Mengejar Cinta Sang Habib

Mengejar Cinta Sang Habib
Bab 31.2


__ADS_3

"Ini adalah cincin yang khusus aku buat untuk pernikahan kita 5 tahun yang lalu. Namun sayang sekali saat itu kamu sedang sakit dan cincinnya kebesaran untuk kamu, jadi dengan menyesal aku menyimpan cincin ini di sisiku tapi tidak membuangnya. Pada saat itu aku berpikir bahwa suatu hari nanti aku akan memberikan cincin ini kepadamu. Dan qadarullah, hari itu pun datang namun sayang sekali lagi, cincin ini terlalu kecil untuk jari mu."


Cincin ini memang kekecilan untukku saat mas Khalid memberikannya kepadaku hari itu. Meskipun aku agak menyesal karena tidak bisa memakainya di waktu yang tepat, namun rasanya cukup lucu karena cincin ini tidak bisa ku gunakan sekarang. Aku tahu betapa berharganya cincin ini bagi diriku dan mas Khalid, tetapi setelah mendengar nada berbicara suamiku aku merasa bahwa cincin ini sangat berharga, jauh lebih berharga dari yang pernah kubayangkan.


"Cincin ini sangat berarti untukku, istriku. Selain melambangkan perasaanku yang dalam untuk dirimu, tapi cincin ini juga menjadi saksi bisu berdirinya perusahaan perhiasan ku di Timur Tengah. Apakah kamu melihat logo perusahaanku di cincin tersebut?"


Aku melihat cincin di leherku dan mencari logo perusahaan mas Khalid. KR, ini adalah logo yang aku lihat di liontin kalung ini dan logo yang diceritakan oleh kedua sahabatku memiliki pengaruh yang cukup besar di dalam negeri sekarang. Dira dan Gisel berkata bahwa setiap perhiasan yang dikeluarkan oleh perusahaan ini selalu diincar oleh banyak wanita. Karena selain gayanya yang trendi tapi juga setiap perihasan memiliki batas pengeluaran atau limited edition sehingga para wanita tidak takut bila model perhiasan yang mereka beli juga dimiliki oleh wanita lain.


KR, aku juga melihat coretan dengan berbagai macam font di sebuah kertas di dalam ruang pribadi mas Khalid yang ada di pondok pesantren. Pernah curiga kalau KR memiliki hubungan dengan mas Khalid, namun sempat kulupakan karena terlalu fokus ujian dan mas Khalid pun tak pernah mengatakan apa-apa tentang perusahaan ini, sehingga seiring waktu aku mulai melupakannya. Akan tetapi mas Khalid hari ini tiba-tiba mengungkitnya dan aku kembali diliputi oleh penasaran melihat logo ini.


"KR, sebelumnya aku pernah melihat kertas coret-coretan logo ini di ruang kerja pribadi mas Khalid yang ada di pondok pesantren. Awalnya aku ingin bertanya, karena aku pernah mendengar tentang logo perhiasan ini dari kedua sahabatku. Tapi setelah dipikir-pikir ini adalah masalah pribadi mas Khalid, jadi aku memendam rasa penasaranku dan tanpa sadar melupakannya. Jika mas Khalid tidak membahas masalah logo ini maka mungkin aku akan terus melupakannya, mas." Ujarku kepadanya.


"Maaf, aku juga ingin menceritakan masalah ini kepadamu tapi waktunya tidak tepat. Saat itu situasi kita tidak mendukung dan cukup rumit sehingga aku memutuskan untuk membicarakan masalah ini setelah kita tinggal bersama. KR, aku tidak ingin menyembunyikan masalah ini kepadamu. KR adalah perusahaan perhiasan yang aku bangun sendiri di bawah bimbingan pamanku. Ketika mendaftar perusahaan, aku berdiskusi dengan paman dan memutuskan untuk memberi nama perusahaanku KR, KHALID RUMAISHA. Ini adalah singkatan nama kita berdua. Ku sematkan nama kita berdua agar semua orang tahu bahwa kamu adalah milikku dan aku adalah milikmu. Dan awal berdirinya perusahaan ini ditandai dengan cincin yang kini ada di leher kamu. Ini adalah cincin yang aku buat sendiri dan aku desain sendiri khusus untuk kamu. Sayang sekali, kamu tak dapat menggunakannya waktu itu. Aku sangat menyesalinya." Penjelasan mas Khalid lagi-lagi membuatku tercengang.


