Mengejar Cinta Sang Habib

Mengejar Cinta Sang Habib
Bab 31.8 End


__ADS_3

"Bagaimana perjalanan umroh kalian? Apakah semuanya lancar?" Bibi mulai berbasa-basi sebelum membicarakan topik pentingnya.


"Alhamdulillah semuanya lancar-lancar saja." Aish menoleh ke kamar kakek, masih tertutup rapat.


Dia ingin sekali masuk ke sana.


"Bagaimana kalau kita masuk ke kamar kakek?" Dia bertanya kepada suaminya yang ada di samping.


Sang Habib menganggukkan kepalanya. Dia juga mengerti kegelisahan istrinya. Selain itu, duduk di depan serigala berbulu domba alangkah tidak menyenangkan sama sekali.


"Ayo pergi."


"Jangan terburu-buru. Kakekmu masih membersihkan diri di dalam kamar. Selain itu banyak orang di dalam kamar kakek. Jika kalian masuk maka, kalian tidak punya tempat untuk duduk." Bibi kembali menghentikan mereka pergi.


Mana mungkin dia mau melepaskan domba gemuk yang telah dia idam-idamkan sejak kemarin.


"Apakah bibi ingin mengatakan sesuatu kepada kami?" Akhirnya dia tidak tahan lagi. Membiarkan mereka menahannya terus menerus membuat dia merasa sangat jengkel.


Ditambah lagi dengan perilaku sok intim dan sok akrab mereka yang terlalu mencurigakan, nggak tahu bahwa orang-orang ini pasti memiliki sesuatu. Kalau tidak, mengapa mereka begitu baik kepadanya sekarang?


"Ah begini.... Kamu ternyata bisa melihatnya." Bibi dan paman tertawa malu.


Aish tersenyum kecut. Hal sejelas itu, mana mungkin dia tidak tahu dan tidak bisa melihat betapa serakah mata-mata mereka.


"Kamu tahu sendiri kan Aish kalau perusahaan Ayah kamu akan bangkrut. Sementara paman paman kamu bekerja di sana. Jika perusahaan Ayah kamu bangkrut, maka paman kamu tidak akan memiliki pekerjaan lagi. Jika tidak punya pekerjaan maka dia tidak bisa mencari nafkah untuk kami, ini adalah masa-masa yang sangat sulit. Tapi kami mendengar kalau suami kamu memiliki perusahaan perhiasan, KR! Kenapa kamu tidak memberikan paman paman kamu posisi di sana? Kedua paman kamu adalah pekerja keras dan mereka juga memiliki pengalaman yang tinggi, jadi tolong berikan paman kamu posisi yang lebih baik, toh dia juga paman kamu. Tentunya kamu tidak mau kan mendengar orang-orang menjatuhkan nama paman kamu?" Bibi berbicara dengan senyum yang sangat lebar di wajahnya.


Mulutnya mengeluarkan kata-kata serakah tanpa pandang bulu ataupun melihat ekspresi datar di wajah Aish. Eh, sebenarnya melihat senyum di wajah Habib Khalid sudah cukup menjanjikan untuk mereka. Toh yang punya perusahaan juga Habib Khalid dan yang memiliki keputusan adalah Habib Khalid, maka senangkan saja dia dengan kata-kata yang indah.


"Apa yang dikatakan bibi kamu, benar. Kamu tidak tahu kesulitan besar apa yang kami hadapi di rumah. Setiap hari pengeluaran tidak bisa dikendalikan sedangkan pemasukan kami tersendat-sendat. Sementara perusahaan Ayah kamu tidak mampu menggaji kami lagi, jadi... Kami tidak tahu harus mencari solusi kepada siapa selain kepada kalian berdua. Perusahaan KR pasti memiliki banyak lowongan kerja. Kamu lihat, kedua paman kamu adalah orang yang sangat cakap. Mereka telah memiliki jam kerja dimana-mana jadi kalian jangan khawatir jika mereka tidak bisa beradaptasi. Dan seperti yang dikatakan oleh bibi kamu, kedua paman kamu tolong diposisikan di tempat yang bagus karena biar bagaimanapun dia adalah paman kamu. Masa iya sih keluarga kamu sendiri ditempatkan di posisi rendah di dalam perusahaan suami kamu, apa kata orang lain jika mereka tahu?" Bibi yang lain langsung menimpali.


