Mengejar Cinta Sang Habib

Mengejar Cinta Sang Habib
Bab 20.8


__ADS_3

Suasana hati Aish kian memburuk setelah berbicara singkat dengan habib Khalid dan wanita yang tidak diketahui namanya itu. Meskipun Dimas mengangkat banyak topik pembicaraan, dia hanya merespon seadanya. Lebih dari itu, Gisel dan Dira yang dominan menanggapi semua yang Dimas katakan. Aish juga tidak senang dengan suasana hatinya yang labil. Sedih, kecewa dan cemburu, hati ini dipenuhi oleh perasaan kacau. Dan dia sangat menyadari bahwa peran habib Khalid di dalam hati sungguh besar. Mungkin sulit menghindari pengaruh habib Khalid di pondok pesantren. Setiap waktu, setiap senggang dan setiap sepi bayangan habib Khalid akan langsung memenuhi kepala. Percuma saja menghindarinya di pondok pesantren bila dia bermaksud melarikan diri, itu tidak mempan.


Jika dia benar-benar ingin lepas dari habib Khalid, satu-satunya cara adalah pergi dari pondok pesantren dan menjauh keluar kota. Bisa dibayangkan betapa sulitnya itu, tapi solusi ini jauh lebih baik daripada tinggal di tempat yang sama dengan habib Khalid. Setidaknya meskipun sulit di luar kota, Aish dapat menemukan banyak pelampiasan yang bisa mengalihkan semua perhatian hatinya dari sang habib.


Dan tidak menutup kemungkinan bahwa dia akan bertemu dengan sosok laki-laki yang mampu mengusir sang habib dari hati. Tapi... Apakah akan semudah itu menemukan orang yang lebih baik dari sang habib?


"Aish, jangan diam terus. Ayo makan makanan kamu." Dira menyenggol pundak sahabatnya.


Mereka bertiga sedang duduk di meja kantin paling belakang dan tentunya yang paling sepi dari semua meja-meja yang lain. Banyak santriwati yang pulang ke rumah dan mengosongkan banyak meja kursi. Jadi mereka bisa puas memilih tempat untuk makan. Karena santriwati dan santri tidak sebanyak hari biasanya, pihak dapur umum tidak menyajikan makanan mereka. Melainkan merekalah yang pergi mengambil makanan ke dapur. Mengambil makanan sesuka hati asal bisa dihabiskan dan tidak membuang makanan. Ini tidak lain adalah kenikmatan yang ditunggu-tunggu pada santri dan santriwati. Hanya saja kelompok Aish tidak terlalu bergembira karena mereka terkekang oleh banyak masalah.


Yang satu terlibat masalah keluarga, yang lain terjebak kekhawatiran setelah melihat kenalan yang berpotensi menyebarkan aibnya di pondok pesantren, dan yang lainnya lagi terjebak dalam putus cinta. Mereka bertiga benar-benar kacau.


"Aku nggak nafsu makan. Kalian makan aja punyaku." Jawab Aish tidak bersemangat sambil menggeser piringnya ke depan Dira.


Dira juga tidak bersemangat. Dia tidak berniat menambah makanan apalagi memakan piring Aish.


"Aku kenyang banget. Kamu habisin sendiri makanan kamu."

__ADS_1


Aish tidak mengatakan apa-apa. Tangannya lalu bergerak menggeser piring itu ke depan Gisel tapi segera dikembalikan oleh Gisel.


"Aku juga udah kenyang Aish." Dia menolak.


"Makan aja. Aku lagi puasa." Kata Aish ngasal.


"Ngawur kamu ngomong. Mana ada orang puasa malam-malam. Udah, habisin aja. Lagian porsi makanan kamu paling kecil di antara kita." Dira memaksa.


Aish menundukkan kepalanya dalam suasana hati yang berat. Tersenyum tipis, perlahan mulutnya memulai memasukan sesuap demi sesuap makanan. Mengunyah tanpa ekspresi di wajah.


Lima menit kemudian dia menyelesaikan makanannya dan segera pergi setelah menaruh piring kotor wastafel.


Kabarnya dia pulang ke rumah, tapi kenapa dia masih melihat batang hidungnya di sini?


"Ekspresi kakak jangan judes gitu dong, kan kelihatan kalau kakak itu lagi patah hati." Aira berbicara dengan suara yang lembut dan manis, tentunya dengan nada yang dibuat-buat.


Mendengarnya saja membuat perut Dira mual, ingin memuntahkan semua makanan yang baru saja dia lahap. Sangat menjijikan pikirnya.

__ADS_1


"Apa urusanmu kalau aku lagi patah hati?" Aish memiringkan kepalanya bertanya sinis.


Dari raut ekspresi jutek di wajahnya, semua yang melihat tahu bahwa Aish terganggu dengan kehadiran Aira. Untungnya tidak banyak orang di sini karena rata-rata semua orang kembali ke asrama untuk beristirahat. Tapi sebenarnya Aish sama sekali tidak perduli kalau pun ada orang, karena toh dari awal dia telah menunjukkan bahwa hubungannya dengan Aira tidak terlalu baik meskipun mereka adalah keluarga.


