
Sore harinya, setelah sholat ashar Aish langsung kembali ke asrama bersama Dira dan Gisel. Dia melipat mukena merah yang dia beli sewaktu pergi ke pasar bersama habib Khalid dan meletakkannya ke dalam lemari.
Setelah beres, dia mengambil jilbab kotor yang dia gunakan ke sawah tadi pagi. Berhubung jilbabnya sudah kotor, Aish tidak langsung mencucinya dan malah menggunakannya lagi untuk bertani.
"Cantik." Bisik Aish mengagumi wajahnya sendiri.
Rasanya konyol. Tapi hei, semua wanita pasti memiliki pendapat yang sama jika wajah sendiri adalah kecantikan terbaik!
"Sekarang pergi bekerja- eh, sarung tangan kak Khalid." Matanya tiba-tiba menangkap sarung tangan yang sengaja dia letakkan di atas meja belajar.
"Moga aja bisa ketemu sama kak Khalid." Doanya tulus sebelum menggunakan sarung tangan itu.
Setelah melakukan persiapan, Aish dan yang lainnya secara kompak pergi ke sawah untuk melanjutkan pekerjaan yang tertunda tadi siang.
"Cie, sarung tangannya masih dipakai aja." Siapa lagi yang punya suara kalau bukan Dira.
Kebiasaan banget godain orang.
Aish tidak malu. Dia malah sengaja mengangkatnya tinggi-tinggi untuk dipamerin. Membuat beberapa pasang mata langsung terbakar panas.
"Iri, yah?"
Dira memutar bola matanya tidak marah. Sejujurnya iri karena sampai dengan saat ini dia tidak punya pengejar cinta!
Apa aku kurang cantik, yah? Batinnya meragukan diri sendiri.
"Biasa aja." Jawabnya datar.
"Semua orang pasti iri, Aish. Soalnya kamu beruntung sih." Gadis entah sejak kapan berjalan di sisi Aish.
Aish menyipitkan matanya, bersikap acuh tak acuh seolah tak terganggu dengan kedatangannya.
"Kamu benar. Aku beruntung banget." Kata Aish santai.
Gadis tersenyum manis, tampak polos dan menyenangkan mata.
__ADS_1
"Aish sama habib kenalan, yah? Kenal dimana? Kami boleh tahu, enggak?" Tanyanya tanpa nada canggung sedikitpun.
Begitu pertanyaan ini jatuh, semua mata langsung tertuju kepada Aish dengan pandangan antisipasi. Mereka semua yang penasaran langsung meninggikan telinga sambil berpura-pura tenang menunggu jawaban Aish.
Ada alasan kenapa semua orang penasaran dengan jawaban Aish. Yaitu Aish terlalu dekat dengan habib Khalid dan terlalu banyak interaksi. Nyatanya betapa tidak mudah habib Khalid ditemui tapi setelah kedatangan Aish, mereka bisa melihatnya beberapa kali. Hal ini membuat mereka bertanya-tanya apalah ada sesuatu yang terjadi diantara mereka berdua?
Bukan tidak mungkin perasaan itu timbul karena baik Aish dan habib Khalid memiliki wajah yang rupawan. Aish adalah gadis cantik yang menawan- tidak, katakan saja dia adalah gadis yang indah sebab kata cantik tak cocok mendefinisikannya saja. Sedangkan habib Khalid adalah laki-laki tampan tanpa cela yang terlahir mulia. Sungguh, bila mereka benar-benar bersanding, beberapa orang pasti berpikir bahwa mereka adalah pasangan yang serasi.
"Kenapa kamu tiba-tiba nanyain ini?" Tanya Dira sensitif.
Senyuman Gadis langsung menjadi canggung, seolah-olah dia baru menyadari bahwa apa yang dia tanyakan cukup sensitif.
"Ini... karena aku sebelumnya pernah mendengar pembicaraan kalian. Bukankah kamu pernah bilang kalau Aish adalah kenalan dengan habib Thalib? Em...maaf, apa pertanyaan ku salah, yah?" Tanyanya polos.
Dira membuka mulutnya untuk membalas tapi lengannya tiba-tiba dipegang oleh Aish.
"Tidak salah dan kamu juga tidak salah dengar. Memang, aku dan habib Thalib pernah bertemu sebelumnya di kota..." Tengkuk Aish tiba-tiba merinding.
