Mengejar Cinta Sang Habib

Mengejar Cinta Sang Habib
Bab 30.8


__ADS_3

Habib Khalid menjemur sprei di balkon. Lalu mereka turun ke bawah bersama-sama. Di bawah paman dan bibi sudah menunggu mereka untuk sarapan bersama. Aish tidak menyadari bahwa matahari sudah bersinar lembut diluar gara-gara terlalu asik berbicara dengan suaminya dikamar.


Dan dia sangat menyesal karena tidak bisa membantu bibi memasak di dapur. Padahal bibi sudah tua, untuk usianya yang sudah lanjut usia, menurut Aish bibi tidak pantas bekerja lagi di dapur. Bibi lebih cocok bersantai bersama paman di luar, menikmati waktu tua bersama. Itu adalah hal yang sangat romantis di masa tua.


"Lain kali bibi memanggil aku saja ketika ingin melakukan sesuatu."


"Nak, jangan terlalu khawatir. Pekerjaan ini bukan apa-apa untukku. Malah aku lebih suka bergerak daripada duduk santai-santai. Badanku langsung jadi tidak nyaman jika aku bermalas-malasan di rumah. Selain itu aku mengerjakan semuanya tidak sendirian, anakku. Kita punya asisten rumah tangga di rumah ini. Dengan bantuan mereka, aku tidak akan kelelahan. Selain itu kamu adalah pengganti baru. Bibi tahu kamu pasti kelelahan, jadi bibi tidak mau memanggil kamu. Malahan bibi tadi maunya mengirim makanan ke atas untuk kalian berdua. Bibi takut kalau kamu tidak bisa turun ke lantai karena Khalid." Ucap bibi dengan senyuman penuh makna.


Setiap pengantin baru pasti memiliki hari sulit di hari pertama. Tak jarang mereka tidak bisa keluar dari kamar karena tidak nyaman bergerak. Jadi setelah sekian lama menunggu di bawah, bibi beranggapan bila Aish tidak mampu turun ke bawah karena memiliki masalah 'pengantin baru'. Makanya sempat berpikir ingin membawakan Aish makanan ke atas.


Tidak perlu disebutkan lagi, wajah Aish langsung menjadi panas. Dia menggelengkan kepalanya mau membantah. Mana mungkin dia selemah itu?


"Bibi... Jangan terlalu banyak berpikir. Lain kali aku pasti akan membantu."


Bibi tersenyum hangat. Dia melirik keponakannya yang tengah memasang ekspresi bangga di wajah, melihatnya seperti ini membuat bibi tidak berdaya sekaligus merasa geli. Keponakannya terlihat kekanak-kanakan hari ini. Padahal dia sudah tidak muda lagi dan telah memiliki istri di sisinya.


"Baiklah, ayo makan sebelum makanan keburu dingin." Paman memimpin.


Sarapan hari ini tidak berbeda dengan makanan rumah dan sangat berbeda dengan sarapan di pondok pesantren. Di sana sarapan hanya sebatas bubur. Pondok pesantren tidak pernah menyediakan roti ataupun nasi goreng. Yah untuk ribuan santri dan santriwati, memberikan roti dan nasi goreng pasti membutuhkan pengeluaran banyak uang.


"Mas Khalid mau makan apa?" Aish mengambil piring untuk suaminya.


"Terserah, samakan saja dengan dirimu." Katanya tak mau ambil pusing.


Kebetulan Aish mau makan nasi goreng, jadi dia mengambil nasi goreng untuk suaminya bersama telur ceplok dan sesendok suwir ayam. Setelah itu dia menyajikan porsi yang sama untuk dirinya sendiri.


"Mau minum?" Habib Khalid menyodorkan sebuah kelas berisi air merah agak kekuningan ke Aish.

__ADS_1


Aish menatap minuman itu. Warnanya langsung mengingatkan Aish pada warna kunyit. Sewaktu kecil dulu nenek selalu memberikan dia dan Aira air kunyit untuk diminum pagi-pagi. Katanya ini sangat bagus untuk kesehatan. Tapi Aish tidak pernah terbiasa sebanyak apapun dia meminumnya. Baunya menyengat dan rasa kunyit yang khas tak bisa disembunyikan oleh air gula atau jeruk nipis sehingga dia tidak suka minum air kunyit.


