
Malam pun datang. Paman dan bibi masih belum kembali ke rumah setelah pergi dari tadi pagi. Ketika dihubungi oleh sang Habib, mereka mengatakan malam ini tidak akan pulang ke rumah karena ada urusan. Tapi sebenarnya sang Habib maupun Aish tahu bahwa alasan kenapa mereka berdua tidak pulang ke rumah adalah untuk memberikan pasangan suami istri baru, yaitu sang Habib dan Aish kesempatan untuk berduaan. Tentunya pengantin baru ingin memiliki waktu berduaan, waktu untuk bermesraan dan memadu kasih. Tidak elit rasanya bila ada orang lain di dalam rumah dan mengganggu kemesraan mereka berdua. Dan setelah dipikir-pikir lagi, Aish mengerti alasan kenapa para asisten rumah tangga jarang muncul di hadapannya. Padahal harusnya para asisten rumah tangga bekerja giat membersihkan sudut-sudut rumah ini atau melakukan beberapa kegiatan, intinya mereka harus tetap terlihat di depan majikan. Tapi rumah ini berbeda pikiran. Dia kira para asisten rumah tangga tidak bekerja karena malas, tapi mungkin itu adalah perintah dari paman dan bibi agar mereka tidak mengganggu kenyamanan pasangan suami istri baru.
"Mereka tidak akan pulang malam ini, jadi apa yang harus kita lakukan sekarang?" Sang Habib menatap Aish dengan mata penuh makna.
Bodoh jika Aish tidak bisa melihat tatapan ambigu dari suaminya. Tapi dia memalingkan wajahnya berpura-pura tidak melihat keinginan sang suami. Karena hei, mereka baru saja selesai shalat magrib dan masih terlalu pagi untuk kegiatan panas.
"Malam ini aku ingin memasakkan sesuatu untuk mas Khalid." Kata Aish ragu-ragu.
Pasalnya Aish tidak bisa memasak. Keberaniannya datang dari pengalamannya selama di pondok pesantren. Dia sering dihukum membantu dapur umum memasak dan sering diajak pergi ke rumah Umi untuk membantu memasak pula, jadi dari kedua pengalaman ini dia telah mempelajari beberapa resep masakan sederhana untuk makanan sehari-hari.
"Oke, aku sudah tidak sabar ingin memakan masakan istriku." Sang Habib tak menyembunyikan rasa antusias dari nada suaranya.
Ini adalah masakan pertama istrinya, jadi tentu saja dia bahagia dan tidak sabar ingin mencicipinya.
"Tapi... Tapi ini pertama kali aku mau masak sendirian, jadi mungkin masakanku tidak terlalu enak.." Kata Aish ragu-ragu.
Sang Habib mengerti kekhawatiran istrinya. Aish terbiasa hidup di kota, dia memang mandiri dalam masalah keuangan tapi sangat buruk dalam hal dapur. Sang Habib tidak mempermasalahkannya. Karena segala sesuatu butuh waktu untuk mempelajarinya. Termasuk dalam hal memasak. Dia tidak menuntut bila masakan istrinya enak atau lezat, dia juga tidak menuntut kalau istrinya harus bisa memasak. Tidak, karena melihat istrinya mengambil inisiatif sendiri untuk memasak makanan untuk dia telah membuatnya sangat senang.
Dalam satu hari sang Habib tak henti-hentinya merasa bahagia. Yah, semua itu datang dari istrinya sendiri. Sumber kebahagiaannya.
"Tidak apa-apa, istriku. Semuanya butuh proses. Aku nggak menuntut masakan kamu harus enak, kalaupun enak alhamdulillah. Tapi kalau nggak, ya nggak papa. Lagian kan kamu juga lagi belajar. Tapi meskipun begitu aku ingin menuntut satu hal kepada kamu. Dalam hal makanan, kuharap tugas memasak di rumah ini diambil alih oleh kamu khusus untukku. Mau pagi, siang, bahkan malam, aku harus makan yang kamu masak. Nggak apa-apa kalau nggak enak, insya Allah seiring waktu masakan kamu pasti enak juga. Yang penting jangan berhenti belajar karena segala sesuatu membutuhkan kerja keras untuk meraihnya. Apakah kamu keberatan dengan permintaanku?" Tanya sang Habib dengan nada yang begitu lembut.