Pernah berharap bahwa perusahaan ini ada sangkut pautnya dengan diriku bila itu memang milik mas Khalid. Tapi tak disangka bahwa perusahaan itu memang miliknya, tapi yang lebih mengejutkan bahwa nama perusahaan itu diambil dari namaku dan nama mas Khalid. Aku sangat senang ya Allah, aku tak bisa menggambarkan betapa senangnya aku mendengar pengakuan mas Khalid. Karena terlalu bahagia aku langsung memeluk mas Khalid seerat mungkin.


"Masya Allah, mas. Aku nggak tahu kalau cincin ini begitu beratnya untuk mas Khalid. Aku kira karena cincin ini diberikan kepadaku untuk menandai pernikahan kita 5 tahun yang lalu mas Khalid menganggap bahwa cincin ini sangat penting. Namun yang tak kusangka ternyata cincin ini memiliki nilai yang lebih dari itu. Lalu apa yang harus aku katakan sekarang kepadamu, mas? Haru, sakit, sedih, bahagia dan rindu, aku merasakan perasaan ini di dalam diriku sekarang. Namun aku tidak tahu apa yang harus aku katakan dan ungkapkan kepadamu, sebab rasa ini bercampur aduk di dalam hati. Jauh sebelum aku bertemu langsung dengan mas Khalid, jujur saja aku nggak pernah membayangkan kalau ada laki-laki yang akan menempatkan diriku di dalam hatinya begitu tulus dan dalam. Aku nggak mikir sejauh itu, apalagi membayangkan bahwa ada seorang laki-laki yang akan memperlakukanku begitu lembut dan perhatian, seolah-olah aku adalah harta yang paling berharga di dunia ini. Aku nggak pernah ngebayangin itu semua terjadi kepadaku. Dan harus aku akui bahwa sebelum aku bertemu sama mas Khalid, aku memang memiliki kekasih. Laki-laki itu mengejar ku sejak kami kelas 10. Hatiku memang tidak merasakan rasa suka kepadanya tapi melihat perjuangannya, tiba-tiba aku berpikir bahwa kenapa tidak mencoba, mungkin saja dari laki-laki itu aku mendapatkan kenyamanan. Namun sekian lama bersama kenyamanan tidak kudapatkan, tapi malah sebuah penghianatan yang kudapatkan darinya. Anehnya saat aku tahu bahwa diriku dikhianati olehnya, aku hanya kesal atau marah tapi selebihnya tidak ada perasaan apapun. Malah aku merasa cukup lega terlepas dari laki-laki, asalkan beban berat di hatiku akhirnya dilepaskan. Tapi yang aneh adalah ketika aku pertama kali melihat kamu, mas. Saat itu aku tidak tahu siapa nama mas Khalid dan dari mana mas Khalid, aku tidak tahu tapi yang pasti saat pertama kali melihat, hatiku merasa getaran yang aneh. Itu adalah getaran pertama yang aku rasakan di hatiku saat bertemu dengan seorang laki-laki. Sejenak muncul sedikit harapan, tapi semuanya langsung meredup ketika aku melihat ada wanita lain di sampingmu saat itu. Namun qodarullah, ada aja situasi yang mempertemukan kita berdua. Kemudian aku tahu mas Khalid masih lajang dan memberanikan diri mengambil inisiatif untuk dekat sama mas Khalid. Tapi sayang seribu sayang, mas Khalid tiba-tiba menghilang dan atas izin Allah, kita bertemu lagi di pondok pesantren." Saat bercerita aku tidak berani menatap wajah mas Khalid.


Aku sangat pemalu. Sangat bodoh bukan, di depan mas Khalid aku merasa sangat malu berbanding terbalik ketika aku bersama dengan orang lain. Rasanya biasa saja.


"Terus setelah itu gimana perasaan kamu waktu ketemu sama aku di pondok pesantren lagi?" Nada suara mas Khalid terdengar agak bersemangat, apakah ini cuma perasaanku saja?


