Mengejar Cinta Sang Habib

Mengejar Cinta Sang Habib
Bab 21. 14


__ADS_3

"Apa yang Aira katakan?" Ayah masuk ke ruang tamu bersama Kakek dan Nenek.


Setelah satu bulan mengalami krisis di perusahaan, keluarga akhirnya bisa bernapas dengan lega karena pendanaan mereka yang mengalami masalah akhirnya bisa diperbaiki meskipun harus meminjam sejumlah uang besar dari perusahaan lain. Gara-gara masalah itu, berat badan sama orang turun drastis. Mereka memiliki pipi yang tirus dan jauh lebih kurus dari satu bulan terakhir. Bahkan Bibi yang memiliki banyak gumpalan lemak di badannya hanya dalam waktu yang singkat memiliki badan yang ramping. Jika tidak melihat wajah yang kuyu karena terlalu memikirkan banyak hal berat, maka orang-orang pasti berpikir jika dia telah melakukan diet ketat yang ekstrem.


Menghela nafas lemah, Bunda menaruh ponselnya di atas meja.


"Aira nggak pulang ke rumah karena ada satu hal yang harus diurus di pondok pesantren. Dia bilang akan pulang setelah nilai ujian akhir keluar." Jawabnya tidak bersemangat.


Kakek menatapnya,"Lalu bagaimana dengan Aish? Apakah dia mengatakan akan segera pulang ke rumah?"


Bunda langsung bungkam. Dia tidak sempat menanyakan kabar anak tirinya itu karena terlalu fokus berbicara dengan Aira. Lagi pula putrinya telah dianiaya di pondok pesantren oleh Aish, jadi kenapa dia harus repot-repot menanyakan kabarnya?


"Tidak? Atau kamu tidak bertanya?" Kakek segera mengerti.


"Maaf, Ayah. Aku...tidak sempat menanyakannya karena waktu terbatas. Kami tidak bisa berbicara lama karena itu adalah aturan pondok." Alasan Bunda.


Posisinya di rumah ini adalah Ibu tiri untuk Aish. Maka tanpa bertanya pun semua orang jelas dengan perannya. Tidak banyak Ibu sambung yang benar-benar menyayangi anak tirinya, kalaupun ada itu hanya segelintir orang saja.


"Aku mengerti." Kata kakek dengan nada kecewa.


Suhu ruangan langsung turun. Suasana menjadi canggung karenanya. Ayah menatap Bunda dengan ekspresi tidak puas. Sama seperti Kakek, dia juga kecewa dengan sikap istrinya.


Tidak nyaman, Bunda berpikir cepat mencari topik pembicaraan untuk menghilangkan suasana canggung.


"Oh ya... Saat Aish bertengkar dengan Aira semalam, ada seorang wanita asing yang mendatanginya. Wanita itu meminta Aira mengatakan kepada kita bahwa dia datang ke sini untuk mengambil nasab yang terputus. Padahal Aira tidak mengenal wanita itu dan tidak terlalu memperhatikannya karena dia kewalahan menghadapi Aish tadi malam..." Bunda berbicara seakan-akan Aish berada di posisi yang salah. Ada beberapa kata yang sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Aira ditelepon tadi, tapi ada juga beberapa kata yang sengaja dilebih-lebihkan oleh Bunda untuk menekankan bila kehidupan Aira tidak berjalan dengan baik di pondok pesantren selama ada Aish di sana.


Fokus hampir semua orang memang sesuai dengan harapannya tapi tidak dengan Kakek. Reaksi Kakek sangat besar ketika mendengar wanita asing itu disebut. Apalagi ketika menyebut nasab yang terputus, kedua mata tua Kakek langsung membola kaget. Tangan rentannya gemetaran di atas sandaran sofa.


"Nasab yang terputus?! Akhirnya datang..." Kakek berdiri tergesa-gesa dan hampir saja jatuh jika Ayah dan Nenek tidak segera menahannya.

__ADS_1


"Ayah, ada apa?" Tanya Ayah khawatir.


Tidak hanya Ayah saja yang khawatir, tapi semua orang yang ada di ruangan ini juga khawatir. Takutnya Kakek kenapa-napa dan semakin takut lagi membayangkan bila ada masalah besar yang sedang menanti mereka di balik kata-kata wanita asing itu.


"Bawa aku pergi ke pondok pesantren..." Kata Kakek tanpa niat memberikan penjelasan apapun kepada mereka semua.


"Ke pondok pesantren? Untuk apa kita ke sana? Ayah, tenanglah. Aira pasti pulang setelah beberapa hari lagi-"


"Ini tidak ada hubungannya dengan Aira!" Potong Kakek dengan suara lantang dan mengejutkan semua orang.


Bunda langsung menutup mulutnya serapat mungkin. Dia malu karena ternyata ini tidak ada sangkut paut dengan putrinya.


"Lalu apa yang akan Ayah lakukan di sana?" Tanya Ayah selembut mungkin.


Kakek jelas saat ini tidak tenang. Mendengar kata-kata wanita asing itu telah merangsang ketakutan Kakek.