Permintaan sang Habib tidak terlalu besar. Dia tidak diminta untuk membersihkan rumah, mencuci pakaian, ataupun menyapu halaman seperti yang dilakukan istri-istri di luar sana. Tidak, dia tidak dituntut seperti itu. Suaminya hanya meminta dia untuk memasak semua makanan yang akan dimakan suaminya, bagaimana mungkin dia keberatan?
Padahal memang dasarnya ini adalah pekerjaan istri, dan sudah sewajarnya Aish melakukan pekerjaan ini.
Tapi kok aneh ya rasanya, mendengar langsung permintaan ini dari suaminya membuat dia merasa dihargai dan dihormati sebagai seorang istri, sungguh, mengapa dia harus keberatan melayani suami yang telah memperlakukannya dengan baik?
Dia tidak akan ragu apalagi keberatan.
"Aku tidak keberatan, mas. Malah aku sangat bersyukur mas Khalid mau memahami kondisi dan situasiku. Dan masalah membuat makanan, menurutku itu bukan masalah besar selama mas Khalid mau memakan apa yang aku buat." Tapi kita akan lihat saja nanti, apakah mas Khalid masih mau memakan apa yang aku buat setelah mencicipi masakan buatanku nanti. Batin Aish geli.
"Jangan khawatir, aku bukan orang yang pantang menyerah. Sekarang kamu masak, gih. Aku akan menonton kamu dari sini." Sang Habib menarik sebuah kursi di dapur dan mendudukinya.
Lalu dia memandangi Aish yang masih berdiam diri memperhatikannya. Wajah istrinya sangat merah, dia mungkin malu diliatin masak, tapi apalah daya, sang Habib memang paham dengan perasaannya tapi dia tidak mau mengerti karena dia tidak ingin jauh dari istrinya.
Oh, pengantin baru. Mereka sedang di masa manis-manisnya.
"Aku... Kalau begitu aku akan mulai memasak sekarang." Aish bergerak canggung membuka kulkas dan mengambil beberapa sayuran untuk menu malam ini.
Sayuran utama yang akan dipilih adalah kangkung, karena kangkung bisa dimasak apa aja dan paling sederhana. Setelah itu dia mengambil tahu, bahan ini akan dia goreng nanti. Dan dia sangat senang ketika melihat telur puyuh di dalam kulkas. Jumlahnya sangat banyak, pasti sang Habib memperingatkan asisten rumah tangga untuk membeli banyak telur puyuh karena itu adalah kesukaan Aish. Faktanya apa yang dipikirkan oleh Aish memang benar. Kemarin dia sudah memperingatkan pengurus rumah tangga untuk membeli telur puyuh sebanyak mungkin karena Aish sangat menyukai makanan ini.
Ada juga tempe di dalam, tapi Aish tidak mau memasak tempe malam ini karena sudah ada tahu.
"Masak ini dulu kali, ya?" Dia akan menutup pintu kulkas, tapi tiba-tiba berhenti ketika melihat sayuran penyelamat,"Jagung!"
Dia mengambil dua dan langsung menutup pintu kulkas.
Awalnya dia malu-malu dilihat memasak oleh sang Habib, tapi lama-lama dia mulai tenggelam dalam masakannya dan perlahan melupakan keberadaan sang Habib di dalam dapur. Tanpa menunggu banyak waktu, masakannya akhirnya selesai.
Malam ini dia membuat 4 menu masakan. Tumis kangkung dan telur puyuh, tahu goreng, perkedel jagung, dan sup bening.
Dengan cekatan dua menyajikan semua makanan di atas meja. Lalu dia mengambil piring suaminya, menyajikan semua makanan dengan semangkuk sup bening untuk dimakan suaminya.
"Kalau mas nggak suka rasanya, jangan dihabisin. Kita bisa pesan makanan take away di luar." Kata Aish hati-hati.