Kata-katanya tak kalah tak tahu malu dengan bibi yang satu. Sepanjang mereka berbicara, Aish selalu memasang wajah datar dan memandangi mereka seolah menonton pertunjukan sebuah pentas opera. Apa yang mereka katakan sangat lucu, tapi entah kenapa dia tidak bisa tertawa. Bukannya tertawa, dia justru merasa kasihan.


Yah, dia kasihan dengan Ayahnya. Ayah bekerja sangat keras untuk membangun perusahaan itu, perusahaan kakek memang, tapi tanpa kerja keras Ayah, perusahaan itu tidak akan bertahan lama. Dan sayang sekali, adik-adik dan ipar Ayah tidak memiliki kesadaran diri. Mereka datang bagaikan sebuah parasit, mengambil manfaatnya saja tapi tidak mau menanggung rugi. Contohnya seperti hari ini. Saat perusahaan Ayah di ambang kebangkrutan, mereka malah berbondong-bondong angkat kaki dan pergi mencari tempat yang lebih besar keuntungannya. Apakah mereka semua tidak memiliki hati nurani, memikirkan bagaimana perasaan ayah ketika mereka pergi begitu saja?


"Lalu kenapa... Kalian tidak mau membantu Ayah untuk memenangkan kembali perusahaan itu agar tidak jatuh bangkrut? Bukannya membantu Ayah, tapi kalian malah datang kepada kami untuk mendapatkan keuntungan. Tidak hanya itu saja, kalian juga ingin mendapatkan posisi yang baik di perusahaan kami, apakah kalian pikir kami bodoh? Apakah kalian pikir kami semudah itu di bodohi?"


Senyuman semua orang langsung menghilang dari wajah. Mereka menatap Aish horor, seolah-olah apa yang Aish katakan bukanlah kata-kata manusia.


"Jawabannya tidak. Kami tidak membutuhkan orang-orang malas seperti kalian. Dan kami tidak membutuhkan orang-orang yang mudah berkhianat seperti kalian. Jika Ayah saja, saudara kalian dengan mudahnya kalian tinggalkan setelah tidak memiliki rasa manis lagi, lalu bagaimana dengan kami yang kalian remehkan? Maaf saja, kalian bisa mencari kerja ke perusahaan lain tapi tidak di perusahaan kami." Lanjut Aish menolak dengan tegas permintaan orang-orang serakah ini.


Benar saja. Yang paling besar memiliki reaksi adalah kedua bibinya. Mereka berdua langsung naik pitam dan memarahi Aish.


"Kurang ajar! Kami tidak membutuhkan pendapat kamu karena kamu tidak mengerti apa-apa soal pekerjaan. Kami berbicara kepadamu karena kami menghormati kamu sebagai istri Habib Thalib, tapi bukan berarti kamu bisa membuat keputusan untuknya. Karena kamu tidak mengerti apa-apa, maka lebih baik tutup mulut kamu dan biarkan Habib Thalib menjawab." Bentak bibi garang.


Berani-beraninya Aish merendahkan suaminya. Dia tidak akan mungkin mau menerima semua kata-kata meremehkan Aish dan balik membalas dengan serangan sengit.


"Benar, kamu adalah seorang wanita dan tidak tahu apa-apa soal pekerjaan. Jadi jangan berbicara dan biarkan suamimu membuat keputusan untuk kami. Kami tidak percaya dia menolak kami. Lagi pula kami adalah keluarga mertuanya, dia harus memberikan kami wajah." Bibi yang lain menimpali.


Sementara para laki-laki diam mendengarkan. Toh apa yang dikatakan oleh istri-istri mereka merupakan apa yang ingin mereka katakan. Mereka sangat lega karena para istri mengerti perasaan mereka dan membantu untuk meluapkan kemarahan mereka.


Melihat istrinya dibentak oleh kedua bibinya, Habib Khalid sontak kehilangan senyum. Dia memandang orang-orang ini dengan mata menyipit, terlihat terasing dan tidak bersahabat.


