
"Bihunnya masih belum direndam, Bu." Kata Gisel sambil menarik keranjang itu.
"Ke mana aku harus mengambil air panas untuk merendamnya?"
Juru masak itu menunjuk pintu belakang. Di luar memang ada kompor tradisional yang digunakan untuk memasak se panci besar nasi dan air panas. Juru masak tidak mau menggunakan kompor gas memasak nasi sebanyak itu karena akan membutuhkan banyak gas. Tapi jika memasak dengan tradisional, kayu bisa didapatkan di mana-mana. Apalagi pondok pesantren tidak pernah kekurangan kayu sehingga mereka tidak takut menghabiskan banyak kayu.
"Oh, kalau begitu aku akan membawanya pergi." Gisel mengangkat sendirian sekeranjang bihun di atas meja.
Bihunnya masih kering tapi untuk ukuran sekeranjang besar, Gisel agak kewalahan membawanya. Tepat saat dia baru keluar dari pintu belakang, sebuah lengan kuat mengambil alih keranjang itu. Gisel sangat terbantu dan langsung mengucapkan terima kasih.
"Terima kasih-" Kata-katanya tertahan, matanya membola kaget melihat siapa yang telah mengambil alih keranjang di tangannya.
Segera, jantungnya mulai berdegup kencang menebarkan desir hangat nam manis yang baru-baru ini tidak pernah dirasakan lagi. Orang yang seharusnya dihindari dan orang yang seharusnya dia jauhi ternyata kini berada tepat di depan matanya.
Mata acuh tak acuh itu menatapnya, masih dengan emosi datar yang sama. Namun untuk suatu alasan, Gisel tiba-tiba ingin menangis.
Mengapa mereka bertemu?
Inilah yang dia pikirkan sedari tadi.
"Sama-sama. Lain kali jika membawa beban berat, jangan coba-coba mengangkatnya sendirian. Tapi minta bantuan kepada temanmu yang lain agar kamu tidak kewalahan." Ucap Danis menasehati Gisel.
Setelah menasehati Gisel, Danis menaruh sekeranjang besar bihun ke dalam sebuah wadah. Pertama dia menyiram air dingin ke atasnya, lalu setelah itu mengambil seember air panas dari sebuah panci besar dan menyiramnya ke atas bihun.
"Tunggu 10 menit. Bingungnya pasti lama-lama akan melunak." Kata Danis kepada Gisel.
Di sini tidak hanya ada Danis seorang. Tapi juga beberapa laki-laki dan wanita yang sesekali mengobrol. Mereka berbicara tanpa melampaui batasan dan tidak ada yang membuat komentar buruk. Soalnya ini murni percakapan biasa dan berada di tempat umum pula.
Jadi ketika Gisel dan Danis berbicara, tidak ada orang yang membuat komentar apapun. Di samping itu jarak Gisel dan Danis lumayan jauh, jadi orang tidak ambil pusing dengan interaksi mereka berdua.
Diam membisu. Beberapa menit dilewati tanpa berbicara. Gisel merasakan hatinya campur aduk. Kepalanya tertunduk menatap keranjang tapi pikirannya telah berkelana entah kemana. Mengingat masa-masa canggung ketika dia bertemu Danis dulu, mengingat sarung hijau Danis yang masih dia simpan sampai sekarang, dan terakhir mengingat kedekatan Danis dengan wanita lain. Semakin Gisel mengingat, semakin bingung dirinya. Dia merasa patah hati namun bodohnya masih melayang harapan hanya karena mereka bertemu lagi.
Sangat konyol. Tiba-tiba dia berpikir bahwa mungkin ini adalah takdir dari Allah untuk mereka berdua. Mengatakan seolah-olah betapapun Gisel ingin menjaga jarak, Allah selalu punya cara untuk mempertemukan mereka berdua.
Konyol bukan?
"Kamu... Akhir-akhir ini tidak kelihatan. Aku merasa kalau kamu sedang menjaga jarak dariku."
Danis tiba-tiba memulai topik pembicaraan dan langsung membicarakan poin inti tanpa perlu berbasa-basi!
Gisel hampir saja jantungan. Di antara semua topik pembicaraan, bukankah Danis orangnya terlalu langsung?