__ADS_1
Menurutnya makanan malam ini cukup enak, masih bisa dimakan manusia. Jadi seharusnya sang Habib tidak akan keberatan memakan semua makanan ini, iyakan?
"Bagaimana, mas?" Aish bertanya gugup.
Menelan makanannya,"Enak, rasanya mirip dengan masakan yang dibuat di dapur umum. Malam ini kamu sukses. Padahal kalau kamu gagal, aku punya hukuman buat kamu. Sayang sekali kamu nggak gagal."
Awalnya Aish sangat senang dipuji, tapi setelah mendengar kalimat terakhir suaminya, dia langsung memalingkan wajahnya berpura-pura menatap piring dan fokus makan. Nyatanya jantung dia saat ini sedang berdebar kencang. Dirinya salah tingkah dan kepalanya mulai berputar memikirkan hal yang tidak tidak. Astaga, setelah merasakan kekejaman suaminya semalam, otaknya tiba-tiba tidak bisa berpikir dengan jernih dan selalu merasa kalau suaminya memiliki niat tertentu- ah, Aish memejamkan matanya berusaha mengusir semua pikiran gila itu dari dalam kepalanya. Dia tidak sanggup memikirkan semua itu.
Selepas makan malam, isya pun datang. Sang habib buru-buru mengambil alih tugas mencuci piring sedangkan istrinya bertugas mengelap meja. Setelah selesai mereka naik kembali ke atas kamar untuk melaksanakan shalat isya bersama.
Sehabis shalat isya, mereka bersantai di balkon. Duduk bersama ditemani beberapa piring makanan ringan di meja.
Saat sedang mengobrol, sang Habib memperhatikan bila istrinya seringkali menggosok kakinya. Aish memang tidak mengeluh, tapi tindakannya yang berulang kali menggosok tempat yang sama telah menarik perhatian sang Habib.
"Kamu tunggu di sini dulu."
"Mau ke mana, mas?" Tanya Aish.
Sang Habib tidak menjawab. Dia masuk ke dalam kamar untuk mengambil sesuatu. Sementara Aish di balkon duduk dengan patuh menunggu suaminya kembali. Dia tidak tahu apa yang sedang dilakukan suaminya. Mungkin suaminya ingin ke kamar mandi.
Beberapa menit kemudian, sang Habib kembali dengan sebuah wadah di tangan. Di bawah tatapan kebingungan Aish, sang Habib menurunkan wadah itu ke lantai, di dalam ada air. Dia bertanya-tanya, apakah sang Habib ingin menyiram tanaman di balkon?
Tapi pertanyaan ini segera terjawab ketika sang Habib membuka kaos kaki Aish dan memasukkan kaki Aish ke dalam wadah berisi air itu.
Ternyata isinya air hangat.
"Mas?" Aish malu bercampur bingung.
"Nyaman sekarang?" Tanya sang Habib perhatian sembari memijat telapak kaki Aish.
"Um, nyaman." Aish tersenyum,"Terima kasih, mas."
Ternyata suaminya menyadari kalau dia sedikit tidak nyaman dengan kakinya. Kakinya pegal-pegal sejak pernikahan kemarin. Dia dan suaminya berdiri berjam-jaman untuk bersalaman dengan para tamu. Masalahnya gaun pengantin yang dia kenakan cukup berat dan harus berdiri lama menghabiskan waktu seharian jadi mau enggak mau kakinya pasti kena imbasnya.
"Lain kali kalau kamu merasa nggak nyaman, ngomong aja sama aku. Jangan dipendam atau di tahan, aku enggak suka." Keluh sang Habib dengan wajah cemberut.
Aish merasa bersalah.
"Sebenarnya kaki aku cuma-cuma pegal biasa aja, mas. Jadi nggak perlu dibesar-besarkan."