"Suara istriku adalah suaraku juga. Dan perlu kalian ketahui bahwa perusahaan KR memang milikku tapi juga milik istriku secara sah. Apapun keputusan yang dia buat, maka itu adalah keputusan yang perusahaan buat juga. Selain itu, apakah kalian berpikir terlalu indah? Setelah membentak dan memarahi istriku tepat di depan mataku, mungkinkah aku masih memanjakan kalian? Sungguh, aku justru akan melakukan sebaliknya. Bahkan, apa yang telah kalian lakukan kepada istriku dulu, tidak akan pernah ku lupakan. Secara logika, aku tidak akan memberikan orang-orang yang telah menindas istri kesempatan untuk menindas istriku lebih banyak lagi. Aku memang bukan orang yang pendendam, dan ilmu yang kudapatkan melarang ku untuk melakukan tindakan balas dendam, namun bukan berarti kalian bisa mengulangi kesalahan yang sama lagi kepada istriku, tidak, tidak ada kesempatan itu lagi. Aku tidak akan pernah mengizinkan kalian." Jelas sang Habib membuat wajah mereka langsung menegang.


Bibi dan paman saling memandang dengan ekspresi rumit di wajah mereka. Menurut pemahaman mereka, karena mereka adalah keluarga mertua, maka seharusnya sang Habib menyenangkan mereka dengan berbagai upaya. Tapi kenapa... Itu tidak sesuai dengan harapan mereka?


"Kami... Tapi kami adalah keluarga istrimu?" Kata salah satu paman memberanikan diri untuk bicara.


Salah kan sang Habib yang terlalu dominan, bahkan paman tidak berani terlalu banyak bicara mendengar kata-kata tidak ramah dari sang Habib.


"Lalu kenapa kalau kalian adalah keluarga dari istriku? Aku tidak peduli." Ucapan salam Habib bagaikan sebuah vonis hukuman untuk mereka semua.

__ADS_1


"Dan seperti yang kalian bilang barusan, kedua pamanku memiliki pengalaman jam kerja yang sangat tinggi, jadi kalian tidak perlu khawatir bila mereka melamar pekerjaan di perusahaan lain. Normalnya, perusahaan manapun tidak akan menolak orang-orang yang memiliki pengalaman tinggi dan berprestasi. Jika kalian tidak percaya, coba saja. Aku tidak berbohong." Lanjut sang Habib membuat kedua paman ingin memuntahkan darah.


Mereka juga pernah melakukannya tapi selalu ditolak. Jika mereka berhasil, lalu kenapa mereka harus memanjat ke perusahaan Habib Khalid?


"Kamu... kamu tidak bisa melakukan ini kepada kami-"


"Bisa, kenapa tidak bisa? Kalau kalian saja bisa meninggalkan perusahaan Ayahku dengan mudah, lalu kenapa aku tidak bisa menolak kalian datang kepada kami?" Potong Aish sambil tersenyum lebar.


Kata-kata Aish membuat mereka semua tersedak. Bahkan untuk membuat senyuman palsu saja, rasanya begitu sulit. Namun kemarahan di dalam hati mereka benar-benar tidak bisa ditutupi.


"Kamu-"


"Kak Aish, Habib. Kakek memanggil kalian." Suara lemah Aira memotong kemarahan bibi.


Aish menoleh ke sumber suara. Di samping pintu, Aira berdiri malu tidak berani menatapnya. Namun yang paling membuat Aish sangat terkejut adalah penampilan adiknya sekarang. Dia terlihat sangat kurus dan pucat. Kakek mengatakan kepadanya bahwa Aira seringkali jatuh sakit setelah keluar dari pondok pesantren dan dia berubah menjadi orang yang sangat pemurung. Di rumah orang-orang mulai mengabaikannya dan menganggap bahwa Aira adalah anak pembawa sial. Perasaan ini, persis seperti yang dirasakan oleh Aish saat tinggal di rumah ini dulu. Dan Aish sangat tahu bahwa rasanya sangat menyakitkan. Itu sangat menyakitkan. Kini posisi ini diambil oleh Aira. Tapi Aish merasa tidak bahagia sama sekali. Dia malah merasa kasihan untuk adiknya.


"Ayo pergi, mas." Dia dan suaminya lalu bangun, berjalan menghampiri Aira tanpa memperdulikan orang-orang itu.