Tapi bila suaminya meminta dia untuk meminum air kunyit lagi maka dia tidak akan menolak.


"Ini air apa, mas?" Setelah dicium-cium tidak ada wangi kunyit.


Malah wanginya sangat enak. Mengingatkan Aish pada permen yang pernah habib Khalid berikan di pondok pesantren dulu. Wanginya persis seperti ini. Menarik.


Cuma warna permen dan air minum ini memiliki perbedaan yang sangat besar. Jika permen itu memiliki warna coklat susu, maka air minum ini justru memiliki warna merah kunyit seolah-olah dibuat dari kunyit.


"Cobalah." Desak sang Habib dengan senyuman manis dibibir nya.


"Um, bismillah..." Aish menyesap, rasanya manis dan asam pada saat yang sama.


Selain itu Aish bisa merasakan sentuhan susu di dalamnya. Padahal wangi susu tidak terlalu mencolok di dalam minuman ini. Jika Aish tidak meminumnya, dia tidak akan tahu kalau ada susu di dalam air minum ini.


"Suka?"


Aish mengangguk.


"Suka, mas. Ini minuman apa ya, mas? Warnanya unik." Aish masih penasaran.


"Rahasia. Mulai hari ini kita akan minum minuman ini satu gelas bersama setiap pagi. Apakah kamu mau?"


Aish tersipu malu. Setiap hari minum di gelas yang sama, Masya Allah, bagaimana mungkin Aish tidak mau?


"Mau, mas. Kenapa tidak mau?" Aish kemudian mengembalikan gelas itu lagi ke suaminya.

__ADS_1


Sang Habib mengambil gelas itu dari tangan Aish. Lalu dibawah pengawasan mata semua orang, dia meminum semua sisa air di gelas hingga tuntas. Tetapi hal yang paling membuat Aish kaget adalah sang Habib meminum air minum itu lewat bekas bibir yang dia tinggalkan.


Aish sangat yakin bahwa itu bekas bibirnya karena tandanya sangat jelas. Malu, dia memalingkan wajahnya pura-pura menatap piring. Menyembunyikan rona merah yang mulai berkembang di kedua pipinya.


Reaksi panik Aish tentu saja ditangkap oleh sang suami. Menurutnya reaksi Aish sangat imut dan lucu. Sikap pemalunya seringkali membuat hati sang Habib tergelitik. Dia memiliki keinginan untuk mencubit puncak hidung istrinya karena gemas, tapi saat melihat senyum ambigu bibi dan paman, dia segera mengurungkan niatnya.


"Pasangan pengantin baru memang sedang manis-manisnya. Bibi harap kalian berdua akan terus seperti ini selamat menjalankan ibadah terpanjang ini. Jika kalian menemukan sebuah masalah, jangan takut dan mengambil keputusan impulsif. Bicarakan masalah itu baik-baik. Jika kalian berdua menemukan jalan buntu, maka berbalik lah kepada kami. Cari paman, bibi atau yang lainnya untuk membantu kalian memecahkan masalah yang kalian hadapi. Ingat, apapun masalahnya pasti memiliki jalan keluar, sesulit apapun masalah itu. Kuncinya kalian berdua harus lebih bersabar untuk menghadapi setiap masalah karena pernikahan adalah tentang kerjasama kedua belah pihak untuk bisa menyelesaikannya dengan kemenangan." Bibi tersentuh melihat mereka berdua. Rasanya sangat menyenangkan dan memanjakan mata. Jadi tanpa sadar dia mengucapkan sepatah kata nasehat untuk kehidupan rumah tangga keponakannya lebih baik di masa depan nanti.


"Bibi, terima kasih atas nasehatnya. Aku dan mas Khalid, insya Allah akan mengingat baik-baik nasihat bibi." Ucap Aish berterima kasih.


