Mengejar Cinta Sang Habib

Mengejar Cinta Sang Habib
Bab 17.14


__ADS_3

Permintaan ini agak berlebihan karena Abah belum pernah mendengar permintaan ini keluar dari satupun wali santri atau santriwati yang mondok di pondok pesantren. Bukannya meminta keringanan mereka malah meminta agar anak-anaknya diberikan disiplin yang keras agar bisa tumbuh menjadi manusia yang baik dan berakhlak.


"Jangan khawatir, selama dia tetap patuh dan mengikuti aturan kami maka hidupnya akan menjadi lebih baik." Sahut Abah singkat.


Umi ikut menimpali,"Aira mirip seperti putriku yang baru pulang dari Mesir kemarin. Saat pertama kali aku melihatnya aku langsung merindukan putriku, padahal putriku sedang belajar di kelasnya sekarang. Aira Umi senang bertemu denganmu. Jika kamu mau, datanglah ke rumah Umi untuk bermain dengan putri keduaku. Namanya Nadira, kalian pasti akrab saat bertemu nanti."


Aira sangat senang mendengarnya. Ini adalah kabar baik untungnya. Tanpa ragu sedikit pun dia langsung menganggukkan kepalanya dengan bersemangat tinggi.


"Terima kasih, Umi. Suatu kehormatan bagiku bisa berteman dengan Nadira." Ucapnya lembut dan sopan.


Umi puas melihatnya.


...*****...


Mereka bertiga dengan senang hati pergi ke parkiran depan. Di sana sudah menunggu habib Khalid di dalam mobil. Tanpa basa-basi lagi mereka langsung naik ke dalam mobil. Dan seperti terakhir kali Gisel dan Dira dengan sadar diri duduk di belakang, sedangkan Aish dengan malu-malu duduk di kursi depan bersanding bersama sang habib.


Tak ada yang berkomentar. Baik Gisel dan Dira duduk dengan patuh di belakang tanpa membuat suara ataupun gerakan-gerakan yang dapat menyinggung habib Khalid. Mereka semua sudah cukup dihukum besok dan menurut mereka mengundang kekesalan habib Khalid sejujurnya agak menakutkan.


Jadi mereka bertindak sebagai patung di dalam mobil memperhatikan dalam diam kedua orang di depan.


Tidak seperti harapan mereka di sepanjang jalan, kedua orang ini tidak berbicara atau melakukan interaksi apapun. Aish hanya dia menunduk dan sesekali mencuri pandang ke arah habib Khalid, sedangkan habib Khalid sendiri fokus menyetir ke depan.


Hening. Hingga akhirnya 20 menit kemudian mereka sampai di pasar yang terakhir kali mereka datangi. Meskipun mereka datang agak siang tapi pasar tetap terlihat ramai dengan berbagai aktivitas jual beli di dalam.


"Ayo turun." Habib Khalid memarkirkan mobil di seberang jalan lalu turun dari mobil.


Aish, Gisel, dan Dira langsung menyusul. Mereka turun dari mobil dan menunggu arahan selanjutnya dari habib Khalid. Mereka pikir akan dibawa masuk ke dalam pasar tapi tahu-tahunya habib Khalid mengajak mereka masuk ke dalam sebuah toko yang berada tepat di seberang pasar. Dengan bingung mereka masuk ke dalam.

__ADS_1


"Aku pernah berjanji kemarin akan memberikan kamu coklat, tapi karena terjadi kendala aku tidak jadi keluar sehingga pesanan mu tidak jadi ku beli. Sekarang kita sudah ada di toko jadi kalian bertiga bisa membeli apapun yang kalian ingin beli." Ujar habib Khalid seraya mencari tempat duduk.


Ternyata mereka bertiga dibawa masuk ke dalam toko serba ada dan memiliki barang yang jauh lebih baik daripada yang ada di pasar.


Mereka bertiga jelas sangat terkejut dan tidak menyangka habib Khalid akan membawa mereka ke sini.


"Kami bisa berbelanja sekarang?" Tanya Dira tak percaya.


Habib Khalid melirik jam tangan di pergelangan tangan kirinya tanpa menoleh ke arah Dira.


