
Dia baru saja merasakannya sekarang kalau kakinya agak lelah berjalan terlalu lama. Capek dia pun duduk di kursi tunggu lorong asrama. Dira dan Gisel secara alami mengikutinya, mereka duduk di samping Aish.
"Siapa yang manggil, Aish? Bukan orang pondok, kan?" Kali ini Gisel bertanya.
Aish tersenyum kecut. Akan lebih baik jika orang yang memanggilnya adalah orang-orang pondok.
"Ayah dan Ibu tiriku. Mereka datang untuk menemuiku." Kata Aish dengan perasaan asam di hatinya.
"Ayah dan Ibu tirimu? Apa yang mereka inginkan darimu- ops, Aku nggak bermaksud mereka jahat sih tapi setahuku hubungan kamu sama mereka cukup canggung." Ucap Dira suam-suam kuku.
Perasaannya kepada orang tua Aish agak kompleks. Terutama untuk Ayah Aish sendiri. Dira bukannya nggak suka, bagaimanapun dia juga orang tua Aish, namun fakta bahwa sikap Ayah yang terlalu pilih kasih kepada Ayah membuatnya sangat geram.
"Enggak apa-apa, mereka ke sini cuma mau nanyain kabar aku aja." Katanya Aish setengah berbohong.
"Nanyain kabar sampai jam segini?" Dira kurang percaya.
Ais menutupinya dengan rapat. Dia tidak mau menceritakan semua yang dikatakan Ayah kepadanya tadi. Kedua sahabatnya pasti merasa miris melihatnya diperlakukan secara berbeda oleh Ayah. Jadi daripada melibatkan punya sahabatnya lebih baik pendam saja masalah ini.
"Iya. Dia juga nawarin uang belanja, tapi langsung aku tolak karena aku enggak kekurangan uang."
Kedua sahabatnya masih kurang percaya. Pasti ada sesuatu yang terjadi kepada Aish tadi. Lihatlah wajah sembab Aish seperti baru selesai menangis, sesuatu yang tidak mengenakkan mungkin sudah terjadi. Karena Aish tidak mau mengatakannya, mereka tidak bisa memaksa. Selain itu masalah ini melibatkan pribadi Aish sehingga mereka berdua tidak gencar bertanya lagi.
"Udah, kita masuk, yuk. Aku capek banget mau istirahat." Aish meregangkan tangan dan kakinya yang pegal-pegal.
__ADS_1
Dia serius butuh istirahat. Saat akan berdiri, Dira tiba-tiba menarik tangan Aish agar kembali duduk ke tempatnya.
"Ada apa sih, Dir-"
"Benda apa yang ada di leher kamu?" Tanya Dira bermata tajam.
"Ah?" Aish tidak tahu.
Gisel baru menyadari ada sesuatu dileher Aish. Karena menggunakan jilbab panjang, benda itu sepenuhnya terpapar di mata mereka berdua.
"Ini kalung. Cantik banget! Ini dari Ayah kamu ya, Aish?" Gisel berseru iri menatap kalung cantik di leher Aish.
"Kalung?" Aish lebih terkejut dari mereka berdua.
...*****...
"Tuan?" Laki-laki itu memanggil sopan.
Habib Khalid hanya meliriknya sebentar dan kembali membawa pandangannya memperhatikan bangunan asrama di depan. Perlahan setiap jendela yang memantulkan cahaya lampu di masing-masing kamar mulai menghilang satu persatu sebagai pertanda bahwa jam malam sudah diberlakukan dan tidak ada santriwati yang diizinkan untuk begadang ataupun melakukan aktivitas apapun.
"Pak Man," Panggilnya datar.
Wajah tampan yang biasanya selalu mengukir senyuman manis dan sopan kini berubah menjadi wajah datar tanpa emosi. Dia sangat suka tersenyum, tidak, tepatnya tersenyum adalah hal yang sangat disukai oleh Allah subhanahu wa ta'ala sehingga dia selalu menerapkannya dalam kehidupan sehari-harinya. Tapi terkadang dia juga bisa kehilangan senyum karena dia juga manusia biasa. Dia bisa kecewa, sedih, tertawa, atau bahkan menangis. Semua itu bisa saja terjadi kepadanya meskipun dia adalah seorang laki-laki.