"Rasanya campur aduk banget, mas. Karena kesalahan yang aku lakukan kepada Aira membuatku dikirim ke pondok pesantren, salah satu tempat yang tidak pernah terbesit di dalam pikiranku untuk didatangi. Aku sakit hati karena semua orang mengirim ku ke pondok pesantren di malam juga, mengusirku tanpa kesempatan untuk mengeluarkan pembelaan atau pendapat. Karena aku merasa diusir, hatiku sangat tidak senang ketika tinggal di pondok pesantren. Aku berpikir bahwa tempat ini tidak ada bedanya dengan penjara. Dan pikiranku bertambah rumit ketika bertemu dengan Dira dan Gisel. Mereka adalah orang-orang yang bermasalah denganku pada saat itu. Karena ini tekadku untuk kabur dari pondok pesantren semakin kuat, sampai akhirnya aku bertemu dengan mas Khalid di pondok pesantren pikiran ini menjadi goyah. Perasaan yang sempat ku tekan hidup kembali mengembangkan sebuah harapan. Lalu berbagai macam insiden yang kita lalui hingga akhirnya berada di titik ini. Tapi salah satu kesan yang paling membuat aku dongkol sama mas Khalid tuh waktu aku sama mereka dihukum turun ke sawah berlumpur dan habis itu karena nggak bisa nyelesain hukuman mas Khalid hukum kami membersihkan kamar mandi asrama putri. Bayangin nggak mas, itu kamar mandi umum lho. Yang pakai nggak satu orang tapi ribuan orang. Masa iya bekas mereka kami yang bersihin. Udah begitu kamar mandi sebanyak itu dibersihin cuma 3 orang doang, ya Allah hatiku nyesek dan kesel banget sama mas Khalid! Hukuman yang mas Khalid kasih ke kami itu terlalu kejam padahal kesalahan kami bertiga nggak terlalu besar, malahan terkesan sepele." Sampai sekarang tiap mengingat hukuman yang aku kerjakan di kamar mandi waktu itu, hatiku tetap aja kesel sama mas Khalid.


Aku tuh heran ya sama mas Khalid. Kok tega gitu ngasih hukuman sekejam itu sama orang. Dan ini nih yang enggak aku mengerti. Kesalahan yang kami lakukan tidak terlalu fatal malah cukup sepele. Walaupun kami dikatakan bertengkar kami tidak merusak fasilitas pondok pesantren ataupun sampai membuat keributan sehingga satu pondok pesantren tahu kalau kamu bertiga bertengkar. Kami nggak lakuin itu, tapi kenapa mas Khalid ngasih kami hukuman seberat itu?


"Uhuk... Masalah itu... Aku bener-bener minta maaf sama kamu, sayang. Ya... Kesalahan yang kamu sama teman-teman kamu lakuin itu memang nggak berat. Enggak sama sekali. Dan hari itu untuk pertama kalinya aku melibatkan urusan pribadi ke dalam pekerjaan. Karena aku cemburu banget waktu denger kalian bertengkar gara-gara masalah Iyon, mantan pacar yang kamu ceritain tadi. Aku sudah bilang kan kalau aku tidak pernah lupa menyebut namamu di dalam sujud sujudku. Dan aku selalu berharap bahwa aku akan menjadi penghuni hati kamu, dalam artian bahwa aku adalah laki-laki pertama yang membuat kamu jatuh hati. Dan saat mendengar bahwa kamu sudah pernah memiliki pacar, serius, aku marah banget saat itu sampai nggak bisa kontrol emosi dan alhasil kamu dan teman-teman kamu mendapatkan hukuman berat. Tapi setelah hari itu aku benar-benar nyesel. Apalagi waktu tahu kamu diintimidasi oleh santriwati lain gara-gara aku, hatiku sangat tidak nyaman dan aku sungguh menyesalinya. Sayang, maafkan kecemburuan buta ku pada saat itu, yah? Aku nggak ada niatan buat nyakitin kamu. Hukuman itu malah aku tujukan untuk kamu agar kamu berhenti memikirkan laki-laki lain. Tapi kusadari bahwa jika aku tidak mengatakannya langsung kepadamu, maka kamu tidak akan tahu apa yang diinginkan oleh hatiku. Namun sekarang kebenarannya sudah terungkap. Bahwa kamu tidak pernah menyukai laki-laki lain, dan cinta pertama kamu jatuh kepada diriku. Ini adalah kabar gembira sekaligus melegakan untukku yang telah lama mendambakan kamu. Eh, ngomong-ngomong kamu tahu nggak alasan kenapa kamu dikirim ke pondok pesantren?" Mas Khalid melemparkan pertanyaan kepadaku.

