
Habib melangkah pergi tanpa menjawab pertanyaan Aish terlebih dahulu. Setelah melangkah beberapa saat, Nadira tiba-tiba menyusulnya hingga mereka berjalan sejajar. Habib Khalid tidak mengindahkannya dan terus melangkah tanpa meliriknya.
"Habib...habib Thalib, terima kasih karena sudah mau mengantar kami ke kota hari ini." Bisik Nadira dengan suara yang lembut.
Wajahnya yang pemalu mengembangkan rona merah yang cantik dan indah. Melihat Nadira bagaikan terlempar ke dalam hamparan bunga mawar yang sedang mekar penuh, tampak cantik dan menawan, itulah yang orang-orang rasakan tatkala bertemu dengan wajah cantik Nadira yang sedang memerah.
"Hem." Respon sang habib singkat.
Suasananya sangat canggung namun Nadira sama sekali tidak takut karena orang yang sedang berjalan bersamanya adalah habib Khalid, pujaan hatinya selama ini.
Beberapa detik kemudian Nasifa ikut menyusul langkah mereka. Nasifa melihat adiknya tidak puas karena berjalan sejajar dengan sang habib. Mereka bukan mahram dan sepatutnya Nadira berjalan di belakang beberapa meter jauhnya dari habib Khalid.
"Nadira," Nasifa meraih lengan adiknya menarik ke belakang.
Tapi Nadira kukuh mempertahankan posisinya tanpa niat mundur sedikitpun.
"Kamu enggak boleh jalan sama habib Thalib. Ayo mundur sedikit biar orang enggak salah paham." Bisik Nasifa kepada adiknya.
Nadira melepaskan lengannya dari Nasifa sambil memiringkan tubuhnya menghadap sang kakak.
"Tidak apa-apa." Katanya malu-malu.
Nadira merasa di atas angin sejak melihat sang habib mengacuhkan Aish barusan. Dia berpikir bahwa selama ini dia terlalu banyak pikiran sampai-sampai sempat mempercayai jika habib Khalid menyukai Aish. Hah, bagaimana mungkin?
Orang seperti habib Khalid yang terlahir dari keluarga yang ketat, bagaimana mungkin dia memilih wanita biasa sebagai pendamping hidupnya?
Nadira jelas meragukan hal ini.
"Kamu, dek!" Nasifa tidak tahu harus mengatakan apa lagi melihat sikap keras kepala adiknya.
Dia lalu melihat habib Khalid ragu. Dia malu karena tiba-tiba membawa adiknya untuk ikut bersamanya. Padahal rencananya dia akan datang bersama Umi, tapi tahunya Umi tidak ikut dan malah digantikan oleh Nadira tanpa berbicara dulu dengannya. Nasifa padahal sudah menolak membawa Nadira ikut bersamanya di rumah dan menekankan berkali-kali bahwa habib Khalid pasti tidak akan mau. Tapi baik Umi dan Nadira terus saja bersikeras agar Nadira ikut. Entah apa yang Nadira katakan kepada Umi semalam karena hari ini Umi tiba-tiba mendukung Nadira dekat dengan sang habib.
__ADS_1
Nadira hanya tersenyum ringan dan mengabaikan ketidakpuasan kakaknya. Berjalan di samping habib Khalid membuat suasana hatinya sangat nyaman. Dari tadi mulutnya tidak berhenti membentuk garis senyuman.
Sementara itu habib Khalid tidak tahu apa yang mereka bisikan atau mungkin berpura-pura tidak tahu apa yang pasangan kakak-beradik itu diskusikan tadi. Sepanjang jalan mulutnya tertutup rapat tanpa niat untuk memulai pembicaraan sedangkan matanya fokus menatap jalan di depan. Sesekali bola matanya akan bergerak ke sudut, melirik seseorang di belakang yang mulai berjalan mengikutinya.
Tersenyum miring, habib Khalid langsung mempercepat langkahnya tanpa melihat keluhan Nadira di samping yang mulai kewalahan mengikutinya.
Tapi habib Khalid sama sekali tidak perduli dengan keluhannya.
Saat sampai di depan pintu depan pondok, habib Khalid menghentikan langkahnya untuk berbicara dengan satpam tua yang selalu rajin menyapanya dengan senyuman tua di wajahnya yang keriput.
"Bapak libatkan tiga orang di belakang saya?" Habib Khalid mengarahkan jari jempolnya melewati pundak untuk mengarahkan mata satpam tua itu melihat kemana.
Mata tua satpam itu menyipit. Samar, dia melihat tiga orang santriwati yang sedang berjalan ke arah sini.
Di samping, Nadira juga mengikuti kemana habib Khalid menunjuk dan melihat Aish serta kedua sahabatnya sedang berjalan ke sini. Melihat ini Nadira cemberut. Hatinya kesal melihat betapa lengket nya Aish kepada sang habib. Bukankah Aish harusnya sadar diri dan segera menjaga jarak dari habib agar tidak mencemarkan nama baik sang habib?
"Aish ini kok susah di atur, yah? Ngapain masuk pondok kalau enggak mau ikut aturan pondok." Gumam Nadira masam.
"Diam lah. Habib Thalib bisa mendengarnya."
