Mengejar Cinta Sang Habib

Mengejar Cinta Sang Habib
Bab 26.10


__ADS_3

Sampai dengan saat ini dia bertanya-tanya Apa yang membuat cintanya kepada Aish dan Aira berat sebelah?


Padahal dia adalah seorang Ayah dan baik Aish ataupun Aira sama-sama darah dagingnya. Harusnya Ayah mampu bersikap adil, namun mengapa bertahun-tahun menjadi seorang Ayah, dia tak mampu melakukannya?


Ayah malu, sungguh sangat malu hingga tak mampu membalas perkataan Kakek dan habib Alamsyah. Dia tidak memiliki wajah untuk berbicara. Hal yang paling menyakitkan di hatinya adalah dia melewati pernikahan Aish dan habib Thalib. Dia telah melewati momen yang paling sakral di dalam kehidupan putrinya.


"Kak, siapa dia?" Bisik bibi merasa suasana langsung berubah saat habib Alamsyah masuk ke dalam ruangan ini.


Bunda meneguk ludahnya kasar,"Dia adalah habib Alamsyah, seorang guru besar dan tokoh agama terkenal di negara kita."


Bibi menutup mulutnya ngeri,"Jadi Aish... kakeknya.." Bibi tak berani melanjutkan ucapannya.


"Lalu obat-obatan itu.." Bunda dengan ragu berbicara, dia tidak berani terlalu koar-koar lagi karena ada tokoh besar di sini.


Terlebih lagi sekarang dia tidak berani menatap wajah putri sambungnya. Dia tidak menyangka bahwa Aish memiliki latar belakang keluarga yang sangat besar di belakangnya.


"Aku akhirnya memiliki kesempatan untuk berbicara sekarang." Nadira sudah lama menunggu gilirannya berbicara, tapi kejutan terus-menerus berdatangan hingga dia kewalahan sendiri.


Perhatian banyak orang tertuju kepadanya.


Nadira tersenyum manis. Dia merogoh saku gamisnya dan mengeluarkan sebuah kain putih. Lalu dengan tangan cekatan dia menyingkap kain putih itu, menunjukkan sebuah botol bening mini dengan sebuah cairan seperti air yang hampir habis. Botol itu sangat familiar untuk Aira.


Melihatnya, wajah Aira langsung memucat panik bercampur gelisah.


"Ini.." Bibi merasa botol ini agak mirip dengan milik Aish yang mereka buang.

__ADS_1


"Aku melihat Aira membuang botol ini ke dalam bak sampah di dalam dapur sebelum mengikutinya masuk ke dalam kamar itu. Saat aku melihatnya diam-diam meneteskan air minum ke dalam minumannya sendiri sambil berbicara kacau, aku tahu bahwa ada sesuatu yang salah dengan dirinya. Jadi setelah dia pergi ke halaman belakang aku diam-diam mengambil botol ini dan menyembunyikannya. Kemudian aku mulai mengamati pergerakannya yang sangat aneh. Aku semakin merasa aneh ketika melihat dia dengan lihai masuk ke dalam kamar tempat habib Thalib beristirahat. Jadi tanpa membuang waktu, aku ikut masuk ke dalam dan langsung dipeluk olehnya. Dia mengira jika aku adalah habib Thalib dan menuduhku menyentuhnya. Aku sangat frustasi memikirkannya kemarin."


Yah, sekali lagi orang-orang dikejutkan- kali ini datangnya dari Nadira.


Aira menggelengkan kepalanya panik. Dia menggeliat tak nyaman ingin bangun dan melarikan diri tapi dengan bodohnya ditahan oleh bibinya sendiri. Bibi sama sekali tidak tahu niat Aira dan menganggap Aira sedang tidak nyaman.


"Tidak...itu bohong." Aira membantah dengan putus asa.


Nasifa berdiri membahu dengan adiknya,"Itu benar, kami punya rekaman CCTV."


Aira langsung jatuh lemas tak membuat perlawanan lagi. Ada CCTV, dia yakin tidak ada. Tapi mengapa tiba-tiba ada?


"Nak?" Ayah menatap putrinya dengan ekspresi tak percaya.


Aira memejamkan matanya lelah. Dia telah kehilangan tenaga untuk membela diri.


Seolah tak cukup membuat Aira hancur, Nasifa menambahkan lagi.