Sang Habib tidak setuju,"Itu menurut kamu, Aish. Menurut aku masalah ini perlu dibesar-besarkan. Karena kamu adalah tanggung jawabku sekarang. Apapun yang kamu lakukan, apapun yang kamu dapatkan, apapun yang kamu inginkan, semuanya adalah tanggung jawabmu sebagai suamimu sekaligus pemimpin untuk kamu. Jadi kalau ada apa-apa nanti, biasakan untuk ngomong dulu sama aku. Kita bicarakan semuanya baik-baik." Ujar sang Habib mendidik istrinya.
Mungkin karena usia Aish masih muda dan pengalaman hidupnya yang agak rumit mungkin membuatnya menumbuhkan sikap mandiri hingga lupa bahwa dia telah menjadi istri. Di mana dalam sebuah rumah tangga bahwa semuanya membutuhkan kerjasama satu sama lain.
"Iya mas, aku janji setelah ini akan ngomong dulu sama kamu." Dan Aish menyadari kalau dia telah membuat suaminya kesal.
Sambil memijat kaki istrinya, sang Habib tiba-tiba teringat dengan rencananya kemarin.
"Sayang, aku berencana pergi umroh untuk bulan madu kita. Kita akan umroh selama 2 minggu, mengunjungi banyak tempat-tempat suci dan bersejarah untuk umat Islam. Aku juga ingin mengajak kamu melihat tempat-tempat yang pernah didatangi oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersama para sahabatnya. Tempat-tempat itu memiliki nilai yang sangat berarti bagi kita para umat Islam, apalagi kita berdua memiliki garis keturunan dari sana. Maka alangkah baiknya kita datang ke sana untuk berziarah. Pulang dari umroh rencananya aku juga ingin membawa kamu ke Qatar untuk melihat perusahaan kita dan tempat tinggal ku di sana. Setelah kita resmi menikah, otomatis segala yang aku miliki juga dimiliki kamu. Oleh karena itu aku ingin membawa kamu ke sana untuk melihat perkembangan bisnis kita di sana. Untuk sekarang aku hanya punya dua rencana ini dan bagaimana menurut kamu, apakah kamu punya rencana kita mengunjungi tempat lain?"
Untuk bulan madu ini Habib Khalid cukup simple dan bersedia meluangkan banyak waktu untuk membuat istrinya bahagia. Lagi pula dia tidak terlalu ambil pusing soal masalah bisnis karena dia bisa bekerja di mana pun dirinya berada. Kecuali untuk proyek-proyek tertentu yang membutuhkan kehadirannya, sisanya tidak terlalu serius.
Memikirkan bulan madu Aish langsung teringat cerita-cerita orang di sosial media. Dia sangat cemburu melihat mereka, para pasangan muda atau pengantin baru yang berbulan madu ke berbagai macam negara. Sampai suatu hari dia berpikir bahwa jika dia tidak bertemu dengan orang yang disukai atau tidak kunjung menikah, maka dia bisa pergi ke negara-negara yang dia inginkan. Sekali-kali untuk refreshing. Jadi dia lebih rajin menabung untuk persiapan.
"Emang mas Khalid nggak sibuk kalau kita mengunjungi beberapa negara lagi?" Dia berusaha menahan nada cerobohnya.
__ADS_1
Pasalnya dia sangat antusias dan sudah memikirkan beberapa negara yang ingin dikunjungi.
"Kalau berbicara sibuk pasti sibuk, tapi pekerjaanku bisa dilakukan di mana saja. Nggak perlu hadir di perusahaan." Toh yang punya perusahaan juga dia. Tapi kalimat terakhir ini hanya bisa dikatakan di dalam hati.
"Kalau mas Khalid tidak keberatan, boleh nggak kita mampir ke Turki sebentar?"
Sang Habib tersenyum geli,"Boleh, kamu mau ke Kapadokia?"
Biasanya orang Indonesia atau khususnya orang yang ingin berbulan madu datang ke Turki ingin mengunjungi tempat ini. Tempat ini romantis dan cocok untuk pasangan yang sedang memadu kasih.
