
Ayah menundukkan kepalanya, lalu dia mengambil alat pengeras suara yang sengaja di siapkan di depan, para tamu undangan langsung menegakkan punggung serta kepala mereka menatap beberapa orang yang duduk berhadapan di atas pelaminan. Ada yang menatap dengan tatapan tak rela, penasaran dan sebagian besar memasang wajah serius. Sebab ini adalah acara yang sangat sakral bagi dua insan yang akan segera memulai ibadah terlama.
"Ya Allah.." Samar, suara berat Ayah bergema dalam getaran yang tak stabil. Ayah sangat gugup.
"Astagfirullah.." Ayah memejamkan matanya sambil mengatur nafas setenang mungkin.
"Ya Allah ku serahkan mereka pada-Mu.." Kedua mata tua Ayah mulai memerah dan basah. Ayah terlihat sangat tegar di hadapan laki-laki yang akan mengambil alih tanggungjawab nya untuk melindungi Aish.
Nyatanya..dia sangat rapuh.
Kemudian tangan kanan Ayah terangkat, meraih dan menjabat dengan kuat tangan sang habib. Jauh dari dalam hatinya dia berharap sang habib dapat menjaga dan membimbing Aish ke jalan yang Allah ridhoi, tidak menyia-nyiakan atau bahkan berani menyakiti hati Aish. Dia berharap bahwa sang habib dapat menebus kesalahan yang telah dia lakukan kepada putri pertamanya itu.
"Bismillahirrahmanirrahim," Ayah telah siap.
Mata tegas Ayah yang masih basah menatap lurus nan langsung tepat di mata hitam sang habib.
"Saya nikahkan dan saya jodohkan anak kandung perempuan saya Aisha Rumaisha, dengan engkau Muhammad Thalib Al-khalid bin Muhammad Thalib Al-Walid dengan maskawin alat sholat dan emas seberat 99 gram dibayar tunai." Ijab Ayah sambil menghentak tangan habib Khalid dengan suara lantang dan sekali tarikan nafas. Suara Ayah bergema kuat di dalam gedung hingga tak melewatkan pendengaran banyak orang.
Habib Khalid yang disentak oleh Ayah segera memegang kuat tangan Ayah kemudian dengan khidmat menyuarakan sebuah janji suci nan sakral sebagai pengikatnya dengan Aish hingga seumur hidup, bahkan janji suci ini habib Khalid mohon dengan bersungguh-sungguh Allah ridhoi hingga di akhirat kelak.
"Saya terima nikah dan jodohnya Aisha Rumaisha bin Muhammad Dimas Pratama dengan mas kawin alat sholat dan emas seberat 99 gram dibayar tunai." Kabul sang habib dalam satu nafas tanpa gugup sedikitpun.
Awalnya habib Khalid merasa sangat gugup saat duduk di depan Ayah karena beliau adalah Ayah dari wanita yang dia cintai. Tetapi setelah memegang tangan tua Ayah, entah bagaimana semua rasa gugup nan gelisah di dalam hatinya segera menghilang entah kemana digantikan dengan rasa percaya diri. Dia datang ke sini sekali lagi untuk menghalalkan Aish menjadi miliknya maka sepatutnya dia berani dan percaya diri di depan Ayah juga Kakek.
"Sah?" Teriakan petugas KUA yang telah bekerja keras mengarahkan acara pernikahan menarik perhatian banyak tamu di dalam gedung.
"SAH!" Teriak mereka semua bersorak.
Teriakan nyaring mereka segera membangunkan habib Khalid dari lamunan panjangnya.
"Apa sudah sah?" Habib Khalid tak percaya.
Paman menggelengkan kepalanya di samping. Lalu dia menegurnya,"Khalid, jangan melamun. Ayo berdoa."
Habib Khalid langsung mengangkat kedua tangannya sambil menundukkan kepalanya, mengaminkan setiap doa yang dipanjatkan oleh petugas KUA di samping.