"Waktu kalian bertiga satu jam lebih dari ini aku tidak akan memberikan kesempatan." Cetus habib Khalid seraya mendudukkan dirinya di meja yang berdekatan langsung dengan jendela toko.


Mereka bertiga sangat senang. Setelah mengucapkan terima kasih Dira dan Gisel langsung melarikan diri membeli apapun yang mereka inginkan.


"Kak Khalid sangat baik. Aku dan kedua sahabatku berterima kasih kepadamu." Ucap Aish tulus.


"Belanjakan apapun yang kamu inginkan." Kita habib Khalid mengabaikan ekspresi kaget di wajah merah Aish.


"Ini..... ini terlalu banyak, kak. Aku sudah punya uang. Aku bisa menggunakan uang sendiri untuk berbelanja." Tolak Aish malu.


Habib Khalid kembali menjangkau dompetnya dan ingin mengeluarkan uang lagi.


"Masih kurang?" Tanyanya.


Aish sangat ketakutan dan buru-buru menjawab.


"Tidak, tidak, tidak! aku benar-benar bawa uang, Kak. Kalau kakak tidak percaya lihat saja uang di dalam saku pakaianku." Aish ingin mengeluarkan uang di dalam sakunya tapi pergerakan habib Khalid lebih cepat daripada dirinya.

__ADS_1


"Jadi masih kurang." Ujarnya datar.


Melihat tindakan habib Khalid, Aish tahu jika habib Khalid tidak ingin ditolak. Uang ini diberikan kepadanya maka dia harus membelanjakan bagaimanapun caranya. Jujur, Aish tidak kekurangan uang. Dia punya banyak uang, punya banyak tabungan dari orang tua dan keluarga Mamanya, jadi dia tidak membutuhkan uang dari habib Khalid atau siapapun itu. Namun bohong jika dia merasa tidak tersentuh melihat betapa baiknya habib Khalid memberikan uang semudah itu kepada dirinya. Habib Khalid adalah orang luar dan habib Khalid belum mengenal dirinya dengan baik, mereka berdua sangat asing pada awalnya. Tapi yang aneh adalah perlakuan habib Khalid kepada dirinya jauh lebih baik dari apa yang dilakukan oleh keluarga ayahnya. Ironis memang.


"Cukup, cukup kok, kak. Terima kasih. Aku akan membelanjakan uang ini sebaik-baiknya." Aish menghentikan.


Barulah habib Khalid terlihat puas.


"Bagus."


Setelah mengucapkan terima kasih berulang kali Aish langsung pergi menuju kedua temannya dengan rona merah di wajah. Wajahnya yang cantik tampak sangat merah, semerah kepiting rebus. Wajahnya yang cantik kini terlihat lebih menawan, sangat indah.


"Eh, kamu dikasih uang sama habib Thalib?" Dira dan Gisel langsung menarik Aish bersembunyi di salah satu rak makanan.


Majalah rasanya kian panas. Tapi dia tidak menyembunyikan kebanggaannya.


"Iya dong, aku dikasih 500.000 tahu nggak sama kak Khalid." Pamer Aish sambil mengeluarkan uang 500.000 pemberian dari kak Khalid.


Sekali lagi Dira dan Gisel langsung merasa iri melihat Aish sangat beruntung. Padahal Aish dan habib Khalid hanya pendekatan saja. Hubungan mereka belum sampai ke tahap yang serius tapi mengapa perhatian habib Khalid kepada Aish sangat baik, seolah-olah mereka sedang menjalin hubungan.


"Enak banget kamu, Aish. Belum apa-apa udah dikasih uang aja. Besok kalau kalian nikah, kamu bakal dikasih apa aja ya sama habib Thalib?" Gisel menatap iri.


Memikirkan pernikahan badan Aish rasanya mulai melambung tinggi.


"Pokoknya sesuatu yang nggak bakal kalian dapetin. Udah ah, aku mau belanja dulu. Jarang-jarang lho kita bisa keluar."


Pikiran kedua sahabatnya langsung teralihkan. Tanpa basa-basi mereka bertiga mengambil keranjang dan memilih makanan apa aja yang akan dibeli serta kebutuhan apa saja yang harus diisi kembali. Karena terlalu asik berbelanja tanpa sadar, mereka melupakan tujuan mereka datang ke pasar

__ADS_1


__ADS_2