Aish takut. Dia lalu menoleh ke belakang untuk mencari tahu apakah ada orang yang sedang memperhatikannya?
Tapi dia tidak menemukan siapapun. Bertanya-tanya, lalu darimana datangnya merinding tadi?
"Oh, jadi kamu hanya kenalan biasa, Aish?" Ada nada kelegaan di dalam suara gadis itu.
Dia adalah salah satu teman kamar Aish dan mungkin salah satu saingan cintanya, fiuh...
"Iya, kami hanya kenalan biasa." Jawab Aish tidak membantah.
"Masya Allah, aku kira kamu dan dia punya hubungan apa-apa. Habisnya dia tadi pagi perhatian banget sama kamu." Kata gadis yang lain ikut merasa lega.
Aish hanya tersenyum saja dan tidak mengatakan apa-apa lagi.
Sementara itu Dira, Gisel, dan Siti tidak membuat komentar apapun. Sebab tidak ada yang lebih tahu dari mereka bertiga betapa ambigu hubungan Aish dan habib Khalid. Ini... mereka sejujurnya ragu tapi hati mereka tidak bisa menampik bahwa setiap kali mereka kebetulan bertemu dengan habib Khalid... mereka merasa seolah-olah habib Khalid sengaja melakukannya.
Apa habib Thalib selama ini sengaja melakukannya? Batin Dira merenung.
__ADS_1
...***...
Setelah berjalan beberapa menit, mereka akhirnya sampai di sawah pondok pesantren yang sangat luas dan menyenangkan mata. Tidak seperti disiang hari yang panas, sore hari jauh lebih nyaman dan sejuk. Udara yang berhembus pun terasa sangat damai, membelai hati para santri maupun santriwati yang sedang merindukan-Nya.
Tidak ada yang lebih baik daripada melihat maha karya Sang Kuasa yang indah dan memanjakan mata. Bahkan Aish yang baru mulai mengenal agamanya sendiri pun ikut terbuai, diam-diam memejamkan matanya syahdu sambil menghirup dalam setiap untaian udara yang menerpa wajahnya.
"Masya Allah, di sini sejuk banget kalau udah sore." Bisik Aish terlena.
Dira dan Gisel juga sangat menikmatinya.
"Kebun kita kebetulan bersebelahan sama sungai, lho. Kata Siti air sungainya langsung mengalir dari gunung di depan." Kata Gisel sambil mengarahkan matanya menatap puncak gunung di depan.
"Pantas anginnya sejuk banget." Dira mengangguk ringan.
"Iya, sekarang kita enggak takut lagi kepanasan- nah, itu bukannya habib Thalib, yah?" Mata Gisel tiba-tiba menangkap kedatangan habib Khalid.
Sosok habib Khalid terlalu mencolok diantara banyak orang. Bahkan walaupun dia menundukkan kepala, sosoknya masih bisa dikenali dan mudah mengundang pandangan banyak pasang mata.
Aish dan Dira langsung kompak melihat ke arah mata Gisel memandang.
Benar, itu memang habib Khalid dengan kantong plastik putih di tangan kanannya. Langkahnya sangat ringan dan santai.
"Dia mau kemana, yah?" Tanya Dira sambil melihat kemana arah pergerakannya.
Begitu dia melihat habib Khalid tiba-tiba turun ke sawah, matanya langsung membola kaget.
"Jangan bilang habib Thalib mau ke sini?!" Kaget Dira reflek memegang tangan Aish.
Tangan Aish sangat dingin dan juga berkeringat. Dia sangat gugup dengan perasaan membuncah. Ada harapan di dalam mata aprikot nya yang indah.
"Eh, beneran dia mau ke sini!" Gisel juga ikutan gugup melihat habib Khalid perlahan semakin dekat dengan mereka.
Aish langsung menjadi panas dingin. Dia tidak tahu harus melakukan apa dan pada saat yang sama dirinya sangat ingin bersembunyi. Hem, sangat rumit. Dia ingin bersembunyi di suatu tempat tapi juga pada waktu yang sama tidak mau bersedih. Dia ingin lebih dekat lagi dengan habib Khalid.
"Kak Khalid..." Gumam Aish gugup.
__ADS_1
...****...
Jangan lupa mampir ke buku baru, yah. Judulnya Mahram Untuk Azira, insya Allah, menarik kok🌺