Selain itu... Tadi apa pertanyaannya, dia pasti menyadari kalau Gisel tidak mau bertemu lagi dengannya. Gisel merasa malu karena dirinya mudah dibaca dan pada saat yang sama dia juga merasa bersalah kepada Danis.
Um, itu kan masalah pribadi Danis, dia tidak seharusnya... marah?
"Aku... Tidak menjaga jarak dengan kakak. Itu cuma perasaan kakak aja. Lagian kapan kita bertemu?" Gisel hampir saja menggigit lidahnya karena gugup.
Dia berdalih, tidak berani mengakui bahwa dia memang ingin menghindarinya.
"Benarkah? Kita sering bertemu. Tapi setiap kali kita bertemu kamu langsung berbelok menghindari aku. Masa iya kamu nggak ngeliat aku dan masa iya setiap kali kita bertemu kamu langsung berbelok, kamu melakukannya tidak sekali, tapi berkali-kali loh. Apa coba namanya kalau kamu tidak menghindar?" Danis langsung menyerang Gisel, membongkar kebohongannya tanpa memberi wajah.
__ADS_1
Wajahnya yang dingin mengkerut tidak senang. Bertanya-tanya apa yang membuat Gisel menghindarinya selama ini. Apakah dia telah melakukan kesalahan?
Dia tidak tahu dan bingung pada saat yang sama.
"Bukan begitu..." Gisel menggigit bibirnya gugup dan bingung.
Sangat tepat sasaran. Apa yang dikatakan oleh Danis semuanya tepat sasaran. Dan yang paling mencengangkan adalah ternyata Danis juga melihatnya setiap kali mereka akan bertemu. Di satu sisi Gisel merasa senang, tapi di sisi lain Gisel memiliki ketakutan. Jangan lagi pikirnya, jangan lagi dia terlalu berharap.
"Jika tidak begitu lalu kenapa?" Danis mendesak tidak sabar.
Gisel terkejut. Obrolan macam apa mereka berdua ini?
Kenapa mereka berbicara seperti... Pasangan kekasih yang tengah bermasalah?
"Ini.... Aku tidak bisa menjelaskannya kepada kakak." Kata Gisel hati-hati.
Dia sangat cemburu melihat Danis berjalan dengan wanita lain, apalagi mengobrol sambil tertawa, dia cemburu karena ketika bersamanya Danis tidak pernah tertawa. Selain itu Gisel juga tidak memiliki kepercayaan diri yang tinggi, dia merasa rendah diri. Apalagi ketika aibnya tersebar luas. Tidak peduli apa yang orang lain pikirkan ketika mendengar aibnya, dia tahu kalau santriwati tidak suka bergosip. Hanya saja bagaimana dengan pendapat Danis kepadanya?
Apakah dia tidak merasa kecewa ataukah dia merasa bahwa Gisel adalah wanita yang tidak bisa menjaga dirinya sendiri, biar bagaimanapun juga dia adalah seorang wanita. Mungkinkah dia masih memiliki harga diri ketika kehormatannya telah direnggut oleh laki-laki lain. Bukan dipaksakan tapi atas kemauan dirinya sendiri.
Bukankah itu sangat memalukan?
"Bila kamu tidak menjelaskannya kepadaku, maka bagaimana mungkin aku bisa tahu? Ataukah ini ada hubungannya dengan wanita yang bersamaku hari itu?" Danis ingat bertemu dengan Gisel di depan gedung perpustakaan.
Saat itu dia berjalan dengan Alisa, santriwati seangkatannya yang sering membantu-bantu di perpustakaan.
Masih Danis ingat dengan jelas tatapan kekecewaan Gisel hari itu. Dan setelah kejadian hari itu pula, Gisel selalu menghindar ketika bertemu dengannya. Danis merasa kewalahan di saat yang sama dia bingung harus melakukan apa karena setiap kali mereka bertemu, Gisel selalu memutar arah untuk menghindarinya.
"Tapi mengapa... Mengapa aku harus menjelaskan kepada kakak?" Bukankah kita tidak memiliki hubungan apa-apa? Namun kata-kata ini hanya bisa dia katakan lewat hati. Dia tidak berani mengatakannya langsung kepada Danis.
"Bihunnya masih belum lunak?"