__ADS_1
"Ada apa, tuan?" Pak Man dengan bijak mengalihkan matanya dari wajah sendu tuannya.
Ketika tuannya menunjukkan wajah datar maka itu artinya tuan sedang bersedih. Dalam hidup ini, tuan adalah orang pertama yang memiliki sikap lembut dan sopan yang pernah ditemui Pak Man. Oleh sebab itu Pak Man sangat menghormati habib Khalid.
Dia menganggapnya sebagai majikan tapi pada saat yang sama dia juga menganggapnya sebagai bagian dari keluarga. Dan melihatnya bersedih juga akan membuatnya sedih. Sesungguhnya majikannya jarang memiliki ekspresi ini di wajahnya. Dan dia mengakui bahwa sejak datang ke pondok pesantren tuannya terlihat jauh lebih bahagia, dan sesekali dia akan memiliki ekspresi ini ketika sedang sendirian. Pak Man tidak mengetahui dengan betul apa yang membuat tuannya seperti ini. Dia tidak memiliki keberanian untuk bertanya sebab di sini dia hanyalah seorang pelayan.
"Aku bukanlah orang yang pendendam dan membenci tapi bukan berarti aku tidak bisa merasakan kekecewaan. Pak Man, aku berusaha tetap bersabar bila seseorang menyakitiku, namun bukan berarti aku akan tetap bersabar melihat seseorang menyakiti milikku. Aku merasa sangat marah sekarang, ya, aku benar-benar marah." Menghala nafas panjang, wajahnya terangkat tinggi menatap hamparan langit gelap tanpa bintang di atas sana. Langit tanpa bintang seolah menunjukkan suasana hatinya malam ini.
"Malam ini minta Paman Ali menghubungiku. Ada sesuatu yang aku ingin bicarakan dengannya."
"Baik, tuan." Pak Man menjawab dengan patuh.
Setelah itu habib Khalid berbalik dan membawa langkah kakinya kembali menuju kantor di asrama laki-laki. Jaraknya yang cukup jauh dari asrama perempuan sama sekali tidak ada artinya untuk sang habib. Dia berjalan dengan ringan tapi langkahnya tanpa sadar cepat dan membuat Pak Man di belakang kewalahan.
"Harus malam ini." Tekan habib Khalid kepada Pak Man di belakang.
"Tuan, aku sudah mengirim pesan." Kata Pak Man mengklarifikasi.
Habib Khalid tidak bersuara namun langkahnya tidak melambat sedikitpun. Di jalan sesekali dia bertemu dengan orang-orang yang berpatroli malam ini, mereka menyapa dengan senyum yang sopan dan pertanyaan apakah dia akan ikut patroli?
Karena biasanya habib Khalid selalu menjadi orang pertama yang pergi berpatroli di sekitar pondok pesantren.
Habib Khalid menjawab dengan jujur bahwa malam ini dia memiliki urusan lain dan dia berencana ikut patroli besok malam saja. Meskipun menyesal tapi orang-orang juga memaklumi keputusan habib Khalid. Idola mereka ini pasti memiliki kesibukan yang jauh lebih penting daripada memimpin mereka berpatroli.
__ADS_1
"Kalau habib Thalib benar-benar bertunangan dengan Nadira, putri Abah, maka bisa dipastikan bahwa pemimpin pondok pesantren selanjutnya adalah habib Thalib." Setelah berjarak cukup jauh dari habib Khalid orang-orang yang berpatroli tadi mulai berbicara.
Mereka tidak ragu bila Abah memilih habib Khalid menjadi pendamping Nadira, karena habib Khalid sendiri adalah orang yang sangat mampu dan sangat pantas bersanding dengan Nadira. Bahkan mereka juga percaya jika keluarga Abah yang lain juga memiliki kehendak yang sama yaitu menjodohkan habib Khalid dengan Nadira.