"Kita bisa menampilkannya di layar sekarang. lagi pula semua orang ingin melihatnya." Perkataan Nasifa langsung mendapatkan dukungan banyak orang.


"Tentang apa semua ini, Aira? apakah kamu tidak ingin membantah mereka?" Bunda telah kehilangan suara arogansinya.


Aira tetap diam tak berbicara. Diamnya adalah bukti bahwa dia mengakui kejahatannya.


Tepat saat semua orang mengira dia tidak akan berbicara, dia tiba-tiba berdiri menghadap Aish yang tengah dikelilingi oleh banyak orang.

__ADS_1


"Kenapa? kenapa dia selalu beruntung sedangkan aku tidak? padahal aku jauh lebih pintar darinya. Aku telah belajar agama lebih dulu darinya, tapi kenapa dia bisa mendapatkan semua yang kuinginkan dengan mudahnya sedangkan aku yang telah berusaha keras tidak bisa. Dia disukai banyak orang di pondok pesantren, tapi aku tidak. Dia dekat dengan guru-guru di sini, namanya sering dibawa ke kelasku oleh guru pengajar, tapi kenapa namaku tidak. Dan yang paling membuatku marah adalah, dia bisa berbicara dengan habib Thalib dan bahkan bergandengan tangan, tapi kenapa aku tidak bisa? faktanya aku jauh lebih baik daripada dia, tapi kenapa aku tidak beruntung. Hah, memangnya apa yang bisa dia lakukan? seorang anak yang dibesarkan tanpa seorang Ibu, dia sangat pengecut. Tapi kenapa...kenapa aku tidak bisa mendapatkan apa yang dia miliki? kasih sayang Kakek, uang yang bergelimpangan, teman-teman di pondok pesantren, dan perhatian habib Thalib? kenapa aku tidak bisa memilikinya? Aku-"


"Cukup! berhenti bicara!" Bentak Bunda marah.


Putri yang dia besarkan ternyata memiliki sifat ular di dalam hati. Bunda sangat kecewa.


Aira sangat sedih, dia mengangguk pahit sambil menangis sesenggukan. Penampilannya sangat kacau.


"Tolong bawa dia beristirahat dan menenangkan diri. Keputusan pondok pesantren akan segera diputuskan setelah dia cukup beristirahat." Abah melihat kondisi Aira tidak benar dan segera meminta Ayah serta Bunda membawa Aira pergi.


Ayah mengangguk lemah,"Terima kasih, Bah. Maaf atas masalah yang disebabkan oleh putriku." Setelah mengucapkan maaf, Ayah menatap Aish.


Mulutnya terbuka beberapa kali ingin menyapa, tapi lidahnya terasa kelu dan dia sangat malu. Tersenyum pahit, dia pergi membawa Aira ke ruangan lain untuk menenangkan diri.


Setelah Aira pergi, Gadis mencoba mencari celah untuk melarikan diri tapi ditahan oleh beberapa staf kedisiplinan asrama putri atas instruksi Nasifa.


"Dan satu lagi Abah. Aku dan ketua kedisiplinan asrama putri telah memeriksa rekaman CCTV di sebuah kamar. Dan kami menemukan sebuah kasus pencurian dari satu kamar. Pelaku pencurian tersebut merupakan orang yang sama dengan orang yang memberikan kesaksian palsu tadi. Maka dari itu, kami harap Abah dapat membuat keputusan yang bijaksana terhadap santriwati ini agar kejahatan yang sama tidak terulang kembali." Ucap Nasifa membuat laporan.


Lutut Gadis langsung lemas. Dia meronta-ronta menolak tuduhan Nasifa dan ingin melepaskan diri. Namun, dia tidak mampu melawan banyak orang jika sendirian.


Abah melirik Gadis dengan tatapan dalam.


"Segera, panggil kedua orang tuanya!"


Dengan begini sidang pun ditutup. Endingnya sangat mengejutkan. Banyak orang merasa bahwa sidang hari ini memiliki banyak kejutan yang tidak pernah bosan dibicarakan dari mulut ke mulut. Terutama untuk identitas Aish tersembunyi Aish yang sangat luar biasa dan pernikahan rahasia Aish bersama habib Khalid. Setelah hari ini orang-orang akan membicarakan Aish dengan rasa kekaguman.

__ADS_1


__ADS_2