Nadira semakin cemberut dan enggan berbicara dengan kakaknya. Berbicara dengan kakaknya tidak akan membantu apa-apa dan malah mempersulit nya.
"Saya lihat, habib. Ada apa ya, habib?" Tanyanya sopan.
"Jika mereka ingin keluar lewat sini, bapak harus menghentikan mereka apapun yang terjadi. Jangan biarkan mereka keluar dari pintu ini. Bisa ya, Pak?" Instruksi habib Khalid kepada satpam tua itu.
Larangan ini jelas membuat Nadira di atas awan. Wajah cemberutnya langsung menguap entah kemana digantikan oleh senyuman puas. Melihat sikap habib Khalid sekarang, dia pasti tidak ingin diganggu terus sama Aish. Dia mungkin merasa risih dan ingin menjaga jarak dari Aish yang terlalu lengket. Hah, lagian laki-laki manapun pasti ketakutan jika dikejar-kejar seperti ini. Tidak perduli secantik apapun mereka, selama perilaku mereka bermasalah, laki-laki pasti enggan menyukainya.
Nadira bersyukur habib Khalid tidak perlu terjerat lagi dengan Aish dan berharap secepatnya Aish harus menyadari bahwa habib Khalid tidak akan pernah membalas perasaannya. Tidak perduli seberapa keras hatinya mengejar, kenyataan pahit ini harus diterima bahwa tidak semua yang kamu inginkan dapat dimiliki.
"Bisa, habib. Memang saya selalu menutup pintu ini untuk santri dan santriwati. Saya hanya memperbolehkan staf pondok pesantren keluar masuk dari sini." Kata satpam tua itu menyanggupi.
__ADS_1
Tanpa disuruh pun satpam tua itu akan melakukannya karena ini memang sudah menjadi tugasnya.
"Terima kasih, Pak. Kalau begitu saya permisi dulu, assalamualaikum."
Setelah menyampaikan pesannya, habib Khalid melanjutkan lagi langkahnya. Dia melewati pintu depan dan berjalan ke arah parkiran dimana mobilnya diparkir tanpa menunggu reaksi dua lainnya.
Melihat habib Khalid sudah keluar, Nadira buru-buru membawa langkah kakinya menyusul dan hampir saja tersandung karena tidak hati-hati saat berjalan.
"Akh.." Kakinya yang sakit tapi matanya melirik ke arah sang habib.
Menunggu reaksi habib Khalid jika tahu dirinya hampir saja tersandung. Namun habib Khalid semakin jauh tanpa menoleh ke belakang sedikitpun.
Nadira langsung cemberut.
"Hati-hati, dek. Jangan terlalu buru-buru." Nasifa menegur Nadira agar lebih memperhatikan langkahnya lagi.
Nadira merenggut tidak puas. Tapi masih menganggukkan kepalanya mengerti. Setelah merasa lebih baik, dia kembali melanjutkan langkahnya menyusul sang habib yang sudah masuk ke dalam mobil.
Nadira bersorak senang dan tanpa meminta persetujuan kakaknya, dia langsung masuk ke dalam mobil. Duduk di kursi depan dan tepat bersebelahan dengan sang habib.
Nasifa sangat marah melihat ini. Dia tahu betul bila sang habib sangat tidak suka dekat dengan gadis manapun untuk suatu alasan yang dapat dipahami. Habib Khalid mungkin menganggap seorang wanita sebagai momok yang perlu dihindari karena wanita adalah sumber fitnah yang tidak terbantahkan di dunia ini. Tapi adiknya tidak mengerti, atau sebut saja berpura-pura tidak mengerti. Padahal mereka sama-sama belajar agama, sama-sama mendalami agama, dan sama-sama mengetahui agama. Tapi mengapa adiknya bersikap di luar batas saat menyangkut sang habib?
"Aku akan membicarakannya dengan Abah nanti." Putus Nasifa marah.
Dia lalu masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi belakang sendirian. Di dalam mobil beberapa kali mulutnya terbuka ingin mengatakan sesuatu tapi saat melihat sikap diam habib Khalid, dia langsung mengurungkan nya. Mungkin saja habib Khalid tidak masalah bila adiknya duduk di sampingnya?
Namun pertanyaannya ini segera terjawab beberapa detik kemudian. Saat mobil sang habib mencapai gerbang depan pondok pesantren, habib Khalid menghentikan mobilnya dan langsung turun. Lalu tempat duduknya langsung diisi oleh seorang laki-laki dewasa awal empat puluhan yang tidak asing lagi bagi Nasifa. Pasalnya laki-laki ini selalu mengikuti sang habib sejak masuk ke dalam pondok pesantren ini.
"Lho?" Nadira bingung melihat habib Khalid keluar dan digantikan oleh laki-laki lain.
Berdiri di luar, habib Khalid berbicara tanpa menatap ekspresi bingung mereka berdua di dalam mobil.
__ADS_1
"Aku bersedia pergi ke kota dengan implikasi mengikuti aturan dan perjanjian yang ku buat. Jika tidak, maka maaf saja, aku hanya bisa meminta Paman Man mengantar ke kota." Kata habib Khalid acuh tak acuh.