__ADS_1


Alasan?


"Selain gara-gara aku ngebuat masalah untuk Aira, alasan kenapa aku harus dikirim ke pondok pesantren karena janji mas Khalid kepada Mama'kan?" Soalnya mas Khalid pernah ngomongin ini sama aku.


Dia tersenyum sembari menggelengkan kepalanya. Binar di dalam matanya yang indah membuatku terhanyut di dalam senyumnya.


"Tidak ada yang salah dari apa yang kamu katakan. Memang Mama pernah berpesan untuk mengirim kamu ke pondok pesan agar bisa belajar ilmu agama. Tapi menurutku untuk usia 17 tahun masuk ke dalam pondok pesantren, bagiku agak... lambat sebab di usia 18 tahun aku akan menikahi kamu. Jadi aku agak bingung dengan janji ini. Tapi itu adalah perjanjian dengan Mama. Khusus untuk diriku pribadi aku punya alasan egois kenapa kamu harus dikirim ke pondok pesantren. Bukan karena ingin belajar ilmu agama, karena insya Allah, atas izin Allah aku bisa membimbing kamu. Bukan juga Karena kamu telah melakukan kesalahan sehingga kamu harus mendapat pendidikan ilmu agama di pondok pesantren untuk menebus kesalahan kamu atau mencerahkan kamu, bukan itu sama sekali. Tapi," dia menahan suaranya sembari menatapku dengan senyuman yang begitu indah.


"Tapi apa, mas?" Aku geregetan menunggu kata-kata mas Khalid selanjutnya.


Bisa-bisanya mas Khalid berhenti bicara di waktu-waktu yang menegangkan. Jika dia bukan suamiku, maka kedua tanganku pasti sudah hinggap di lehernya sekarang. Ugh, suamiku kejam.


"Tapi itu karena aku ingin membuat kamu jatuh cinta kepadaku." Katanya melanjutkan.


"Hah?" Kok tiba-tiba?


"Iya, selama ini yang suka duluan sama kamu kan aku dan selain itu kita juga tidak pernah bertemu. Dengan kata lain kamu belum mengenalku walaupun aku sendiri sudah mengenal kamu. Karena ini aku memiliki kekhawatiran kalau mungkin kamu tidak menyukaiku. Jadi aku menggunakan amanah Mama untuk mendesak Kakek agar segera mengirimkan kamu ke pondok pesantren sehingga aku bisa menarik perhatian kamu dan perlahan membuat dirimu jatuh hati kepadaku."


Aku langsung tercengang mendengarnya. Bagaimana mungkin mas Khalid memiliki pikiran seperti ini pada masa itu?


"A...apa?" Aku meragukan pendengaranku sendiri.


"Itu benar, sayang. Aku sengaja mendesak Kakek mengirim kamu ke pondok pesantren dengan alasan ini adalah amanah yang dititipkan oleh Mamamu sendiri. Meskipun memang benar Mama pernah berkata bahwa kamu harus tinggal di pondok pesantren saat berusia 17 tahun, namun aku memiliki keegoisan di dalam diri sendiri untuk menarik kamu ke pondok pesantren. Jadi mulai dari hukuman, pertemuan yang tidak disengaja di jalan, sampai akhirnya kita sering mengobrol di tengah malam lewat jendela asrama kamu, semuanya terjadi karena pengaturan ku. Bisa dibilang aku selalu ingin hadir di depan mata kamu, suaraku didengar oleh telinga kamu, dan keberadaan ku mulai membayangi hati kamu, agar apa? Agar kamu jatuh hati kepadaku dan secara alami perasaanku kepadamu akan terbalaskan. Aku sungguh tidak tahu kalau pesonaku ternyata telah menarik perhatian kamu sejak pertemuan kita di kota dulu, aku lega mendengarnya."


