yang akan didapatkan oleh kedua putrinya?


Mereka juga memiliki darah Papa. Mereka harusnya mendapatkan bagian dari harta itu.

__ADS_1


"Jangan bicara lagi, ayo pulang." Papa tidak mau berbicara.


Karena menikahi Ayu yang tengah mengandung anaknya, semua orang di keluarga langsung memalingkan wajah. Bahkan kedua orang tuanya langsung membuat surat wasiat bahwa semua harta yang telah mereka kumpulkan setelah pembagian untuk saudara-saudara yang lain akan dialihkan atas nama Dira.


Dira bisa mengambil alih semua warisan setelah menikah dan memiliki suami. Jika belum menikah, warisan itu akan ditahan.


Semua orang di keluarga sudah tahu dan tidak ada yang keberatan. Lagipula Dira adalah cucu kesayangan orang tua itu.


"Katakan semuanya kepadaku, apakah yang dia katakan itu benar bahwa anak-anakku tidak akan mendapatkan apa-apa dari harta mereka? Katakan mas dan jangan diam saja!" Teriak Ayu cemas.


Jika putrinya tidak mendapatkan apa-apa dari harta itu, maka mengapa dia menjatuhkan harga dirinya selama bertahun-tahun mencari muka di depan keluarga itu?


Berusaha menunjukkan kelebihan yang dimiliki oleh putrinya dan menjelaskan betapa baik putri-putrinya di depan mereka, jadi itu sia-sia?


Sungguh lelucon.


"Ini adalah kompensasi kedua orang tuaku untuk Dira. Harusnya kamu dapat mengetahui bahwa ada risiko besar yang menanti ketika kamu naik ke atas tempat tidurku. Berteriak dan menangis tidak ada gunanya, warisan tidak bisa diubah, bahkan meskipun aku adalah putra mereka. Sekarang kamu mengerti bahwa semuanya tidak seindah yang kamu bayangkan." Dengan lambaian tangannya, dia melepaskan cengkraman tangan Ayu di lengan baju. Setelah itu dia langsung berbalik pergi tanpa mengucapkan sepatah pun kepada Mama juga suaminya.


Mama dan suaminya saling melihat. Ada kesedihan di dalam mata Mama. Keadaan dirinya tidak jauh lebih baik dari Papa. Dia merasa sakit ketika melihat putrinya menangis tadi tapi sayangnya tidak bisa membuat penghiburan apa-apa karena dia adalah sumber rasa sakit dari putrinya.


"Okay, kita bisa membicarakannya perlahan. Dira akan mengerti situasi yang kamu alami. Jangan menyalahkan diri sendiri, kamu sudah cukup sakit selama ini, aku tidak tahan kamu jatuh sakit lagi." Bisik sang suami kepada Mama.


...*****...


"Masya Allah, ini adalah kabar baik Nasha. Kita semua akhirnya memiliki kesempatan untuk datang ke rumah Umi. Namun, kenapa wajah kamu tidak bahagia?" Kabar ini tentu kabar bahagia. Banyak orang yang telah menunggu kabar ini datang, sebab rumah Umi memiliki magnet tersendiri untuk semua orang pondok.


Kebetulan sekarang sedang libur. Santriwati lebih banyak pulang ke rumah daripada tinggal di pondok. Dia jadi memiliki peluang yang lumayan besar untuk pergi ke rumah Umi.


"Aku tak bahagia karena kita kekurangan orang. Sekarang sebagian besar santriwati sedang berlibur pulang ke rumah masing-masing. Sedangkan untuk acara sebesar ini, aku harus membawa banyak orang yang bisa ku percaya. Bukan sembarang orang. Maka dengan begini kita kekurangan banyak tenaga kerja." Nasha menjawab dengan hati tertekan.


Mungkin masih ada beberapa orang yang bisa dimintai bantuan, tapi itu dengan implikasi bahwa dia telah mempercayai mereka. Sangat disayangkan bahwa sebagian besar orang-orang yang dia kenal dan percayai telah pulang ke rumah.