"Untuk cucuku, Aish. Dia... Tidak ada gunanya mengatakan ini kepada kalian semua karena tidak akan ada yang perduli. Sudahlah... Aku tidak ingin berbicara apa-apa lagi kepada kalian." Kakek melepaskan tangan Ayah dan Nenek yang sedang memegang lengannya.


"Ada apa dengan Aish, Ayah? Aku adalah Ayahnya, bagaimana mungkin aku tidak peduli dengan kehidupan Aish-"


"Dia memang putrimu, lantas ke mana dirimu selama ini ketika dia terpojok dan diperlakukan tidak adil di rumah ini, ke mana dirimu seorang Ayah? Apakah kamu pernah mendengar keluhannya, curahan hatinya yang tidak puas, dan yang paling penting... Pernahkah kamu merayakan hari ulang tahun Aish di rumah ini?" Kakek memotong perkataan Ayah dengan nada dingin nan tajam.


Pernahkah dia melakukan semua yang dikatakan oleh Kakek?


Ayah jarang di rumah dan sibuk di kantor, udah tidak terlalu memperhatikan urusan kehidupan Aish karena mungkin putrinya itu tidak jauh dari kata merepotkan. Merepotkan karena Aish memiliki banyak masalah di sekolah maupun di tempat lain yang sangat membuat malu keluarga. Dia tidak pernah mendengarkan kalau ke Aish saat sedang berduaan, tidak pernah mendengar curahan hatinya... Dan ulang tahunnya... Ayah lupa kapan terakhir kali merayakannya.


Untuk sejenak dia merasa ditampar dan baru menyadari bahwa dia tidak pernah hadir sebagai seorang Ayah untuk Aish.


"Aku..." Ayah menahan sakit dihatinya.

__ADS_1


"Aku akan pergi ke luar kota untuk mengurus saham kecilku. Setelah menyelesaikannya, aku akan mampir ke pondok pesantren untuk bertemu dengan Aish dan Aira. Ini bukan masalah besar, kamu dan yang lainnya tidak bisa ikut karena urusan di sini masih belum bisa ditinggalkan. Jadi selama aku keluar, tolong jangan membuat masalah lagi." Kakek tiba-tiba membuat rencana lain.


Tujuannya adalah ke pondok pesantren tapi dia tidak bisa membawa keluarganya ke sana karena ingin menyangkut perjanjiannya dengan keluarga Arumi 16 tahun yang lalu. Bila wanita yang datang memang pihak dari Mama Aish, maka dia tidak akan menyembunyikan apapun lagi dari keluarga ini. Yah... Sampai dengan saat itu, dia berharap Allah melancarkan langkahnya.


"Jadi... Ayah keluar kota karena untuk urusan kantor?" Tanya salah satu Bibi.


Kakek menganggukkan kepalanya lemah.


"Aku punya urusan dengan wanita asing itu. Aku curiga bila dia datang ke sini untuk mengambil sesuatu dariku. Jadi aku akan pergi memastikannya langsung ke kota itu."


Tapi Ayah tidak percaya. Dia yakin ini ada sangkut pautnya dengan Aish.


"Lalu kenapa Ayah menyebut nama Aish tadi?"


"Itu karena apa yang diinginkan oleh wanita itu berhubungan dengan Aish. Jadi aku datang ke sana untuk memastikannya." Ayah menjawab samar.


"Apakah ini ada hubungannya dengan saham yang Ayah alihkan kepada Aish waktu itu?" Tanya Bibi yang lain.


Mereka berharap bahwa Aish kehilangan uang itu dan sekarang doa mereka terkabul. Wanita asing itu pasti ingin datang untuk mengambil uang yang ada di tangan Aish.


Kakek tidak menjawab yang membuat semua orang merasa bahwa ini adalah jawabannya.


Hanya saja Ayah bingung, apa hubungan uang dengan nasab yang terputus?


Dia sama sekali tidak mengerti ini.


Kakek segera pergi keluar kota setelah mengamati barang-barangnya. Untuk perjalanan ini, dia khusus membawa pengacara dan asisten pribadinya. Kedua orang ini juga ikut terlibat, menjadi saksi saat dia menjabat tangan anak laki-laki pemberani itu. Dan mereka berdua tetap menjadi saksi ketika perjanjian itu diperbarui 5 tahun yang lalu. Tahun di mana cucu kesayangannya menghadapi banyak cobaan.


"Mas, sikap Ayah terlalu aneh. Menurut mas, Apa yang sebenarnya Ayah lakukan di luar kota? Dia langsung pergi tanpa mendengarkan nasihat dari kita semua. Padahal Ayah sedang tidak sehat dan tidak cocok melakukan perjalanan jauh." Bunda bertanya kepada sang suami

__ADS_1


Ayah menghela nafas sepanjang. Saat ini dia memiliki banyak pikiran di dalam kepalanya. Bertanya-tanya di dalam hati, apakah dia telah melewatkan sesuatu yang berhubungan dengan Aish?


"Entahlah... tunggu saja kabar darinya." Jawabnya tak yakin.


__ADS_2