"Enggak, mas. Aku nggak mau ke sana. Aku cuma mau jalan-jalan di sekitar Istanbul Turki, mengunjungi beberapa tempat sejarah dan makan makanan khas Turki. Yang paling penting itu aku mau makan dessert Turki. Mas tahu sendiri kan kalau makanan manis Turki itu terkenal banget. Di Indonesia memang banyak dijual, tapi rasanya nggak otentik. Aku kurang puas kalau makan yang dijual di mall. Boleh nggak mas?" Sang Habib tercengang dibuatnya.
Dilihat dari nada bicara istrinya, sang Habib menduga kalau tujuan asli istrinya pergi ke Turki karena makanan manis. Lihat saja ekspresinya, hati sang Habib geli melihatnya.
Mengapa istrinya manis sekali?
"Tentu saja boleh, sayang. Kalau perlu kita beli sebanyak mungkin biar kamu bisa makan di Indonesia?"
"Yey, makasih mas Khalid!"
Aish langsung senang mendengarnya. Dia mengecup pipi sang Habib karena terlalu bahagia. Soalnya salah satu mimpinya terwujud. Dia memang tergila-gila dengan dessert Turki, seringkali bermimpi datang ke tempatnya langsung untuk mencicipi setiap makanan manis yang menggugah selera.
"Habis ke Turki, boleh nggak mas kita mampir juga ke China?"
Sang Habib menatap istrinya tak berdaya. Baru saja pipinya dicium, dan istri sudah berganti topik. Padahal sang habib masih menginginkan lebih dan beraninya Aish mengabaikan dirinya. Tapi tidak apa-apa, dia bisa melampiaskan ketidakpuasannya nanti. Pada saat itu, dia tidak akan pernah memaafkan istrinya dan tidak akan mendengar permohonannya!
"Kamu mau wisata kuliner lagi?"
Aish langsung menggelengkan kepalanya membantah.
"Aku nggak terlalu tertarik sama makanan China. Kenapa aku ingin ke China itu karena wisata alamnya. Mas Khalid tahu kan kalau alam di China itu persis seperti lukisan, indah dan menenangkan. Tempat-tempat di China cocok banget buat refreshing, makanya aku mau ke sana. Boleh nggak mas?"
Bukan rahasia lagi kalau wisata alam di China digemari oleh banyak turis dari berbagai mancanegara. Bagaimana tidak, setiap tempat dijaga dengan baik dan memiliki daya tarik yang sangat luar biasa. Seolah-olah pegunungan atau bukit-bukit di sekitarnya keluar dari dalam lukisan. Aish sudah lama mengidamkan negara ini untuk dikunjungi. Um, siapa yang bisa menolak daya tarik sebesar ini?
"Tentu saja boleh, sayang. Kemanapun kamu mau pergi, aku tidak masalah. Aku bersedia mengikuti kamu. Selama kamu ada di samping aku dan tidak pernah lepas dari mataku, maka kamu bisa pergi ke mana saja. Sekarang setelah kedua negara ini, kamu mau ke mana lagi?"
Aish berpikir lama, tapi masih belum juga menemukan tempat yang menarik untuknya.
"Aku nggak tahu mas, mungkin cukup ini saja dulu. Kita kan akan mengunjungi 4 negara, jadi kurasa tidak perlu berpergian lagi." Baru saja Aish selesai berbicara, sang Habib langsung mengangkatnya ala pengantin.
"Bagus, sekarang sudah saatnya kita ibadah."
Aish panik.
"Tapi...tapi ini masih pagi?"
Sang Habib tersenyum lebar,"Sebentar lagi jam 10 malam, mana bisa disebut pagi. Ayo, Rasulullah saja tidur sebelum jam 10 malam, kita sebagai umatnya harus mengikuti teladan Rasulullah."
Aish langsung menoleh ke arah jam dinding di kamar mereka. Benar, sebentar lagi jam 10. Aish tidak menyangka kalau pembicaraan singkat mereka sudah menghabiskan hampir dua jam!
"Ah... terserah mas Khalid."
Aish tahu bahwa dia sudah berakhir. Tapi dia bertanya-tanya apa yang telah dia lakukan sehingga membuat suaminya sangat agresif?
Apakah karena permintaannya terlalu banyak?
__ADS_1