Aish langsung memegang tangan adiknya.


"Di mana kakek, dek?" Tanya Aish lembut kepadanya.


Aira sangat malu.


"Dia sudah pergi ke taman belakang."


"Kalau begitu ayo pergi. Aku sudah lama merindukan kakek."


...*****...


Aku dan suamiku pergi ke taman belakang bersama adikku. Sepanjang jalan aku tak pernah melepaskan tangan adikku, berusaha memperlakukannya dengan lembut agar dia tahu bahwa aku sangat menyayanginya.


Sesampai kami di taman, kakek meminta aku dan Aira duduk di sampingnya. Sementara suamiku pergi menemui ayah dan bunda yang tengah duduk tidak jauh dari kakek.


Kakek menoleh melihat ke arah kami.


"Aku sangat merindukan kakek." Langsung saja aku peluk tubuh ringkih kakek, namun aku tidak berani memeluknya lama-lama karena takut menyakiti tubuh kakek yang lemah.


"Kakak juga sangat merindukan kamu. Bagaimana kabarmu, Nak?" Kakek berbicara lembut kepadaku, dia selalu menampilkan sisi lembut ini setiap kali berbicara denganku.


"Alhamdulillah aku baik-baik saja, kakek. Mas Khalid membawaku ke sana kemari ketika kami pergi umroh. Aku juga membelikan kakek dan yang lainnya berbagai macam oleh-oleh dari Mekah. Minyak wangi, kurma, coklat, air zam-zam, pakaian dan banyak hal lainnya, aku membawanya ke sini." Aku menceritakan kakek dengan antusias beberapa pengalaman menyenangkan ku selama tinggal di Mekah dan oleh-oleh apa saja yang aku beli untuk mereka.


Sungguh, aku tidak berhenti berbicara. Semakin kakek tersenyum dan tertarik mendengarkan ceritaku, maka semakin antusias aku menceritakan semuanya. Bahkan episode manis yang ku lewati dengan mas Khalid tak luput dari perhatianku. Semuanya ku ceritakan kepada kakek.


Kakek dan Aira diam menyimak, sampai akhirnya aku menyadari kalau aku terlalu banyak bicara.


"Aku... Aku terlalu banyak bicara hehehe... Habisnya aku senang banget bisa ketemu dengan kakek dan yang lainnya. Oh ya, aku juga membelikan adikku beberapa gamis. Modelnya bagus-bagus dan cantik, Aira pasti suka."


Aira terkejut menatapku.


"Kakak juga membelikan ku pakaian?"


Aku tersenyum dan menganggukkan kepalaku. Oh, tiba-tiba aku mengingat sesuatu. Aku telah menyiapkan hadiah lain untuk adikku juga. Untung saja aku membawanya di dalam tas. Dan berhubung kami kumpul di sini, aku memutuskan untuk memberikan hadiah ini kepada Aira hari ini juga.


"Aku sudah membicarakannya kakek. Ini," Kataku sambil memberikannya sebuah dokumen.


"Apa ini?" Dia bertanya kepadaku.


"Buka saja."


Lalu dia membuka dokumen itu. Kemudian dia membaca dokumen itu dengan serius, dan menatapku beberapa kali dengan mata merah. Beberapa detik kemudian, dia melemparkan dirinya ke dalam pelukanku sambil menangis terisak-isak dan mengucapkan permohonan maaf berkali-kali. Aku membalas pelukannya. Mendengar suara tangisannya yang menyedihkan tiba-tiba membuat hatiku sakit. Ya Allah, dia adalah adikku. Dia adalah adikku. Dia satu-satunya adikku di dunia ini. Meskipun kami terlahir dari ibu yang berbeda, namun darah yang mengalir di dalam diri kami sama. Kami adalah saudara dan tak sepatutnya kami saling memusuhi.

__ADS_1


Mengingat permusuhan kami di masa lalu, aku menyadari betul bahwa semua itu berawal dari ku. Akulah yang memusuhinya pertama kali, merendahkannya dan menggunakan kata-kata kasar untuk melampiaskan betapa marah diriku kepadanya. Marah karena aku tahu bahwa kelahirannya di dunia ini merupakan duka bagi Mamaku. Memang, tapi bukankah adikku tidak tahu apa-apa soal itu?


