
Aish langsung merinding mendengar nada suara sang habib yang semakin rendah saja. Untungnya ini dimalam hari dan tidak ada lampu, jadi ia tidak bisa melihat ekspresi habib Khalid sekarang. Jika tidak, maka Aish tidak tahu harus bersikap apa saat melihatnya.
Aish menundukkan kepalanya ke bawah, menghindari tatapan mata sang habib yang begitu jelas menyorotnya seperti lampu sorot.
"Kemari." Kata habib Khalid.
Aish bertanya ragu,"Apa?"
Habib Khalid mengulurkan tangannya ke jendela tepat di depan wajah Aish. Ia sangat ketakutan melihatnya dan langsung mundur ke belakang.
"Kak Khalid mau ngapain?" Tanya Aish gugup.
"Kemari." Desak habib Khalid tanpa niat menjawab rasa ingin tahunya.
"Tapi..." Aish ragu-ragu. Habib Khalid enggak akan melakukan sesuatu yang aneh-aneh, kan?
__ADS_1
Sejujurnya bukan apa-apa sih, dan bisa dibilang Aish sangat senang jika habib Khalid berbuat yang aneh-aneh kepadanya. Tapi dengan premis habib Khalid tidak marah!
Kalau marah kan ceritanya lain lagi!
Duh, Aish kok pasrah banget ya kalau sama habib Khalid?! Pikirannya pun bertanya-tanya.
"Jangan banyak bicara. Kemari lah." Desak habib Khalid dari seberang jendela.
Aish melirik tangan habib Khalid yang bergerak-gerak memberikan kode agar ia datang mendekat. Jantung berdebar kencang, dengan gugup ia mulai mendekatkan dirinya dengan jendela hingga meninggalkan jarak beberapa senti saja dengan tangan habib Khalid.
Belum selesai ia berbicara, tangan habib Khalid tiba-tiba bergerak memperpendek jarak hingga tidak menyisakan jarak sedikitpun. Tangan besar itu menyentuh pipi kanan Aish dan mencubitnya sekeras mungkin hingga Aish meringis kesakitan.
Habib Khalid hanya mencubitnya kurang dari tiga detik, tapi efeknya sangat luar biasa menyakitkan.
"Sakit!" Aish langsung memegang pipi kanannya yang baru saja dicubit sang habib.
__ADS_1
Rasanya sangat menyakitkan dan panas, tidak berlebihan jika Aish merasa bila pipi kanannya mulai membengkak karena faktanya, pipi kanan Aish terlihat sangat merah saat ini.
"Jadi kamu tahu rasanya sakit." Kata habib Khalid membuat Aish malu sekaligus kecewa.
Minimal habib Khalid menyesali perbuatannya lah jika tidak ada kata maaf. Tapi yang ia lihat justru habib Khalid sama sekali tidak menyesali perbuatannya tadi. Padahal pipinya sakit.
"Kak Khalid tega banget. Pipi Aish kan sakit." Kata Aish mengeluh.
Habib Khalid tersenyum miring,"Jika kamu tahu sakit, maka bekerja keraslah untuk belajar dan menghapal. Jangan diam di tempat saja di sini tanpa melakukan perubahan apapun. Jika kamu tidak bisa membuat perubahan untuk masyarakat luas, maka setidaknya buatlah perubahan untuk dirimu sendiri. Rubah dirimu menjadi gadis yang lebih baik, lebih dapat diandalkan, dan lebih mampu lagi. Jangan hanya berdiam diri tanpa melakukan gerakan apapun karena jika kamu hanya diam saja, maka bukankah kamu tidak ada bedanya dengan manusia yang sia-sia?" Walaupun kata-kata ini berisi kebaikan dan nasihat untuknya, Aish tetap merasa tidak nyaman karena apa yang habib Khalid katakan kepadanya terlalu tajam dan pedas.
Belum pernah dirinya melihat habib sekeras ini kepadanya dan sekali mendengar, hati Aish sakitnya tidak terkira. Ia malu, sungguh sangat malu. Namun lebih dari apapun, ada perasaan kecewa mendengar kata-kata tajam sang habib barusan.
"Aish...kan masih belajar. Dan kak Khalid tahu sendiri bahwa segala perubahan membutuhkan banyak proses. Aish tidak bisa langsung menghapal satu jus perhari." Kata Aish membuat pembelaan.
"Aku tahu, memangnya aku pernah menuntut mu menghapal satu jus perhari? Tidak, kan? Aku tidak menuntut mu melakukan itu tapi aku menuntut mu untuk melakukan sebuah perubahan dan jangan terlalu malas, Aish! Apa yang aku lihat sekarang adalah kamu masih enggan bergerak maju dan lebih nyaman dengan dirimu yang sekarang. Jujur saja, aku kecewa melihat hasil ini."
__ADS_1