
Gisel sampai tidak bisa berkata apa-apa. Jujur, dia sangat mengapresiasi ketebalan muka Aira. selain bermuka dua, ternyata ketebalan mukanya juga tidak tertandingi. Dia pantas lahir dari seorang pelakor. sungguh mengagumkan.
Mulut Gisel terbuka dan tertutup ingin mengatakan sesuatu untuk menghapus fantasi di kepala Aira. Tapi dia berpikir lagi. Akan lebih menyenangkan kalau Aira mendapatkan kejutan di pondok pesantren. Reaksinya pasti lucu saat tahu bahwa rencananya gagal, bukan hanya gagal tapi juga mengundang tawa dari satu pondok pesantren. Oh rumor ini tidak akan pernah padam hingga beberapa generasi, semoga saja.
Siapa tahu dengan rumor ini Aira tidak akan terlalu percaya diri atau menganggap dirinya lebih tinggi dari orang lain. Dan semoga saja setelah kejadian ini dia berubah menjadi gadis yang lebih baik dan tentunya tidak bermuka dua lagi.
"Baiklah, aku lupa bila kamu adalah korban. Silakan beristirahat dengan baik. Aku tidak akan mengganggu waktu istirahatmu." Gisel bangun dari duduk, dia bermaksud angkat kaki dari ruangan ini karena oksigen di sini tidak semurni yang ada di luar.
__ADS_1
Tapi Aira tidak membiarkan dia pergi. Tepatnya Aira ingin mendengarkan informasi dari Gisel mengenai kejadian tadi. Apa yang terjadi selanjutnya di pondok pesantren setelah dia dilarikan ke rumah sakit. Dan yang paling penting adalah di mana habib Khalid dan apa tanggapannya untuk kejadian ini.
"Tunggu Gisel, duduklah."
Gisel menyipit, dan dengan amat sangat terpaksa duduk kembali. Wajahnya tidak terlalu senang tinggal lebih lama di ruangan yang sama dengan orang yang dia benci.
Aira berpura-pura sedih,"Aku ingin bertanya kepadamu apa yang terjadi selanjutnya ketika aku dibawa ke sini. Lalu bagaimana dengan keadaan habib Thalib?"
__ADS_1
Mulut Gisel berkedut menahan cemoohan yang hampir saja terlempar dari mulutnya. Hanya dalam beberapa menit dia tidak bisa menahan diri untuk terus mengagumi akting Aira yang canggih.
"Tentu saja seperti yang kamu harapkan. Satu pondok pesantren gempar dan acara dibatalkan. Para tamu yang berdatangan terpaksa dipulangkan karena kejadian ini. Sedangkan habib Thalib dilarikan ke rumah sakit ini juga situasinya sangat buruk. Abah bilang setelah kalian pulang ke pondok pesantren, sidang akan digelar untuk mengadili kejadian ini. Jadi kamu harus mempersiapkan diri untuk sidang yang akan datang." Jawab Gisel dengan nada penuh makna.
Sayang sekali Aira tidak memperhatikan nada aneh ketika Gisel berbicara tadi. Saat ini pikirannya sedang membumbung tinggi membayangkan berbagai macam fantasi indah yang akan terjadi di waktu mendatang.
Menghela nafas tak berdaya, dia berkata dengan ekspresi sedih yang dibuat-buat.
__ADS_1
"Mau bagaimana lagi, jika aku yang ada di posisi orang-orang di pondok pesantren, aku pasti juga sangat kaget karena seorang habib bisa melakukan itu. Sebagai korban aku mengerti perasaan mereka. Jauh di dalam hati mereka mungkin tak rela melihat habib Thalib dekat dengan wanita lain apalagi sampai....yah, seperti yang kamu tahu. Tapi sebagai seorang wanita harusnya mereka juga mencoba mengerti bagaimana posisiku. Tak ada wanita mau dilecehkan apalagi sampai dinodai, begitu pula diriku yang menginginkan hubungan pernikahan yang saling mencintai. Jika aku diam saja dan melepaskan masalah ini, maka hidupku akan hancur sebab tidak ada laki-laki yang mau menikahi wanita yang telah dinodai. Kamu sendiri juga mengerti bagaimana rasanya dipandang sebelah mata karena telah kehilangan kehormatan kan, Gisel?"