Gisel buru-buru mengecek bihun di dalam keranjang. Sudah lunak dan bisa langsung digoreng di atas wajan.
"Aku akan membawanya masuk sekarang, Bu." Gisel menggunakan lengan kecilnya untuk mengangkat keranjang.
Tapi keranjang itu sangat berat. Dia hampir saja oleng jika tidak segera menahan diri.
"Punya mulut kan? Apa susahnya sih meminta bantuan kepada orang di sekeliling kamu?" Kata Danis dengan wajah cemberut sambil mengangkat keranjang bihun itu dari wadah.
Lalu dia menaruhnya di atas meja, memukul sisi keranjang di beberapa tempat untuk mengeluarkan air. Setelah dirasa cukup, Danis mengangkat keranjang bihun masuk ke dalam dapur umum bersama Gisel di belakangnya.
"Terima kasih, kak. Maaf aku lagi-lagi menyusahkan kakak." Ucap Gisel tidak enak hati.
Danis terdiam mendengar ucapan terima kasih Gisel. Kemudian dia merogoh sakunya dan memberikan Gisel sebuah sapu tangan terlipat rapi. Ada sesuatu di dalamnya. Agak berat.
"Buka nanti di kamar mu. Sama-sama." Setelah itu dia pergi tanpa menunggu Gisel bertanya.
Gisel tidak bisa menerima hadiah ini. Tadinya dia ingin mengembalikan hadiahnya ini kembali ke tangan Danis, tapi dia buru-buru dipanggil oleh yang lain. Dia harus memindahkan piring ke meja depan karena setelah shalat isya, para santri dan santriwati akan makan malam.
Gisel memandangi sapu tangan terlipat rapi di tangannya, tersenyum, wajahnya kembali menunjukkan rona merah manis.
__ADS_1
"Terima kasih." Bisiknya malu sembari menaruh hadiah Danis ke dalam saku gamisnya.
Dia akan membuka lipatan sapu tangan ini di kamar nanti. Tapi untuk saat ini dia harus fokus membantu di dapur karena Laras bilang ini adalah bagian ujian dari kantor untuk mereka yang ingin magang di bagian dapur.
Gisel tak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini. Dia harus memanfaatkan kesempatan ini sebaik mungkin.
Setelah makan malam, semua santri dan santriwati kembali ke asrama masing-masing. Tapi dia dan Laras harus terus bekerja. Mengumpulkan semua piring yang kotor dan segera mencucinya.
"Eh, Gisel. Itu Danis. Dia juga datang di sini untuk membantu. Kakak lihat tadi di dapur kamu sempat ngomong sama dia dan dikasih sesuatu. Boleh enggak kakak tahu apa yang kalian bicarakan dan apa yang dikasih Danis ke kamu." Jiwa-jiwa gosip Laras berteriak-teriak ingin mendengar sesuatu dari mulut Gisel langsung.
Pasalnya para wanita di dalam dapur tadi sempat mau berteriak histeris melihat kedatangan Danis. Nama Danis tidak asing bagi mereka para santriwati. Banyak yang mengagumi Danis secara diam-diam namun tak bisa mengungkapkannya dengan langsung karena mereka tidak memiliki keberanian juga malu pada saat yang sama.
Namun masih ada satu atau dua orang yang memberanikan diri menyerahkan proposal. Hanya saja, mereka tidak mendapatkan balasan apa-apa hingga hari ini.
Tanpa bertanya lagi mereka sudah tahu bahwa mereka telah ditolak oleh Danis. Sayang sekali.
Gisel mengalihkan pandangannya mengikuti jari telunjuk Laras. Benar saja, Danis juga ada di sini untuk membantu. Danis dan beberapa laki-laki membantu mengumpulkan piring-piring. Mereka menumpuk piring menjadi beberapa bagian dan membiarkannya menumpuk di atas meja. Nanti mereka para wanita yang akan bertugas membawanya ke dapur.
Seolah merasakan pandangan Gisel, Danis menoleh dan mata mereka bertemu. Malu, Gisel langsung memalingkan wajahnya yang mulai memanas. Samar, pipinya mulai mengembangkan rona merah. Untungnya Laras melewati pemandangan ini.