"Jangan khawatir, Nasha. Ajak teman-teman di kamar kita, mereka tidak mungkin menolak ajakan kamu. Pasti senang diajak untuk membantu Umi di rumahnya." Temannya memberikan solusi. Tidak ada yang lebih pengertian dari teman sekamar, Nasha tidak kepikiran untuk mengajak teman kamar karena terlalu cemas.


"Kamu benar. Syukurlah, ayo kembali ke kamar agar kita bisa membicarakannya dengan teman-teman yang lain."


Aira spontan berdiri dari duduknya. Dia telah menguping pembicaraan mereka sejak Nasha masuk melewati gerbang pondok pesantren. Menurutnya ini adalah pertolongan yang Allah kirimkan kepadanya. Di saat dia pusing mencari kesempatan untuk melaksanakan rencana, Allah datangkan bantuan melalui kedua orang ini. Meskipun dia tidak tahu bila habib Khalid akan datang atau tidak, tapi tidak ada salahnya mencoba. Ingat, usaha tidak pernah mengkhianati hasil.

__ADS_1


"Kak!" Aira berlari kecil menghampiri mereka berdua.


Nasha dan temannya berhenti melangkah. Mereka berdua kompak menoleh ke sumber suara. Di dalam cahaya redup lampu gerbang, perlahan wajah asing itu memasuki pandangan mereka berdua. Mereka tidak mengenal Aira karena belum pernah berinteraksi dengannya.


"Ada apa, dek?" Dari bros bunga yang menggantung di jilbab, mereka mengetahui kalau Aira adalah junior mereka di pondok pesantren yang tahun ini akan lulus.


Aira tersenyum lebih lebar. Perilakunya yang sopan dan manis memberikan kesan yang sangat baik kepada mereka berdua.


"Aku...maaf, kak. Aku tadi mendengar pembicaraan kalian berdua. Sebenarnya aku tidak punya kegiatan apa-apa setelah libur. Kegiatan pondok pesantren tidak seintens saat aktif jadi ada banyak waktu kosong yang tidak dimanfaatkan dengan baik beberapa hari ini. Aku bosan terus seperti ini, kak. Tadinya aku berpikir untuk pulang ke rumah karena tidak tahan menganggur. Namun saat mendengar pembicaraan kalian berdua aku tiba-tiba merasa tertolong. Kak, tolong ajak aku juga membantu. Aku bisa kok melakukan banyak pekerjaan rumah dan tanganku juga bisa diandalkan bekerja di dapur. Aku mohon." Aira berbicara dengan bersungguh-sungguh. Permohonannya tidak ada yang salah. Alasan yang dia katakan juga masuk akal. Nasha seharusnya senang dengan bantuan gratis yang datang tanpa tidak dicari. Tapi untuk suatu alasan yang tidak diketahui, ada yang mengganjal dari apa yang Aira katakan. Di sisi mana, Nasha tidak tahu. Yang pasti adalah hatinya menolak untuk mendengarkan apa yang Aira katakan.


Mungkin ini hanya perasaannya saja?


"Nama kamu siapa, dek?" Tanya Nasha.


Aira tersenyum sopan seraya memperkenalkan dirinya kepada mereka.


"Namaku Aira, kak. Jika berkenan kakak bisa memanggil namaku. Sungguh, aku senang bisa dekat dengan kak Nasha. Setelah pindah ke pondok pesantren, aku mendengar banyak sekali tentang kak Nasha dari mulut teman-teman ke kamarku. Aku tidak menyangka bila suatu hari akan berbicara sedekat ini dengan kakak." Setiap patah ucapan yang keluar dari mulutnya memiliki rasa bumbu tersendiri. Ada yang benar adanya, ada juga yang dibuat-buat. Dalam artian setengahnya palsu.