Mas Khalid lega mendengarnya tapi aku tidak. Jelas-jelas aku yang ngejar mas Khalid, memikirkan beberapa upaya untuk menarik perhatian mas Khalid di kota ataupun di pondok pesantren. Malahan aku selalu berpikir bahwa perasaanku kepada mas Khalid itu bertepuk sebelah tangan.


"Kamu kenapa tiba-tiba bengong?"

__ADS_1


Aku menatapnya ragu,"Aku heran aja mas sama kamu. Nggak nyangka kalau kamu narik aku ke pondok pesantren dengan segala macam masalah yang kutemui di pondok pesantren itu karena kamu yang menarik perhatian aku. Padahal rumor yang beredar di pondok pesantren dulu malah mengatakan kalau aku tuh sengaja membuat masalah di pondok pesantren agar menarik perhatian mas Khalid."


Dan mas Khalid menimpali ku,"Faktanya berbeda, bukan kamu lah yang membuat masalah untuk menarik perhatianku tapi akulah yang memberikan banyak hukuman untuk menarik perhatian kamu." Katanya sambil tersenyum bangga.


Mas Khalid kok lucu sih?


"Iya, tapi mereka nggak akan pernah memiliki pikiran ini karena kesan yang mas Khalid tunjukkan kepada mereka, tidak terkecuali aku. Di mataku mas Khalid itu adalah orang yang sangat berwibawa, bijaksana, dan tak tersentuh. Makanya aku sempat pesimis dekati mas Khalid. Karena jarak diantara kita berdua bagaikan bumi dan langit. Jadi setelah mendengar apa yang mas Khalid katakan tadi, aku sulit mempercayainya." Benar-benar sulit mempercayainya. Ini adalah kejutan dan bila kedua sahabatku tahu, maka mereka akan gila. Dan jika semua santriwati di pondok pesantren tahu yang mas Khalid rencanakan kepadaku di pondok pesantren, maka mereka pasti akan kesurupan masal. Ya Allah, bila ku tahu bahwa mas Khalid sudah menyukaiku dari dulu dan telah melakukan pendekatan diam-diam kepadaku, lalu kenapa aku bersusah payah selama ini memikirkan berbagai macam cara untuk dekat dengannya?


Menghabiskan banyak waktu untuk bergalau ria dan cemburu, padahal tanpa aku perlu melakukan semua itu mas Khalid tetap menyukaiku!


Tapi setelah aku pikir-pikir lagi, mas Khalid pasti senang melihat reaksiku saat itu di pondok pesantren, jadi aku tidak terlalu kesal.


Um, bukankah menyenangkan suami bagaikan ladang pahala bagi seorang istri?


Maka, raup lah. Jangan sungkan.


"Lalu apakah kamu marah?" Tanyanya kepadaku.


Aku menggelengkan kepalaku jujur. Sedikit kesal, tapi itu bukan apa-apa.


"Enggak, mas. Selain merasa kaget selebihnya aku sangat bahagia dan senang."


Dia tersenyum lembut, tangan besarnya mulai mengusap puncak kepalaku.


"Terima kasih, terima kasih karena mengerti aku. Aku juga sangat senang, istriku. Perasaan bahagia ini tak mampu ku gambarkan dengan kata-kata. Intinya aku sangat senang Allah menjawab doa-doa yang ku lambungkan di dalam sujud sujudku. Karena akhirnya aku mendapatkan buah manis dari semua kesabaran ku untuk menunggu dan mengejar dirimu. Selain dari ini, aku tidak memiliki keserakahan lagi di hatiku."


Berkali-kali mas Khalid menekankan kepadaku bahwa di hatinya aku adalah orang yang sangat spesial dan penting, berkali-kali dia mengatakan kepadaku bahwa aku adalah keserakahan di dalam hatinya. Dan seberapa banyak dia berbicara, mengulangi kata-kata yang sama di telingaku, aku takkan pernah bosan mendengarnya. Jantungku masih berdebar untuk setiap kata-katanya, berdesir hangat untuk setiap senyuman manis di wajahnya, dan selalu dibuat melayang untuk setiap perhatian ataupun kasih sayang yang dia tujukan kepadaku, aku tidak pernah bosan.

__ADS_1


"Um, aku sangat bahagia juga, mas."


__ADS_2