"Kok kamu diam saja, Gis?" Desak Laras sambil mengumpulkan sampah-sampah di atas meja.
Gisel menahan rasa gugup di dalam hatinya.
Tangannya menyentuh saku gamis untuk memastikan sapu tangan itu masih di dalam. Menghela nafas lembut, dia akhirnya bisa mengendalikan dirinya yang payah.
"Kami enggak ngomongin sesuatu yang penting, kak. Dia cuma bilang lain kali aku harus minta bantuan teman lain kalau mengangkat beban berat dan jangan melakukannya sendirian. Dia juga membantu membawa bihun yang sudah lunak masuk ke dalam dapur karena aku tidak bisa mengangkatnya. Makanya aku bilang terima kasih." Gisel menjelaskan setengah kebenaran dan menutupi kebenaran lainnya lagi.
Mana mungkin dia seceroboh itu mengungkapkan isi percakapannya dengan Danis. Dia tidak berani melakukan itu. Um, dia tidak mau menimbulkan gosip.
"Oh...jadi begitu. Lalu apa yang dia berikan kepadamu?" Laras tidak curiga.
Dia juga melihatnya sendiri kalau Danis membantu Gisel membawa keranjang bihun itu masuk ke dalam dapur. Mereka tidak melakukan interaksi aneh dan normal-normal saja.
Menyentuh saku gamisnya,"Itu handsaplast, kak. Tadi saat aku mengangkat keranjang bihun itu, tanganku licin dan hampir menjatuhkan keranjang. Untungnya kak Danis membantuku jadi bihunnya terselamatkan. Kak Danis mengira tanganku lecet jadi dia memberiku handsaplast. Padahal tanganku baik-baik saja, kak." Jawabnya membuat alasan dibuat-buat seraya melirik Danis dari sudut matanya. Danis pasti tidak mendengarkan pembicaraannya dengan Laras, karena jarak mereka cukup jauh.
Danis memberikannya sapu tangan. Tapi dia tidak tahu di dalam sapu tangan ada apa. Karena rasanya agak berat. Dan Danis sendiri mengintruksikan nya untuk membuka lipatan itu setelah sampai di kamar. Jadi sedari tadi dia berusaha menahan diri agar tidak membuka lipatannya di sini meskipun dia sangat penasaran.
"Oh... Jadi handsaplast. Tapi berharga lho, dek. Teman-teman kamu yang lain jadi iri. Mereka juga mau berbicara dengan Danis hehe..." Kata Laras sambil menggelengkan kepalanya tak berdaya.
Laras juga pernah berada di masa-masa ini. Dia juga pernah mengidolakan seniornya, tapi kini sudah tidak lagi, karena para senior yang dia idolakan telah pergi ke beberapa negara untuk melanjutkan pendidikan. Tak jarang pula ada yang menikah.
Dan satu lagi. Dia kembali merasakan euforia ini ketika melihat Habib Khalid. Namun sayang sekali, Habib Khalid ternyata sudah memiliki istri dan yang mengejutkan istrinya juga mondok di sini. Seorang murid pindahan yang awalnya sering membuat masalah di pondok pesantren. Laras mau tak mau merasa patah hati karena orang yang dikagumi ternyata telah memiliki seseorang di dalam hatinya. Setelah kabar mengejutkan itu sang Habib juga membuat pernyataan bahwa dia tidak akan poligami, semakin pupus harapan Laras mengejar cintanya. Eh, bukankah Aish adalah sahabat Gisel. Soalnya dengar-dengar ada tiga nama yang sering membuat masalah, pertama Aish, Dira dan Gisel.
Mungkinkah Gisel ini sama dengan Gisel itu?
"Gis, kamu temennya Aish istri habib Thalib, yah?" Laras memiliki tebakan.
Gisel tersenyum dan menganggukkan kepalanya bangga.
"Kami bukan temenan biasa, kak. Tapi kami sudah sahabatan, dia dan Dira memperlakukan aku sebagai adik mereka sendiri. Memangnya kenapa ya, kak?"
__ADS_1
Laras menggelengkan kepalanya. Ternyata benar-benar dia.
"Enggak, cuma asal nanya aja." Dia tidak menyangka teman satu kamarnya adalah salah satu tokoh legendaris di pondok pesantren.