Itu adalah kesalahan orang tua kami dan harusnya aku tak memusuhi adikku atas kesalahan yang tidak diketahui. Gara-gara diriku, dia pun membenciku, lalu seperti cerita yang telah lewat, kami saling memusuhi.


Namun alhamdulillah, aku sangat bersyukur karena Allah membuka hatiku agar berdamai dengan masa lalu dan mulai membuka hati untuk adikku. Dan aku sangat bersyukur kepada Allah, sebab melalui suamiku, hatiku perlahan berdamai dengan masa lalu.


"Oke jangan menangis, ini adalah hadiahku untuk kamu. Manfaatkan sebaik-baik mungkin dan jangan biarkan bibi juga paman meminjamnya dari kamu. Percayalah, mereka mungkin akan kesulitan membayarnya." Aku bersungguh-sungguh memberikannya nasihat ini.


Sebab aku tahu betapa serakahnya paman dan bibiku.


"Terima kasih kakak... Aku sangat berterima kasih. Dengan begini, Ayah tidak akan bingung lagi mencari solusi untuk perusahaan. Dan aku berjanji kepada kakak, aku tidak akan pernah membiarkan mereka menyentuh hadiah dari kakak ini." Janjinya bersungguh-sungguh kepadaku.


"Seperti inilah yang ingin sekali aku lihat dari kalian berdua. Saling menyayangi dan saling membutuhkan, inilah seharusnya dilakukan oleh hubungan persaudaraan. Melihat kalian menangis dan tertawa bersama, hati kakek sangat lega. Kakek tidak punya apapun yang memberatkan lagi karena kalian telah memenuhi impian terakhir kakek." Kakek menyentuh kepala kami berdua dan mengusapnya lembut.


"Dulu impian terakhir kakek adalah melihat Aish menikah dengan Habib Thalib, tapi setelah mereka berhasil menikah, kakek masih belum berdamai karena hubungan antara kamu dan Aira belum menemukan titik terang. Kakek sedih dan berdoa kepada Allah agar kalian segera dipersatukan kembali. Dan qodarullah, impian kakek akhirnya menjadi nyata. Kalian berdua kini kembali akur dan tidak saling memusuhi lagi. Kakek harap hubungan damai ini dipertahankan selama-lamanya, sebab hati tidak akan tenang jika saling menyakiti. Sekarang kakek merasa sangat lega untuk kalian berdua.." Kakek menyandarkan tubuhnya lemah di sandaran kursi.


Mendengarkan perkataan kakek membuatku tiba-tiba merasa gelisah.


"Kakek... Maka dari itu kakek harus segera sembuh dan berolahraga sebanyak mungkin agar kakek dapat melihat hubungan kami hingga usia tua nanti." Kataku membujuk kakek.


Kakek tersenyum. Mata tuanya melihat ke arah hamparan langit di luar sana. Pagi ini sangat cerah dan berawan. Udara sejuk tidak pernah berhenti menerpa wajah kami.


"Kakek ingin shalat Dhuha. Tolong bantu kakek berdiri." Suamiku dan Ayah langsung menghampiri kami.


Mereka berdua membantu kakek masuk ke dalam kamar untuk melaksanakan shalat Dhuha. Hatiku semakin gelisah. Aku ingin mengikuti masuk, tapi aku ragu. Namun jika aku tidak masuk, seolah ada suara di dalam hatiku yang mengatakan bahwa aku akan menyesalinya seumur hidup. Aku sangat gugup memikirkannya.


Sampai akhirnya suara tidak akan nenek membangunkan ku dari lamunan. Aku melihat semua orang berebutan masuk ke kamar kakek. Bingung, aku tidak tahu apa yang sedang terjadi dan kepalaku mulai berdengung tidak dapat berpikir jernih. Aku harus segera pergi ke sana tapi kakiku rasanya begitu berat, sangat berat. Setiap kali aku mengambil langkah ke depan, tubuhku tiba-tiba menjadi goyah.


"Kakak... hati-hati..." Aira menahan tanganku saat aku hampir saja terjatuh.


Aku menoleh melihatnya. Wajah adikku telah dipenuhi oleh air mata. Namun mengapa dia masih menangis?