Benar, tentang Nasha, di mulut teman-teman kamar selalu hidup. Inilah yang membuat dirinya muak. Teman-teman kamar terlalu mendewikan Nasha. Mengecap dari ujung kaki sampai ujung kepala dipenuhi oleh perbuatan baik. Faktanya Nasha tidak sebaik yang mereka katakan. Jika tidak, habib Khalid mungkin akan tertarik kepadanya.


Bukankah orang-orang baik selalu bersanding dengan orang yang baik pula? Mereka memiliki magnet di hati masing-masing. Jadi mereka tidak bisa menipu takdir. Bahwa orang baik akan berpasangan dengan orang baik sedangkan orang buruk pasangannya tentu orang-orang buruk.


Entahlah, pola pikir ini entah sejak kapan mulai terbentuk di dalam hati Aira. Dia selalu menganggap dirinya sedikit lebih baik dari orang-orang ini. Dan jauh lebih baik daripada Aish. Pikirnya lihat saja, saat ujian akhir keluar, mereka akan terbengong melihat nilainya. Aira tahu bahwa pelajaran di pondok pesantren itu sulit, tapi tidak ada yang tidak bisa ditaklukkan oleh Aira. Dia pasti mampu melewati tantangan sesulit apapun itu, apalagi kalau berbicara soal pelajaran. Makanan sehari-hari dia di kota dulu.


"Oh... Aira." Kini dia mengerti mengapa hatinya merasa janggal.


Perselisihan yang terjadi di antara Aira dan Aish sudah menyebar luas di pondok pesantren. Ada topik di mana-mana tentang kisah perselisihan sesama saudara yang terlahir dari Ibu berbeda di pondok pesantren. Nama kedua saudara itu disebut-sebut sehingga banyak orang tahu bila Aish memiliki saudara yang bernama Aira.


Aish memang orangnya jutek dan dulu sering bersikap tidak sopan. Tapi Nasha lebih menyukainya daripada sikap Aira yang sopan dan ramah. Aira terkesan palsu, pikirnya.


"Maaf ya, dek. Untuk sementara kakak lebih memprioritaskan teman-teman kamar kakak. Nanti kalau ada tempat yang masih kosong dan membutuhkan bantuan, orang pertama yang kakak cari pasti kamu." Setelah berpikir singkat dia memutuskan untuk menolak Aira.


Di acara besok Aish dan kedua temannya diminta datang oleh Umi. Dia tidak tahu mengapa Umi meminta Aish dan kedua temannya datang ke rumah Umi besok, karena Umi tidak mengatakan apa-apa soal itu. Dan berhubung Aish ada di sana besok, sebagai orang yang mencintai damai, Nasha tidak mungkin mengundang Aira juga ke sana. Hubungan mereka tidak baik, baiknya tidak usah bertemu.


"Yah... Tapi tadi aku dengar kakak membutuhkan banyak orang? Tambahkan satu orang saja tidak masalah, kan? Aku janji kok nggak akan buat masalah dan tanganku juga cepat bekerja. Insyaa Allah kakak tidak rugi membawaku." Aira menekan kelebihan dirinya sendiri agar Nasha berubah pikiran.


Allah tahu betapa dia sangat ingin datang ke rumah Umi. Karena masa depannya akan ditentukan besok. Jika ada peluang di rumah Umi, maka dia bisa mengakhiri semuanya. Tapi jika tidak ada, maka tunggu peluang yang lain atau rubah rencana.

__ADS_1


Nasha saling menatap dengan temannya. Temannya tidak mengatakan apa-apa, dia mendengarkan apa pun yang dikatakan oleh Nasha. Jika Aira ikut dia setuju, dan jika Aira tidak ikut dia juga setuju. Semuanya terserah Nasha.


"Sekali lagi aku minta maaf. Aku tidak bisa membuat keputusan. Seperti yang aku bilang barusan, kalau ada tempat yang masih membutuhkan bantuan, aku akan segera menghubungi kamu. Kurasa kita tidak perlu membicarakannya lagi. Maaf Aira, kami harus kembali ke kamar."


__ADS_2