Mengejar Cinta Sang Habib

Mengejar Cinta Sang Habib
Bab 10.2


__ADS_3

Aish kembali ke kamar dengan barang yang sangat banyak dan menyerahkan tugas kepada Siti untuk mengalokasikannya kepada teman-teman kamar setelah mengambil bagian yang cukup.


Aish hanya mengambil sabun cuci dan cemilan saja, lalu membaginya kepada Dira dan Gisel. Soalnya mereka bertiga tidak mandi dengan sabun yang sembarangan. Dari dulu mereka telah memiliki sabun mandi sendiri yang terbuat dari bahan-bahan herbal dan sangat bagus untuk kulit.


Saat ke sini Aish hanya membawa sebagian dari cadangannya di kamar. Aish tidak tahu siapa yang mengepak barang-barang saat dikirim ke sini, tapi yang pasti Aish memiliki kecurigaan bila sabun-sabun nya pasti telah diambil orang lain.


Mau bagaimana lagi. Harga satu biji sabun nya berkisar antara 35.000 hingga 55.000 per biji. Ini cukup mahal tapi kualitasnya sangat aman maka siapa yang tidak tergoda untuk mengambilnya.


"Nih, ambil. Kebetulan kantin baru isi barang hari ini jadi ada banyak jajan." Kata Aish kepada Gisel dan Dira.


Aish duduk di pinggir ranjang dengan lesu. Dia lalu mengeluarkan dompetnya dan mengambil satu juta. Tujuh ratus ribu dia serahkan kepada Gisel dan tiga ratus ribu dia serahkan kepada Dira.


"Buat jajan." Kata Aish lemah.

__ADS_1


Dira dan Gisel langsung saling lihat. Sedetik kemudian mereka berdua cengengesan. Uang Gisel lebih banyak tapi Dira tidak memberikan komentar apa-apa karena dia tahu Gisel tidak punya tabungan untuk diandalkan.


Dira dan Gisel tidak malu menerimanya. Mereka mengambil uang itu sambil tertawa konyol dan memegangnya dengan senang. Sampai akhirnya mereka menyadari ada sesuatu yang salah dengan sahabat mereka.


"Makasih ya, Aish." Kata Gisel bersyukur sambil memegang erat uang di tangannya.


Uang ini dulu tidak terlalu bernilai banyak, tapi sekarang Gisel sangat mementingkannya. Gisel tidak punya untuk diandalkan dan telah menyusahkan kedua sahabatnya untuk membeli apapun yang dia butuhkan.


"Bukan apa-apa. Nanti kalau kamu butuh uang tinggal bilang aja sama aku dan jangan dipendam sendiri." Kata Aish mengingatkannya.


Gisel tersenyum malu. Dia menganggukkan kepalanya berjanji akan berbicara kepada Aish jika membutuhkan sesuatu.


Dira tidak mau kalah,"Aku juga tidak kekurangan uang, Gis. Kalau kamu mau jajan, tinggal bilang aja sama aku."

__ADS_1


Gisel tersenyum sumringah, betapa hangat dan bahagia hatinya, dia tidak bisa menjelaskannya dengan kata-kata. Dia hanya merasa sangat bersyukur memiliki dua sahabat yang sangat baik dihatinya.


"Terima kasih. Aku tidak akan sopan kepada kalian berdua." Katanya cengengesan.


Dira ikut tertawa, menggelengkan kepalanya merasa reaksi Gisel agak canggung dan lucu. Dia lalu mengalihkan pandangannya ke Aish dan menyadari ada sesuatu yang salah dengan sahabatnya itu.


"Aish, kamu kenapa? Mukanya kok murung begitu?" Tanya Dira setelah menyembunyikan uang jajannya di dalam pakaian.


Aish tersenyum kecil. Dia membaringkan tubuhnya di atas kasur lemah tak bertenaga.


"Enggak apa-apa, aku cuma capek aja. Nanti ashar jangan lupa bangunin aku, yah?"


Aish ingin tidur untuk meredakan suasana hatinya yang gelisah. Mereka berdua mengiyakan dengan enggan dan membiarkan Aish masuk ke dalam tidur siangnya yang lelap. Mungkin karena sedang berhalangan, maka suasana hati Aish sedang sensitif dan sering naik turun. Yah, maklum saja. Hampir semua wanita di dunia ini memiliki gejala yang sama.

__ADS_1


__ADS_2