__ADS_1
Paman memperhatikan reaksi keponakannya itu, terkekeh lucu. Keponakannya jarang memiliki reaksi sebanyak ini. Lihat saja reaksinya, terkadang tersenyum konyol, terkadang pula memasang wajah linglung seolah-olah belum mempercayai apa yang telah terjadi hari ini. Melihat betapa lucu reaksi keponakannya sekarang, paman tiba-tiba teringat dengan ketegasan mata anak itu 16 tahun yang lalu
Muhammad Thalib Al Khalid. Merupakan keponakan yang lahir dari kakak laki-laki dan ipar perempuannya. 18 tahun yang lalu habib Khalid begadang semalaman dengan berbagai macam buku di atas meja kamarnya. Kala itu semua orang bingung mengapa habib Khalid begadang semalaman, padahal usianya belum mencapai 10 tahun. Setelah ditanya-tanya oleh banyak orang barulah mereka tahu bahwa habib Khalid menyiapkan nama untuk putri dari sahabat orang tuanya.
Mereka terkejut karena habib Khalid sangat serius saat itu hanya untuk sebuah nama. Kemudian 16 tahun yang lalu, tepatnya 1 tahun setelah kepergian orang tuanya, habib Khalid membuat pengakuan kepadanya. Dia bilang telah berjanji untuk menikahi seorang gadis cantik. Semua orang tidak percaya. Ini hanyalah guyonan para anak-anak yang belum mengerti kinerja dunia. Secara alami mereka mengabaikan pengakuan habib Khalid pada masa itu. Sampai akhirnya ketika sang habib mulai beranjak besar, dia memutuskan untuk mengambil alih bisnis orang tuanya di bawah bimbingan keluarga. Yang tak semua orang sangka adalah habib Khalid berhasil membangun bisnis lain dengan kekuatannya sendiri. Tepatnya 5 tahun yang lalu, habib Khalid berhasil membangun perusahaannya sendiri di Qatar. Dia sukses mendapatkan pengakuan banyak orang atas kerja kerasnya. Tidak, bagian ini masih belum mengejutkan. Karena beberapa bulan kemudian setelah perusahaan memiliki nama, habib Khalid mengajaknya ke sebuah rumah sakit swasta di pusat kota. Ini sangat membingungkan, sepanjang jalan dia bertanya siapa yang sakit tapi sang habib hanya menjawab dengan suara samar. Lalu ketika dia tahu bahwa yang sakit adalah seorang gadis cantik tak dikenal, paman dan yang lainnya kembali dibuat kebingungan sampai akhirnya sang habib mengatakan bahwa gadis ini adalah calon istri yang dia katakan beberapa tahun yang lalu. Belum sampai di sana kejutan mereka karena hari itu juga sang habib menikahi gadis yang tak sadarkan diri itu di hadapan beberapa saksi dari keluarga juga dari keluarga gadis itu.
Itu sangat gila. Mereka berpikir bahwa habib Khalid terlalu impulsif sebab banyak sekali wanita yang belum ditemui oleh sang habib. Dalam artian, mungkin saja sang habib akan berpaling ketika menemukan wanita yang lebih baik dari wanita yang tak sadarkan diri itu.
Sampai akhirnya 5 tahun berlalu sejak hari itu. Sekarang paman mengerti bahwa keponakannya sudah serius dan mampu berpikir bijak sejak masih kecil. Dan jujur saja, dia terharu dengan ketekunan habib Khalid yang mampu menjaga perasaannya sekalipun dibatasi oleh jarak hingga hari ini.
"Nak, kamu telah membuat paman dan keluarga kita bangga. Kamu adalah laki-laki yang hebat." Ucap paman sambil menepuk pundak keponakannya itu.
Habib Khalid tidak tahu seberapa dalam pikiran paman kepadanya tadi- ah, sebenarnya dia tidak terlalu memperhatikan karena fokusnya sekarang adalah menunggu kekasihnya datang!
"Mempelai wanita akhirnya turun..."
"Lihat.."
Suara riuh para tamu segera menarik perhatian habib Khalid. Dia mengangkat kelopak matanya menatap sosok wanita cantik yang perlahan menuruni anak tangga satu persatu.
Langkahnya hati-hati namun pasti. Wajahnya yang cantik nan indah menunduk malu menyembunyikan rona merah di pipi yang menarik suara-suara kekagumannya dari sebagian besar tamu laki-laki dibawah. Balutan gaun pengantin putih yang panjang dan indah menutupi bagian-bagian tubuhnya dengan rapat dari banyak pandangan, menambah penampilannya semakin memukau di bawah decak kagum para tamu.
"Iya, sangat cantik..."