Apa yang membuat adikku terus menangis?


"Aira, dek... Mengapa kamu menangis, Bunda juga kenapa nangis... Tidak, mengapa semua orang di rumah ini menangis?" Tanya aku bingung.


Aira langsung memelukku sangat erat. Dia memelukku sambil menangis tersedu-sedu, terdengar begitu menyakitkan.


"Karena... Karena kakek sudah meninggal, kak. Dia sudah pergi meninggalkan kita untuk selama-lamanya."


Setelah itu mataku langsung menjadi gelap. Dan aku tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya.


...*****...


Setelah acara pernikahan Aish dan Habib Khalid dilaksanakan, Gisel dan Dira langsung kembali ke pondok pesantren keesokan harinya. Mereka kembali menghabiskan waktu di pondok pesantren dengan teman-teman kamar yang lain. Namun, hari-hari dilewati dengan membosankan. Satu demi satu anak-anak di kamar mulai pulang ke rumah masing-masing. Kamar yang tadinya terasa sempit kini terasa sangat luas dan sepi. Dulu ketika mereka mendapatkan hari libur, mereka akan menghabiskannya dengan bermain kartu atau pergi berbelanja, menghabiskan uang terakhir di dompet masing-masing. Tapi sekarang semuanya tiba-tiba berubah.


Aish sudah menikah, teman-teman yang lain mulai kembali ke kampung halaman masing-masing, dan sisanya sibuk dengan urusan masing-masing.


Gisel merasa bosan. Bohong bila dia tidak merindukan rumah. Walaupun orang-orang di rumah memperlakukannya dengan sebelah mata, tapi baginya mereka adalah keluarganya. Satu-satunya keluarga yang mau menerima dan menampungnya.


"Dira, kamu tidak pulang?" Gisel bertanya kepadanya.


Saat ini mereka berdua sedang menikmati langit malam di depan gedung asrama. karena cerah, mereka dapat melihat bintang-bintang bertaburan di atas langit dengan cahaya yang mempesona. Namun sayang sekali, sinar bulan malam ini agak redup.


"Aku udah nggak punya keluarga, Gis. Kamu tahu sendiri kan papa sama mama aku udah punya keluarga masing-masing. Kalau aku pulang ke rumah, paling yang menyambut ku cuma pembantu dan rumah yang dingin. Jadi untuk apa aku pulang, Gis? Mereka sudah nggak peduli lagi sama aku. Daripada pulang ke rumah dan terjebak dalam kesepian yang tak berujung lebih baik aku tinggal di sini saja. Di sini ramai dan aku nggak akan kesepian seperti dulu." Jawab Dira acuh tak acuh.


Sebenarnya dia sangat sedih setiap kali mengingat rumah dingin itu. Tapi dia menutupinya dengan rapi dan tidak menunjukkannya di wajah. Di dalam pikirannya, tak ada yang boleh tahu rahasia hatinya yang dipenuhi oleh luka-luka. Luka yang entah kapan bisa disembuhkan. Oh, mungkinkah masih ada obat untuk menyembuhkan lukanya?


"Aku juga berpikir seperti itu. Tapi tiba-tiba aku sangat merindukan mereka. Hah... tinggal di sini juga tidak apa-apa. Aku dengar dari pengurus pondok kita bisa mengajukan diri untuk tetap tinggal di pondok pesantren entah sebagai pekerja ataupun melanjutkan sekolah. Tapi kalau aku pribadi, sih, aku lebih suka menjadi pekerja di sini. Misalnya bantu-bantu staf dapur umum memasak ataupun jadi tukang kebun di pondok pesantren, aku tidak masalah. Yang penting aku tetap tinggal di sini." Ujar Gisel membicarakan keinginannya kepada Dira.


Dia telah lama memikirkannya. Jumlah tabungannya tidak lebih dari 17 juta. Dengan uang sebanyak itu, dia tidak berani gegabah terjun langsung ke masyarakat. Setidaknya dia harus menabung lebih banyak lagi agar memiliki modal saat pergi keluar kota.

__ADS_1


"Jadi kamu mau kerja di sini?" Dira tidak berpikir sejauh itu.


__ADS_2