Mengejar Cinta Sang Habib

Mengejar Cinta Sang Habib
Bab 12.5


__ADS_3

Sepanjang jalan pulang ke pondok pesantren Aish tidak henti-hentinya bertanya kepada habib Khalid tentang Mamanya dulu. Sayang sekali habib Khalid tidak memberikan banyak informasi karena dia hanya bertemu dengan Mama Aish dua atau tiga kali, itupun yang lebih banyak menghabiskan waktu berbicara adalah orang tua habib Khalid.


Aish tidak menyesalinya dan merasa sangat bersyukur karena melalui orang yang ia sukai, ia akhirnya mengenal sedikit tentang Mamanya. Bertanya kepada Ayah tidak akan menghasilkan banyak informasi sebab Ayah kurang memperhatikan Mama dan Aish juga sadar kalau tidak ada gunanya bertanya kepada seseorang yang telah menyakiti Mamanya.


"Mamaku pernah ngomong sesuatu enggak sama kak Khalid?" Tanya Aish iseng.


"Pernah." Kata habib Khalid sambil tersenyum.


Aish terkejut.


Dari kata-katanya saat itu Aish berumur dua atau tiga tahun dan habib sendiri juga masih kecil. Jadi Aish tidak terlalu yakin sang habib masih mengingat hal sedetail itu tentang masa lalu.

__ADS_1


Aish penasaran,"Tentang apa, kak?"


Masih dengan senyum yang sama, habib Khalid tidak pernah memalingkan wajahnya dari depan. Dasarnya sekarang sudah malam dan jalanan di kota ini cukup berbahaya.


"Rahasia." Jawab habib Khalid enggan memberitahu.


Aish semakin penasaran karenanya.


"Oh, ini rahasia, yah." Jika itu rahasia maka kemungkinan besar Aish tidak ada sangkut pautnya dalam pembicaraan itu.


Perjalanan di tempuh dalam waktu yang cukup lama dan panjang. Di perjalanan pulang Aish sempat turun ke jalan untuk membeli buah. Buah yang dibeli pun cukup banyak dan beraneka ragam, ia sengaja membelinya untuk teman-teman kamar. Pasalnya untuk pertama kalinya dalam hidup ini ia merasa hari kematian Mamanya tidak seburuk yang ia pikirkan. Selain itu ia ingin merayakan pertemuan pertamanya dengan orang tua sang habib. Meskipun mereka sudah tiada, Aish tetap memperlakukan mereka secara hormat sama seperti ia memperlakukan Mamanya.

__ADS_1


"Hari ini biarkan aku yang mentraktir mu. Anggap saja ini adalah kompensasi dari perjalanan kita hari ini. Terima kasih, perjalanan ke kota jadi lebih menyenangkan bersama kamu." Ucap habib Khalid tulus tanpa menoleh melihat Aish.


Aish tidak bisa melihat ekspresi habib Khalid karena dia sedang mengemudi. Sedangkan ia sendiri diam-diam meleleh mendengarkan ucapan terima kasih sang habib tadi. Ia sangat senang karena bisa menemani sang habib menemui orang tuanya. Harusnya Aish lah yang berterima kasih karena jika sang habib tidak membawanya pergi, maka hari ini ia dipastikan akan sangat putus asa di pondok pesantren karena tidak bisa mengunjungi Mamanya.


"Tidak, kak. Harusnya aku yang berterima kasih sama kak Khalid. Tanpa kak Khalid, aku mungkin tak bisa mengunjungi Mama hari ini. Em...aku juga berterima kasih atas traktiran kakak. Teman-teman kamarku pasti senang banget kalau mereka tahu yang beliin buah ini adalah kak Khalid."


Tadinya Aish mau bayar sendiri tapi habib Khalid melarang. Katanya sih ini kompensasi untuk perjalanan hari ini.


Habib Khalid melirik Aish dengan senyuman lembut di bibirnya. Membuat Aish jadi salah tingkah dan semakin malu.


Mungkin menyadari bila dirinya terlalu banyak bicara, Aish berusaha mengontrol suasana hatinya yang sedang bergelora. Ia jadi lebih banyak diam seraya sesekali mencuri pandang ke arah habib Khalid. Kesunyian ini terus ia pertahankan hingga rasa kantuk datang melanda. Aish tak kuasa menahannya dan jatuh tertidur dengan pulas.

__ADS_1


Bersambung...


Now, i'm feeling so bad


__ADS_2