Suara-suara kekaguman begitu hidup di dalam ruangan. Bila yang berbicara adalah wanita, sang habib tidak akan memiliki reaksi apa-apa. Tapi yang dominan berbicara sekarang adalah para tamu laki-laki. Sang habib sangat cemburu. Ingin sekali dia membawa Aish bersembunyi agar orang-orang ini tidak melihat keindahan istrinya.
"Hum, lain kali istriku harus menggunakan cadar kalau keluar." Gumam sang habib diliputi perasaan cemburu!
"Jangan kebanyakan ngedumel. Samperin istri kamu, gih." Desak paman tak tahan melihat wajah suram keponakannya.
Sudah mendapatkan lampu hijau, habib Khalid tidak menunda. Dengan jantung berdebar mengiringi setiap langkah, perlahan sang habib berjalan menuju tangga terakhir. Wajahnya yang tampan tidak pernah berpaling dari penampilan istri yang sangat memukau. Istrinya memang cantik, tapi bukan tipe cantik yang lembut ataupun rapuh. Sang habib merasa bila istrinya adalah kecantikan yang keluar dari dalam lukisan, indah dan pada saat yang sama sangat menawan. Sekali melihat sang habib dibuat pangling dan tidak bisa mengalihkan pandangannya.
"Assalamualaikum, wahai istriku." Panggil sang habib seraya mengulurkan tangan kanannya.
Aish tersipu malu. Wajahnya yang memerah tertunduk malu, sesekali mencuri pandang ke arah sang habib.
__ADS_1
"Ayo, jangan biarkan suamimu menunggu." Bisik Dira di sampingnya.
Orang yang menemaninya turun tiada lain dan tiada bukan adalah kedua sahabatnya terkasih.
Aish mengangguk malu,"Um." Menjawab gugup.
Mengulurkan tangan kanan untuk menyambut tangan besar nan hangat sang suami, Aish lalu menjawab salam sang suami dengan suara lembut penuh akan rasa hormat.
Mulai hari ini dia memposisikan sang suami di atas segalanya. Sebab, ridho suami adalah ridho Allah pula.
"Waalaikumussalam, suamiku." Balas Aish malu-malu.
Setelah menggapai tangan suaminya, dia lalu merendahkan kepalanya dan mengecup sayang punggung tangan sang suami.
Habib Khalid tersenyum lebar. Ketika Aish selesai mencium tangannya, sang habib lalu meraih kepala Aish sembari merendahkan kepalanya.
Cup
Sebuah benda hangat nan kenyal menyentuh kening Aish. Tubuhnya langsung berdesir hangat, merasakan titik manis jauh di dalam hati. Terhanyut, dia menutup kedua matanya. Meresapi perasaan hangat yang membuat hati bergejolak manis merasakan gelombang hangat datang bertubi-tubi menghujani jiwanya.
Setelah mengecup kening istrinya, sang habib lalu mengajak istrinya naik ke atas pelaminan untuk melengkapi prosedur selanjutnya.
Segera gedung itu kembali ramai dengan suara-suara godaan dari para tamu. Aish sampai tidak berani mengangkat kepalanya di bawah tatapan banyak pasang mata.
"Jangan gugup. Ada aku di sisimu."
Aish tersenyum geli. Suaminya meminta untuk jangan gugup, tapi dia sendiri juga sebenarnya sangat gugup. Mengapa suaminya imut sekali?
"Um. Aku bersama kak Khalid."
Setelah naik ke atas pelaminan mereka berdua bertukar cincin satu sama lain, lalu menandatangi buku nikah dan setelah itu membuat foto dokumentasi. Semuanya sangat cepat. Tanpa sadar mereka telah berada di ujung pernikahan.
"Khalid, lihat ke depan. Jangan menatap istrimu terus, dia tidak akan lari, kok." Ledek paman yang langsung disambut gelak tawa banyak orang.
Habib Khalid tersenyum malu. Salahnya tak bisa mengontrol kedua matanya sendiri untuk menatap kecantikan istrinya.
__ADS_1
"Iya, Nak. Malam masih panjang. Tahan sebentar lagi." Dan lagi-lagi di sambut oleh gelak tawa.
Habib Khalid tidak membalas. Selain malu, dia juga tidak tahu harus mengatakan apa terhadap lelucon para orang tua ini. Sungguh memalukan.