Paman juga ikut berbicara,"Harus bekerja sama diantara kedua belah pihak. Khalid, jadilah suami dan pemimpin yang baik untuk istri kamu. Bimbing istri kamu ke jalan yang Allah ridhoi dan selalu melibatkan Allah dalam segala hal urusan kalian berdua. Lalu anakku, Aish. Jadilah istri dan calon Ibu yang baik untuk anak-anakmu bersama Khalid. Patuhi apa yang suamimu katakan. Selama suamimu memerintahkan dalam hal kebaikan, kamu harus mematuhinya dan tidak boleh melanggarnya, sebab ridho suami adalah ridho Allah. Sisanya kalian berdua bisa memikirkannya. Aku yakin kalian berdua sudah dewasa, sudah bisa membuat keputusan untuk diri kalian sendiri sehingga kalian berdua memilih untuk tinggal bersama sekarang. Harapanku dan bibi kalian beserta keluarga yang lain, kami berharap kalian berdua memiliki rumah tangga yang baik, saling menjaga, dan harmonis. Apakah kalian berdua mengerti apa yang aku ucapkan tadi?" Paman tersenyum kecil sembari menatap pasangan suami istri baru itu.


Khalid dan Aish saling memandang. Tersenyum lembut, sang Habib meraih tangan istrinya dan menggenggam lembut. Paman dan bibi sudah lama dia anggap sebagai orang tuanya. Perhatian mereka selalu hidup di dalam hati sang Habib. Paman dan bibi selalu ada untuknya setelah kedua orang tuanya pergi dari dunia ini. Mereka berdua senantiasa membantu Habib Khalid mengatasi setiap masalah dan mengajarinya untuk menghadapi masalah. Oleh karena itu dia sangat menghormati mereka. Sekarang mendengarkan nasihat mereka berdua kepadanya, hati sang Habib bergetar haru juga sedih. Entahlah, peran paman dan bibi di dalam hidupnya selama ini sangat penting hingga membuatnya berharap bila mereka tinggal di sini bersamanya.


Sayang sekali paman dan bibi memiliki anak-anak yang selalu siap siaga merawat mereka untuk sehingga sang Habib tidak memiliki peluang.


"Paman, bibi," Menatap mereka berdua dengan tatapan penuh kerinduan penuh akan rasa hormat, dia lalu berkata,"Aku dan istriku telah mendengar perkataan kalian berdua. Insya Allah, kami berdua akan melaksanakan semua nasehat kalian, khususnya dalam segala sesuatu kami akan melibatkan Allah di dalam pernikahan kami. Tiada yang lebih penting selain mendapatkan ridho dari Allah, Tuhan semesta alam yang telah menciptakan kami dan mempertemukan kami berdua dalam sebuah pernikahan. Tentu saja kami tidak lupa bahwa tujuan pernikahan kami adalah untuk beribadah, untuk mendapatkan ridho Allah. Maka sudah sewajarnya kami menghadapi setiap ujian yang datang menimpa kami karena Allah sudah memberitahu sebelumnya bahwa setiap hamba akan diuji keimanan mereka hingga waktu ketetapan-Nya datang."


Mendengar perkataan sang Habib, paman menjadi lebih yakin lagi kepadanya. Sesungguhnya tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari keponakan yang satu ini. Sebab habib Khalid memiliki pikiran yang sangat dewasa sebelum usianya. Dia juga anak yang pandai berbisnis. Makanya paman tidak terlalu mengkhawatirkan pernikahan sang habib.


"Syukurlah kamu mengetahuinya. Paman dan bibi sekarang benar-benar lega."


Aish menatap suaminya kagum. Suaminya tidak hanya pandai berbicara manis, tapi juga pandai mengucapkan kata-kata bijak. Untung saja laki-laki sebaiknya menikah dengan dirinya yang penuh akan kekurangan.


"Setelah sarapan, kalian berdua masuk ke ruang tamu. Soalnya di sana ada hadiah pernikahan kalian. Paman dan bibi tidak bisa membantu kalian membukanya karena kami memiliki urusan dengan orang lain. Jika kalian membutuhkan bantuan, panggil saja asisten rumah tangga." Bibi tiba-tiba teringat dengan hadiah pernikahan keponakannya.


Karena terlalu banyak, semua hadiah pernikahan itu terpaksa ditaruh di kamar tamu.

__ADS_1


"Terima kasih, bibi. Aku dan mas Khalid akan mengurusnya nanti."


__ADS_2