"Tentu saja ada urusannya denganku, kak. Kak Aish ngomong apa sih? Oh ya ngomong-ngomong, sebagai seorang adik yang baik aku turut prihatin dengan masalah baru kakak. Aku juga sudah mengatakan dari awal kalau kakak tidak boleh terlalu berharap dengan habib Thalib. Sekarang lihat kan, apa yang aku khawatirkan benar-benar terjadi. Kak Aish, orang seperti kakak tidak pantas bersanding dengan habib Thalib. Dia adalah orang yang mulia, ilmunya tidak terjangkau kakak dan tentu saja kalian tidak berada di level yang sama. Orang seperti habib Thalib lebih cocok dan pantas bersanding dengan gadis yang baik, yang tinggi ilmunya, dan memiliki adab yang baik. Kriteria ini tidak cocok untuk kak Aish. Apa kakak tidak pernah menyadari kekurangan diri sendiri selama ini? Betapa buruknya kakak dari segi manapun dan ditambah lagi kakak memiliki catatan kriminalitas, Kakak hampir saja membunuhku jika guru dan teman-teman tidak cepat melarikan ku ke rumah sakit. Dengan catatan ini saja kakak harusnya malu mengharapkan orang yang lebih tinggi dari kakak. Memikirkan masalah ini, aku tiba-tiba teringat dengan pepatah dari negeri China. Bahwa saat orang yang jelek dan buruk mengharapkan orang yang lebih baik juga mulia dari dirinya bagaikan katak di dalam sumur yang ingin memakan daging angsa. Tidakkah kedengarannya ini sangat cocok?" Suaranya sangat manis dan lembut ketika berbicara namun setiap patah kata yang dia keluarkan oleh mulut manis itu mengandung pisau yang tajam, mengiris tepat di dalam hati Aish.


Dia sering memikirkan betapa tidak layaknya dia mengharapkan seseorang yang begitu mulia, namun betapa besar perasaan di hati membuat dirinya buta dan perlahan mengabaikan fakta ini. Dia buruk, dia adalah gadis yang memiliki banyak kekurangan, adabnya pun rendah, sering melawan orang tua, durhaka kepada keluarganya, dan yang paling penting adalah hatinya penuh akan kecacatan. Maka tidak wajar bila seluruh keluarganya tidak mau menerima dirinya, wajar mereka mengirimnya pergi dari rumah itu, wajar mereka tidak menyukainya dan lebih menyukai Aira sebagai permata berharga.


Dan sangat wajar bila Ayah lebih mencintai Aira daripada dirinya.


Makanya dia begitu kotor. Dan apa yang Aira katakan itu benar bahwa dia bagaikan katak di dalam sumur yang ingin memakan daging angsa, sungguh tidak tahu malu.


Harusnya dia sudah lama menyadari hal ini bahwa dunia selalu tidak berputar di sekelilingnya dan semua orang tidak harus mengerti perasaannya, tapi mengapa baru menyadarinya sekarang?


"Siapa yang menjadi katak di dalam sumur semua orang tahu betul itu. Aira, kamu ternyata jauh lebih menjijikkan dari Ibumu. Ibumu adalah pelakor, perannya sangat jelas di dalam keluarga. Tapi kamu? Ah, menyamakan kamu dengan katak saja tidak cukup karena kamu lebih cocok disamakan dengan ular. Memangnya apa yang kamu miliki? Selain dari prestasi akademik di sekolah, semua bagian dari dalam dirimu adalah kepalsuan. Memang benar apa yang orang katakan bahwa wanita yang baik akan melahirkan bibit yang baik pula dan wanita yang jahat akan melahirkan bibit yang jahat pula, sekarang aku melihatnya sendiri. Apakah kamu tidak merasa cukup bertindak parasit di dalam keluarga itu? Mengapa harus memaksakan diri datang ke sini untuk mengganggu orang yang tidak pernah mengusik mu? Oh, tidak hanya kamu saja yang memiliki pepatah dari negeri China karena aku juga memiliki pepatah dari entah berantah yang lebih populer dari milikmu. Tindakanmu yang selalu terus-menerus mengusik kehidupan Aish, bagaikan ular yang ingin menyelami danau tak beriak. Ular memang bisa berenang, tapi bukan berarti dia pandai berenang. Bagaimana jika danau tak beriak itu ternyata menyimpan gelombangnya di dasar danau? Apakah kamu yakin seekor ular bisa menaklukkannya terlepas seberapa besar fisik yang dimiliki? Kamu sama seperti ular itu. Mengganggu tapi tidak tahu apa yang diganggu, lihat dan tunggu baik-baik seberapa besar gelombang yang akan kamu temukan nanti. Pada saat itu terjadi aku harap kamu tidak menjatuhkan air mata karena tangisanmu adalah hiburan bagi kami." Tanpa menunggu Aish membalas kata-kata ejekan gadis bermuka dua itu, Dira langsung angkat bicara.


Demi sahabatnya dia bertekad menggunakan kekuasaan untuk memberi pelajaran Aira dan keluarganya. Dia akan meminta kompensasi kepada orang tuanya atas tanggung jawab yang mereka tinggalkan. Dia yang merasa sakit melihat sahabatnya diremehkan seperti ini karena itulah dia memutuskan untuk menghubungi orang tuanya nanti untuk meminta mereka melakukan sesuatu terhadap keluarga congkak itu.

__ADS_1


Tidak perduli sebesar dosa apa yang akan ditanggung nantinya, dia bersiap menanggungnya selama kehidupan sahabat nya tidak diusik lagi.


"Berani kamu menghina Bundaku!" Aira sakit hati dihina dan diremehkan oleh Dira, namun rasa sakit di hatinya jauh lebih besar ketika mendengar Bundanya diejek serta dihina. Dia tidak bisa menerimanya. Sebab Bundanya ada orang yang paling kuat dan luar biasa, tanpa Bunda, hidupnya tidak akan sebaik ini. Jadi bagaimana bisa dia diam saja melihat orang lain menginjak-injak harga diri wanita yang telah berjasa besar melahirkannya ke dunia ini?


__ADS_2